
Anna mengangguk dengan ajakan Athar yang mengajaknya untuk pulang dan mereka berlalu dari rumah Anjani. Walau pun masih saja hujan.
Anna menengok kebelakang dan melihat Anjani berdiri di depan pintu yang sepertinya meratapi kepergian Athar, seakan tidak ingin Athar pergi. Hal itu membuat Anna heran dengan wajah sedih wanita itu.
Anna memang bertanya-tanya dengan hal itu. Tetapi dia hanya berpendapat jika wanita itu menyukai Athar. Walau baginya itu tidak masuk akal sama sekali.
" Apa yang kau lihat?" tanya Athar yang memperhatikan gerak-gerik Anna.
" Seperti yang aku katakan ibu itu sepertinya menyukaimu dan dan lihatlah dia masih terus melihatmu seakan tidak mau kehilanganmu," ucap Anna yang asal-asalan bicara. Athar yang mendengarkan Anna melihat kebelakang dan melihat wanita itu memang masih melihatnya.
" Aku benarkan," sahut Anna. Athar kembali mengalihkan pandangannya dan melihat Anna.
" Jangan sok tau. Kau tidak tau jika usianya sudah tua. Dia itu pantas menjadi ibuku. Jadi jangan bicara yang tidak-tidak," sahut Athar yang kembali melanjutkan langkah bersama Anna.
" Memang kalau wanita tua tidak boleh menyukai Pria yang lebih muda. Bukannya sekarang lagi musimnya ya wanita menyukai berondong dan memang kau itu tipenya makanya dia juga memberimu pakaian," ucap Anna yang menggoda Athar.
" Mulutmu tidak bisa diam. Sebaiknya kau berjalan saja. Jangan bicara yang tidak-tidak," ucap Athar kesal dengan melihat Anna. Namun Anna melihatnya dengan senyum miring.
" Ya ampun wajahmu merah. Kau pasti malu ya. Ehemmm, kau ini lucu sekali wajahmu seperti sedang berbunga-bunga. Mentang-mentang ada yang menyukaimu," goda Anna yang memang tidak ada takutnya dengan Athar.
Athar menghentikan langkahnya dan melihat kesal ke arah Anna yang masih tersenyum dengan menggodanya.
" Ya ampun sedang jatuh cinta," goda Anna lagi.
" Kau bisa diam tidak," ucap Athar menekan suaranya.
__ADS_1
" Hmmmm, malu-malu," goda Anna lagi menunjuk-nunjuk Athar. Athar yang kesal langsung menyinggirkan payung dari kepala Anna dan hanya membuat di atas kepalanya.
" Athar apa yang kau lakukan, aku basah," sahut Anna kebasahan dengan tangannya menutup kepalanya.
" Biarkan kau basah. Jangan suka mengatai orang yang tidak-tidak," ucap Athar yang tidak memberi Anna payung.
" Isssh kau ini," Anna langsung mendekat pada Athar dan Athar langsung mundur yang memang tidak akan memberi Anna payung. Karena sudah begitu kesalnya dengan Anna dan ingin memberi Anna pelajaran.
Tetapi bukan Anna namanya yang tidak akan menyerah dia terus mendekati Athar dan Athar terus menghindar. Sementara Anna sudah basah karena ulah Athar. Sampai akhirnya Anna mendapatkan Athar dan langsung memeluk pinggang Athar. Agar Athar tidak bisa mundur lagi dengannya.
" Jangan serakah dengan payung itu. Mentang-mentang dia yang memberikannya. Kau tidak ingin membagiku, aku bisa kebasahan," ucap Anna yang memeluk pinggang Athar erat dengan wajahnya berada di dada bidang Athar.
Apa yang di lakukan Anna membuat Athar diam mematung dengan Anna yang berada di pelukannya. Mungkin telinga Anna bisa mendengarkan debaran jantungnya yang bergemuruh di dalam sana.
Anna mengangkat kepalanya dan mendongak ke atas melihat ke arah Athar yang ada di depannya dan Athar menundukkan pandangannya untuk melihat wajah di depannya itu.
Yang terlihat polos yang bicara dengan Athar. Athar hanya memperhatikan bibir Anna yang terus bicara.
Perasaannya seolah-olah tidak terkendalikan. Apa lagi tubuh Anna yang melekat pada dirinya.
" Maka diamlah dan jangan bicara lagi," sahut Athar dengan suara beratnya.
Anna mengangguk yang mendengarkan perkataan Athar. Dia tidak mau Athar benar-benar tidak memberinya payung. Athar mehembhskan napasnya perlahan dan Anna pun melepas pelukan itu. Dia terlihat biasa. Namun Athar sudah entah seperti apa perasaannya.
Mereka pun kembali berjalan dengan Anna yang begitu rapat pada Athar dan Athar kembali meletakkan tangannya di bahu Anna merangkul Anna agar tidak terkena hujan. Apa yang di lakukan Athar mampu membuat Anna tersenyum tipis yang tidak tau apa itu artinya.
__ADS_1
************
Anna dan Athar berjalan dengan langkah yang sejajar yang melewati hujan deras itu. Athar terus membuat Anna mendekat padanya. Agar Anna tidak terkena hujan sedikitpun. Memang Athar diam-diam begitu sweet pada Anna, dan Anna sendiri juga tidak akan mencari gara-gara lagi dengan Athar. Dia tidak mau pulang basah-basahan.
Jadi dia harus tutup mulut dan terus mepet-mepet dengan Athar yang merasa begitu nyaman berada di samping Athar dan jangan tanya Athar. Pasti Athar jauh lebih nyaman bersama dengan Anna.
Tidak lama akhirnya Anna dan Athar sampai kepenginapan dan mereka. Memang sebenarnya perjalanannya tidak terlalu jauh dan mereka sudah berada di depan pintu yang masih tertutup.
" Akhirnya sampai," ucap Anna yang merasa begitu lega. Athar hanya mengangguk saja dengan meletakkan payung di samping pintu.
Anna langsung membuka pintu yang mana, Sana, Lisa dan Olive ada di dalamnya yang duduk berkeliling membentuk lingkaran yang sedang menikmati Indomie. Ke-3 wanita itu kaget melihat kedatangan Athar dan Anna yang tiba-tiba datang.
" Kak Athar, kakak dari mana aja?" tanya Olive penasaran dengan makanan yang penuh di dapam mulutnya.
" Benar Anna, kalian dari mana sih. Kenapa coba tidak pulang-pulang. Tadi malam kalian berada di mana dan sampai sekarang baru pulang," sahut Sana yang juga heran dan sangat penasaran dengan temannya itu.
" Hmmm, kita, kita," sahut Athar yang terlihat gugup yang juga tidak tau harus menjawab apa sementara yang lain sedang menunggu jawaban mereka.
" Ya ampun apa juga ya yang harus di jawab Athar," batin Anna yang terlihat gugup.
" Ahhhhh, sudahlah yang penting kalian sudah kembali. Ayo ikutan makan," sahut Olive yang menyelamatkan kegugupan Athar dan juga Anna. Dan terlihat Anna dan Athar sama-sama bernapas lega. Sementara Lisa hanya melihat dengan santai.
" Oh, iya kalian makan apa," sahut Anna langsung heboh untuk menutupi rasa canggung itu.
" Hanya mie. Di masakin bibi tadi. Kalian pasti belum makan kan," sahut Lisa.
__ADS_1
" Kamu benar, memang kami belum makan. Perutku juga sudah mulai demo. Hmmmm pasti makannaya enak sekali, aku ingin melahapnya," sahut Anna yang langsung duduk untuk menikmati mie yang masih panas dan bahkan masih berasap yang membuatnya berselera.
Bersambung