
Hari pernikahan.
Hari pernikahan Lisa dan Marko akhirnya telah tiba. Pernikahan yang di adakan di gedung yang sebelumnya sudah teliti dan di pilih betul-betul oleh Lisa dan jelas waktu itu penuh dengan drama karena berhubungan dengan perbedaan pendapat.
Karena Lisa yang paling heboh dan semua harus sesuai dengan keinginannya dan harus benar-benar perfect. Namun tetap saja haru merepotkan Anna, Sana dan juga Olive. Tetapi itu sudah menjadi kebiasaan mereka yang saling membantu.
Pernikahan mewah itu di hadari dengan tamu undangan dari beberapa kalangan dan pastinya teman-teman Lisa dan juga Marko dan pasti dari teman-teman Perusahaan Glossi.
Anna hari ini menghadirkan pernikahan Lisa dan juga Marko. Anna juga pasti ambil alih dalam persiapan pernikahan yang mewah itu. Di juga menjadi salah satu brismaid nya bersama dengan Olive, Sana dan Aurelia yang juga ikut menjadi brismaid.
Anna begitu cantik dengan pakaian hijau toska dengan rambutnya yang di sanggul cepol dan terlihat anak rambutnya di kiri dan kanannya yang di beri gelombang yang menambah kecantikan dan keanggunan Anna yang menghadiri pesta temannya tersebut.
Seperti biasa Anna, Olive dan Sana pasti mengecek dulu kekamar pengantin untuk melihat persiapan Lisa atau sekedar bikin rusuh. Seperti sekarang ini Lisa yang duduk di depan cermin bolak balik-balik antingnya di pasang di buka oleh Sana, Anna dan Olive yang melihat mana yang pas untuk di kenakan Lisa.
"Ini saja. Ini sudah paling bangus sangat cocok untuk pengantin kita," ucap Anna.
"Jangan ini Anna. Terlau norak yang lain saja, ini jauh lebih bagus," sahut Olive yang tidak setuju dengan pilihan Anna dan menunjukkan pilihannya sendiri.
"Bagaimana jika ini saja," sahut Olive yang juga punya pilihan sendiri.
"Ini juga tidak cocok. Ini terlalu simple," sahut Sana lagi yang terus protes.
"Semuanya tidak ada yang cocok. Jadi yang mana yang cocok, punya ku sudah jauh lebih baik, Lisa pakai ini saja dan ini sudah paling bagus dan paling cocok," sahut Anna lama-lama kesal dan tetap pada pilihannya.
"Pakai ini aja," sahut Sana yang tidak setuju dan tetap ingin pilihannya yang paling cocok.
"Apa bagusnya itu, mending ini aja," sahut Olive yang juga tidak setuju.
"Udah yang ini aja," sahut Anna lagi yang tidak mau kalah yang akhirnya memunculkan keributan di sekitar Lisa yang membuat Lisa pusing dengan teman-temannya.
"Woy yang mau menikah itu siapa sih. Aku apa kalian, woy," sahut Lisa kesal dengan melihat temannya yang sampai detik ini masih rebutan yang ingin memakaikan anting yang mana. Lisa sudah mencoba melerai teman-temannya agar tidak bertengkar. Namun apa daya memang tidak bisa di kasih tau dan mereka bertengkar terus dengan penuh kehebohan membuat Lisa pusing.
"Stoppppp!" teriak Lisa dengan suara yang menggelar yang membuat Anna, Sana dan Olive langsung terdiam dengan tangan yang memegang anting masing-masing.
"Kalian ini berisik tau. Telingaku cuma dua. Jangan memaksa untuk memakai semua yang kalian pilih," ucap Lisa dengan seriusnya berbicara.
"Makanya pakai ini saja," sahut Anna menunjuk pilihannya.
"Ini saja Lisa, ini lebih cantik," sahut Olive tidak mau kalah.
"Udah stop jangan ribut lagi. Aku tidak mau pakai anting," tegas Lisa mencari jalan. Supaya teman-temannya tidak ribut hanya gara-gara anting.
"Mana bisa seperti itu Lisa," sahut Anna.
"Benar masa iya calon pengantinnya telinganya polos. Aneh sekali," ucap Sana.
"Ya habisnya kalian semua itu berisik, aku mana mungkin memakai apa yang kalian pilih jika di antara kalian tidak ada yang mau mengalah sama sekali," ucap Lisa.
"Oke begini saja. Bagaimana jika kita hompimpa dan siapa yang menang, anting pilihannya akan di pakai Lisa," sahut Anna memberikan solusi yang menurutnya pasti yang terbaik.
"Oke siapa takut," sahut Sana.
"Baiklah!" Sana juga setuju dan akhirnya mereka hompimpa dan membuat Lisa pusing dengan teman-temannya itu.
"Yes aku menang," sahut Anna dengan semangatnya yang akhirnya menang Sana dan Olive saling menghela napas yang kecewa telah kalah.
"Akulah pemenangnya. Jadi kalian tidak boleh iri. Lisa memang sangat pas memakai anting pilihanku," sahut Anna menyombongkan dirinya dan langsung memakaikan pada telinga temannya itu.
"Iya deh kamu yang menang," sahut Sana.
toko-tok-tok-tok.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu di ketuk.
"Masuk!" sahut Olive dari dalam kamar..Pintu di buka dan menghadirkan seorang pelayan yang terlihat membawa kado yang berukuran petak yang membuat membuat semua orang heran.
"Maaf nona saya datang mengantarkan bingkisan untuk nona," ucap pelayan tersebut.
"Oh begitu. Mari masuk!" sahut Lisa. Wanita itu masuk dan langsung memberikan pada Lisa.
"Dari siapa ini?" tanya Lisa heran.
"Tidak ada pengiringnya Nona," jawab pelayan tersebut.
"Oh begitu ya sudah terima kasih," sahut Lisa pelayanan tersebut mengangguk dan langsung pergi dari kamar tersebut.
"Coba buka Lisa apa isinya," sahut Olive yang penasaran.
"Apa harus di buka," sahut Lisa.
"Nggak apa-apa kali. Kita juga tidak akan minta, kita penasaran aja apa isinya," sahut Sana.
"Benar jangan pelit Lisa hanya membuka saja apa salahnya," sahut Anna yang tidak kalah penasarannya dengan isi kado tersebut.
"Baiklah," sahut Lisa yang tidak masalah membuka kado tersebut. Sana, Anna dan Olive begitu penasaran dengan isinya dari pengirim misterius dan rasa penasaran mereka terjawab ketika istrinya terlihat.
"Woy," ucap Sana, Anna dan Olive bersamaan yang takjub melihat hadiah itu berupa 1 set perhiasan yang membuat mata mereka terbuka lebar dan mata Lisa yang paling berbinar melihat isinya.
"Siapa yang mengirimnya, dia apa orang kaya. Kenapa mengirim hadiah semahal ini. Ini sangat istimewa," tanya Sana.
"Aku juga tidak percaya bisa mendapatkan hadiah mahal di hari pernikahan ku," sahut Lisa yang masih penuh dengan rasa terkejut.
"Lihat ada pengirimnya. Ayo di buka!" sahut Olive melihat ada selembar kertas yang di gulung layaknya surat jaman dahulu dan di beri pita. Lisa yang juga penasaran langsung membukanya.
"Ternyata dari Athar," sahut Lisa yang sudah membaca pengirimnya mendengar nama Athar membuat Anna salah tingkah dan memilih duduk di atas ranjang dengan melihat ponselnya.
"Baiklah akan aku baca surat panjang dari bos ku ini. Kalian dengarkan ya," ucap Lisa.
"Selamat untuk pernikahan kamu dengan Marko. Maaf ya Lisa saya tidak bisa datang. Saya masih ada pekerjaan yang belum bisa di tinggalkan. Tetapi pasti saya mengirim hadiah untuk pernikahan kalian. Hadiah ini tidak ada apa-apanya. Jangan lihat hadiahnya. Karena saya juga tidak tau harus memberikan kamu apa. So hari pernikahan kamu dan semoga kamu menyukainya. Sekali lagi selamat untuk pernikahan kamu salam untuk Marko. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan semoga pernikahan kalian utuh sampai kakek nenek. Hanya itu harapan saya untuk kalian berdua. Jadi sekali lagi selamat untuk hari bahagia kalian.
Dan iya Lisa saya tidak meminta kamu untuk menyampaikan salam saya pada Anna,"
Surat yang ditulis Athar itu menyebutkan nama Anna membuat Anna melihat ke arah Lisa dan Lisa, Sana dan Olive juga melihat ke arah Anna.
"Tidak perlu menyampaikan hal itu pada Anna. Aku hanya ingin kamu memperhatikannya. Titi Anna. Pastikan dia baik-baik saja," tulis Athar dengan lengkap di suratnya untuk Lisa dan masih mengingatkan dengan membawa nama Anna.
Anna diam yang tidak merespon apa-apa. Lisa, Sana dan Olive saling melihat dengan wajah mereka yang sama-sama bingung harus mengatakan apa.
"Ya ampun aku tidak percaya bos Athar mengirimku hadiah pernikahan," ucap Lisa begitu bahagiannya yang mendapatkan hadiah dari Athar yang sekalian Lisa juga mencairkan suasana yang melihat Anna murung.
"Ternyata meski tidak datang Athar masih mengingat untuk memberi hadiah," sahut Sana.
"Namanya kak Lisa karyawan setia kak Athar, jadi wajar kalau dia memberi hadiah dan hadiahnya semewah ini. Aku saja belum tentu bisa memberikan hadiah seperti ini," sahut Olive.
"Iya juga sih. Hadiah ini benar-benar sangat cocok untukku. Bos Athar tau aja apa yang aku butuhkan," sahut Lisa.
"Tidak di sangka kak Athar bisa-bisanya masih berpesan pada Anna," sahut Olive.
"Ya itu artinya masih ada sesuatu, Anna Athar tadi menitip salam padamu, maksud ku bukan menitip salam. Karena dia mengatakannya tidak perlu menyampaikan salam. Karena pasti dia tidak mau kamu tau jika masih ingin mengetahui keadaanmu," sahut Sana.
"Dan makanya menulis surat pada kak Lisa dan kak Athar tidak tau. Kalau suratnya di baca di depan kamu," sahut Olive.
"Kalian ini bicara apa sih, nggak jelas banget. Apa pun itu aku dan Athar sudah tidak ada hubungan apa-apa. Jadi jangan berharap suatu hal yang tidak mungkin," sahut Anna mengatakan.
__ADS_1
"Anna kami hanya membaca surat tidak ada berharap apa-apa," ucap Sana.
"Benar dan sangat jelas Athar menuliskan jika dia sangat mengkhawatirkan mu," sahut Lisa.
"Sudahlah jangan membahas hal itu. Biar iitu menjadi urusanku dengan Athar. Ayo buruan Lisa kamu cepat-cepat keluar yang lain pasti sudah menunggu. Bukannya acaranya sudah di mulai," sahut Anna.
"Ya sudahlah jangan memikirkan hal itu. ayo kita bawa Lisa cepat-cepat pada calon suaminya," sahut Sana.
"Iya ayo buruan," sahut Lisa.
"Cie sudah tidak sabaran ya," goda Olive.
"Bukan tidak sabaran. Takut calon suamiku akan menungguku," sahut Lisa.
"Sudah-sudah jangan berdebat lagi. Ayo kita bawa Lisa cepat," sahut Anna.
Olive dan Sana mengangguk dan langsung membawa Lisa untuk menuju pelaminan yang akan di adakan pernikahan yang calon suaminya sudah menunggu.
*********
Lisa didampingi Anna, Sana, Olive dan Aurelia yang memakai pakaian seragam yang sudah di siapkan oleh Lisa.
Mereka semua memegang kembang sembari berjalan dengan langkah yang seiringan. Di mana Anna bersebelahan dengan Sana dan Olive bersebelahan dengan Aurelia dan bahkan mereka beberapa kali saling melihat namun sama-sama mengalihkan pandangan yang sepertinya Olive belum menerima Aurelia.
"Kenapa dia melihatku seperti itu. Apa dia syirik melihat kecantikan ku. Hmmm, kenapa sih Lisa harus menjadikannya bresmaid," batin Olive yang masih sinis pada Aurelia.
"Olive masih tidak tidak bisa menerima ku. Tidak apa-apa. Semua memang tidak mudah," batin Aurelia yang tersenyum pada Olive.
Aurelia harus dewasa. Karena memang permasalahannya dengan Olive masih tetap sama yaitu permasalahan dengan Olive mengenai Mahendra.
Lisa yang duduk bersebelahan dengan calon suaminya Marko yang mana di hadapan mereka sudah ada penghulu dan saksi-saksi lainnya.
Anna dan yang lainnya menduduki tempat duduk yang sudah di siapkan untuk tamu-tamu. Anna melihat temannya yang telah di persunting teman 1 kantornya yang sekarang mengikatnya dengan ikatan pernikahan yang membuat Anna terharu ketika Marko mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan napas dengan lancar.
Mata Anna berkaca-kaca melihat pemandangan indah itu. Tiba-tiba tangan Anna di genggam yang berada di atas pahanya yang menggenggam tangannya ternyata adalah Maharani yang duduk di sampingnya membuat Anna melihat kearahnya dan Maharani tersenyum padanya.
"Aku tidak sama dengan Lisa. Perbedaan kehidupan dan hubungan kami yang ternyata berbeda. Aku mungkin tidak seberuntung itu. Yang bisa duduk berdampingan dengan calon suamiku. Di mana dia mengucapkannya ijab kabul yang menjadikan ku sebagai wanita dan pendamping di hidupnya. Sudahlah Anna jangan membandingkan dengan orang lain," batin Anna yang mulai berdamai dengan masalah yang kehidupan asmaranya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Maharani.
"Anna baik-baik saja Tante. Anna tidak apa-apa," jawab Anna dengan tersenyum yang berusaha untuk menutupi kesedihannya. Yang pasti dia terharu mungkin juga mengingat Kisa percintaan dengan Athar yang di cintainya yang akhirnya kandas. Karena perbedaan prinsip.
Hal itu mungkin membuat Anna sedih dengan hubungannya yang sangat di sayangkan dan tadi padahal Athar baru menitipkan salam padanya. Yang mengungkitnya dalam tulisan surat.
Hal itu membuat Anna bingung dengan sikap Athar yang sepertinya ingin apa. Jika sudah berakhirnya. Seharusnya tidak mengungkit dirinya lagi.
"Anna!" tegur Maharani yang melihat Anna bengong dan Anna kembali menyadarkan dirinya.
"Jika kamu baik-baik saja. Lalu kenapa melamun, apa kamu memikirkan sesuatu?" tanya Maharani.
"Tidak Tante, Anna hanya terharu dengan pernikahan Lisa dan juga Marko. Anna tidak percaya jika mereka menikah, jadi Anna hanya terharu saja," jawab Anna.
"Maafkan Athar Anna," ucap Maharani
"Kenapa minta maaf Tante?" tanya Anna heran.
"Apa yang terjadi Anna. Kamu harus menjadi korban, hubungannya kamu dengan Athar yang harus berakhir," ucap Maharani.
"Tante sudahlah. Jangan membahas hal itu lagi. Tidak ada gunanya. Aku dan Athar punya jalan masing-masing dan kami sudah sama-sama berdamai dengan keputusan kami," ucap Anna yang berusaha menerima semuanya.
"Semuanya tidak akan terjadi Anna. Jika bukan karena kesalahan Tante dan Om Ari Purnama," ucap Maharani.
__ADS_1
"Maksud Tante apa?" tanya Anna dengan dahinya yang mengkerut.
Bersambung