Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 360


__ADS_3

1 Minggu kemudian. Anna, Aurelia, Olive, Sana, Gibran sedang melakukan perjalanan di mana mereka akan berangkat ke Swiss, Negara Eropa untuk menghadiri pernikahan Jennie dan juga Mahendra.


Mereka perginya bersamaan yang awal-awalnya Olive sebenarnya masih tidak ingin gabung-gabung dengan Aurelia. Tetapi mau tidak mau dia harus ikut bergabung. Karena tidak ada lagi temannya berangkat.


Yang kebetulan, Maharani, Ari Purnama sedang berada di New York untuk menyusul Athar dan Derry. Ya mereka sudah pergi 3 hari sebelumnya dan baru punya kesempatan untuk pergi kesana untuk melihat kondisi Athar.


Perjalanan tidak terlalu lama dari Indonesia ke Swiss dan sudah sampai di Swis yang juga pasti transportasi, penginapan dan yang lainnya sudah di siapkan oleh Jennie dan Mahendra.


Seperti sekarang ini mobil yang membawa mereka sudah berada di depan hotel mewah dan juga langsung di antarkan seorang yang mungkin akan melayani mereka yang pasti orang tersebut orang yang di suruh Mahendra dan juga Mahendra.


"Ayo Nona mari saya tunjukkan kamar untuk kalian," ucap Pria yang mengantarkan mereka.


"Baiklah," sahut Gibran dan mereka semua pun mengikuti Pria tersebut, dari memasuki lift keluar dari lift sampai akhirnya tiba di depan kamar hotel.


"Ini kamar untuk tuan Gibran dan juga Nona sana dan yang ini untuk Nona Anna, Nona Olive dan Nona Aurelia," ucap pria itu dengan sopan memperlihatkan kamar-kamar tersebut.


"3 bertiga 1 kamar," sahut Olive.


"Benar Nona," jawab Pria itu. Kelihatan Olive tidak suka. Mungkin karena ada Aurelia yang mana hubungan mereka belum baik-baik saja.


"Olive memang kenapa? kamu tidak mau ya 1 kamar dengan ku," tebak Aurelia yang sudah tau hal itu.


"Tidak siapa yang mengatakan hal itu," sahut Olive.


"Sudahlah Olive. Bukannya kamu sudah mengatakan, kamu itu sudah dewasa. Jadi jangan aneh-aneh kamu permintaannya. Ingat kita ini tamu dari Jennie. Jadi hargai apa yang di berikannya. Jangan kebanyakan komplain," ucap Gibran.


"Issss, kak Gibran apa-apaan sih. Siapa juga yang komplain. Aku itu tidak komplen," sahut Olive.


"Sudah-sudah sayang jangan bertengkar. Sudah sebaiknya kita masuk ke kamar kita masing-masing dan iya kita harus beristirahat, ingat besok pagi harus ke lokasi pernikahan Jennie dan Mahendra. Jadi kita semua jangan ada perdebatan lagi," sahut Sana.


"Benar, lagian apa kalian tidak capek apa. Sudah ayo kita masuk aja dan langsung istirahat," sahut Anna yang juga sudah lelah dan langsung masuk terlebih dahulu.


"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu," sahut Pria itu undur diri setelah melaksanakan tugasnya.


"Sudah sana masuk Olive!" desak Gibran dan mau tidak mau Olive yang memang kelihatan tidak ikhlas sekamar dengan Aurelia akhirnya masuk juga.


"Aurelia kamu harus memaklumi Olive," ucap Gibran.


"Tidak apa-apa Gibran. Aku paham kok," sahut Aurelia dengan tersenyum.


"Ya sudah sana kamu juga masuk. Aku juga mau istirahat," sahut Sana. Aurelie mengangguk dan langsung menyusul untuk masuk.


"Ayo sayang kita masuk!" ajak Gibran pada istrinya. Sana mengangguk dan memasuki kamar mereka untuk mereka beristirahat. Karena memang begitu lelah.


*********


Aurelia, Anna dan Olive sudah berada di dalam kamar. Kamar tersebut cukup luas dengan ranjang king size yang memang cukup untuk ber-3. Jadi Jennie memang sudah tau apa yang di butuhkan, makanya dia menyiapkan segalanya.


Anna, Aurelia dan Olive sedang beres-beres koper mereka. Aurelie juga sudah keluar dari kamar mandi yang tadi Aurelia sudah mandi terlebih dahulu.


"Lisa dan Marko belum sampai kemari?" tanya Aurelia.


"Kayaknya sih belum. Dia juga belum mengabariku," sahut Anna yang memang menunggu kabar dari temannya itu.


"Lama juga yah," sahut Aurelia.


"Mungkin sebentar lagi kak," sahut Anna, "Hmmm ya sudah aku mau mandi dulu," ucap Anna.


"Iya mandilah," sahut Aurelia.


Semua memang harus bergiliran untuk mandi. Tadi Aurelia yang mandi dan sekarang Anna dan setelah Anna pasti Olive. Kepergian Anna yang meninggalkan Olive dan Aurelia.


Sangat terlihat jelas bagaimana Olive yang masuk ketus pada Aurelia. Bahkan dia mencari kesibukan sendiri seolah tidak menganggap ada Aurelia di sana.


Aurelie menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu langsung melangkah mendekati Aurelia yang mengeluarkan pakaian dari dalam koper.


"Ada apa?" tanya Olive ketus ketika Aurelia berdiri di sampingnya.


"Aku melakukan kesalahan yang besar kepadamu. Bicaraku yang tidak dewasa dan aku akui itu sangat menyakiti mu. Aku juga tidak tau harus mulai dari mana. Namun aku menyadari dari permasalahan kita yang merebutkan Mahendra membuat hubungan kita menjadi tidak baik," ucap Aurelia.

__ADS_1


"Bukannya memang sebelumnya hubungan kita tidak baik," sahut Olive dengan santainya.


"Jika sebelumnya hubungan kita tidak baik. Maka tidak ada salahnya untuk sekarang hubungan kita yang harus menjadi baik," sahut Aurelia dengan santainya.


"Apa maksudmu?" tanya Olive.


"Olive aku benar-benar minta maaf dengan apa yang aku lakukan kepadamu. Aku minta maaf dengan kata-kata ku yang salah. Kata-kata ku yang tidak harus aku katakan. Aku sangat menyebalkan dan tidak menjadi dewasa. Karena hanya laki-laki yang sama sekali tidak menyukaiku," ucap Aurelia dengan tulus.


"Aku justru malu dengan kamu Olive. Aku jauh lebih dewasa dengan kamu. Tetapi kamu bisa menerima kenyataan masalah Mahendra. Sementara aku tidak dan malah membuat obat yang merugikan banyak orang. Termasuk merugikan kamu dan membuat kamu semakin membenciku. Jadi aku benar-benar minta maaf dengan semua kesalahanku yang mungkin tidak terhitung padamu," ucap Aurelia dengan lembut yang lebih baik minta maaf dari pada harus berlarut-larut bermusuhan dengan Olive.


Olive masih diam yang tidak tau harus menjawab apa. Mungkin dia juga tidak percaya. Jika Aurelia bisa meminta maaf kepadanya dan mengatakan banyak hal yang lembut kepadanya yang jujur sangat menyentuh hatinya.


Namun Aurelia ini angin-anginan yang pasti akan melakukan hal itu lagi dan Olive seakan tidak pernah mempercai Aurelia apakah akan berubah atau tidak.


Aurelie mendekati Olive dengan memegang ke-2 tangan Olive membuat Olive melihat kearahnya yang tau. Jika Olive ini masih meragukannya.


"Tidak mudah untuk memaafkan ku. Tapi aku sungguh benar-benar minta maaf Olive dan aku tidak memaksa mu harus meminta maaf padaku. Yang pada intinya aku sudah meminta maaf dan aku berharap kamu membalas maaf ku," ucap Aurelia dengan tersenyum yang tidak masalah sama sekali.


Aurelia melepas tangannya dari Olive dan langsung melangkah dengan hati yang legowo.


"Aku juga minta maaf," sahut Olive yang akhirnya memaafkan Aurelia yang membuat langkah Aurelia terhenti dengan Aurelia yang tersenyum.


"Aku maafkan mu," ucap Olive membuat Aurelia membalikkannya tubuhnya dan melihat Olive, "kita sama-sama salah. Aku juga salah. Jadi aku memaafkan mu dan aku juga minta maaf. Karena aku juga yang salah. Jadi kita berdua sama-sama salah dan aku juga minta maaf," ucap Olive dengan tulus yang akhirnya mau juga memaafkan Aurelia.


Aurelie tersenyum dan langsung mendekati Olive dan langsung memeluk Olive yang akhirnya mereka berdamai dengan Olive juga membalas pelukannya.


"Kita bukan anak kecil lagi. Jadi jangan bertengkar dan tidak saling bertegur sapa. Saling membenci hanya karena laki-laki yang tidak menyukai kita," ucap Olive dengan dewasanya.


"Hmmm, baiklah aku tau itu. Aku benar-benar minta maaf padamu dan aku sungguh malu. Karena aku tidak bisa dewasa dirimu," ucap Aurelia.


"Iya aku juga minta maaf, jadi harus ingat kita harus sama-sama berubah dan jangan sampai kita melakukan hal-hal yang tidak seharusnya di lakukan dan seperti anak-anak," ucap Olive.


"Baik Olive. Makasih sudah mengingatkanku. Apa kita akan menjadi teman?" tanya Aurelia.


"Ya sudahlah, kita sudah seperti ini. Maka berarti kita teman," sahut Olive. Aurelia mengangguk dengan tersenyum yang merasa bahagia dengan Olive mau berdamai dengannya. Yang mereka juga berpelukan begitu erat sekarang.


Ternyata Anna tadi belum mandi Anna bahkan mengintip yang ternyata menguping pembicaraan kakak dan juga temannya itu.


Setelah puas melihat hal itu Anna langsung menutup pintu kamar mandi dan mulai mandi. Karena temannya juga sudah baik-baik saja.


**********


Tidak lama akhirnya Anna pun selesai mandi dengan Anna yang keramas dan keluar dari kamar mandi sembari melap kering rambutnya.


"Sudah selesai Anna?" tanya Olive.


"Sudah. Kalau kamu mau mandi. Mandi aja," sahut Anna.


"Hmmm, baiklah aku akan mandi," jawab Olive.


Anna mengangguk Olive juga langsung buru-buru kekamar mandi.


"Kamu mau makan tidak Anna. Biar kakak cari makan di luar?" tanya Aurelia..


"Hmmm ya sudah Anna ikut saja," sahut Anna.


"Tidak usah. Kakak saja yang pergi. Kamu beres-beres aja dulu. Biar kakak yang cari makan sendirian. Kan kakak sudah selesai beres-beres," sahut Olive yang tidak mau Anna ikut-ikutan.


"Baiklah kak kalau begitu," sahut Anna.


"Ya sudah kalau begitu kakak keluar dulu. Oh iya kamu mau makan apa?" tanya Aurelia.


"Apa aja yang kakak pesan. Karena apapun itu pasti enak dan cocok di lidahku," sahut Anna..


"Baiklah kalau begitu. Kalau begitu kakak pergi dulu," ucap Aurelia pamit.


"Kak Aurelia tunggu!" panggil Anna.


"Ada apa lagi?" tanya Aurelia heran.

__ADS_1


"Kakak dan Olive sudah baik-baik saja?" tanya Anna yang padahal tau dan hanya pura-pura tidak tau.


"Iya dia sudah memaafkan kakak," jawab Aurelia.


"Anna senang mendengarnya. Semoga kakak dan Olive bisa damai terus," ucap Anna dengan doanya.


"Iya Anna kakak juga berharap seperti itu. Ya sudah kalau begitu Anna. Kakak pergi dulu," ucap Aurelia yang kembali pamit dan Anna mengangguk kembali.


"Ya semoga mereka benar-benar baik-baik saja," batin Anna dengan bahagiannya.


***********


Aurelie bukan pertama kali ke Swiss. Jadi dia juga tidak akan kesasar. Walau berjalan sendirian yang mana Aurelia membeli makanan yang dia juga tau makanan apa yang enak-enak di sana.


Mungkin karena sangat lelah dalam perjalanan akhirnya membuat Aurelia mencari makanan yang banyak. Sama dengan sekarang ini. Aurelia menggunakan bahasa Inggris untuk membeli makanan di salah satu Restaurant yang Aurelia sudah berdiri di depan kasir untuk memesan apa yang di inginkannya.


"Aurelia!" tiba-tiba ada yang menyapa Aurelia yang membuat Aurelia langsung melihat kebelakang dan ternyata adalah Derry yang membuat Aurelia begitu terkejut.


"Derry!" pekik Aurelia yang masih tidak percaya melihat Pria di depannya itu.


"Ternyata memang benar kamu. Tadi aku melihatmu. Aku ragu itu kamu. Dari pada aku penasaran. Jadi aku pastikan saja dan menghampiri kamu yang memang benar itu adalah kamu," ucap Derry.


"Ya. Aku juga masih kaget melihat kamu ada di sini. Ya ampun aku sampai tidak bisa berkata-kata. Kita berapa lama sudah tidak bertemu," ucap Aurelia yang terlihat gugup di campur shock yang bertemu dengan Derry.


"Kamu sudah selesai memesan?" tanya Derry. Aurelia mengangguk.


"Kamu tidak buru-buru untuk pergi?" tanya Derry.. Aurelia menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu ayo mengobrol. Kita mengobrol sebentar. Kalau kamu tidak keberangkatan," ucap Derry.


"Iya. Aku tidak keberatan. Ya sudah ayo," jawab Aurelia dengan senang hati yang memang dia juga sangat merindukan Derry dan pasti sangat banyak yang ingin di tanyakannya.


*********


Aurelia dan Derry berjalan-jalan malam dengan langkah yang perlahan.


"Kamu kemari untuk pernikahan Jennie dan Mahendra?" tanya Derry menduga-duga.


"Ya memang aku ada di sini. Untuk hal itu. Aku juga tidak sendiri aku bersama Anna, Olive, Gibran dan Sana," jawab Aurelia.


"Iya Olive mengatakan itu kepadaku," sahut Derry.


"Lalu bagaimana dengan kamu. Kamu di sini apa untuk acara itu juga?" tanya Aurelia.


"Jennie merupakan orang yang terpenting di perusahaan. Jadi jika bukan untuk itu untuk apa lagi," jawab Derry.


"Kapan kamu sampai?" tanya Aurelia.


"Aku baru sampai tadi pagi yang memang sengaja di percepat sampainya. Karena memang sekalian ada juga yang harus di urus," ucap Derry.


"Hmmm, begitu rupanya," sahut Aurelia.


"Kamu sendiri bagaimana. Kapan tiba di sini?" tanya Derry.


"Baru tadi sore," jawab Aurelia


"Hmmmm, begitu rupanya," sahut Derry.


"Derry apa Athar juga ikut?" tanya Aurelia yang penasaran.


"Dia tadi tidak ikut bersamaku. Tetapi banyak kemungkinan kak Athar pasti datang. Karena Jennie Sabahat dan juga rekan kerjanya. Sangat aneh jika dia tidak datang," ucap Derry.


"Iya juga sih," sahut Aurelia, "Hmmmm, lalu bagaimana dengan keadaannya?" tanya Aurelia.


"Masih dalam pengobatan," jawab Derry.


"Hmmm, begitu rupanya. Oh iya Derry Anna sudah tau semuanya masalah hal itu," ucap Aurelia, "aku tidak memberitahunya dan aku juga bingung kenapa Anna tau masalah itu dan Anna juga sangat kecewa dan merasa bersalah. Karena hanya dia yang tidak tau apa-apa tentang apa yang terjadi pada Athar," jelas Aurelia.


"Lalu apa tanggapan Anna?" tanya Derry.

__ADS_1


"Dia tidak menanggapi apa-apa. Sampai detik ini dia tidak membahas masalah Athar," jawab Aurelia.


Bersambung


__ADS_2