
Sementara Athar akhirnya pulang kerumahnya. Athar berdiri di depan pintu yang masih tertutup. Athar tampak ragu masuk kedalam rumah itu. Terakhir kali dia ada di sana. Beberapa hari yang lalu. Setelah bertengkar dengan papanya yang juga pertengkaran itu pertama kali di lakukannya dengan papanya.
Athar menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Dengan tekat yang akan menyelesaikan masalahnya Athar memutuskan untuk membuka pintu. Namun sebelum Athar membuka pintu. Pintu sudah di buka terlebih dahulu yang tak lain adalah Maharani yang membuka pintu.
Athar dan ibu tirinya saling berhadapan dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan. Mereka saling melihat dengan kecanggungan yang tiba-tiba terjadi. Mereka juga bertemu terakhir di ruang perpustakaan.
Di mana Athar melihat ibu tirinya yang sepertinya penuh kekecewaan yang hanya menunduk dengan tetasan air mata dan bahkan pergi begitu saja.
Sama dengan Maharani yang terakhir kali meliaht Athar dengan kemarahannya pada suaminya dan setelah itu Maharani tidak tau apa yang terjadi lagi. Karena Athar pun pergi dan sekarang baru bertemu dengannya.
" Kamu sudah pulang?" tanya Maharani membuka pertama kali obralan dengan suaranya yang lembut.
" Iya," jawab Athar singkat dengan datar.
" Apa kamu lelah?" tanya Maharani yang tampak menahan kesedihan.
" Tidak terlalu," jawab Athar.
" Kamu sudah makan?" tanya Maharani lagi.
" Belum," jawab Athar.
" Kamu mau makan?" tanya Maharani lagi yang sepertinya terus ingin bicara pada Athar.
" Tidak aku belum lapar," jawab Athar dengan datar.
" Baiklah! Masuklah, istirahatlah, nanti kalau sudah lapar kamu panggil bibi," ucap Maharani yang membalikkan badannya pergi meninggalkan Athar yang masih berdiri di depan pintu.
" Apa ibuku menyakiti mama?" tanya Athar membuat langkah Maharani terhenti.
Air matanya menetes. Kala masih mendengar Athar memanggilnya mama. Yang Maharani berpikir setelah Athar bertemu ibu kandungnya pastilah dia sudah tidak berharap Athar akan memanggilnya mama lagi mungkin bisa jadi Athar justru membencinya.
" Jika dia menyakitimu. Maka maafkan dia. Aku tidak tau bagaimana menggambarkan situasi yang terjadi. Semua ini bukan keinginan kita semua,"'ucap Athar.
__ADS_1
Maharani menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Menyeka air matanya dan membalikkan tubuhnya kembali melihat Athar.
Maharani mengeluarkan senyum nya dengan memegang ke-2 bahu Athar mengusap sampai ke lengannya.
" Kesalahan itu memang sangat menyakitkan. Kau tidak bersalah Athar. Jangan meminta maaf untuk orang lain. Maksudnya untuk ibumu. Aku merawat kamu Derry dan Gibran sama seperti Olive. Aku mencintai kalian bertiga seperti anak kandungku. Tetapi kesempurnaan ku sebagai seorang ibu. Telah aku salah gunakan dengan membiarkan kesalahan di depanku dan membiarkan sahabatku terluka. Dan aku mengambil kesimpulan untuk pelajaran atas semua ini. Jadi ini bukan kesalahan Anjani. Tetapi justru aku berada di situasi ini karena karma untukku," ucap Maharani yang ikhlas dengan segala yang di terimanya walau itu begitu berat.
" Terimakasih mah untuk semua yang kau berikan kepadaku. Kasih sayang. Jujur aku merasakan itu. Nasehat, aku menerimanya dan menjadikannya masukan. Bagiku mama tetap wanita yang sempurna. Aku bukan lahir dari rahimmu. Tetapi engkau adalah malaikat yang menjadi ibu untuk kami semua yang aku merasakan ketulusan itu," ucap Athar yang mampu kembali membuat air mata Maharani menetes lagi. Namun langsung di halusnya.
Maharani mengangguk-angguk, " mama yang berterima kasih kepada kamu. Karena kamu masih mau menerima mama," ucap Maharani.
" Meski aku menemukan ibu kandungku. Tetapi mama. Tetaplah mamaku," sahut Athar.
" Iya mama tau itu. Sekarang masuklah dan bicara dengan papa mu. Kamu sudah dewasa dan selesaikan semuanya dengan kepala dingin," ucap Maharani.
" Iya aku akan menemui papa," ucap Athar. Maharani menganggukkan kepalanya dengan tersenyum dan langsung pergi.
Athar hanya membuang napasnya perlahan kedepan. Dia juga tidak tau harus bersikap bagaimana pada wanita yang selalu di panggilnya mama itu.
" Kau sudah menemuinya?" tiba-tiba terdengar suara yang membuat Athar melihat ke arah suara itu yang ternyata suara yang berasal dari sudut ruangan yang tak lain dari Ari purnama.
" Ya dia memang tidak akan menceritakan keburukanku padamu dan tanpa dia menceritakannya. Bukannya kamu sudah tau kenyataannya dan untuk apa lagi dia menceritakan apa yang kamu ketahui. Karena pada intinya aku lah yang salah aku yang mengahancurkan segalanya. Aku yang memisahkanmu dari ibumu. Aku membuatmu bertanya-tanya dalam mimpi yang kau alami. Aku yang salah Athar yang mencuri kebahagiaan mu. Yang mungkin aku terlihat begitu sempurna. Tetapi ternyata kau membuat kamu menderita," ucap Ari purnama mengakui kesalahannya.
Athar hanya diam yang tidak merespon apa-apa.
" Papa minta maaf Athar," ucap Ari purnama.
" Aku memafkanya," jawab Athar.
" Terima kasih Athar. Papa berharap kita sama-sama bisa mengambil pelajaran dari semua ini dan melupakan apa yang terjadi," ucap Ari Purnama.
" Tetapi aku akan tinggal bersama ibu kandungku," ucap Athar yang harus menyampaikan keinginannya. Ari Purnama kaget mendengar permintaan Athar.
" Aku berharap papa setuju dengan hal itu," sahut Athar yang langsung pergi dari tempatnya.
__ADS_1
" Apa memang ini yang akan terjadi selanjutnya. Dia bersama ku begitu lama dan sekarang Anjani benar-benar mmebawanya pergi," batin Ari purnama yang terlihat begitu berat hati. Jika harus membuatkan putranya itu untuk pergi.
Ternyata di sisi lain Maharani yang tadinya pergi. Tetapi mendengar suara suaminya memilih untuk mendengarkan percakapan anak dan ayah itu.
" Jadi Athar akan ibunya," batin Maharani yang tidak tau harus berpikiran seperti apa. Pertama dia tidak bisa mencampuri urusan ayah dan anak itu.
" Papa tidak akan keberatan kan dengan keputusanku?" tanya Athar. Namun Ari purnama masih diam saja.
" Kamu sudah dewasa dan papa tidak bisa melakukan apa-apa," sahut Ari Purnama.
Ari purnama pun meninggalkan tempat itu dan Athar menghela napasnya panjang kedepan. Hanya sesingkat itu yang di bicarakannya dengan papanya dan dia juga langsung mengatakan apa yang ingin di katakannya untuk tinggal Anjani.
Maharani sendiripun tidak bisa berbuat apa-apa. Ya dia mana mungkin melarang Athar. Sementara Ari purnama saja tidak bisa berpendapat seperti apa-apa.
***********
Athar memasuki kamarnya duduk di pinggir ranjang dengan melonggarkan dasinya dan terlihat mengusap wajahnya dengan kasar dengan hembusan napasnya yang berat.
Athar mengambil handphone dan menekan kontak Anna.
" Hallo!" Anna langsung menjawab.
" Kau sudah tidur?" tanya Athar.
" Baru mau tidur," jawab Anna.
" Ya sudah tidurlah!" ucap Athar dengan tersenyum.
" Hmmm, baiklah, selamat malam," sahut Anna.
" Selamat malam," jawab Athar.
Athar merasa lebih enak ketika menelon Anna walau hanya sekedar mengucapkan selamat malam saja.
__ADS_1
Bersambung