Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 274 tidak mau mengalah.


__ADS_3

" Apa. Kau mau apa hah!" Sana terlihat menantang Gibran dengan matanya yang melotot dan bahkan berani maju mendekati Gibran.


" Kau sebaiknya pergi dari sini. Sebelum aku melemparimu lagi dan juga menendang mu sekalian," ucap Gibran bertambah emosi.


" Enak saja kau menyuruhku pergi begitu saja. Setelah apa yang kau lakukan. Kau harus minta maaf dulu kepadaku," sahut Sana dengan kesal.


" Apa katamu minta maaf. Kaum itu mimpi. Aku tidak sudi minta maaf pada wanita gila sepertimu," sahut Gibran yang tampak ogah minta maaf.


" Apa yang kau katakan aku gila. Beraninya kau mengataiku," sahut Sana semakin kesal.


" Jika kau tidak gila. Kau tidak akan berteriak-teriak di depanku," ucap Gibran.


" Dasar pengecut. Sudah bersalah tidak mau minta maaf malah mengatai orang gila," umpat Sana.


" Apa katamu pengecut. Eh wanita sinting. Kau juga sudah melemparku dan seharusnya kau juga meminta maaf," geram Gibran.


" Aku melemparmu supaya otakmu itu berfungsi dan menyadari kesalahanmu dan tidak sembarangan mengataiku gila, sinting," sahut Sana yang tidak mau kalah dari Gibran.


" Alah sudahlah. Aku capek bicara padamu. Sekarang kau pergi dari sini!" usir Gibran.


" Kau minta maaf dulu baru aku pergi," sahut Sana.


" Ogah," sahut Gibran keras kepala.


" Oh ya sudah aku tidak akan pergi," sahut Sana.


" Kau benar-benar bikin kepala ku semakin pecah. Pergi tidak dari sini!" usir Gibran.


" Tidak akan, minta maaf dulu!" sahut Sana.


" Pergi aku bilang!" teriak Gibran.


" Tidak!" tegas Sana.


" Pergi!"


" Tidak!"


" Pergi!"


" Tidak!"


Dia dan Sana malah bertengkar hebat dan pasti Gibran sudah kesal bertambah emosi menghadapi Sana yang mana ke-2nya sama-sama tidak mau mengalah. Gibran juga kepalanya bisa benar-benar pecah menghadapi Sana yang tidak mau mengalah sama sekali

__ADS_1


Tiba-tiba hujan turun tanpa pemberitahuan membuat Gibran dan Sana terkejut dengan kepala mereka yang sama-sama melihat ke atas.


" Argggghhh sial! ini semua gara-gara kau!" umpat Gibran emosi dan langsung memasuki mobil untuk berteduh.


Saat Gibran sudah di mobil. Tiba-tiba saja Sana sudah ada di sampingnya masuk dengan seenaknya.


" Hey apa yang kau lakukan di sini!" ucap Gibran.


" Ya berteduhlah. Kau tidak melihat hujan deras hah!" sahut Sana.


" Kenapa harus di mobil ku. Kau itu lancang sekali!" teriak Gibran dengan emosi.


" Ya kalau tidak di mobilmu di mana. Kau lihat apa ada tempat berteduh di sekitar sini. Pakai matamu," sahut Sana.


" Itu bukan urusanku wanita gila,"' sahut Gibran dengan kesal.


" Sembarangan kau mengatakan ku gila," sahut Sana bertambah emosi.


" Memang kau gila sekarang kau keluar dari mobilku!" usir Gibran mendorong Sana memaksanya untuk keluar.


" Aku tidak mau, kau tidak melihat hujan hah!" sahut Sana yang tetap mempertahankan dirinya di dalam mobil Gibran.


" Aku bilang keluar. Aku tidak sudi wanita sepertimu masuk ke dalam mobilku!" teriak Gibran.


" Kau itu!" Gibran benar-benar bisa gila dengan perbuatan Sana yang tetap mempertahankan dirinya yang tidak mau keluar dari mobil itu.


Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu.


Tiba-tiba terdengar suara sirene polisi membuat Gibran tiba-tiba berhenti mendorong Sana dan malah menjauh dan terlihat panik yang malah begitu gelisah dan terlihat ingin bersembunyi. Sana menghela napasnya yang terasa sesak gara-gara ribut dengan Gibran dan melihat ke anehan tingkah Gibran.


Sana melihat ke luar jendela, melihat beberapa mobil polisi yang melintas dan sepertinya hanya berpatroli saja.


" Kenapa kau?" tanya Sana heran melihat Gibran keringat dingin.


" Bukan urusanmu," sahut Gibran mengatur napasnya yang naik turun.


" Hahahah!" tiba-tiba Sana tertawa membuat Gibran heran melihat wanita yang di sebelahnya tertawa terbahak-bahak.


" Apa yang kau tertawakan?" tanya Gibran dengan menautkan ke-2 alisnya.


" Ya apa lagi jika bukan kau. Aku tau kau itu ketakutan bukan melihat mobil polisi. Atau jangan-jangan kau itu buronan ya," ucap Sana menunjuk Gibran dengan matanya menatap Gibran curiga.


" Jangan sembarangan kau bicara. Kau itu jangan sok tau," sahut Gibran yang tidak bisa bohong. Kalau dia memang terlihat sangat panik.

__ADS_1


" Hey, Gibran, aku tau siapa kau. Dan aku melihat wajah mu itu penuh dengan dosa," sahut Sana.


" Kau mengenalku?" tanya Gibran heran.


" Ya iyalah aku mengenalmu. Kau itu kakaknya Athar bukan. Kau itu adalah Pria yang suka cari masalah dengan Anna. Kau itu suka cari gara-gara dengan Anna," ucap Sana dengan wajah kesalnya.


Dan Gibran mengingat-ingat siapa wanita yang berada di sebelahnya itu. Ya wajahnya memang terlihat tidak asing seperti pernah beberapa kali bertemu dengannya.


" Oh iya aku baru ingat. Kau teman wanita itu bukan. Kau itu wanita yang ada di dalam mobil itu yang hampir menabrak Chandra. Ya kau itu itu teman Olive dan juga wanita itu," sahut Gibran yang akhirnya mengingat siapa Sana.


" Iya kenapa. Jadi aku juga tau siapa kau," sahut Sana.


" Kau jangan sok tau. Aku tidak mengenalmu. Jadi jangan sok ikut campur urusanku," sahut Gibran.


Sana mendengarnya sewot sendiri.


" Hey, siapa juga yang ikut campur urusanmu hah! kepedean," sahut Sana dengan menarik ujung bibirnya kesamping.


" Ya sudah kalau begitu. Sekarang kau turun dari mobilku. Sebelum aku menendangmu!" ancam Gibran.


" Kau tidak melihat hujan apa. Mata mu itu benar-benar buta ya," sahut Sana yang tetap bersih keras ingin di mobil itu. Dia memang tidak akan mengalah sama sekali.


" Aku tidak peduli. Jadi kau sekarang keluar dari mobilku!" tegas Gibran lagi.


" Aku tidak mau. Kau itu ya. Apa salahnya coba. Berbaik hati sedikit saja. Lihat masih hujan. Sekali-kali jadi manusia berbuat baik. Biar Tuhan itu menolongmu. Tau rasa aja jika semua orang meninggalkanmu. Jadi sedikit saja berbuat baik. Biar di kasih ampunan," ucap Sana yang malah menceramahi Gibran.


Namun Gibran diam mendadak saat mendengar ucapan Sana. Dia menghela napasnya panjang kedepan dan melihat ke arah sana yang mulutnya sejak tadi merocos saja.


" Baiklah! kau boleh disini. Tetapi awas saja. Jika kau bersuara sedikitpun. Setelah hujan reda kau langsung keluar. Sebelum aku mengusirmu lagi," ucap Gibran yang akhirnya mengalah.


" Hmmmm, begitu dong," sahut Sana tersenyum penuh kemenangan.


" Kenapa aku takut sekali jika polisi akan menangkapku. Apa papa akan memanjakanku. Apa dia memberiku hukuman di penjara," batin Gibran yang masih mengatur napasnya.


Gibran pria yang angkuh dan tidak takut apapun mendadak takut saat mendengar suara sirene polisi yang di kiranya untuk menangkap dirinya. Padahal hanya lewat saja.


Bersambung


...Mampir ke karya terbaru aku ya. Jangan lupa like komen, vote sebanyak-banyaknya. Di tunggu ya para readers setiaku....


Jam 10


__ADS_1


__ADS_2