
Mendengar perkataan Mahendra membuat Aurelia kelihatan begitu kesal dan langsung turun dari ranjang.
"Apa kata mu. Rencana murahan. Mahenndra. Kau sadar tidak sedang bicara dengan siapa dan berani sekali kau mengatakan ini rencana murahan!" teriak Aurelia yang kelihatannya sangat tersinggung dengan perkataan Mahendra.
"Lalu apa namanya jika tidak rencana murahan. Kau sengaja menjebakku dan membawamu kemari dengan alasan pekerjaan hanya untuk melancarkan niat busukmu yang menjadikan dirimu wanita rendahan yang tidak berharga sama sekali," tegas Mahendra yang tidak bisa mengontrol kata-katanya karena perbuatan Aurelia yang memancing emosinya.
"Apa katamu? sahut Aurelia yang merasa sesak di dadanya dengan perkataan Mahendra yang mulukai perasaannya
"Mahendra aku ini atasanmu. Berani sekali kau menghinaku dan memanggilku dengan sebutan seperti itu," bentak Aurelia yang terlihat tidak terima.
"Aku hanya menganggap yang menjadi atasan hanya wanita yang pantas. Namun dirimu tidak. Aku sudah menegaskan kepadamu. Jika aku sudah mempunyai kekasih. Wanita yang bersamaku saat ini adalah Jennie. Dia yang aku cintai dan kau bukan siapa-siapa," tegas Mahendra membuat tangan Aurelia terkepal.
"Mahenndra kata-kata mu ini bisa membuatmu kehilangan pekerjaan mu!" tegas Aurelia yang bicara tidak akan main-main dengan Mahendra.
"Aku tidak peduli Aurelia. Mau kau itu atasanku atau tidak. Aku tidak peduli siapa dirimu Aurelia. Dan aku tidak peduli dengan posisi atau pekerjaan yang kau katakan itu. Sungguh aku benar-benar tidak peduli sama sekali. Aku hanya memberimu terus peringatan. Jangan pernah menggangguku dan juga calon istriku. Karena aku tidak akan diam jika hal itu benar-benar kau lakukan," tegas Mahendra menunjuk tepat di wajah Aurelia dengan wajah Mahendra yang penuh dengan kemarahan kepada Aurelia.
"Jadi jangan menggangguku!" tegas Mahendra melangkahkan kakinya. Namun tangannya kembali di tahan Aurelia.
"Mau kemana kamu Mahendra. Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini. Aku mencintaimu dan aku tidak akan rela kau pergi dan memilih wanita yang baru datang di dalam kehidupanmu," ucap Aurelia.
"Bukan dia yang baru datang di dalam kehidupanku. Tetapi kau Aurelia yang baru datang di dalam kehidupanku," tegas Mahendra yang melepaskan kasar tangan Aurelia dari tangannya.
"Mahenndra apa maksud mu?" tanya Aurelia.
"Aku tidak harus menjelaskan kepadamu yang pada intinya kau sudah tau apa maksudku dan aku peringatkan kau untuk tidak mengganggu ku lagi," tegas Mahendra.
Setelah berhasil bicara. Mahenndra langsung meninggalkan tempat itu.
"Jangan pergi sebelum melihat ku mati," sahut Aurelia membuat langkah Mahendra terhenti dan melihat Aurelia yang sekarang menadahkan pisau kelehernya yang membuat Mahendra benar-benar terkejut.
"Aurelia apa yang kau lakukan! apa kau gila Aurelia!" ucap Mahendra.
"Aku lebih baik mati dari pada harus kehilanganmu. Aku tidak meminta apa-apa darimu. Aku hanya meminta kamu untuk dekat denganku. Aku hanya meminta kesempatan sedikit untukku. Kesempatan untuk bersamaku. Aku hanya ingin membuatmu nyaman dan kau malah menghinaku. Apa begini caramu membalas perasaanku," ucap Aurelia dengan air matanya yang keluar.
"Kau jangan gegabah Aurelia. Apa yang kau lakukan tidak akan ada artinya. Jangan seperti ini Aurelia," sahut Mahendra yang berusaha untuk mendekati Aurelia menghentikan perbuatan Aurelia.
"Aku melakukan semua ini demi kamu Mahendra. Kenapa kau tidak bisa membalas perasaanku. Aku mencintaimu Mahendra dan sangat mencintaimu. Kenapa tidak memberiku kesempatan sekali saja," teriak Aurelia yang sangat memaksa.
"Perasaan mu salah Aurelia. Kau sadar dengan perbuatanmu yang tidak masuk akal itu," ucap Mahendra.
"Aku sadar Mahendra dan justru kesadaran ku yang membuatku seperti ini," sahut Aurelia yang benar-benar sudah sakit jiwa.
Mahenndra benar-benar tidak tau bagaimana cara menghadapi Aurelia dan melangkah mendekati Aurelia yang berusaha mengambil pisau itu dari tangan Aurelia.
"Lepaskan aku, biarkan aku mati! lepaskan! lepaskan aku! aku lebih mati jika tidak bisa memilikimu. Lepaskan aku!" Aurelia berusaha memberontak dan Mahendra terus berusaha mengambil pisau tersebut.
"Hentikan aku bilang!" teriak Mahendra menarik pisau itu dan Aurelia terus menahannya yang membuat mereka berdua rebutan sampai akhirnya mereka saling rebutan dan akhirnya terdengar suara tusukan yang menghentikan perdebatan itu yang seketika menjadi sepi.
"Mahenndra!" lirih Aurelia yang benar-benar terkejut. Saat melihat Mahendra yang tertusuk perut di bagian perutnya membuat Aurelia shock dengan kedua tangannya menutup mulutnya.
"Argghhh!" Mahendra kesakitan saat pisau itu menusuk di perutnya yang membuatnya lemah.
Mahenndra menahan sakit dengan darah yang berceceran dan langsung terduduk dengan memegang perutnya dan wajahnya yang memucat.
"Mahendra! Mahendra maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja. Maafkan aku Mahendra!" lirih Aurelia yang menyesal dan cemas dengan kondisi Mahendra yang seperti itu.
Brukkkk
Tiba-tiba pintu kamar itu di buka dengan keras yang ternyata Jennie yang datang dan betapa terkejutnya Jennie saat melihat melihat Mahendra yang terduduk di lantai dengan luka tusukan.
"Mahendra!" pekik Jennie yang langsung berlari menghampiri Mahendra.
"Mahendra apa terjadi?" tanya Jennie panik dengan memegang ke-2 pipi Mahendra.
"Mahenndra! Mahendra! kenapa kau bisa seperti ini?" Jennie semakin panik dengan wajah Mahendra yang semakin pucat.
"Kau datang? kau ada di sini?" tanya Mahendra yang tersenyum ketika melihat kedatangan Jennie. Seolah rasa sakitnya sudah hilang semua dan dia sekarang tersenyum begitu bahagia.
"Mahenndra bertahanlah! ada apa sebenarnya? apa yang terjadi kepadamu?" tanya Jennie yang begitu panik.
__ADS_1
Jennie langsung menoleh kebelakangnya yang mana Aurelia masih tetap berdiri di tempatnya.
"Apa yang kau lakukan kepadanya?" tanya Jennie dengan suaranya yang keras.
"Aku tidak sengaja melakukannya," sahut Aurelia.
"Jadi benar ini karena perbuatanmu!" tunjuk Jennie.
"Aku tidak sengaja melakukannya," sahut Aurelia yang masih membela dirinya.
"Apa katamu tidak sengaja," sahut Jennie yang langsung berdiri dan sangat emosi dengan Aurelia.
"Kenapa kau memarahiku. Aku memang tidak sengaja melakukannya dan seharusnya itu bukan urusanmu. Aku sudah mengatakan kepadamu Jennie. Jika aku menyukai Mahendra dan seharusnya kau menjauh dari hidupnya dan semua yang terjadi adalah karena adalah karena kesalahan mu. Kau yang sudah menghancurkan segalanya kau menjadi perusak di dalam hubungan kami. Kau itu biadap," teriak Aurelia yang malah menyalahkan Jennie.
Bukannya merasa bersalah. Malah kembali menyalahkan orang lain. Aurelia benar-benar sudah kehilangan akalnya.
Plakkkk
Jennie langsung melayangkan tangannya pada pipi wanita itu. Yang membuat Aurelia terkejut mendapat tamparan dari Jennie.
"Kurang ajar kau Aurelia. Apa katamu aku sebagai perusak. Kau itu memang tidak tau diri, kau itu sadar dengan apa yang kau lakukan. Jadi kaulah wanita perusak!" maki Jennie pada Aurelia yang masih tetap diam di tempatnya yang sangat terkejut yang mendapat tamparan di pipinya.
"Lihat dirimu. Kau itu wanita yang sangat rendah. Kau dengan bangganya mengatakan menyukai Mahendra dan laku membuatku untuk menjauh darinya. Dia sudah menolakmu berkali-kali. Tetapi kau memaksa dengan menunjukkan seperti apa kualitas dirimu sesungguhnya," ucap Jennie yang mengeluarkan kata-kata pedas yang menyakitkan untuk Aurelia. Agar Aurelia tau diri.
Tidak lama. Anna, Derry, Athar, Olive dan Lisa datang ketempat itu dan terkejut melihat Mahendra. Aurelia juga terkejut melihat kedatangan yang lainnya.
"Mahendra," ucap mereka dengan terpekik kaget dan langsung memasuki kamar dan melihat Mahendra.
"Apa yang terjadi?" tanya Athar yang berjongkok di depan Mahendra.
"Wanita ini adalah penyebabnya dia yang membuat Mahendra seperti ini," sahut Jennie menunjuk Aurelia yang membuat semua orang terkejut.
"Kak Aurelia," lirih Anna yang lebih terkejut mendengarnya, "apa yang kakak lakukan?" tanya Anna yang begitu terkejut.
"Apa lagi jika bukan untuk melakukan niat jahatnya yang menjebak Mahendra dan mencelakakai Mahendra. Hanya karena obsesinya yang menyukai Mahendra. Namun sudah di tolak berkali-kali," tegas Jennie yang Aurelia terdiam.
"Keterlaluan kamu Aurelia. Bisa-bisanya kamu melakukan hal ini. Apa yang kamu lakukan sudah sangat kelewatan. Lihat perbuatan kamu yang membuat Mahendra celaka," sahut Athar.
"Aku rasa kamu itu benar-benar sakit yang bisa melakukan semua ini. Kamu menunjukkan dirimu dengan wanita yang tidak punya kelas," sahut Lisa yang juga sangat marah pada Aurelia yang benar-benar tidak menyangka.
"Sudah ayo kita bawa Mahendra ke rumah sakit. Jangan buang-buang waktu," sahut Athar.
Yang lainnya mengangguk dan membantu Mahendra berdiri yang membawa Mahendra keluar dari kamar itu dan Aurelia yang berdiri di tempatnya yang hanya mendapat tatapan sini dengan bergantian.
"Kak Aurelia, Anna benar-benar tidak percaya. Jika kakak bisa melewati batas seperti ini. Kakak sungguh keterlaluan. Anna benar-benar sangat kecewa dengan kakak," Anna yang langsung pergi dari tempatnya dan menyusul yang lainnya.
Menyisahkan Aurelia dan Derry yang sejak tadi berdiri di depan pintu yang tidak mengatakan apa-apa sama sekali dan hanya melihat Aurelia.
"Derry!" lirih Aurelia dengan air matanya yang keluar. Derry hanya geleng-geleng yang sudah menunjukkan rasa kekecewaannya pada Aurelia, sehingga Derry tidak bisa berkata apa-apa lagi dan langsung pergi dari tempatnya.
"Derry!" panggil Aurelia yang terduduk lemas di lantai yang sekarang meratapi nasibnya yang sangat sial yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dia mana dia sudah kehilangan segalanya sekarang.
Aurelia hanya bisa menagis yang di tinggalkan. Karena kebodohannya semua orang mencibirnya, memakainya dan dia menunjukkan dirinya wanita yang sangat murahan. Dan bahkan orang-orang yang tadi melihatnya begitu sangat jijik melihat dirinya. Dan itu hanya akan di tatapi Aurelia.
***********
Rumah sakit.
Mereka membawa Mahendra kerumah sakit dan untung saja luka Mahendra tidak terlalu dalam dan Dokter sudah mengatasi masalah lukanya dan sekarang dia jauh lebih baik sekarang.
Hanya ada Jennie di dalam kamar perawatan itu dan tidak ada siapa-siapa lagi yang mungkin semuanya menunggu di luar.
"Kamu sudah merasa baikan?" tanya Jennie yang duduk di samping Mahendra.
"Mahendra meraih tangan Jennie dan menggenggamnya erat, mencium punggung tangan itu, lalu meletakkan di dadanya.
"Aku sekarang sudah tidak apa-apa. Dan semua itu karena kamu. Makasih sudah datang," ucap Mahendra tersenyum yang menatap intens Jennie.
"Aku tidak melakukan apa-apa dan iya aku sangat senang. Jika kamu benar-benar tidak apa-apa. Maafkan aku Mahendra. Aku datang terlalu lama dan pasti kamu mengalami kesulitan," ucap Jennie yang merasa bersalah.
__ADS_1
"Tidak Jennie. Kamu tidak salah. Dan aku tidak percaya. Bagaimana kamu bisa datang. Bukannya kamu tidak peduli kepadaku?" tanya Mahendra.
"Siapa yang mengatakan hal itu. Siapa bilang aku tidak peduli kepadamu. Awalnya aku ingin menyerah dengan hubungan kita. Tetapi Anna memberiku arahan dan aku sadar jika yang apa yang terjadi. Tidak seharusnya aku menyerah. Tetapi aku seharusnya bersama dengan dirimu dan tidak seharusnya memberikan kesempatan wanita manapun yang membuatku goyah," ucap Jennie yang membuat Mahendra tersenyum.
"Aku berjanji Mahendra tidak akan putus lagi denganmu. Aku berjanji tidak akan mengakhiri hubungan kita lagi. Kita akan sama-sama berjuang," ucap Jennie dengan tulus dan penuh keyakinan.
"Kau ingin berjuang bersamaku?" tanya Mahendra. Jennie menganggukkan kepalanya dan Mahendra langsung membawa Jennie kepelukannya.
"Aku wanita yang beruntung sejak dulu Mahendra yang selalu mendapatkan cinta mu yang begitu besar. Kamu bahkan rela hampir mati karena tertusuk. Karena godaan yang kamu tahan dan aku percaya itu semua karena cintamu yang sangat besar," ucap Jennie dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Aku juga Pria yang beruntung Jennie, aku bisa mengenalmu dan mendapatkan cintamu. Aku janji akan terus membahagiakan mu," ucap Mahendra.
"Kita akan bahagia sama-sama Mahendra. Saling berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan sama-sama," ucap Jennie. Mahenndra dan Jennie berpelukan dengan penuh cinta. Di mana ke-2nya mendapat hikmah dari apa yang telah terjadi.
Ya apa yang di lakukan Aurelia membawa hikmah yang mana justru membuat hubungan mereka semakin dekat.
**********
Sementara Anna kembali ke Villa untuk melihat kakaknya yang mana Anna di temani oleh Athar. Anna yang kecewa dengan Aurelia sekarang masih marah-marah dengan Aurelia yang mengeluarkan semua kekesalannya kepada kakaknya itu.
"Kakak tau yang kakak lakukan ini sangat keterlaluan. Kak seharusnya kakak sadar dengan semua perbuatan kakak. Mahendra hampir celaka dan iya apa yang kakak katakan hah! kakak malah menyalahkan Bu Jennie. Kak asal kakak tau Mahendra dan Bu Jennie sudah berhubungan lama. Bahkan mereka pacaran 5 tahun," ucap Anna menegaskan yang membuat Aurelia terkejut mendengar pernyataan itu.
"Benar kata Anna Aurelia. Jennie dan Mahendra itu saling kenal dan kamu juga harus tau Mahendra itu bukan orang sembarangan. Dia seorang anak pengusaha dan dia meninggalkan keluarganya hanya untuk Jennie dan hubungan mereka begitu dekat dan sangat dekat dan juga hampir menikah. Bukan Jennie yang menjadi penghalang rasa sukamu pada Mahendra. Tetapi justru kau lah orang ke-3 di antara mereka," sahut Athar yang menambahi.
Aurelia yang duduk di sofa hanya diam yang terkejut mendengar semua itu.
"Aku sudah berkali-kali mengingatkan kakak untuk menjauhi Mahendra. Sebelum kakak akan merasakan sakit yang lebih jauh lagi. Tapi kakak tidak mendengarkanku, malah kakak merajalela dan sampai melakukan hal yang memalukan ini. Untuk apa kak mengejar laki-laki yang sudah memiliki seseorang di hatinya. Cinta dan perasaan kakak yang berlebihan kepadanya membuat kakak menutup mata untuk Pria yang selama ini ada di sisi kakak," ucap Anna membuat Aurelia mengangkat kepalanya dan melihat Anna.
"Apa maksud kamu?" tanya Aurelia dengan matanya yang bergenang.
"Apa kakak tidak sadar. Jika ada Pria yang mencinta kakak dengan tulus dan bahkan merasakan banyaknya sakit hati karena perbuatan kakak belakangan ini. Kakak tidak sadar dengan apa yang sudah kakak lakukan dan sudah menyakiti hati pria yang tulus kepada kakak," ucap Anna.
Aurelia diam yang berusaha mencerna perkataan Anna. Dia pasti bertanya-tanya siapa yang di maksud oleh Anna.
"Anna sudahlah. Sebaiknya kita pergi. Kita juga akan kembali ke Jakarta. Kamu tidak ada gunanya panjang lebar bicara pada Aurelia. Dia tidak akan mendengarkan kamu. Karena hatinya benar-benar sudah di tutup," sahut Athar.
Anna mengangguk dengan menghela napasnya, "aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Aku hanya berharap kakak bisa menyadari kesalahan kakak," ucap Anna.
"Ayo kita pergi!" ajak Athar memegang tangan Anna yang membawa Anna pergi dari tempat itu. Anna dan Athar pun pergi dan tinggal Aurelia yang mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya dan air matanya yang terlihat keluar.
"Apa yang terjadi apa yang sudah aku lakukan. Semua orang sekarang membenciku. Aku memang sangat menjijikkan. Aku wanita rendahan," ucap Aurelia yang baru menyadari, jika perbuatannya kelewatan.
Perasannya pada Mahendra kembali membuat dirinya menjadi wanita jahat yang penuh dengan obsesi.
"Aku sungguh jahat, aku benar-benar sangat jahat," Aurelia sekarang kembali menangis yang menyalahkan dirinya sendiri. Untung saja sadar jika dia salah.
*********
Di Jakarta sana sedang menyuapi Gibran makan yang mana kondisi Gibran sudah semakin membaik dan bahkan bisa bicara dengan pelan-pelan.
"Jadi mereka sedang di Bali?" tanya Gibran yang mana Sana barusan menceritakan apa yang terjadi.
"Iya mereka sedang mencegah perbuatan Aurelia," jawab Sana yang terus menyuapi kekasihnya itu.
"Lalu apa semuanya baik-baik saja?" tanya Gibran.
"Jangan khawatir semuanya bisa di urus. Olive baru memberiku kabar dan katanya Mahendra sudah tidak apa-apa. Lukanya hanya sedikit saja dan dia juga sudah membaik," jawab Sana.
"Syukurlah kalau begitu. Aku lega mendengarnya. Lalu bagaimana dengan Aurelia?" tanya Gibran.
"Aku tidak tau. Yang jelas Olive mengatakan mereka pulang tanpa Aurelia dan Anna juga sudah tidak tau mau melakukan apa lagi. Karena Tante Maya menyuruhnya untuk melepaskan Aurelia," Jawab Sana.
"Semoga semua baik-baik saja," sahut Gibran yang hanya berharap. Sana hanya mengangguk saja.
"Oh iya Gibran. Bagaimana dengan kejadian yang kamu alami. Apa kamu sudah tau siapa orangnya?" tanya Sana yang belum mendapat cerita dari Gibran.
"Kamu jangan khawatir Sana. Biar aku yang mengurus masalah ini. Semuanya akan baik-baik aja," sahut Gibran yang kelihatan tidak ingin membuat Sana kepikiran.
"Baiklah, aku percaya semuanya juga pasti baik-baik saja," sahut Sana. Gibran mengangguk dengan tersenyum dan Sana kembali menyuapinya makan.
__ADS_1
Bersambung