
Anna dan Athar berada di dalam mobil yang mana Athar masih menyetir dengan kecepatan santai.
" Sayang aku merasa tidak enak dengan tuan Carlos yang kita harus pergi begitu saja tanpa permisi kepadanya," ucap Anna yang masih kepikiran dengan hal itu. Dia merasa tidak enak dengan apa yang telah terjadi.
" Sayang kenapa tidak bicara ayo katakan sesuatu padaku. Jangan seperti itu sayang. Aku penasaran sayang," ucap Anna.
" Aku tidak ingin kamu bekerja sama dengan Perusahaan mereka," ucap Athar membuat Anna bingung.
" Apa maksud kamu dan kenapa aku tidak bekerja sama dengan mereka. Memang kenapa? dan iya kamu bahkan tidak mengatakan apa-apa kepadaku!" ucap Anna yang semakin penasaran dengan Athar.
" Anna Perusahaan ku pernah bekerja sama dengan Perusahaan yang di pimpin tuan Carlos dan kamu tau dia itu orang yang sangat licik. Aku tidak ingin kau sampai kenapa-kenapa," ucap Athar dengan rasa khawatirnya.
" Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan Athar. Dan licik maksudnya bagaimana?" tanya Anna semakin bingung.
" Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rincinya. Pada intinya seperti itu. Aku sangat mengkhawatirkan mu," ucap Athar.
" Tapi aku sudah menandatangani kontrak sayang," sahut Anna.
" Aku sangat menyesalkan hal itu dan seharusnya Mahendra lebih detail lagi dalam menyelidiki sebelum bertindak. Apa lagi kamu langsung menandatangani kontrak begitu saja yang hanya membaca dalam hitungan menit," ucap Athar yang menyetir mulai tidak fokus.
" Lalu bagaimana? aku sudah menandatanganinya dan tidak mungkin di batalkan. Aku juga tidak tau apa-apa sayang," sahut Anna panik.
" Anna seharusnya kamu membicarakan dulu kepadaku masalah ini," ucap Athar.
" Athar aku tidak mungkin menelpon kamu untuk membicarakan masalah itu. Itu sangat aneh Athar. Lagian masalah kontrak dengan siapapun bukannya sudah biasa. Dan seharusnya ini juga biasa dan aku tidak tau kalau bakalan seperti ini ujung-ujungnya," ucap Anna.
Athar diam. Dia juga menjadi serba salah. Anna memang masih kurang cerdas dalam memilih orang-orang yang bekerja sama dengan Perusahaannya. Hal itu memang seharusnya wajar. Namun Athar begitu mengkhawatirkan Anna yang mana Athar takut kepolosan Anna akan di manfaatkan.
" Sayang!" lirih Anna memegang tangan Athar. Athar melihat ke arah Anna dengan wajah senduh nya.
" Aku sangat mencemaskan mu Anna," ucap Athar.
" Aku mengerti. Tetapi percaya tidak akan terjadi apa-apa. Ada Mahendra. Bukannya semuanya akan baik-baik saja dengan adanya Mahendra. Bukannya dulu kamu pernah mengatakan kepadaku. Jika dalam berbisnis itu sangat sulit dan pasti ada cara masing-masing yang di luar nalar, melakukan segala sesuatu untuk sesuatu dan untuk menjadi yang lebih unggul dan bukankah seharusnya ada kejurangan dari kitanya atau dari lawan kita itu hal biasa dan hanya tinggal kita yang harus pintar-pintar mengimbangi lawan. Jadi bukannya hal semacam ini sangat wajar," ucap Anna.
" Tapi dia bukan lawan seimbang untukmu," ucap Athar dengan suara lembutnya.
__ADS_1
" Aku mengerti. Tapi ini hanya sebuah kerja sama dan jika sudah terlanjur, maka aku akan berhati-hati lagi. Jangan khawatir percayalah padaku. Aku akan mengatasi semua ini," ucap Anna meyakinkan Athar.
" Sayang aku tidak mungkin membatalkan kontrak dan itu hanya akan menambah masalah saja," ucap Anna. Athar masih diam dengan beberapa kali menghela napasnya kasar.
" Sayang!" lirih Anna melihat kecemasan di wajah Athar.
" Baiklah, tapi jika ada apa-apa. Kamu harus bicara padaku. Aku akan sangat marah. Jika kamu tidak mengatakan apa-apa," ucap Athar yang memberi kepercayaan pada Anna.
Anna tersenyum dan langsung menyandarkan kepalanya di bahu Athar.
" Aku tau kamu mengkhawatirkanku. Tetapi percayalah kepadaku. Aku tidak akan apa-apa. Aku pasti baik-baik saja dan harus memberiku kesempatan untuk membuktikan jika aku bukan orang yang bisa di manipulasi," ucap Anna yang terus meyakinkan Athar.
" Iya aku percaya padamu," sahut Athar yang memang harus tenang. Karena bagaimanapun Anna harus punya keputusan sendiri dalam Perusahaan yang di pimpinnya. Karena Athar tidak mungkin terlalu jauh mencampurinya. Anna belum resmi menjadi istrinya.
*********
Malam hari Anna berada di dalam kamarnya yang terlungkup di atas tempat tidur dengan melihat laptopnya dengan serius. Anna melihat artikel mengenai Perusahaan Cermat Jaya yang di pimpin tuan Carlos yang tadi baru saja bekerja sama dengannya dan Athar tidak setuju. Walau akhirnya Athar menyetujuinya.
" Bukannya memang Perusahaannya memang baik-baik saja. Tidak ada masalah sama sekali," gumam Anna yang meneliti dengan cermat.
" Hmmmm, sangat baik-baik saja. Lalu kenapa Athar begitu cemas. Memang mereka terikat kerja sama yang seperti apa dulu!" Anna terus bertanya-tanya yang penasaran.
Toko-tok-tok-tok.
" Masuk!" sahut Anna melihat ke pintu yang ternyata mamanya.
" Mama!" sahut Anna.
" Ayo makan malam!" ajak Maya.
" Iya mah, sebentar Anna matikan laptop dulu!" ucap Anna. Maya mengangguk dan menunggu putrinya itu selesai mematikan laptop dan begitu selesai Anna langsung keluar dari kamar yang menghampiri mama.
" Sibuk amat sedang apa?" tanya Maya.
" Hanya ada pekerjaan sedikit saja mah," jawab Anna dengan tersenyum yang merangkul lengan mamanya.
__ADS_1
Di meja makan sudah ada Aurelia dan Mahendra yang juga ikut makan. Anna hanya tersenyum dengan menarik kursi dan langsung duduk.
" Ayo mari makan. Mahenndra silahkan," ucap Maya.
" Baik Bu Maya," sahut Mahendra.
" Biar aku ambilkan!" sahut Aurelia yang langsung menahan Mahendra yang ingin mengambil nasi.
" Kamu mau lauk apa?" tanya Aurelia.
" Apa saja," jawab Mahendra yang terlihat begitu canggung dengan Anna.
" Hmmm, baiklah kalau begitu," sahut Aurelia dengan tersenyum.
Anna dan Maya saling melihat dengan Aurelia dan Mahendra. Mahendra bukan sekali saja ikut makan bersama mereka bahkan sering dan semua itu pasti karena Aurelia yang mengajaknya.
" Oh iya Anna mama dengar kamu sudah deal bekerja sama dengan tuan Carlos?" tanya Maya.
" Iya mah. Tapi tiba-tiba saja tadi Athar tau hal itu dan tampaknya Athar cemas," ucap Anna.
" Memang kenapa?" tanya Maya sembari memasukkan nasi kemulutnya.
" Athar pernah bekerja sama dengan Perusahaan itu dan mereka selesai di tengah jalan. Kata tuan Carlos Athar tidak konsisten. Namun Athar mengatakan karena tuan Carlos orang yang sangat licik," jelas Anna.
" Apa Athar pernah bermasalah dengan tuan Carlos?" sahut Aurelia bertanya.
" Kalau melihat pertemuan tadi memang mereka itu bermasalah," jawab Anna.
" Lalu Mahendra bagaimana?" tanya Maya.
" Saya akan coba menyelidikinya. Jika memang ada sesuatu. Maka saya berusaha untuk membatalkan kontraknya," jawab Mahendra.
" Ya baguslah kalau begitu. Semoga kalian bisa mengatasinya, Anna, Aurelia dan kamu Mahendra. Perusahaan itu sudah menjadi tanggung jawab kalian jadi harus memikirkan baik-baik," ucap Maya.
" Saya mengerti Bu," sahut Mahendra. Maya tersenyum mengangguk.
__ADS_1
Bersambung