Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 252


__ADS_3

Sementara di sisi lain terlihat Amelia yang berada di ruangan kerjanya yang terlihat kebingungan yang duduk di bangku kerjanya yang laptop terlihat ada di depannya yang mana matanya begitu fokus melihat layar laptop tersebut.


" Kenapa bisa jadi seperti ini. Pasti ada kesalahan dengan Perusahaan ku. Bukannya seharunya orang-orang kembali membuat sahamnya di perusahan ku. Lalu kenapa semakin banyak yang menarik sahamnya. Apa yang terjadi," ucap Amelia dengan wajah paniknya yang melihat layar laptop yang menunjukkan data-data garis data perusahaan mengenai penurunan saham.


" Aku harus menghubungi Mahendra. Jika seperti ini perusahan ku benar-benar akan tenggelam. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi," Amelia yang begitu panik langsung mengambil handphonnya untuk menghubungi Mahendra, di mana Mahendra adalah orang yang awalnya membantunya.


Namun beberapa kali menelpon Mahendra tidak juga mengangkat telponnya. Amelia terlihat semakin panik yang sekarang sudah bangkit dari tempat duduk ya dan terus menelpon Mahendra dengan Amelia yang mondar-mandir seperti setrikaan sembari mengigit jempolnya.


" Kenapa dia tidak mengangkatnya. Apa dia sedang sibuk," gumam Amelia yang semakin panik dengan Mahendra yang kelihatan mengabaikannya.


" Ayo dong Mahendra kamu harus mengurus Perusahaan ku yang di landa kehancuran. Aku tidak bisa membiarkan semuanya seperti ini. Mahenndra cepat angkat telponnya," batin Amelia yang terus menelpon mahenndra yang tidak kunjung di angkat Mahendra.


" Argggghhh sial!" umpatnya dengan kesal.


" Kenapa kamu?" tiba-tiba terdengar suara dari depan pintu membuat Amelia melihat ke arah pintu yang ternyata adalah suaminya Chandra.


" Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa?" jawab Amelia yang menurunkan handphone tersebut dari telinganya.


" Yakin tidak apa-apa?" tanya Chandra yang menatap istrinya itu penuh curiga.


" Mau aku kenapa-kenapa atau tidak apa-apa. Itu bukan urusan kamu," sahut Amelia yang terlihat ketus pada suaminya dan jelas hal itu membuat Chandra kesal dengan mengepal tangannya.

__ADS_1


Amelia yang terlihat stress dan penuh kebingungan memilih untuk keluar dari ruangan itu yang harus melewati Chandra. Namun Chandra langsung menghentikannya dengan mencengkram kuat pergelangan tangan Amelia.


" Aku ini masih suamimu. Jadi jika aku bertanya maka jawablah dengan benar," desis Chandra menekan suaranya dengan kuat.


" Aku tau kau suamiku. Tetapi aku tidak ada waktu untuk ribut denganmu. Jadi jangan menggangguku!" jawab Amelia yang melepaskan tangan suaminya dari tangannya dan langsung pergi. Membuat Chandra semakin di penuhi dengan amarah.


" Sial. Semakin lama kamu semakin berani Amelia. Kamu sudah tidak menghargaiku lagi," umpatnya dengan penuh kemarahan.


" Kau pikir siapa dirimu. Kau benar-benar kurang ajar, dasar istri tidak berguna. Wanita kurang ajar," maki Chandra pada istrinya yang semakin lama semakin berani membangkang dirinya.


***********


Setelah dari ruangannya. Amelia berada di pinggir kolam renang.


" Aku harus menghubungi Mahendra lagi. Aku tidak akan membiarkan semuanya seperti ini. Aku harus menghubunginya dan bertanya masalah Perusahaan ku," ucap Amelia yang memutuskan untuk menghubungi Mahendra kembali.


" Kenapa sih tidak di angkat juga?" umpat Amelia semakin kesal karena Mahendra tidak kunjung mengangkat panggilan dari dirinya.


**********


Sementara di sisi lain. Mahendra berada di dalam mobilnya yang terparkir di depan Perusahaan Glossi yang mana Mahendra duduk di kursi pengemudi. Handphone yang berada di tangannya terus saja berdering.

__ADS_1


Ternyata Amelia tidak henti-hentinya menelponnya dan Mahendra tidak mengangkatnya sama sekali. Malah membiarkan handphone tersebut berdering terus. Mahenndra menyunggingkan senyumnya dengan melihat panggilan masuk itu.


" Jadi dia sudah mulai menyadarinya. Ternyata dia tidak sebodoh yang aku pikir," gumam Mahendra dengan seriangi nakal di wajahnya.


" Jika takut akan kehilangan sesuatu maka dia akan melakukan apa saja. Dia tidak akan berpikir panjang. Amelia-amelia. Kau terlalu mempercayai orang sampai kau mempercayakan Perusahaan mu kepadaku. Kau tidak tau saja apa yang terjadi. Kau benar-benar Amelia sangat memprihatinkan," gumam Mahendra dengan tersenyum penuh kemenangan.


" Aku berharap kau bersabar untuk menunggu waktu yang tepat setelah ini. Ya kau harus benar-benar bersabar. Karena ini belum apa-apa. Sesuai janji ku padamu aku akan berikan kejutan besar untukmu," desis Mahendra yang sampai detik ini tidak mengangkat telpon dari Amelia yang terus menghuninya. Dia tetap saja mengangguri panggilan tersebut.


Sekarang Amelia benar-benar khawatir. Dia pikir memberikan kepercayaan pada Mahendra akan membuat perusahannya selamat dari kebangkrutan. Apalagi dia menerima uang yang banyak. Tetapi apa malah semakin terpuruk dan sekarang Mahendra pun tidak mau mengangkat telpon itu yang Mahendra meletakkan handphone yang masih berdering itu di jok mobil di sebelahnya.


" Aku harus pergi sekarang. Masih banyak yang harus aku urus," ucap Mahendra yang ingin menarik gas mobilnya. Namun dia saat dia ingin melakukan mobilnya. Tiba-tiba Jennie keluar dari perusahaan menuju mobilnya.


Mahenndra tidak jadi pergi dan hanya memperhatikan saja wanita itu memasuki mobil dengan matanya yang terlihat mengandung arti yang tidak bisa di jelaskan ada apa.


Jennie yang sudah memasuki mobil tersebut langsung melajukan dengan kecepatan santai dan tidak tau kenapa Mahendra harus mengikuti kemana mobil Jennie pergi.


Jennie yang berada di dalam mobil terlihat santai saja menyetir.


" Banyak sekali pekerjaan. Belum lagi menyelesaikan si brengsek Gibran, dia harus benar-benar di awasi. Jangan sampai berulah lagi. Apa lagi detik- detik penguman siapa yang akan berkolaborasi brand di Perusahan Glossi. Anna atau Aurelia. Itu artinya setelah pengumuman itu proyek Athar benar-benar selesai dan pasti Gibran si perusuh tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku harus benar-benar menyelesaikan semuanya dengan cepat. Tinggal 2 hari lagi. Aku harus membuat pengawalan yang lebih banyak lagi. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan," ucap Jennie yang sudah merancang banyak rencana demi keamanan Athar, Anna dan dirinya dan pasti untuk terjaminnya proyek itu berjalan dengan lancar yang hanya tinggal 2 hari lagi.


Jennie terus menyetir sambil mulutnya terus bergerutu dan mobil itu berhenti tepat di lampu merah yang ternyata Mahendra benar-benar mengikutinya dan mobil yang di kendarai Mahendra juga berhenti di lampu merah. Bahkan sejajar dengan mobil Jennie.

__ADS_1


Mahendra menoleh kesampingnya dengan menurunkan kaca mobilnya. Agar dirinya begitu jelas meliaht ke arah Jennie yang duduk santai yang sekarang Jennie melihat ponselnya yang sepertinya Jennie masih saja sibuk yang tidak tau apa yang di lakukannya. Tetapi yang jelasnya Gibran terus saja melihat Jennie dengan pandangan yang mengandung arti.


Bersambung


__ADS_2