Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 310


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan. Akhirnya mereka sudah tiba di Bali. Dari bandara mereka juga langsung di jemput supir yang mengantarkan mereka ke Villa keluarga Athar yang ada di sana. Perjalanan dari Bandara ke Villa hanya melewatkan waktu satu jam saja sampai akhirnya mereka sudah tiba.


Beberapa pelayan wanita dan Pria yang ada di Villa tersebut langsung menyambut keluarga besar Ari Purnama dan juga membantu menuruni koper-koper dalam bagasi mobil yang mana untuk koper saja di butuhkan 1 mobil.


" Selamat datang Bu Maya di Villa kami. Ini mungkin pertama kali Bu Maya datang kemari begitu juga dengan Anna," sahut Ari Purnama dengan sopan.


" Iya Pak Ari Purnama, saya sangat senang jika di suguhkan tempat tinggal seperti ini," sahut Maya tersenyum.


" Oh iya untuk kamar-kamarnya nanti bibi akan mengantar kalian semuanya dan Olive kemarin sudah menentukan kamar-kamar untuk kalian," ucap Maharani.


" Cowok sama cewek di pisah?" tanya Marko


" Ya di pisahlah, masa iya gabung. Kalau suami istri baru dan disini yang suami istri hanya Om Ari Purnama dan juga Tante Maharani," sahut Sana.


" Hanya bercanda doang langsung di buat serius," sahut Marko.


" Bercandanya nggak lucu!" ucap Sana.


" Sudah-sudah jangan bertengkar. Ya sudah kalian istirahatlah. Aku mau ketempat acara dulu. Aku mau cek persiapan lainnya," sahut Gibran.


" Ya sudah kamu jangan lupa suruh mama kemari," ucap Athar


" Iya Athar," sahut Gibran, " Baiklah aku pergi sebentar," ucap Gibran yang pamitan.


" Aku ikut!" sahut Sana tiba-tiba yang ingin ikut.


" Kenapa harus ikut segala?" tanya Lisa.


" Mau lihat-lihat aja," sahut Sana dengan tersenyum.


" Ya sudah ayo," sahut Gibran. Sana tersenyum dan langsung pergi bersama Gibran.


" Mereka itu ada hubungan ya? tanya Lisa.


" Mau ada hubungan atau tidak biarin ajalah," sahut Anna.


" Nggak tauh nih. Kepo amat sih," sahut Olive sewot, " lagian kalau mereka ada hubungan aku fine-fine aja," sahut Olive.


" Sudah jangan mengobrol lagi ayo sekarang kita masuk. Kita istirahat dulu apa kalian tidak capek apa," ucap Ari Purnama.


Merekapun akhirnya masuk yang menuju kamar masing-masing yang sudah di siapkan pelayan di rumah itu.


Anjani juga nanti akan menginap di Villa tersebut yang pasti dia sudah di siapkan kamar yang satu kamar dengan Maya. Maharani pasti dengan suaminya. Olive, Sana dan Lisa satu kamar. Anna, Aurelia dan Jennie satu kamar. Athar, Gibran, Derry 1 kamar. Marko dan Mahendra 1 kamar.


Villa itu memang besar dan banyak kamar yang menampung tamu di rumah tersebut.


*********


Anna berada di kamar bersama Jennie yang mana Anna berdiri di depan cermin dengan rambutnya yang basah.


" Bu Jennie punya hair dryer tidak?" tanya Anna melihat ke arah Jennie yang terlihat merapikan ruangan itu.


" Ada di dalam koper. Kalau tidak keberatan kamu ambil sendiri ya," jawab Jennie.


" Hmmm, baiklah," sahut Anna yang langsung berjalan mendekati koper yang berada di dekat pintu. Anna langsung menjatuhkan koper tersebut dan langsung membuka isinya , mencari hair dryer di dalam koper itu.


" Di dalam tas biru ya Anna," sahut Jennie yang memang mengasingkan beberapa alat agar tidak berantakan. Anna pun langsung menemukan tas biru dan langsung membukanya untuk mengambil hair dryer.


Anna pun mendapatkannya. Namun saat mengambilnya. Anna melihat benda kecil yang mencuri perhatiannya. Anna pun langsung mengambilnya yang seperti mainan kunci. Namun hal yang mengejutkan baginya, Anna melihat ada foto Jennie dan Mahendra yang terlihat mesra. Di mana Mahendra yang memeluknya erat dari belakang. Hal itu sungguh begitu mengejutkan bagi Anna yang semakin meyakini jika Mahendra dan Jennie ada hubungan.


" Kamu menemukannya Anna?" tanya Jennie membuat Anna tersentak kaget dan kembali menyimpan mainan yang ditemukannya itu.


" Iya Bu Jennie, aku mendapatkannya. Pinjam sebentar ya," ucap Anna berusaha untuk tenang. Jennie hanya mengangguk saja.


Anna kembali menghadap cermin dan melihat Jennie dari pantulan cermin.


" Mereka pasti ada sesuatu. Karena jelas banyak hal yang mereka lakukan dan apa yang aku temukan ini bukannya suatu bukti kalau mereka memang ada sesuatu dan iya di pesawat mereka juga berciuman," batin Anna semakin kuat dengan apa yang di pikirkannya.


**********


Sana dan Gibran terlihat memantau persiapan untuk gala premier Gibran. Di mana banyak orang yang membantu acara tersebut yang menata-nata lukisan yang indah-indah.


Sana juga begitu semangat membantu Gibran. Karena memang Sana orang yang selalu mendukungnya dan bahkan menjadi orang yang long bahagia dengan acara yang akan di adakan besok itu.

__ADS_1


" Ini mau di taruh di mana. Malah belum di buka lagi!" tanya Sana melihat 1 lukisan yang masih tertutup kain yang mana sana mendekatinya yang ingin memindahkannya.


" Jangan di pegang!" sahut Gibran langsung mencegah Sana dengan buru-buru menghampiri Sana.


" Hmmm, nanti biar aku saja yang memindahkan ini," ucap Gibran terlihat gugup.


" Lalu kenapa belum di buka?" tanya Sana heran.


" Belum kering. Jadi kalau di buka takut nanti catnya rusak," jawab Gibran yang terlihat gugup.


" Ohhhh, begitu rupanya. Memang seperti apa lukisannya. Aku boleh intip sedikit tidak?" tanya Sana yang sangat penasaran.


" Besok saja Sana. Jangan sekarang," Gibran terlihat mencegah Sana untuk melihat lukisan itu dan bagaimana Sana tidak penasaran dengan Gibran yang seperti itu.


" Sudah kamu kerjain yang lain aja. Biar aku yang mengurus ini," ucap Gibran. Sana malah semakin bingung dengan tingkah Gibran yang terkesan sangat aneh


" Gibran!" tegur Anjani yang menghampiri Gibran dan juga Sana.


" Eh Bu Anjani," sabit Gibran.


" Ibu pulang sebentar ya," ucap Anjani ingin berpamitan.


" Oh iya Bu. Athar juga tadi menyuruh ibu untuk istirahat dulu," sahut Gibran.


" Ya sudah kalau begitu ibu pergi dulu. Nanti kalau butuh sesuatu kamu langsung telpon ibu ya," ucap Anjani.


" Pasti Bu. Makasih Bu Anjani sudah banyak membantu," ucap Gibran yang merasa lega.


" Sama-sama Gibran. Ibu duluan. Mari sana!" sahut Anjani.


" Iya Bu Anjani hati-hati," sahut Sana. Anjani pun meninggalkan Gibran dan Sana.


" Hmmm, kamu mau makan tidak Sana?" tanya Gibran.


" Boleh," jawab Sana.


" Ya sudah kamu tunggu di sana saja ya. Aku cari makanan dulu!" ucap Gibran yang mendorong Sana pelan. Terlihat sekali Gibran tidak menginginkan Sana menyentuh lukisan yang masih terbalut kain itu.


Sana semakin penasaran saja. Namun tidak mungkin juga memaksakan diri untuk melihatnya. Dia pun harus menahan dirinya. Karena Gibran sudah tidak mengijinkannya untuk melihatnya. Pemasarannya harus di tahannya sampai acara primer berlangsung.


********


" Katanya ingin membicarakan sesuatu. Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Athar sembari mengelus-elus rambut Anna. Anna membalikkan tubuhnya dan berbaring lurus agar bisa melihat wajah kekasihnya itu.


" Sayang kamu kan sudah kenal lama sama Bu Jennie," ucap Anna.


" Iya lalu kenapa?" tanya Athar.


" Kamu tau tidak siapa pacarnya dulu, mantannya, atau masalah urusan privasinya," ucap Anna.


Athar mengkerutkan keningnya mendengar kata-kata Anna.


" Apa maksudnya Anna. Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Kenapa tiba-tiba harus membahas Jenni tidak biasanya," sahut Athar.


" Sayang aku itu penasaran saja dengan kisah masa lalu Bu Jennie," ucap Anna.


" Aku mana tau Anna. Lagian Jennie itu orangnya tertup. Aku saja tidak pernah melihatnya berkencan dengan siapapun. Dia hanya fokus bekerja dan aku tidak tau siapa pacarnya," sahut Athar apa adanya.


" Masa iya sih. Kamu tidak tau sedikit saja mengenainya, kamu kan sering bersamanya," sahut Anna merasa tidak mungkin.


" Memang aku tidak tau walau sering bersamanya dan kita sama-sama cuek. Masalahku saja aku banyak tidak tau. Apa lagi masalah orang lain," ucap Athar memang apa adanya.


" Lalu bagaimanakah dengan Mahendra. Kamu tidak tau juga Mahendra dan Bu Jennie ada hubungan?" tanya Anna.


Athar semakin bingung mendengar pernyataan Anna, " Mahenndra Jennie," sahut Athar heran. Anna menganggukkan kepalanya.


" Anna kamu kenapa banyak sekali pikiran kamu. Kamu bilang. Aurelia Mahendra. Terus Olive Mahendra dan sekarang Jennie. Kenapa semuanya pada Mahendra," ucap Athar.


" Sayang bukan seperti itu. Aku memang tau kalau Olive itu menyukai Mahendra dan taunya dari Lisa dan kak Aurelia sendiri juga menyukai Mahendra. Tetapi yang membuat aku harus berpikir kerasa adalah Bu Jennie dan Mahendra yang seperti ada hubungan," jelas Anna.


" Itu hanya perasaan kamu saja Anna. Kamu itu terlalu banyak berpikir. Aku rasa mereka tidak ada hubungan apa-apa dan selama ini Jennie hanya bekerja dengan Mahendra. Aku saja tidak mencium hal aneh-aneh di sana. Lalu kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu," ucap Athar.


Anna menghela napasnya dengan kasar dan langsung duduk menghadap Athar dengan serius.

__ADS_1


" Sayang kamu itu tidak peka banget. Padahal Bu Jennie itu Sekretaris kamu dekat dengan kamu. Aku itu sering menangkap mereka saling melihat dan bahkan kamu ingat tidak waktu kita makan di ruangan kami Mahendra tau Alergi dari Bu Jennie dan aku melihat ada ke anehan di antara ke-2nya," ucap Anna menegaskan pada kekasihnya itu.


" Anna kamu itu berpikiran terlalu jauh. Mereka bukannya sering bekerja sama dan wajar jika mereka itu dekat dan aku rasa masalah Alergi bukannya itu biasa," sahut Athar.


" Tapi aku juga melihat mereka berciuman di dalam pesawat," ucap Anna yang langsung mengatakan apa yang di lihatnya. Athar yang tadi ingin membuka mulutnya ingin bicara terdiam dengan wajahnya yang kaget.


" Kamu bilang apa?" tanya Athar.


" Mereka berciuman di pesawat dan aku menemukan ada mainan kunci yang mana foto mereka berdua," jelas Anna yang langsung to the point.


" Kamu serius?" tanya Athar yang tidak percaya.


" Aku serius. Makanya aku tanya sama kamu mengenai hubungan mereka," sahut Anna.


" Aku benar-benar terkejut mendengarnya. Aku sungguh tidak tau jika mereka ada hubungan," sahut Athar yang tidak bisa berkata apa-apa.


" Sayang aku itu merasa. Jika mereka berdua itu punya hubungan. Tetapi bukan di masa sekarang. Tetapi di masa lalu. Makanya aku bertanya lada kamu dan aku pikir kamu tau sesuatu," ucap Anna.


" Sungguh Anna aku memang tidak tau apa-apa. Karena memang selama ini Jennie itu tertutup," ucap Athar apa adanya.


Huffffff.


" Benar-benar membingungkan," ucap Anna menghela napasnya kasar.


" Mahenndra setampan apa sih. Olive menyukainya dan mengakui sendiri di depan semua orang. Aurelia juga dan sekarang Jennie. Dia pasti punya pesugihan," ucap Athar yang bicara asal-asalan.


" Sayang kamu jangan bicara sembarangan. Lagian aku lebih suka melihat Bu Jennie dengan Mahendra," sahut Anna.


" Kami juga jangan comblang- comblangi orang," ucap Athar.


" Siapa yang mencomblangi coba. Nggak ada. Aku hanya merasa mereka itu cocok dan memang kamu lihat sendiri saja. Mereka itu memang seperti ada hubungan," sahut Anna.


" Ya biarlah mereka itu ada hubungan atau tidak. Lagian ngapain sih kita mengurus mereka," ucap Athar yang tidak mau ribet.


" Siapa yang mengurusi. Aku hanya penasaran saja dan iya sayang untuk menjawab rasa penasaranku. Tugas kamu ya mencari taunya," ucap Anna.


" Kenapa aku," sahut Athar yang ingin protes.


" Kan dia asisten kamu," sahut Anna, " iyalah sayang, ya, ya,ya," Anna terlihat manja membujuk kekasihnya itu.


Athar menghela napas dan mengangguk terpaksa.


" Begitu dong," sahut Anna dengan semangatnya dan memeluk kekasihnya itu. Pekerjaan Athar harus bertambah demi Anna dan itu sebenarnya bukanlah pekerjaannya. Namun bagaimana lagi. Anna sudah memintanya. Apapun harus di lakukan demi pacarnya.


*******


Aurelia dan Mahendra terlihat berjalan-jalan dengan berduan di sekitar Villa.


" Kamu suka tidak Mahendra dengan tempatnya?" tanya Aurelia.


" Iya tempatnya bagus," jawab Mahendra dengan datar.


" Aku pernah kemari sekali. Waktu perayaan ulang tahun Tante Maharani," ucap Aurelia tanpa ada yang bertanya padanya.


" Ohhhh, begitu rupanya," sahut Mahendra dengan santai.


" Aku senang Mahendra. Kamu juga akhirnya bisa ikut ke Bali," ucap Aurelia.


" Bu Maya memakasa saya dan saya tidak punya pilihan lain," jawab Mahendra.


" Apapun itu aku tetap senang. Oh iya besok kita jalan-jalan ya," ucap Aurelia.


" Saya tidak bisa berjanji apa-apa. Kita lihat saja besok," sahut Mahendra. Aurelia mengangguk dengan tersenyum dan saking bahagianya dan semangatnya. Kaki Aurelia tersangkut dan hampir jatuh dan untung saja ada Mahendra yang menangkap tubuh Aurelia dengan tangan Mahendra menahan pinggang Aurelia yang hampir terjatuh.


Posisi yang begitu dekat itu membuat mereka berdua saling melihat, menatap dengan intens dan pasti jantung Aurelia berdebar-debar dengan kedekatannya dan juga Mahendra.


" Kak Mahendra," Mahendra dan Aurelia sama-sama terkejut ketika mendengar suara itu dan membuat Aurelia dan Mahendra melihat ke arah suara itu yang ternyata adalah Olive dan ada Jennie berdiri di sampingnya.


Mahenndra menelan salivanya dan langsung melepas tangannya dari Aurelia dan Aurelia berdiri tegak.


" Makasih Mahendra sudah membantuku," ucap Aurelia. Mahenndra hanya mengangguk. Olive terlihat kesal langsung menghampiri Mahendra.


" Ada apa Olive?" tanya Mahendra terlihat gugup. Mungkin karena ada Jennie. Jennie wajahnya biasa saja yang datar-datar saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2