
1 Minggu Gibran masih di rumah sakit dan dalam komanya. Dia belum sadarkan diri membuat air mata Sana yang terus menemaninya kembali menetes saat tangannya memegang tangan Gibran dan Sana melihat jarinya yang terpasang cincin pertunangannya dari Gibran.
"Seharusnya kita menikah. Gibran kamu tau tidak ini hari pernikahan kita. Kita seharusnya menikah sekarang. Kamu dan aku sudah berada di pelaminan yang mengucapkannya janji pernikahan. Kita seharusnya ada di sana Gibran. Tapi kamu masih di sini," ucap Sana dengan air matanya yang berlinang yang melihat Gibran masih memejamkan matanya.
"Bangunlah! aku mohon bangun, aku tidak memintamu untuk menikahiku hari ini. Tetapi paling tidak kamu bangun dan biacara kepadaku. Gibran semua orang sedang mencari orang-orang yang telah membuat kamu seperti ini. Gibran mereka akan mendapatkan hukuman. Karena sudah berbuat seperti ini kepadaku kamu. Mereka harus membayar semua perbuatan mereka kepadamu," ucap Sana yang terus mengajak Gibran berbicara. Namun tidak ada jawaban dari Gibran. Hanya mesin jantung yang terdengar di dalam ruangan itu.
Olive, Anna dan Lisa yang berdiri di depan pintu yang menyaksikan teman mereka yang sedang mengeluarkan isi hatinya kepada calon suaminya.
"Kasihan Sana, seharusnya dia menikah hari ini. Tetapi musibah datang dan dia tidak bisa menikah dengan Gibran," ucap Lisa dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Aku tidak tau siapa yang melakukan semua ini. Kepada kak Gibran. Kenapa dia sejahat itu. Lihat perbuatannya kak Gibran tidak sadar sampai sekarang," ucap Olive yang begitu dendam dengan orang yang mencelakakan kakaknya.
"Kamu harus bersabar Olive. Percayalah Gibran akan baik-baik saja. Kita berdoa saja. Semoga Athar dan Derry berhasil mencari pelakukanya," ucap Anna yang hanya bisa berharap.
"Benar kata Anna yang penting kita berdoa dan aku yakin pelakunya pasti akan cepat di temukan," sahut Lisa.
"Sebaiknya kita masuk. Kita hibur Sana. Dia terus menangis, kasihan dia," sahut Anna.
"Kalian masuklah duluan. Aku mau keluar sebentar," ucap Olive.
"Ya sudah ayo Lisa!" ajak Anna. Lisa mengangguk dan akhirnya dia masuk. Sementara Olive langsung pergi yang punya tujuan lain.
**********
Jennie harus menyelidiki apa yang terjadi dengan Gibran. Jennie langsung menuju lokasi kejadian saat di temukan Gibran yang tidak berdaya. Tempat itu sendiri sudah penuh dengan garis polisi dan bahkan lokasi itu sendiri masih ada beberapa polisi yang mencoba untuk mencari tau.
Jennie berdiri di pinggir mobilnya dengan stelan celana hitam panjang dan kemeja hitam dengan rambut yang di kucir satu. Mata Jennie melihat ke sekelilingnya dan melihat ke atas bangunan yang mencoba untuk mencari-cari petunjuk.
"Benar kata Athar. Tidak ada Cctv di sekitar sini. Tetapi sangat aneh jika Cctv tidak ada," batin Jennie yang mencoba memahami masalah yang di hadapinya.
Di tengah Jennie yang mengawasi lokasi sekitar. Tiba-tiba mata Jennie melihat sebuah mobil yang mana sang pengemudi adalah Mahendra dan Aurelia di sampingnya yang sedang menyuapi Mahendra.
"Aku menyukai Mahendra," kata-kata Aurelia teringat di dalam pikiran Jennie yang pasti Jennie cemburu melihat kekasihnya bersama wanita lain.
Jennie menelan salivanya yang terus melihat Mahendra dan Aurelia yang sangat romantis sehingga Jennie sudah tidak fokus lagi.
"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan? batin Jennie hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Lagi Mahendra!" Aurelia kembali menyuapi Mahendra.
"Sudah Nona tidak usah," sahut Mahendra yang menolak hal itu.
"Makanlah! kamu sedang menyetir. Jadi kamu tidak makan sendiri. Jadi biar aku yang menyuapimu," ucap Aurelia yang sedikit memaksa.
"Tidak perlu Nona, nanti saja saya makan, kalau sudah sampai kantor," ucap Mahendra yang harus menolak Aurelia. Karena menurutnya itu sangat tidak pantas. Pertama' Aurelia atasannya dan dia juga punya kekasih.
"Apa ada yang marah. Jika kita seperti ini?" tanya Aurelia menghela napasnya membuat Mahendra melihat ke arah Aurelia.
"Maksud Nona apa?" tanya Mahendra.
"Kamu terlihat takut. Jika ada yang melihatmu. Mahenndra ada apa. Bukannya kita biasa seperti ini. Jadi tidak ada yang salah bukan. Kamu tidak perlu sungkan atau merasa tidak enak saat bersamaku. Bukannya kamu juga sering makan di rumahku," ucap Aurelia.
"Nona Aurelia, maaf saya hanya tidak ingin ada yang salah paham dan saya masih tau batasan saya," ucap Mahendra.
"Batasan apa. Selama ini tidak ada batasan. Kamu bukan hanya pekerja dari mama yang mengawasi aku dan juga Anna. Tetapi sudah lebih dari itu. Mahenndra kamu kepercayaan keluarga kami dan sudah menjadi keluarga kami. Jadi apa yang salah Mahendra," ucap Aurelia.
"Nona!"
"Cukup!" sahut Aurelia, "jangan seperti ini lagi. Jangan pernah sungkan dan aku rasa kamu paham maksudku. Karena aku menganggap kamu bukan sebagai bawahan, kepercayaan mama atau apapun. Aku lebih menganggap kamu dari hal itu. Dan aku sangat berharap kamu memahami perasaanku," ucap Aurelia yang terang-terangan ingin bersama Mahendra.
Mahendra terkejut mendengarnya. Walau perkataan Aurelia tidak jelas dan tidak menjelaskan apa-apa. Namun bisa di tarik kesimpulan. Jika Aurelia memberi kode kepada Mahendra mengenai perasaan Aurelia.
__ADS_1
"Apa yang di katakan Nona Aurelia. Apa dia sedang menyatakan perasaannya," batin Mahendra yang terlihat sangat gugup.
"Aku tidak peduli Mahendra seperti apa hubunganmu dengan Jennie. Aku menyukaimu dan aku yang pertama mengenalmu dari pada dia. Aku juga tidak tau kenapa kau menyukainya. Tetapi aku akan membuatmu nyaman bersamaku dan hanya memilihku dan tidak dia," batin Aurelia yang begitu sangat menyukai Mahendra dan kembali lagi rasa ingin memiliki kembali ada di jiwa Mahendra.
"Aku harus bicara pada Jennie. Aku harus berterus terang dengan Aurelia. Tentang hubunganku dan juga Jennie. Aku tidak mungkin membiarkan Aurelia yang terus berharap banyak kepadaku. Aku harus menjelaskan semuanya.
"Nona Aurelia ada yang ingin saya bicarakan," ucap Mahendra yang tidak mau mengulur-ulur waktu.
"Nanti saja Mahendra. Kita rumah sakit dulu," sahut Aurelia.
"Baiklah!" sahut Mahendra yang harus mengundurkan niatnya yang ingin bicara pada Aurelia yang pasti mengenai hubungannya dengan Jennie.
**********
Rumah sakit.
Akhirnya Aurelia dan Jennie sampai kerumah sakit dan mereka sama-sama memasuki rumah sakit.
"Kamu tunggu di sini. Aku ingin menemui Anna ke ruangan Gibran!" ucap Aurelia.
"Baiklah," sahut Mahendra dan Aurelia langsung pergi.
"Aku harus menggunakan kesempatan untuk bicara pada Aurelia," ucap Mahendra dengan menghela napas yang mana Mahendra terlihat frustasi dengan mengusap wajahnya dengan kasar dan saat tangannya sudah tidak berada di wajahnya lagi. Mahendra tiba-tiba melihat Jennie dan Jennie juga melihatnya. Namun Jennie langsung pergi dan membuat Mahendra heran.
"Jennie tunggu!" panggil Mahendra yang langsung mengejar Jennie dan Mahendra berhasil memegang tangan Jennie membuat langkah itu terhenti.
"Jennie kenapa pergi? kenapa tidak mengangkat telpon ku? dari kemarin aku menghubungi mu dan kau tidak merespon sama sekali. Ada apa Jenni?" tanya Mahendra yang ternyata Jennie telah menghindarinya dan membuat Mahendra bingung.
"Aku banyak pekerjaan Mahendra. Aku harus menyelidiki orang-orang yang mencelakakai Gibran dan aku tidak punya waktu untuk hal lain," ucap Jennie yang melepas tangannya dari Mahendra.
"Aku tau kamu sibuk. Tetapi apa yang kamu lakukan hanya terlihat menghindariku. Jennie ada apa? apa yang salah? apa aku melakukan kesalahan?" tanya Mahendra.
"Kita sebaiknya selesai," sahut Jennie tiba-tiba yang sangat mengejutkan Mahendra.
"Mahenndra aku sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk hubungan ini dan terlebih lagi keluargamu juga tidak menyukaiku dan aku rasa memang ada sebaiknya kita tidak melanjutkan hubungan ini," ucap Jennie sangat mengejutkan Mahendra.
"Apa yang kau bicarakan Jennie? Apa yang kau katakan? kenapa kau mengatakan semua itu? bukannya kita sudah membahas ini dan aku mengurus masalah orang tuaku. Jennie kita sudah bicara masalah ini dan kenapa kembali mengaitkannya. Aku yakin ini bukan alasan yang tepat. Pasti ada sesuatu bukan," ucap Mahendra yang merasa ada yang tidak beres.
"Itulah alasannya. Jadi sebaiknya. Kamu jangan menggangguku," ucap Jennie yang langsung pergi dari hadapan Mahendra. Namun Mahendra langsung menahan tangannya kembali.
"Jennie jangan seperti ini. Aku mencintaimu dan tidak seharusnya kau melakukan semua ini," ucap Mahendra.
"Lalu bagaimana dengan Aurelia?" tanya Jennie menguatkan volume suaranya yang membuat Mahendra terkejut.
"Apa maksudmu?" tanya Mahendra.
"Sudahlah Mahendra. Semua sudah jelas. Jika Aurelia menyukaimu dan bagaimana mungkin kita menjalin hubungan," ucap Jennie.
"Jennie aku tidak menyukainya dan pasti tidak mencintainya. Aku hanya mencintaimu dan itu sudah aku katakan berkali-kali. Lalu kenapa membicarakan hal yang tidak perlu di bicarakan," tegas Mahendra.
"Tetapi Aurelia jelas sangat menyukaimu," sahut Jennie dengan suaranya meninggi.
"Apa artinya dia menyukaiku. Namun aku tidak. Aku hanya mencintaimu," sahut Mahendra yang terus menegaskan.
"Kamu simpan saja masalah cinta itu. Aku pusing dan tidak peduli lagi. Aku tidak mau berurusan dengan masalah cinta yang sama sekali tidak perlu. Aku banyak pekerjaan dan bukan itu pekerjaan ku," ucap Jennie yang pergi dari hadapan Mahendra.
"Jennie tunggu?" panggil Mahendra. Namun Jennie tidak mendengarkannya dan tetap pergi.
"Arggh!" teriak Mahendra dengan penuh kekesalannya yang mengusap kasar wajahnya.
Ternyata tidak jauh dari sana Olive mendengar pembicaraan Mahendra dan juga Jennie. Olive sangat terkejut dengan kata-kata Mahendra yang berkali-kali mengatakan cinta pada Jennie.
__ADS_1
"Jadi kak Mahendra sudah punya wanita lain. Dia tidak menyukaiku dan juga bahkan nenek lampir itu juga tidak di sukainya. Jadi kak Jennie wanita yang di sukainya," batin Olive dengan wajah lesuhnya yang mendengar pernyataan dari pria yang di sukainya dan hal itu sangat mengejutkannya.
"Hatiku sangat sakit melihat kak Mahendra yang aku sukai menyukai wanita lain. Arghh cintaku bertepuk sebelah tangan ternyata, aissss sangat menyebalkan," umpat Olive dengan wajah cemberutnya dan langsung pergi dari tempat itu.
**********
Olive terlihat makan dengan lahap dengan berbagi makanan yang di pesannya. Lisa dan Anna yang duduk di dekatnya heran dengan Olive yang makan seperti orang tidak makan beberapa hari.
"Nggak takut gemuk Olive," sahut Lisa yang mengingatkan terlebih dahulu.
"Aku lebih baik gemuk dari pada kurus yang nanti orang-orang akan berpikiran jika aku kurus karena mengalami cinta bertepuk sebelah tangan," ucap Olive dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
Lisa dan Anna saling melihat yang heran dengan pernyataan Olive.
"Cinta bertepuk sebelah tangan maksudnya?" tanya Anna heran.
"Benar memang kamu lagi mengalami fase yang memalukan itu," sahut Lisa.
"Apa lagi namanya jika tidak. Arhhhhh menyebalkan," ucap Olive menghentikan makannya dan terlihat begitu lesuh.
"Ada apa Olive apa sesuatu yang kami tidak ketahui?" tanya Anna.
"Seharusnya aku mendengarkan kalian. Jika aku mendengarkan kalian. Pasti rasanya tidak sesakit ini," ucap Olive yang membuat Anna dan Lisa semakin heran dengan kata-kata Olive yang banyak mengandung arti membuat orang bingung saja.
"Apa maksudnya Olive?" tanya Anna.
"Kak Mahendra tidak menyukaiku dia menyukai orang lain," sahut Olive yang menjadi senduh.
"Kamu nembak dia?" tanya Lisa penasaran.
"Untung tidak sempat. Jika aku sampai melakukannya, maka aku akan lebih sakit. Karena sudah do tolak," sahut Olive yang sekarang meneguk jus jeruk sampai habis setengah gelas.
Anna yang mendengar kata-kata Olive tersenyum tipis.
"Akhirnya kamu itu sadar juga Olive untuk berhenti menyukai Mahendra. Dia memang tidak menyukaimu. Kan lihat kamu jadi seperti ini," sahut Lisa.
"Dia memang tidak menyukai ku dan menyukai wanita lain," sahut Olive.
"Siapa yang di sukainya. Jangan bilang Aurelia. Aisssss jika iya. Kau kalah bersaing dengannya," sahut Lisa menebak-nebak dan sepertinya juga tidak terima dengan hal itu.
"Enak saja. Jika wanita itu. Aku mana mungkin kalah bersaing dengannya dan untung bukan dia. Jadi selama ini yang di sukai kak Mahendra itu kak Jennie," sahut Olive yang membuat Lisa terkejut. Namun Anna santai saja. Karena memang hal itu sudah di ketahuinya.
"Bu Jennie!" pekik Lisa.
"Iya bahkan kak Mahendra sangat mencintainya," sahut Olive
"Ya ampun aku benar-benar tidak percaya," sahut Lisa.
"Makanya Olive dengarkan kata-kata ku. Lihat apa yang aku katakan terjadikan. Tidak ada gunanya menyukai pria yang mengejar wanita lain," sahut Anna.
"Iya sih sangatembuang waktu. Tapi mereka kayaknya lagi putus," sahut Olive membuat Lisa heran dan Anna jadi menanggapi serius dengan hal itu.
"Maksud kamu apa?" tanya Anna.
"Tadi aku melihat mereka bertengkar. Kayaknya selama ini mereka memang ada hubungan. Namun tidak ada yang tau dan tadi kak Jennie bilang kita selesai aja dan itu semua gara-gara nenek lampir itu," ucap Olive yang jadinya gosip.
"Aku tidak mengerti Olive dengan apa yang kamu katakan," sahut Anna.
"Anna aku mendengar sendiri. Jika kak Jennie itu tidak mau melanjutkan hubungannya dengan kak Mahendra yang beralasan karena Aurelia menyukai Mahendra. Aku juga melihat kak Mahendra berusaha untuk menjelaskan. Tetapi kak Jennie tidak mau mendengarnya dan pergi begitu saja," jelas Olive.
"Ada apa lagi ini. Apa jangan-jangan kak Aurelia benar-benar sudah menyatakan perasaannya pada Mahendra dan ini membuat konflik untuk hubungan Bu Jennie dan Mahendra," batin Anna yang jadi kepikiran.
__ADS_1
Bersambung