
Perusahan Glossi.
Terlihat, Chandra, Amelia, Maharani, Derry dan Gibran dan juga Aurelia, yang berbincang-bincang di depan Perusahaan.
" Aurelia semoga bisa menyelesaikan tahap ini dengan baik ya," ucap Maharani memberikan doanya.
" Makasih Tante. Aurelia akan memberikan yang terbaik untuk Perusahaan ini dan semoga saja desain Aurelia yang menjadi produk terbaru dari Glossi," ucap Aurelia dengan percaya dirinya.
" Om, yakin kamu bisa melakukan itu," sahut Ari Purnama.
" Makasih om," sahut Aurelia.
" Aurelia lihat, mereka mempercayaimu. Jadi berjuang terus dan jangan kecewakan mereka," ucap Chandra.
" Iya pah. Pasti Aurelia akan melakukannya," sahut Aurelia tersenyum.
" Hmmm, oh iya Olive tidak datang?" tanya Amelia.
" Tadi sudah terlebih dahulu datang Tante, mungkin ada di dalam," sahut Derry.
" Hmmm, begitu rupanya pantes tidak kelihatan," sahut Amelia.
Tiba-tiba Athar dan Jennie terlihat keluar dari perusahan.
" Athar!" panggil Chandra yang membuat Athar dan Jennie berhenti dan langsung menghampiri keramaian itu.
" Iya Om," sahut Athar yang sudah berada di sana.
" Semoga proyek kamu sukses," ucap Chandra menepuk bahu Athar.
" Makasih Om," sahut Athar.
" Sial, kenapa rencanaku berantakan dan proyeknya benar-benar akan berhasil lagi. Aku akan tetap tidak ada apa-apanya di mata papa," batin Gibran dengan kesal.
" Om yakin proyek kamu ini akan benar-benar sukse dengan desain dari Aurelia. Karena kalian akan bekerja sama. Kalian ini pasangan dan orang-orang menunggu kalian untuk bekerja sama," ucap Chandra.
Athar hanya menanggapi dengan datar saja. Namun Aurelia terlihat tersenyum dengan papanya yang mengungkit masalah itu.
" Ya kita doakan saja manaa yang terbaik," sahut Maharani. Yang lainnya mengangguk dan Athar terlihat tidak nyaman dengan pembicaraan itu.
Chandra yang merapikan jasnya tiba-tiba pulpen yang di saku jas terjatuh dan langsung berguling.
__ADS_1
" Ada-ada saja," Chandra gelang-gelang dan mengambil pulpennya yang terguling yang sampai kejalan raya itu.
Ternyata Anna tetap melaju dengan kecepatan tinggi yang tidak tau bagaimana ceritanya yang mereka kembali keperusahan. Di dalam mobil Lisa, Sana dan Olive sudah berteriak-teriak meminta ingin turun dan pasrah dengan apa yang terjadi jika mereka harus mati di tempat dan suara sirene polisi tetap terdengar yang terus mengejar mereka.
" Bagaimana ini. Kenapa mobilnya tidak berhenti juga," ucap Anna panik.
" Polisinya masih mengejar kita," sahut Olive panik.
" Anna di depan!" teriak Lisa Anna melihat kedepan yang mana Chandra yang berjongkok mengambil benda. Dari kejauhan tidak jelas Anna melihat siapa orang itu.
" Anna, injak rem!" teriak Lisa.
" Mana remnya aku mana tau," sahut Anna semakin panik yang membunyikan klakson dengan kuat.
Suara klakson itu membuat Athar dan yang lainnya melihat mobil melaju kencang ke arah Chandra.
" Bukannya itu mobilku?" tanya Athar mengenali mobilnya.
" Kok bisa jalan sendiri," sahut Jennie.
" Aku mana tau," sahut Athar. Aurelia yang melihat mobil melaju ke arah papanya itu membuatnya kaget.
" Papa awas!" teriak Aurelia saat mobil melaju kencang mengarah pada Chandra. Hal itu begitu menegangkan dan membuat semua orang tegang.
" Papa!" lirih Anna panik yang tidak tau harus berbuat apa yang tidak menyangka orang di depan itu adalah papanya.
" Anna remnya!" teriak Lisa dan Anna kebingungan dengan membunyi-bunyikan klakson yang tidak tau apa-apa. Namun dia juga ketakutan.
Dan orang-orang yang di depan perusahan itu juga kaget dan wajah-wajah itu semakin tegang.
" Aaaaaaaaa!" teriak Anna saat akan ingin menabrak Chandra. Chandra kaget dengan menyilangkan tangannya yang akan tertabrak.
Chitttt tiba-tiba mobil merem mendadak dan mebuat mereka maju kedepan. Dan Anna kembali jidatnya terbentur stri mobil. Yang lain juga kesakitan dengan benturan. Namun tidak separah Anna dan tidak sampai luka seperti Anna.
" Papa," teriak Aurelia yang langsung berlari untuk mengejar papanya dan di ikuti yang lainnya.
Semetara di dalam mobil mereka memegang dahi masing-masing yang sama-sama sakit dengan napas yang tidak beraturan.
" Apa kita masih hidup," ucap Olive.
" Kita masih hidup," sahut Sana.
__ADS_1
" Anna kamu baik-baik aja?" tanya Olive melihat Anna duduk mematung dengan dengan mebgatur napas Anna yang berat.
" Kamu baik-baik aja kan Anna?" tanya Olive lagi.
" Aku baik-baik aja," sahut Anna yang sebenarnya begitu bergetar dan tidak ada kata baik sama sekali. Dan juga Anna meliaht ke depan yang mana banyak orang mengerumuni Chandra.
Mobil polisi itu juga berhenti dan 2 Polisi langsung keluar dari mobil itu.
" Kok ada Polisi?" tanya Jennie heran.
" Ada apa sebenarnya ini," ucap Athar yang langsung menuju mobilnya yang pasti penasaran siapa yang membawa mobilnya.
Atahr langsung membuka pintu bagian Anna dan kaget melihat Anna, di dalamnya, Olive, Lisa dan Sana.
" Kalian!" pekik Athar dan matanya langsung tertuju pada Anna yang masih mengatur napas dengan dahi yang terluka.
" Selamat siang pak," sahut Pak polisi memberi hormat. Anna dan yang lainnya semakin panik dan takut. Lisa juga sudah pasrah yang akan di semprot Athar setelah ini.
" Selamat siang," jawab Athar.
" Siapa yang mengendarai mobil ini?" tanya Pak polisi dengan melihat Anna yang duduk di kursi pengemudi.
" Bisa tunjukkan SIM kamu!" ucap Polisi. Anna kebingungan dan malah terlihat panik.
" Olive yang salah kak Athar," sahut Olive menyalahkan dirinya sendiri dan Athar melihat Anna yang tampak gemetar.
Athar melihat ke arah Jennie dan Jennie mengangguk seolah mengerti apa maksud Athar.
" Saya yang bertanggung jawab Pak dalam masalah ini," sahut Jennie mengajak polisi itu untuk bicara sedikit jauh dari mobil itu. Dan Athar melihat satu-persatu orang yang di dalam mobil itu yang pasti tukang biang kerok semua dan rajanya pasti Anna.
" Mampus aku akan menjadi tumbal hari ini," batin Lisa yang sudah melihat wajah Athar ingin menerkamnya.
" Kak Athar, wajahnya jangan seperti itu. Sungguh ini Olive yang salah," sahut Olive dengan mengakui kesalahannya pada Athar dengan wajah ingin di kasihani.
Tidak lama Jennie pun selesai bicara dengan Polisi tersebut dan Polisi itu kembali menghampiri mobil itu di mana Anna dan teman-temannya masih berada di dalam sana.
" Baiklah, untuk ibu Anna lain kali menyetir dengan baik. Ingat nyawa orang bisa menjadi taruhannya. Jangan bermain-main di jalan lintas," ucap polisi memberikan saran. Anna menganggukkan kepalanya.
" Baiklah! kalau begitu saya permisi dulu," ucap Polisi itu.
" Terima kasih pak," sahut Athar berjabat tangan polisi itu pun mengangguk dan langsung pergi. Anna dan yang lainnya bernapas lega yang tidak jadi berurusan dengan polisi dan mata Athar langsung melihat ke-4 wanita itu secara bergantian yang ingin di terkam Athar.
__ADS_1
Bersambung