Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 395


__ADS_3

Isak tangis mewarnai rumah duka di mana Chandra di semayamkan di kediaman Maya yang tak lain rumah Anna dan juga Aurelia. Para pelayat sudah mulai berkunjung kerumah duka.


Aurelia, Anna dan Chaca terus membaca ayat suci Alquran yang pasti sembari menangis di samping mayat papa mereka yang terbujur kaku yang tertutup dengan kain putih.


Keduanya kerap kali saling berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain yang menangisi papa mereka yang terbujur kaku.


Aurelia pasti sangat hancur. Karena sang papa tidak jadi menikahkan dirinya dengan calon suaminya. Karena sang papa sudah tiada duluan.


Athar berdiri tidak jauh dari tempat orang-orang melayat di mana Athar dengan ke-2 tangannya buang berada di saku celananya melihat mayat mayat Chandra yang sedang di tangisi Anna yang mana pasti Anna sangat terluka dengan kepergian papanya.


"Athar!" lirih Chandra dengan suara seraknya saat Athar memanggilnya membuat Athar mendekati Chandra.


"Iya pah," sahut Athar.


"Makasih ya kamu sudah menepati janji kamu untuk menikah dengan Anna dan memberikan Anna kebahagian," ucap Chandra yang berbicara dengan Athar.


"Papa tidak perlu berterima kasih. Karena Anna memang adalah tanggung jawabku. Aku melakukan semuanya demi Anna dan kebahagiannya memang sudah kewajibanku dan papa tidak perlu mengucapkan terima kasih kepadaku," ucap Athar.


"Tapi papa sangat bangga Athar dengan kamu. Papa titip anak papa. Papa tau kamu sangat mencintai Anna. Kamu sangat tau bagaimana cara membahagiakannya. Jadi papa titip putri papa untuk kamu," ucap Chandra dengan tersenyum pada Athar.


"Papa jangan bicara soal menitip pada saya. Karena kita akan sama-sama menjaga Anna," ucap Athar.


"Tidak Athar. Papa sudah tidak bisa menjaganya lagi. Sekarang papa benar-benar menyerahkannya kepada kamu. Papa yakin kamu pasti membahagiakannya berjanjilah akan tetap selalu ada di sisinya," ucap Chandra yang ingin mendengarkan janji dari Athar.


"Athar kami mau kan berjanji untuk menjaga Anna?" tanya Chandra.


"Iya pah. Aku berjanji pasti akan menjaga Anna dengan baik, aku berjanji tidak akan meninggalkan Anna, papa jangan khawatir aku akan selalu menjaganya," sahut Athar yang berjanji pada Chandra.


"Terima kasih Athar papa percaya itu, Terima kasih untuk yang kamu lakukan," ucap Chandra dengan tersenyum.


"Papa sebaiknya istirahat, papa sudah janji untuk sembuh pada Anna. Jadi jangan kecewakan Anna. Dia akan sangat sedih jika papa tidak sembuh," ucap Athar. Chandra hanya mengangguk saja dengan tersenyum seakan ada kelegaan dalam dirinya yang berbicara dengan Athar.


Athar menghela napasnya perlahan kedepan dengan mengusap wajahnya dengan tangannya yang tidak percaya jika pembicaraan itu adalah pembicaraan terakhirnya dengan Chandra. Di mana Chandra yang berpesan dengan menitipkan istrinya kepadanya yang pasti memang dia akan menjaga istrinya tersebut.


"Papa jangan khawatir. Anna akan baik-baik saja bersamaku aku tidak akan membuat Anna menangis. Papa istirahatlah dengan tenang," batik Athar dengan air matanya yang harus jatuh karena tidak bisa menahan kesedihannya.


Di sisi lain yang ternyata Derry juga melihat Chandra yang sudah tidak bernyawa membuat Derry ikut sedih. Apa lagi Derry mengingat terakhir kali pembicaraannya pada Chandra.


Sebelum Chandra sakit ternyata Derry pernah berbicara serius dengan Chandra saat Derry mengunjungi Chandra di rumahnya tanpa Aurelia. Di mana Derry yang sangat suka menemani Chandra untuk siap-siap dalam setiap pekerja yang di lakukannya.


"Aneh sekali ya Derry," ucap Chandra tiba-tiba yang sedang merawat tanamannya.


"Aneh apa Om?" tanya Derry heran yang ikut berkebun dengan Chandra.


"Ya kehidupan ini," sahut Chandra.


"Ada apa dengan hidup Om. Bukannya semuanya baik-baik saja?" tanya Derry heran dengan perkataan Chandra.

__ADS_1


"Iya kamu benar sih semuanya benar-benar baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengan kehidupan. Tetapi pada intinya semuanya seperti itu. Hhhhhh apa hidup ini sudah cukup untuk saya," ucap Chandra tiba-tiba.


"Apa yang Om bicarakan. Mana ada seseorang yang ingin hidup sudah cukup. Jadi Om jangan mengatakan hal yang aneh-aneh," ucap Derry dengan geleng-geleng.


"Ya begitulah Derry mau bagaimana lagi, karena pada dasarnya semuanya seperti itu dan sepertinya saya tidak bisa melihat kamu dan Aurelia akan menikah. Walau saya sangat menginginkan semua itu," ucap Chandra yang berbicara begitu santai membuat Derry langsung melihat Chandra.


Wajah Chandra tampak teduh dan Derry tidak mengerti apa Chandra tau apa tidak dengan apa yang di bicarakannya.


"Om minta maaf ya tidak bisa menghadiri pernikahanlo kalian..Makasih Derry kamu selalu ada untuk Aurelia, bukan setahun 2 tahun kamu selalu menjaganya tetapi bertahun-tahun kamu selalu mendampinginya dan semua itu tidak mudah. Makasih Derry untuk kebaikan yang kamu berikan untuk Aurelia. Om benar-benar tidak menyangka jika Aurelia bisa menemukan pria yang tepat seperti kamu," ucap Chandra dengan tersenyum lebar yang berbicara dengan lancar pada Aurelia.


"Apa yang Om bicarakan kenapa tiba-tiba pembicara kita mengarah kesana?" tanya Derry.


"Tidak ada Derry. Om hanya ingin menitipkan Aurelia kepada kamu karena Om yakin hanya kamu yang bisa membahagiakannya berikan dia kekuatan terus dan sampaikan maaf om kepadanya. Karena Om tidak bisa menepati janji Om kepadanya. Bagi Om Aurelie adalah anak yang baik dan sangat penyayang," ucapanku Chandra yang tersenyum berbicara pada Derry.


"Dan iya Om sangat suka berkebun dan tempat ini yang terus menemani Om dan kamu ternyata sangat sering membantu Om. Alangkah baiknya kamu jangan tinggalkan ya tempat ini. Kalau punya waktu senggang datanglah dan beri makan pada tumbuhan ini," ucap Chandra yang melihat semua tumbuhan nya dengan senyumnya yang penuh dengan kebahagiaan.


Ingatan itu membuat Derry juga meneteskan air mata. Ternyata pembicaraan itu adalah pembicaraan terakhir antara ke-2nya.


"Terima kasih Om Chandra sudah memberi saya saya kepercayaan untuk menjaga Aurelia. Saya janji akan terus mendampinginya dalam keadaan apapun saya janji tidak akan meninggalkannya dan akan mencintainya sampai kapanpun akan membahagiakannya semampu saya. Saya janji itu," batin Derry dengan napasnya yang menghela panjang yang berjanji pada Chandra.


***********


Pemakaman. Akhirnya Chandra pun di makamkan di mana semua keluarga, teman-teman Anna ikut mengantarkan Chandra ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dengan mereka yang memakai pakaian serba putih yang melayat ketempat itu.


Athar turut serta mengambil alih untuk memakamkan mertuanya yang langsung masuk ke dalam liang lahat.


Sementara Anna terus saja menangis yang di pelukan Anjani dan Aurelia menangis di pelukan Maya. Kakak beradik itu sama-sama terluka sama-sama kehilangan sosok ayah dalam hidup mereka yang di katakan masih terlalu cepat.


Chaca juga menangis yang terus di tenangkan Maharani.


"Papa! papa! lirih Anna yang menangis sengugukan melihat sang papa yang di masukkan kedalam liang lahat.


"Jangan pergi pah, papa!" Aurelia juga terlihat belum ikhlas dengan kepergian Chandra.


"Anna sudah ya sayang, biarkan papa kamu istirahat, papa kamu sudah tidak sakit lagi, jangan terus menangis ya," ucap Anjani berusaha untuk menenangkan menantinya yang pasti sangat kehilangan itu.


"Aurelia mama mengerti perasaan kamu seperti apa. Tapi kamu tidak boleh terus sedih. Papa kamu akan tenang di alam sana," ucap Maya yang sebenarnya juga sangat sedih dan beberapa kali menyeka air matanya.


"Tapi mah papa, papa mah, papa tidak menepati janjinya, papa seharusnya tidak pergi secepat ini, papa seharunya masih ada di sini," ucap Aurelia dengan menangis sengugukan.


"Mama mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi kami harus kuat. Kamu sama Anna harus benar-benar kuat. Kamu lihat Chaca dia masih kecil dan dia berusaha untuk kuat, kamu adalah kakak paling tertua. Jadi harus saling menguatkan ya nan," ucap Maya yang berusaha untuk membuat pengertian kepada anaknya.


"Ya Allah kasihan sekali Anna, baru saja menikah dan sekarang Om Chandra sudah pergi, aku tidak membayangkan betapa sedihnya Anna," batin Lisa yang ikut mengusap-usap bahu Anna yang juga menangis melihat temannya yang berduka.


"Ya Allah kak Aurelia bahkan mengundur pernikahan nya dengan kak Derry demi Anna dan sekarang kak Aurelia pasti sangat hancur karena Om Chandra tidak ada di hari pernikahannya. Tidak menikahkannya sangat wajar jika sekarang dia tidak terima dengan kematian Om Chandra. Kasihan ya Allah," batin Aurelia yang juga tidak bisa membendung tangisnya.


"Anna dan Aurelia anak-anak yang kuat. Sejak kecil di pisahkan dari ibu mereka menghadapi masalah yang begitu berat, cobaan yang datang bertubi-tubi dan baru sebentar bahagia sudah di uji lagi, ya Allah kasihan sekali mereka berdua yang sekarang pun kehilangan om Chandra untuk selama-lamanya," batin Sana yang ikut sedih dengan melihat Anna dan Aurelia yang tidak henti-hentinya menangis.

__ADS_1


"Orang yang hidup akan kembali pada kehidupan dalam keabadian. Selamat jalan Om Chandra. Kamu tetap ayah yang hebat dan percayalah anak-anak mu sangat bangga kepadamu. Kamu pasti di tempatkan di surga yang indah," batin Jennie yang melihat bagaimana Chandra yang di tabur dengan tanah sebagai tempat istirahatnya.


Anna Aurelie, dan Chaca berada di samping makam tersebut dengan mereka yang menabur bunga di atas pusarah makam itu. Athar berjongkok di samping Anna dengan merangkul bahu istrinya mengatakan sang istri.


"Sayang kamu yang kuat ya. Papa sudah tenang di alam sana dia sudah bahagia, kamu harus tersenyum biar papa bangga dengan kamu," ucap Athar yang terus menenangkan istrinya.


"Kenapa secepat ini papa perginya. Aku sempat membahagiakan papa. Tetapi papa sudah pergi," ucap Anna yang menangis senggugukan.


"Papa pergi dengan bahagia. Jadi tidak ada yang cepat atau lama. Karena semua orang pasti akan kembali ke tempat keabadian. Jadi kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Aku sangat yakin kamu sangat kuat," ucap Athar.


Anna mengangguk dengan menabur bunga kembali mengusap mesan Chandra dan memeluknya.


"Selamat jalan pah, maafkan Anna. Jika Anna banyak salah pada papa sering melawan pada papa. Maafkan Anna yang belum bisa menjadi anak yang papa inginkan. Anna janji akan menjaga Chaca dengan baik, akan menjadi kakak yang baik. Papa tenanglah di sana. Kami akan baik-baik saja. Selamat jalan pah," ucap Anna yang menangis sengugukan yang harus ikhlas dengan kepergian Chandra.


"Maafkan Aurelia pah, jika kata-kata Aurelia sering menyakiti papa. Kita sering bertengkar, sering ribut dan ini dan itu, maafkan Aurelia pah, yang sudah tidak menjadi anak yang baik, papa tenang di sana ya. Aurelia sangat bangga yang bisa menjadi anak papa. Aurelia juga bangga telah menjadi anak papa, selama jalan pah. Aurelia akan menjadi kakak yang baik untuk Anna dan juga Chaca. Aurelia janji papa jangan khawatir. Papa istirahat saja di sana," ucap Aurelia yang menangis sengugukan.


"Papa sekarang sudah tidak sakit lagi. Tidak apa-apa papa. Papa hidup dengan tenang ya di sana. Chaca sangat berterima kasih karena papa masih mau menemui Chaca. Chaca sayang sekali sama papa. I Love you papa," ucap Chaca yang tersenyum. Dia menjadi satu-satunya yang tersenyum untuk hal ini. Jadi Chaca mungkin sangat ikhlas dan percaya jika sang papa akan berada di tempat yang terbaik.


"Selama jalan pah, aku akan menepati janjiku untuk menjaga Anna, jangan khawatir aku akan terus berada di sisinya," batin Athar.


"Om Chandra tenanglah di sana. Aku pasti akan selalu bersama Aurelia apapun yang terjadi. Terima kasih Om Chandra selama ini Om bahkan sudah menjadi temanku," batin Derry.


"Selamat jalan Chandra, kau ayah yang hebat. Kita sudah lama berteman. Aku akan ikut menjaga putrimu," batin Ari Purnama.


"Mas Chandra jangan pernah khawatir kami akan menjaga Aurelia, Anna dan Chaca," batin Maharani.


"Pak Chandra, kita mungkin bari mengenal. Tapi saya yakin anda sangat baik. Selamat jalan semoga ada tempat yang terindah di sisinya untukmu," batin Chandra.


"Selama jalan Om Chandra," batin Sana.


" Selama jalan Oma Chandra," batin Gibran.


"Om Chandra selamat jalan, Om ayah yang hebat dan sekarang tidak sakit lagi," batin Lisa.


"Semoga Oma berada di sisi terindah di atas Sana," batin Marko.


"Om Chandra Olive pasti tidak akan membiarkan Anna sedih, kak Aurelia dan juga Chaca. Om yang tenang ya di sana," batin Aurelia.


"Selamat jalan pak Chandra, Terima kasih sudah sebelumnya banyak membantu saya," batin Jennie.


"Selamat jalan Pak Chandra, maafkan saya jika kita pernah saling berselisih paham," batin Mahendra.


"Mas Chandra masa lalu di antara kita akan menjadi masa lalu, itu terindah atau tidak. Itu lah gambaran hidup. Kamu pernah menjadi suamiku dan sekarang sampai kapanpun kamu ayah dari anak-anakku. Selamat jalan, kita sudah saling memaafkan dan anak-anak biar aku yang menjaganya, berbahagialah," batin Maya dengan tersenyum yang melihat mesan yang tertulis mesan mantan suaminya itu.


Namun Maya tidak sengaja melihat ke arah lain dan ternyata melihat seorang wanita yang berkerudung hitam dengan pakaian hitam yang dapat di kenalinnya.


"Amelia," batin Maya yang mengenali siapa wanita yang bersembunyi yang melihat proses pemakaman itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2