
" Kenapa belum pergi?" tanya Anna heran yang melihat Athar masih duduk.
" Hmmm, tapi sebelumnya kamu harus minta maaf dulu kepadaku," ucap Athar membuat Anna menautkan ke-2 alisnya.
" Soal apa ?" tanya Anna heran.
" Karena berani menatap Pria lain," jawab Athar posesif.
" Siapa? kapan?" tanya Anna heran dengan menautkan ke-2 alisnya.
" Tadi sewaktu makan malam. Kamu menatap Derry begitu lama," jawab Athar.
" Ck, Astaga hanya itu saja. Orang hanya sebentar bagaimana ceritanya lama. Aku hanya menyapa pak Derry dengan sopan," ucap Anna mencari pembelaan.
" Tetap saja tidak boleh menatap Pria lain selain aku. Lebih dari 3 detik," tegas Athar.
" Mana bisa seperti itu. 3 detik juga waktu yang singkat. Kamu itu aneh-aneh aja," sahut Anna geleng-geleng dengan permasalahan yang di bahas Athar.
" Aku tetap mengatakan tidak boleh," tegas Athar.
" Athar," ucap Anna dengan suara mendayu-dayu.
" Mau melakukannya atau tidak?" tanya Athar yang tidak mau tawar menawar dengan Anna.
Anna berdecak kesal mendengarnya dengan menghela napasnya panjang ke depan, " Iyaaa," jawab Anna yang kelihatan begitu terpaksa mengucapkannya.
" Bagus kalau begitu," sahut Athar dengan tersenyum dan Anna hanya datar saja menahan kekesalannya, " ya sudah kamu tunggu sini aku mengambil kunci mobil dulu," ucap Athar.
" Hmmm," Anna menjawab hanya dengan deheman dan Athar pun langsung pergi.
" Hanya 3 detik saja marah-marah seperti itu. Dia saja, berjam-jam bersama banyak klien wanita bahkan sama Bu Jennie sering bersama. Luar kota, Luar Negri. Tetapi aku biasa aja, aku baru 3 detik saja sudah membuat perturan. Nggak adil," gerutu Anna dengan sewot yang bibirnya di kerucutkannya.
Ternyata Athar mendengar semua itu yang berada di belakang Anna. Athar mendengus dengan tersenyum kala Anna marah-marah dengan sewot.
" Issss menyebalkan," umpat Anna kesal.
__ADS_1
" Siapa yang menyebalkan, siapa yang tidak adil," tiba-tiba kepala Athar sudah menempel di bahunya yang mana Athar berada di belakangnya yang memeluknya yang masih tetap duduk. Hal membuat Anna kaget dengan menoleh ke arah Athar yang membuat wajah mereka berdekatan.
" Kamu kok belum pergi?" tanya Anna gugup.
" Katakan siapa yang menyebalkan?" tanya Athar ingin jawaban dari Anna.
" Tidak ada," jawab Anna bohong.
" Jangan berbohong. Aku mendengar semuanya, bahwa ada yang tidak adil dan bahkan begitu menyebalkan," sahut Athar.
" Issss, sudahlah sana ambil kunci mobil. Aku mau pulang. Aku mengantuk," ucap Anna dengan kesal.
Athar mencium lembut pipi Anna, " aku mencintaimu," ucap Athar. Anna diam tidak menjawab apa-apa.
Cup Athar mencium lagi pipi Anna, " aku mencintaimu," ucap Athar lagi. Dan Anna masih saja diam dan tidak merespon jawaban Athar. Mungkin Athar akan berhenti mencium Anna ketika Anna menjawabnya.
Cup Athar sekarang mengecup bibir Anna, aku mencintaimu," ucap Athar lagi.
Anna tetap diam dan saat Athar ingin mencium bibirnya lagi, " Aku juga," jawab Anna yang membuat Athar menghentikan ciuman itu.
" Aku juga mencintaimu," ucap Anna. Athar tersenyum dan mengecup bibir Anna kembali.
" Aku akan ambil kunci mobi. Jangan marah-marah tunggu di sini," ucap Athar mengusap pucuk kepala Anna. Anna menganggukkan kepalanya. Dan Athar pun langsung pergi sementara Anna menunggu di tempat itu.
" Dia begitu mubajir mengucapkan kata cinta," ucap Anna tersenyum lebar yang melayang-layang jika sudah mendengar kata cinta dari Athar kekasihnya itu.
prok- prok prok prok prok prok prok.
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan.
" Athar cepat sekali kembalinya," sahut Anna berbalik badan.
Anna langsung terkejut melihat yang bertepuk tangan itu adalah Gibran. Yang mana di bagian wajah Gibran masih ada perban yang mungkin akibat pukulan Athar kemari.
" Gibran!" lirih Anna yang langsung berdiri yang mana Pria itu menatapnya dengan sinis.
__ADS_1
" Wau, kau sangat menikmati hidupmu yang sekarang ya. Bersenang-senang dengan pria yang kau rebut dari kakakmu sensiru. Aku salut kepadamu. Apa aku harus menyuruh wanita-wanita murahan di luar sana untuk berguru padamu. Karena kau begitu mahir melakukannya. Merebut calon suami kakak sendiri," ucap Gibran dengan sindiran sinis pada Anna.
" Terserah kau mau mengatakan apa kepada ku. Aku tidak ada urusan denganmu!" tegas Anna yang pergi. Namun saat Melewati Gibran tangan Anna di tahan Gibran dengan mencengkram kuat pergelangan tangan itu.
" Lepaskan aku Gibran. Apa yang kau lakukan!" berontak Anna berusaha melepaskan diri.
" Kenapa kau pergi begitu saja? Kau tidak bisa menerima kenyataan dengan gelar barumu. Perusak hubungan kakak kandungmu sendiri. Seorang adik yang polos berhasil merebut calon suami kakaknya," ucap Gibran dengan sinis berbisik di telinga Anna.
" Tutup mulutmu. Aku bukan orang seperti itu. Jadi lepaskan aku. Sebelum aku berteriak dan memanggil Athar," tegas Anna yang masih berusaha untuk melepaskan diri.
" Hahahaha," Gibran tertawa-tawa mendengarnya bahkan bersiul membuat Anna merasa ngeri dengan Gibran, " waooo wanita paling hebat, selain merebut calon suami orang. Kau juga membuat persaudaraan orang berantakan. Wau aku tidak menyangka kau sungguh banyak keahlian," ucap Gibran menatap Anna dengan meremehkan.
" Jangan bicara sembarangan kepadaku," ucap Anna menekan suaranya.
" Kenapa apa yang aku katakan salah. Kau lihat wajahku ini. Bukankah ini adalah perbuatan Pria hasil rebutan mu itu. Dia harus memukul kakaknya sendiri. Hanya karena seorang wanita yang tidak beres seperti dirimu," desis Gibran.
" Apa kau katakan. Kakak. Jadi kau masih mengakui dirimu sebagai seorang kakak dari Athar. Athar memukulmu karena perbuatan gila mu dan aku juga akan melakukan hal yang sama dan tadi apa saudara. Sekarang aku bertanya apa ada saudara yang membunuh adiknya sendiri. Kau sangat tidak tau malu harus mengakui dirimu saudara," desis Anna dengan sindiran penuh.
Gibran mendengarnya menyunggingkan senyumnya.
" Jadi jangan merasa paling benar dan paling hebat," tegas Anna yang berhasil melepaskan tangannya dari Gibran. Lalu Anna pergi.
" Lalu bagaimana dengan dirimu. Kau pikir dengan apa yang kau lakukan tidak membunuh Aurelia," sahut Gibran yang membuat langkah Anna terhenti.
" Cuc, cuc, cu cuc cuc cuc," Gibran kembali mendekati Anna yang sudah membelakanginya dan Gibran berdiri di depannya menatap wanita itu dengan tatapan meremehkan.
" Apa yang kau katakan. Aku tidak membunuh siapapun. Jika pun aku harus membunuh. Itu hanya aku lakukan untuk membunuh dirimu!" tegas Anna yang tidak takut sama sekali dengan Gibran.
Mendengarnya Gibran menyunggingkan senyumnya, " aku lupa jika kau wanita yang sungguh berani dan tidak takut apapun," sahut Gibran dengan geleng-geleng kepala.
" Jika seperti itu maka menyinggirkan dari hadapanku. Karena kau menutupi jalanku!" tegas Anna.
" Aku belum selesai bicara Anna. Aku mengakui keberanian mu lebih dari pembunuh seperti diriku," ucap Gibran sini.
" Apa yang kau katakan dan jangan samakan aku dengan dirimu!" tegas Anna.
__ADS_1
Bersambung