Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 27 Athar Naik Darah.


__ADS_3

Karena Jennie tampaknya ragu dengan Athar membuat Athar mengajak Jennie keruang cctv untuk memeriksa apa yang terjadi sebelumnya di dalam lift. Agar pikiran Jennie tidak kemana-mana dan berhenti berpikir jika dia melakukan hal serendah itu.


" Itu tidak perlu Athar," ucap Jennie yang memasuki ruang Cctv bersama Athar dan petugas yang memantau ruangan itu pun langsung berdiri ketika melihat Athar datang menundukkan kepala pada Athar.


" Supaya semuanya jelas. Jika aku tidak melakukan apa-apa kepadanya dan dia yang sudah kurang ajar kepadaku," ucap Athar sedari tadi marah-marah terus. layaknya seperti wanita datang bulan. Jennie hanya menghela napasnya ya dia juga memang harus melihat jelas. Supaya bisa koperatif dalam bersikap.


" Buka Cctv saat lift mati!" titah Athar.


" Baik tuan," sahut petugas dan langsung membukanya. Jennie dan Athar berdiri di belakang petugas tersebut.


" Kau lihat itu!" tunjuk Athar memperlihatkan rekaman dia dan Anna yang berada di dadak lift dan Jennie pun mengamatinya.


" Aku hanya membersihkan sepatuku. Tapi lihat dia marah-marah kepadaku. Menuduhku mengintip roknya," ucap Athar menjelaskan seperti mencari pembelaan.


Jennie hanya mengamati terus dan melihat Anna jatuh pada pangkuan Athar dan melihat apa yang di lakukan Athar membuat Jennie menoleh ke arah Athar menatap Athar curiga.


" Apa yang kau pikirkan. Lift goyang dan aku tidak sengaja memegangnya dan dia heboh sendiri dan lihat dia menamparku," sahut Athar yang terus mencari pembelaan.


" Lalu kenapa kamu membekap mulutnya?" tanya Jennie yang melihat Athar membekam mulut Anna.


" Itu karena dia berteriak-teriak. Telingaku sakit mendengar suara cemprengnya itu," tegas Athar.


Jennie kembali melihat Cctv memang sangat tragis. Dia tidak habis pikir bisa-bisanya Anna dan Athar bertengkar di dalam lift saling tarik-menarik. Ya Jennie yang sudah bersahabat lama dengan Athar harus melihat sisi lain dari Athar yang tidak di sangkanya yang mana Athar seperti anak kecil dan seolah wibawa Athar benar-benar hilang.


" Jelaskan semuanya," ucap Athar.


" Ya sudahlah Athar. Aku tidak tau permasalahan kalian intinya semua sudah terjadi dan Anna tetap tidak bisa di keluarkan apa lagi hanya karena masalah pribadi," ucap Jennie menegaskan.


" Masalah pribadi apa Jennie. Lihat dia sudah berani menamparku," ucap Athar yang terus marah-marah dan petugas hanya diam saja tetap duduk di tempatnya.

__ADS_1


" Itu hanya spontanitas Athar. Karena kau...." Jennie tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


" Karena aku apa.." sahut Athar, " astaga jadi kau memang membelanya," sahut Athar mengusap wajahnya dengan tangannya yang tidak habis pikir dengan sekretarisnya itu.


Athar beberapa kali membuang napasnya kedepan dengan dia yang sudah bercagak pinggang yang tidak percaya. Sekretaris membela Anna. Athar melihat ke arah cctv dan tidak sengaja matanya melihat satu rekaman di mana Anna yang berdiri di lantai 2 yang sedang menikmati eskirim.


" Coba lihat bagian ini," sahut Athar dengan cepat yang ingin memperjelas rekaman cctv tersebut.


Dan ya Athar harus menyaksikan ulah siapa yang kemarin membuat jasnya kotor yang ternyata adalah Anna yang membuang sampah sembarangan sehingga jas mahalnya harus kotor. Athar mendengus kasar melihat rekaman itu melihat kearah Jennie yang mana Jennie sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


" Ini yang kalian pilih yang kamu katakan kompeten, memiliki kualitas," sahut Athar semakin emosi, " kualitas di mananya Jennie. Ini kualitas dia hah! Menjadi otak pelaku dari apa yang menimpaku. Memakan eskrim seperti anak kecil dan lihat apa yang di lakukannya membuang sampah tidak pada tempatnya. Kualitas apa yang di milikinya sampai kamu memilihnya bekerja di perusahaan ini," geram Athar yang kehilangan kendalinya.


" Athar, dia masih baru," sahut Jennie yang masih ada rasa-rasa ingin memebela Anna. Athar mengangguk-angguk mendengar kata-kata Jennie.


" Bukan dia yang tidak kompetitif. Tetapi kamu yang tidak memiliki kompeten, sehingga bisa memilihnya asal-asalan," tegas Athar yang sudah di penuhi emosi dan akhirnya Athar pun pergi dari hadapan Jennie yang lama-kelamaan dia bisa semakin marah pada Jennie.


" Athar, kenapa sih, dari tadi marah-marah dan Anna apa Lisa tidak memberitahunya tentang peraturan di perusahaan ini," batin Jennie dengan wajah penuh bebannya. Jennie pun menyusul meninggalkan tempat itu.


**********


Anna menyempatkan dirinya untuk menikmati bakso langganannya bersama dengan Sana temannya. Dia memang harus makan untuk menghilang stress.


" Jadi dia bos di Perusahan itu," sahut Sana terpekik kaget ketika mendengar cerita Anna.


" Ya, aku juga tidak tau kenapa aku terjebak di perusahaan itu dan rencananya aku ingin melaporkannya ke kantor polisi. Eh mala nasibku yang di ujung tanduk," ucap Anna yang terus mengoceh dengan makanan yang penuh di mulutnya sampai pipinya membengkak.


" Lalu kamu tidak di pecat?" tanya Sana.


" Tidak, Lisa bilang aku tidak bisa di pecat dan harus menunggu 1 bulan baru kalau mau di pecat ya di pecat," jawab Anna.

__ADS_1


" Lalu kamu sendiri bagaimana. Kalau tidak di pecat. Kamu akan bertahan di sana?" tanya Sana. Anna mengangguk.


" Itu artinya kamu akan bertemu terus dengannya," sahut Sana. Anna mengangguk.


" Ya ampun Anna. Kamu ngapain mau. Kalau aku niyah, pasti sudah keluar dari perusahaan itu. Mana mungkin bisa bekerja dengan orang seperti itu," ucap Sana.


" Ihhhh, sana aku juga tau kali. Siapa juga yang mau setiap hari bertemu dengannya. Kalau aku keluar dari sana aku mau dapat uang dari mana. Mau makan pake apa. Sudah untung aku tidak di pecat," ucap Anna.


" Itu berarti kamu tidak akan pernah tenang di sana," ucap Sana.


" Ya mau gimana lagi sudah resiko, paling ni yah selama 1 bulan aku akan berusaha agar aku dan dia tidak bertemu. Aku akan berusaha untuk menghindarinya," ucap Anna yang sudah membuat banyak rencana untuk menghadapi Athar selama di perusahaan.


Sana menarik napasn panjang dan membuangnya perlahan menatap penuh simpati sahabatnya itu sampai Sana mengusap-usap lengan Anna.


" Kamu yang sabar ya. Semuanya akan indah pada waktunya," ucap Sana.


" Lebay," sahut Anna menggeser tangan Sana.


" Anna, aku serius mendoakan kamu. Kamunya malah tidak percaya," ucap Sana mengkerutkan bibirnya.


" Ya aku akan sedikit tertolong kalau kamu mau membayar baksoku," ucap Anna. Sana menarik ujung bibirnya yang tau ujung-ujungnya akan kesana.


" Iya deh," sahut Sana dengar terpaksa.


" Hmmm, begitu dong," sahut Anna kesenangan dan makannya menjadi lebih semangat lagi.


" Kamu harus sering-sering meneraktirku," ucap Anna tanpa berdosa.


" Ishhhh, maunya," sahut Sana. Anna tersenyum cengengesan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2