Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 381


__ADS_3

Mereka masih melanjutkan sarapan bersama sembari mengobrol-ngobrol.


"Oh iya mumpung semuanya lagi kumpul di sini. Jadi papa ingin mengatakan sesuatu?" sahut Ari Purnama tiba-tiba dengan wajahnya yang serius.


"Mengatakan apa pah?" tanya Derry.


"Ini mengenai pembicaraan yang kita terpotong kemarin," ucap Ari Purnama.


"Pembicara. Pembicaraan yang mana mas?" tanya Maharani.


"Jadi begini. Masalah Perusahaan yang ada di sini yang akan di tinggalkan Athar, papa ingin menyerahkan tanggung jawab itu pada Jennie dan juga Mahendra," ucap Ari Purnama yang langsung to the point yang membuat Jennie dan Mahendra kaget mendengarnya sampai mereka saling melihat yang memang hal itu belum ada di bicarakan sama sekali dengannya.


"Maksud Om apa?" tanya Jennie heran


"Sudah jelas Jennie apa yang Om katakan. Om ingin kamu bertanggung jawab dengan Perusahaan itu. Kamu selama ini sangat banyak membantu keluarga kami dan anggaplah itu hadiah untuk pengabdian kamu yang keluarga kami benar-benar menyerahkannya kepada kamu," ucap Ari Purnama yang tidak tanggung-tanggung memberikan hadiah. Langsung dengan Perusahaan.


"Om ini sangat berlebihan," ucap Jennie yang masih terkejut mendengarnya. Namun Keluarga Athar tampaknya tidak ada yang keberatan sama sekali.


"Tidak ada yang berlebihan Jennie dan papa rasa Athar akan setuju?" tanya Ari Purnama yang langsung melihat kearah Athar.


"Aku setuju pah. Karena aku yakin Jennie juga bisa mengolah Perusahaan dengan baik dan apalagi itu sudah menjadi miliknya," sahut Athar yang tidak ragu sama sekali. Anna di sampingnya tersenyum dengan keputusan Athar.


"Athar kamu yang membangun Perusahaan itu dan sudah menyelamatkan dari kebangkrutan dan bahkan berkembang dengan baik. Jadi jangan menyerahkan begitu saja kepadaku. Kamu yang bisa di katakan memulai dari nol untuk Perusahaan itu," sahut Jennie yang tidak bisa asal terima saja. Dia juga tidak ingin dengan instan mendapatkan sesuatu.


"Benar kata Jennie Athar, mana mungkin kamu dengan mudah yang langsung setuju-setuju saja," sahut Mahendra.


"Mahendra, Jennie, aku tidak langsung setuju-setuju saja. Aku menyetujui apa yang di katakan papa. Karena memang yakin Jennie mampu melakukannya dan selama ini aku tau bagaimanapun kinerja dia. Jadi aku sudah tau semuanya dan tidak ada yang perlu di ragukan lagi," jelas Athar dengan santai.


"Tapi Athar," sahut Jennie.


"Jennie jangan menolak pemberian kami. Keluarga kami tidak ada yang keberatan sama sekali," sahut Ari Purnama.


"Tante juga setuju. Kamu sudah banyak membantu kami. Jadi terimalah," sahut Maharani.


"Ya sudahlah Jennie. Lagian kamu sangat tepat di pilih papa," sahut Gibran yang juga tidak masalah sama sekali.


"Iya Jennie kamu sudah menjadi keluarga kami. Jadi terimah lah apa yang di berikan papa," sahut Derry yang juga tidak protes sama sekali.


"Iya kak Jennie, kalau Olive tidak mungkin bertanggung jawab untuk itu. Jadi memang kakaklah yang paling tepat. Kakak dan kak Mahendra bisa mengelolah bersama-sama," ucap Olive.


Jennie dan Mahendra saling melihat dan sebenarnya mereka berdua merasa ini sangat berlebihan sekali.


"Kamu maukan Jennie?" tanya Ari Purnama.


Jennie menghela napasnya dengan dalam-dalam dan langsung menganggukkan kepalanya, "baiklah Om," sahut Jennie yang akhirnya setuju yang membuat yang lainnya tersenyum.


"Tapi saya mohon bimbingannya. Karena saya tidak sehebat Athar," sahut Jennie yang merendahkan dirinya.


"Kamu itu ada-ada aja. Selama ini kamu paling hebat masalah bisnis," sahut Athar yang mengakui kehebatan Jennie dalam urusan bisnis.


"Kamu itu selalu berlebihan Athar," sahut Jennie.


"Yang penting sekarang kamu yang memiliki Perusahaan itu dan Om akan mengurus surat-surat kepemilikannya," sahut Ari Purnama yang tidak mau bertele-tele.


"Terima kasih Om, saya tidak akan mengecewakan om. Makasih banyak untuk semuanya," sahut Jennie tersenyum.


"Iya Jennie, Om percaya sama kamu dan juga Mahendra," sahut Ari Purnama.


"Semoga kalian berdua bisa mengembangkan Perusahaan itu lagi dengan baik," ucap Athar yang berpesan.


"Iya Athar. Terima kasih juga untuk kepercayaan kamu," ucap Jennie. Athar menganggukkan kepalanya


"Hmmm, dan iya juga sekalian papa juga ingin mengatakan sesuatu," sahut Ari Purnama yang masih ada yang ingin di katakannya.


"Ada apa lagi pah?" tanya Olive.


"Papa juga akan meresmikan Derry sebagai CEO utama di Perusahaan Glossi," ucap Ari Purnama membuat Derry tersenyum dan pasti Aurelia sebagai kekasih juga ikut tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih pah, untuk kepercayaananya," sahut Derry yang sangat bahagia. Namun pasti berat memikul tanggung jawab itu.


"Dan iya untuk wakil CEO di Perusahaan itu papa tunjuk Marko," lanjut Ari Purnama yang mengejutkan semua orang.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.


Marko yang sedang minum. Jadinya terdesak dengan berita yang tiba-tiba itu.


"Pelan-pelan," Lisa langsung mengusap-usap pundak Marko.


"Om, jangan becanda," sahut Marko.


"Siapa yang becanda Marko. Om memang ingin kamu mendampingi Derry," sahut Ari Purnama dengan yakin yang membuat Marko masih shock dengan kabar itu.


"Ya ampun kak Marko akhirnya naik pangkat juga," celetuk Olive.


"Marko selamat ya," sahut Anna yang pasti ikut bahagia.


"Tunggu-tunggu dulu, ini benaran apa tidak?" tanya Marko yang merasa itu adalah salah dengar.


"Ya benarlah Marko. Jadi menurut kamu apa?" sahut Aurelia, "om Ari Purnama sudah mempercayakan kamu untuk memegang Perusahaan itu bersama dengan Derry. Jadi itu adalah benar," sahut Aurelia.


"Kenapa saya Om," sahut Marko.


"Kamu menolaknya?" tanya Athar dengan menatap Marko serius.


"Bukan seperti itu. Saya tidak menolaknya sama sekali. Hanya saja saya merasa....."


"Tidak pantas," sahut Anna.


"Ya pasti pantaslah, aku kan sudah mengabdi lama di perusahaan itu," sahut Marko.


"Lalu kenapa ragu?" tanya Gibran.


"Tauh nih, kalau kita dapat jabatan, seharusnya bangga bukannya ragu-ragu," sahut Sana.


"Iya sih Tante. Cuma..."


"Sudahlah Marko kamu terima aja. Kemampuan kamu sangat bagus," sahut Maya.


Marko dan Lisa saling melihat dan mereka masih terkejut dengan jabatan yang naik langsung dengan cepat.


"Apa saya harus mencari pengganti kamu?" tanya Ari Purnama.


"Udah pah, cari aja. Orang kak Marko juga tidak mau," sahut Olive dengan cepat.


"Jangan gitu dong Olive," sahut Lisa.


"Suami kamu itu bertele-tele. Lihatlah dia masih aja ragu," ucap Olive dengan geleng-geleng.


"Ya, tapi nggak usah di ganti juga kali," sahut Lisa.


"Jadi bagaimana Marko kamu terima apa tidak tawaran Om?" tanya Ari Purnama lagi yang ingin kepastian dari Marko.


"Baiklah Om saya akan menerima tawaran Om dan saya janji tidak akan mengecewakan Om," jawan Marko dengan yakin.


"Om percaya itu," sahut Ari Purnama dengan tersenyum mengangguk.


"Jadi masalah Perusahaan sudah selesai," sahut Maharani.


"Anna yang menikah dengan Athar. Tetapi yang mendapat hadiah malah yang lain," celetuk Gibran.


"Benar juga pah. Apa papa tidak ingin memberikan hadiah untuk Anna dan kak Athar?" tanya Olive.


"Memang Anna ingin hadiah apa?" tanya Ari Purnama yang akan memberkati apapun pada menantunya itu.


"Tidak usah Om," sahut Anna menolak.

__ADS_1


"Anna kenapa masih memanggil Om. Kamu ini menantu kami. Jadi panggillah seperti panggilan Athar," sahut Maharani.


"Benar Anna, masa iya panggilnya Om sih," sahut Olive.


"Iya pah, tidak usah. Anna dan Athar tidak ingin hadiah apa-apa," sahut Anna.


"Tapi untuk hadiah pernikahan kalian. Papa akan memberikannya yaitu tiket bulan madu untuk kalian berdua," ucap Ari Purnama yang membuat Anna dan Athar saling melihat.


"Tapi pah, itu tidak perlu," sahut Athar yang juga menolak.


"Benar pah, kita liburan di sini saja," sahut Anna.


"Jangan menolak Anna. Itu hadiah dari mertua kamu," sahut Maya.


"Benar Athar, kalian harus banyak-banyak liburan," sahut Anjani.


"Baiklah kalau begitu," sahut Athar yang akhirnya setuju dengan pemberian hadiah dari Ari Purnama.


"Jangan lupa kalau sudah liburan langsung ada hasilnya," celetuk Aurelia.


"Kakak," sahut Anna yang jadinya malu.


"Papa juga sebenarnya menunggu hal itu," sahut Chandra dengan becandaan yang membuat Anna jadi malu. Athar hanya tersenyum saja mendengarnya.


"Ya apa lagi saya, sangat menunggu-nunggu cucu," sahut Ari Purnama yang setuju juga dengan Chandra.


Mereka tertawa-tawa kecil dengan melanjutkan makan mereka yang sama-sama menginginkan cucu. Namun ternyata tanpa perkataan Ari Purnama menyinggung Sana yang mana raut wajah Sana jadi berubah menjadi sedih.


"Jadi selama ini papa sangat menginginkan cucu dan aku sama sekali belum bisa memberikannya," batin Sana yang merasa bersalah.


Gibran menyadari perubahan sikap pada wajah istrinya, "kamu kenapa?" tanya Gibran.


"Tidak apa-apa," jawab Sana dengan tersenyum kaku.


"Yakin?" tanya Gibran. Sana menganggukkan kepalanya yang padahal dia tadi sangat sedih. Sana harus terbiasa dengan apa yang terjadi dengan berikutnya. Mungkin saja masih ada kata-kata nanti yang tidak sengaja melukai hatinya.


*********


Akhirnya setelah semuanya beres keluarga Anna dan Athar sudah kembali ke Jakarta. Hanya menyusahkan Olive yang menyusul pulang. Sementara untuk Anna dan Athar akan melanjutkan bukan madu ke Jepang sesuai yang di inginkan Anna dan bukan berarti Olive akan ikut ya. Olive belum pulang. Karena masih ingin di New York dan akan pulang secepatnya.


Sekarang Anna sedang menyiapkan barang-barang dengan memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper dia dan Athar yang untuk di bawa untuk liburan ke Jepang. Tidak lama Athar memasuki kamar.


"Tiketnya sudah di berikan papa?" tanya Anna.


"Hmmm, ternyata di titip sama Olive," sahut Athar.


"Berangkat jam berapa besok?" tanya Anna


"Jam 8 pagi," Jawa Athar.


"Ya ampun cepat sekali," sahut Anna.


"Ya sudah kamu sebaiknya istirahat saja. Biar aku yang melanjutkannya," sahut Athar yang tidak ingin istrinya repot-repot.


"Tidak apa-apa tinggal sedikit lagi kok," sahut Anna.


"Jangan bandal. Ayo cepat istirahat," ucap Athar dengan tegas.


"Hmmm, baiklah," sahut Anna yang akhirnya menurut, "kamu juga langsung istirahat nanti," ucap Anna.


"Iya pasti," sahut Athar. Anna tersenyum dan menaiki ranjang dengan merebahkan dirinya sembari menyelimuti dirinya sendiri dan Athar pun langsung mengambil tugas untuk menyelesaikannya pekerjaan sang istri.


"Selamat malam," ucap Anna sebelum tidur.


"Selama malam," sahut Athar dengan tersenyum. Anna dengan perlahan memejamkan matanya yang akhirnya tertidur. Dia memang sangat lelah sebenarnya. Dan makanya cepat tidur.


Dan Athar baru akan tidur setelah menyelesaikan pekerjaannya untuk menyiapkan barang-barang mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2