Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 358


__ADS_3

Karena nama Derry di sebutkan dan bahkan menayakan masalah kabar Athar yang membuat tanda tanya bagi Anna. Bahkan perasaannya tiba-tiba merasakan ada yang aneh dengan apa yang telah di dengarnya.


"Tante Maharani menelpon Derry dan menyuruh Derry mendampingi Athar dalam pengobatan. Apa maksudnya?" batin Anna dengan penuh tanda tanya.


"Baiklah Derry mama terus minta kamu jagain Athar dan terus arahkan Athar dan semoga pengobatannya berjalan dengan lancar. Mama serahkan pada kamu. Mama titip Athar untuk kamu, kamu terus arahkan di ya," ucap Maharani dengan wajah senduh nya yang menelpon Derry.


"Mama tutup telponnya," ucap Maharani yang akhirnya menutup telponnya dan Anna masih berdiri di tempatnya semula dengan penuh tanda tanya dan wajahnya yang terlihat begitu penasaran.


"Bagiamana mah keadaan Athar?" tanya Ari Purnama yang juga penasaran dengan keadaan putranya itu.


"Dia masih rutin melakukan pengobatan pada Dokter Luis, Dokter psikiater Athar dan Derry terus menemaninya, walau Athar beberapa kali menyuruh Derry untuk pulang. Namun Derry menolak dan terus menemani Athar di sana," jawab Maharani.


"Psikiater!" lirih Anna dengan debaran jantungnya yang berdetak kencang yang tidak bisa di jelaskan saat merasa ada yang tidak beres.


"Untuk apa Athar ke Dokter psikiater Bukannya Dokter seperti itu untuk melakukan pengobatan mental? apa yang terjadi?" batin Anna dengan wajahnya yang terlihat begitu terkejut.


"Kita doakan saja yang terbaik mah. Aku yakin Athar akan baik-baik saja dan semoga dia cepat sembuh dan masalah ini benar-benar akan swlesai," ucap Ari dengan harapannya yang besar sebagai ayah.


"Iya pah, mama juga berharap seperti itu dan semoga papa juga pekerjaannya tidak banyak lagi. Agar kita bisa menyusul Athar dan bisa mendampinginya di sana dan juga memberinya arahan," sahut Maharani yang hanya terus berharap.


"Jangan Khawatir mah, pekerjaan papa akan secepatnya di bereskan. Kita akan secepatnya menyusulnya," sahut Ari Purnama. Maharani mengangguk dan Ari Purnama langsung merangkul istrinya itu untuk menenangkannya.


Sementara Anna masih berdiri di depan pintu yang penuh dengan tanya dengan perasaannya yang campur aduk ketika mendapat informasi yang tidak jelas mengenai Athar.


"Apa yang terjadi sebenarnya dan apa maksud dari perkataan Om Ari Purnama dan juga Tante Maharani. Kenapa aku merasa ada sesuatu yang tidak beres," batin Anna memegang dadanya yang berdebar dengan kencang.


"Anna kamu lama sekali mengambil minumnya," teriak Olive dari dalam kamar membuat Anna tersentak kaget dan berusaha untuk tenang dengan menghela napasnya dan langsung pergi dari depan kamar itu tanpa ingin bertanya dulu pada Maharani dan Ari Purnama dengan apa yang terjadi pada Athar di dalam sana.


Anna pun kembali ke kamar Olive.


Ceklek.


Anna kembali memasuki kamar Olive dan heran dengan Anna yang sama sekali tidak membawa minum yang padahal sebelumnya Anna mengatakan ingin mengambil minum.


"Mana minumnya?" tanya Olive. Anna tidak menjawab dan melangkah masuk kedalam kamar yang mendekati Olive.


"Olive katakan kepadaku sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Anna duduk di pinggir ranjang dengan memegang tangan Olive. Mendengar pertanyaan Anna membuat Olive bingung sendiri. Apa lagi tangan Anna begitu dingin dengan wajah Anna yang juga kelihatan sangat panik.


"Apa maksud kamu. Terjadi apa?" tanya Olive dengan heran yang memang tidak tau dan tidak mengerti dengan pertanyaan Anna.


"Yang terjadi pada Athar. Ada apa sebenarnya?" tanya Anna dengan wajah paniknya.


"Anna aku benar-benar tidak paham apa maksud kamu. Memang ada apa dengan kak Athar. Aku mana tau apa yang terjadi," sahut Olive yang kembali bertanya.


"Olive tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Tante Maharani dan Om Ari Purnama yang mengatakan jika terjadi sesuatu pada Athar. Athar melakukan pengobatan dengan Dokter psikiater atau psikolog aku tidak tau jelasnya dan Derry di sana ternyata tujuan untuk mendampingi Athar," ucap Anna yang berbicara dengan suara bergetar dan Olive yang kelihatan memang tidak tau apa-apa juga terlihat begitu panik dengan wajahnya yang terlihat sangat shock.


"Dokter psikiater," pekik Olive. Anna mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya Olive dan Tante Maharani bicara sangat serius dengan Derry yang aku yakini pasti berhubungan dengan Athar, dengan pengobatan dan lainnya yang aku tidak mengerti," jelas Anna yang terlihat sangat panik saat bercerita pada Olive.


"Anna aku benar-benar baru mendengar ini dari kamu. Aku juga tidak tau apa-apa dan jujur aku juga terkejut mendengarnya. Karena mama sama papa tidak tidak pernah menceritakan apa-apa dan justru aku baru tau dari kamu," ucap Olive dengan sesungguhnya.

__ADS_1


"Lalu apa yang terjadi sebenarnya. Apa ada sesuatu yang begitu besar? pasti ada yang terjadi bukan. Kamu jangan menyembuyikan apapun dari ku Olive," ucap Anna dengan perasaannya yang campur aduk.


"Anna aku tidak menyembunyikan apa-apa dari kamu. Tetapi aku memang tidak tau apa yang terjadi. Seperti yang aku katakan kak Derry menyusul kak Athar karena pekerjaan dan keluarga tidak pernah membahas masalah yang serius. Jadi aku tidak menyembunyikan apa-apa," jelas Olive mengatakan apa adanya.


"Mana mungkin tidak yang tidak terjadi," ucap Olive.


"Anna kamu tenang ya jangan memikirkan apa-apa. Aku akan coba tanya mama semua ini," sahut Olive menegang erat tangan sahabatnya itu. Dia bisa melihat Anna sangat khawatir sesuatu.


"Athar apa kamu menyembuyikan sesuatu apa ada yang tidak aku ketahui dari kamu?" batin Anna dengan bertanya-tanya penuh kebingungan.


"Aku harus tanya mama. Ini memang masalahnya sangat serius. Aku harus benar-benar tanya mama," batin Olive.


**********


Mahendra dan Jennie yang berada di apartemen Jennie terlihat sedang bersiap-siap memasukkan barang-barang ke dalam koper. 2 orang itu akan berangkat ke Swiss karena untuk persiapan pernikahan yang hanya tinggal beberapa hari lagi dan hari ini Mahendra membantu Jennie untuk paking.


"Tiketnya untuk anak sudah kamu siapkan?" tanya Jennie sembari memasukkan pakaian kedalam koper.


"Kamu jangan Khawatir Jennie aku sudah menyiapkan semuanya dari tiket penginapan dan pelayanan lainnya. Jadi mereka akan mudah tidak akan mengalami kesulitan saat kondangan ketempat kita," sahut Mahendra.


"Ya syukurlah kalau begitu. Aku ingin kita pergi setelah menyelesaikan urusan untuk mereka. Jadi mereka nanti bisa datang dengan lancar dan iya tidak akan ada alasan untuk tidak datang," sahut Jennie.


"Aku juga sangat berharap seperti itu dan untuk Lisa dan Marko. Mereka juga mengatakan langsung ke Swiss dan tidak pulang lagi ke Indonesia," sahut Mahendra.


"Wau mau berapa lama mereka bulan madunya. Sampai-sampai putar-putar negara dan tidak pulang-pulang pada negaranya," sahut Jennie.


"Biarkan sajalah yang penting mereka bahagia dan namanya juga pengantin baru. Bawaannya mau liburan terus," sahut Mahendra.


"Jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan semuanya. Jadi apa yang kamu inginkan akan terpenuhi dan pasti Supraise untukmu," sahut Mahendra.


"Aku percaya itu," sahut Jennie dengan tertawa lebar.


"Oh iya Jennie, bagaimana dengan Athar apa dia akan datang ke pernikahan kita?" tanya Mahendra yang tiba-tiba mengingat Athar.


"Athar janji akan datang. Tetapi aku juga tidak berharap. Aku juga ingin dia fokus pada pengobatannya agar trauma yang di alaminya benar-benar hilang," sahut Anna Jennie.


"Iya sih aku juga berharap seperti itu. Lebih baik Athar fokus. Karena kasihan juga Athar harus mengalami semua ini dan bahkan dia juga mengorbankan cintanya hanya karena ketakutan dengan masa lalu, masalah keluarga yang di alaminya yang membuatnya trauma untuk menjalankannya pernikahan yang di anggap Athar sangat buruk dan padahal tidak semua seburuk itu," ucap Mahendra.


"Apa maksudnya?" tiba-tiba terdengar suara serak yang membuat Mahendra dan Jennie sama-sama melihat kearah pintu di mana berasal suara tersebut.


"Anna!" lirih ke-2nya secara serentak yang terkejut dengan Anna yang berdiri di depan pintu yang tidak tau sejak kapan Anna berada di sana yang membuat Mahendra dan Jennie begitu terkejut dengan saling melihat.


"Anna ada di sini. Sejak kapan dia ada sini dan apa dia mendengar apa yang aku bicarakan dengan Mahendra," batin Jennie yang masih shock dengan kehadiran Anna yang secara tiba-tiba.


"Ya mungkin memang Anna harus tau. Karena tidak mungkin dia tidak mendengarku dengan Jennie saat berbicara," batin Mahendra.


"Apa yang kalian bicarakan? apa yang terjadi? ada apa dengan Athar? Dokter, pengobatan, trauma, masa lalu, ada apa dengan semuanya?" tanya Anna yang lagi-lagi mendapatkan informasi yang semakin jelas yang berhubungan dengan lanjutan teka-teki Ari Purnama dan Maharani tadi.


Jika dari Ari Purnama tidak terlalu jelas. Dengan mendengar pembicaraan Mahendra dan Jennie sudah bisa di lihat mengarah kemana. Namun Anna masih ingin kejelasan yang akurat.


"Kenapa kalian berdua diam? Katakan apa yang terjadi sebenarnya. Apa yang kalian sembuhnya. Ada apa sebenarnya?" tanya Anna lagi.

__ADS_1


"Anna kamu tenang dulu," sahut Jennie.


"Bagaimana aku bisa tenang. Jika kalian berdua sejak tadi hanya diam saja. Jawablah pertanyaan ku biar aku bisa tenang," sahut Anna dengan penuh penuh kecemasan dan bahkan suaranya terlihat meninggi yang tubuhnya terasa sangat bergetar.


Jenni dan Mahendra saling melihat dan mereka sama-sama saling mengangguk.


"Ayo kita bicara Anna," sahut Jennie menghela napasnya dan menghampiri Anna mengajak Anna untuk bicara di ruang tamu yang juga di susul oleh Mahendra.


"Katakan langsung apa yang terjadi?" tanya Anna lagi ketika sudah duduk bersama dengan Jennie dan Mahendra.


"Jadi kamu benar-benar tidak tau masalah yang di hadapi Athar sebenarnya?" tanya Jennie.


"Aku tidak tau apa-apa dan justru itu aku bertanya sejak tadi," sahut Anna menekan suaranya yang terlihat mendesak Jennie untuk menceritakan apa yang telah terjadi.


"Anna apa kamu tidak tau jika Athar tidak ingin menikah. Bukan karena prinsip atau tidak serius kepadamu. Melainkan dia tidak berani menghadapi langkah itu. Karena Athar mengalami trauma dalam pernikahan," jelas Jennie yang membuat Anna terkejut mendengarnya sampai mata Anna terbuka dengan lebar.


"Apa trauma dalam pernikahannya!" pekik Anna.


"Iya Anna, saat pertama kali kamu bertengkar dengan Athar. Aku sempat bicara kepadanya dan dari cerita Athar alasannya yang tidak bisa menikahi kamu. Karena dia takut akan gagal dalam pernikahan seperti yang di alaminya dan juga kamu," sahut Mahendra menambahi.


"Perceraian orang tuanya, kehidupan orang tuanya dengan tidak ada kesetiaan, perselingkuhan yang di alami orang tuanya dan juga orang tuamu, membuat Athar tidak yakin untuk mengambil jalan pernikahan," lanjut Mahendra yang mengejutkan Anna.


Dia tidak pernah tau hal ini dan iya sangat bodoh sampai tidak tau masalah sebesar itu.


"Itulah alasan Athar belum siap untuk menikah denganmu dan mungkin memilih untuk mengakhiri hubungan kalian itu karena tidak ingin kamu semakin menderita dengan keadaan Athar," ucap Jennie.


"Athar memang mengurus Perusahaan di New York dan sembari melakukan pengobatan dengan Dokter ahli untuk mengubah pemikirannya yang tidak menganggap pernikahan seperti itu. Ya secara sadar. Athar juga mengakui apa yang di pikirkannya terlalu jauh. Makanya dia juga berusaha untuk berkonsultasi dengan Dokter yang sudah ahlinya," ucap Mahendra.


Anna mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya sembari air matanya yang akhirnya keluar, "sejak kapan dia mengalami semua ini?" tanya Anna.


"Masalah itu kami tidak tau Anna," sahut Jennie.


"Lalu kenapa dia tidak mengatakannya kepadaku? Kenapa dia menyembunyikannya dan membuatku berspekulasi buruk kepadanya?" tanya Anna dengan wajahnya yang memerah.


"Athar mungkin punya pilihan dan kami tidak tau alasannya dan iya aku juga menyuruhnya untuk jujur padamu dan Athar memilih diam sampai detik ini," sahut Jennie.


"Jadi selama ini Athar mempunyai trauma dan aku ada di selalu bersamanya dan tidak tau sama sekali apa yang di alaminya dan ini juga yang membuat Athar sangat mudah untuk memutuskan hubungan kami," ucap Anna yang dengan dadanya yang kembang kempis yang tidak tau harus mengatakan apa lagi.


"Anna kami sudah memberitahu nya dan sisanya kamu yang tau harus melakukan apa. Kamu juga pasti tau. Jika Athar sangat mencintaimu," ucap Jennie dengan memegang tangan Anna yang berusaha untuk menenangkan Anna.


"Benar kata Jennie semua pilihan ada padamu dan kamu yang bisa memutuskan pilihan itu yang jelas kamu sudah tau apa yang sebenarnya," sahut Mahendra menambahi.


Anna diam dengan pemikirannya yang masih kesana kemari yang tidak tau harus berpikir apa.


*********


Anna yang berada di dalam Taxi terlihat murung dengan air matanya yang keluar dia kembali penuh dengan kebingungan. Ternyata ada masalah besar yang sama sekali tidak di ketahuinya. Apa yang telah di dengar Anna membuat Anna kembali mengingat-ingat memori bersamanya dengan Athar dan apalagi saat pertengkaran mereka sebelum mereka putus.


"Athar selama ini kau mengalami hal yang tidak terduga. Lalu kenapa tidak mengatakannya kepadaku. Kenapa menyembunyikan dan membuat ku menjadi sekarang serba salah. Athar dengan kejadian ini orang-orang benar menganggap jika akulah penjahatnya. Aku putus dengamu begitu saja tanpa tau apa yang aku alami," batin Anna yang berbicara sendiri dengan hatinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2