
"Annan!" lirih Athar dengan membalikkan tubuhnya perlahan setelah mendengar kata-kata Anna.
Anna menarik napasnya dengan panjang dan membuangnya perlahan ke depan. Lalu membalikkan tubuhnya ke arah Athar.
"Jika kamu tetap pergi. Maka aku tidak akan bisa menunggu lagi. Mungkin kamu benar aku hanya anak-anak dan punya pikiran yang tidak dewasa dan bahkan tidak bisa sama tujuan dengan prinsip mu. Jadi dari pada semuanya di paksakan. Alangkah baiknya kita mengakhiri hubungan kita. Aku tidak bisa menunggumu dan kita udahan saja dan ini juga demi kebaikanmu. Jika ada pergi lagi. Kau tidak perlu pusing memikirkannya lagi," ucap Anna yang bicara dengan tenang. Saat dirinya yakin untuk mengakhiri segala hubungannya dengan Athar.
"Apa yang kamu bicarakan Anna?" tanya Athar yang masih sangat terkejut mendengar pernyataan Anna.
"Apa yang aku bicarakan sudah jelas. Kita lebih baik putus," tegas Anna. Athar langsung menggeleng dan dan mendekati Anna memegang tangan Anna. Namun Anna langsung menolak dan bahkan mundur selangkah yang menjauh dari Athar.
"Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," tegas Anna.
"Anna kamu tidak bisa mengambil tindakan dengan penuh emosi seperti ini. Anna apa yang terjadi di antara kita tidak mudah kita lalui. Kamu harus mengingat bagaimana perjuangan hubungan kita dan kamu ingin putus begitu saja. Hanya perkara masalah kecil. Ini tidak adil Anna," ucap Athar yang mencoba untuk membujuk Anna.
"Bagi kamu ini masalah kecil Athar. Tetapi bagiku tidak. Bahkan kamu sudah menjelaskan prinsipmu yang harus aku mulai sekarang. Jika aku tidak bisa mengikuti prinsip itu dan jalan yang terbaik kita sendiri-sendiri saja," ucap Anna yang bicara tanpa marah-marah dan terlihat sangat tegar.
"Tidak Anna," sahut Athar menolak persetujuan itu.
" Oke 1 kesempatan. Jangan pergi dan mari bersama. Atau pergi lah dan kita akhiri segalanya," ucap Anna yang memberikan Athar pilihan yang pasti pilihan itu untuk terakhir kalinya.
"Anna bagaimana mungkin aku memilihnya. Itu tidak masuk akal Anna," sahut Athar.
"Kamu sudah memilihnya Athar dengan kamu tetap pergi dan itu artinya. Hubungan kita berakhir," ucap Anna menegaskan membuat Athar geleng-geleng.
"Tidak Anna!" perotes Athar.
"Semua sudah berakhir. Kamu carilah kebahagiaan mu dan aku juga. Terima kasih sudah ada di dalam hidupku setahun lebih dan aku sangat bahagia. Terima kasih sudah mencintaiku. Semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik lagi dan bisa mengikuti prinsip mu," ucap Anna dengan tenang.
"Anna!" lirih Athar.
"Pergilah Athar, aku masih banyak pekerjaan," usir Anna secara halus dan Anna bahkan membalikkan kembali tubuhnya membelakangi Athar dengan air matanya yang kembali keluar.
Athar membuang napasnya dengan perlahan kedepan dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya dan kembali mengatur napasnya dengan matanya yang memerah.
"Baiklah jika itu maumu," sahut Athar yang juga mengakhiri segalanya. Air mata Anna semakin mengalir deras. Saat Athar lebih setuju putus dengannya dari pada tetap bersamanya dan tidak pergi.
"Kau yang menginginkan semua ini dan ini adalah pilihanmu. Maafkan aku sudah melukai hatimu," ucap Athar yang dengan berat hati melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Anna yang di pastikan itu yang terakhir kalinya Athar berada di sana.
Pintu ruangan itu tertup yang menandakan Athar sudah pergi.
"Kau memang sudah tidak mencintaiku lagi Athar. Kau sudah tidak mencintai ku lagi, kau sudah tidak mencintai ku lagi," ucap Anna dengan memegang dadanya yang terasa sangat sesak.
Air matanya tidak henti-hentinya keluar dengan deras. Saat hubungan yang sangat di harapkannya akan melaju kepelaminan telah hancur di tengah jalan.
Anna mendekati mejanya dan melihat bunga pemberian Athar dengan penuh kemarahan Anna langsung membuang bunga mawar itu.
"Kau jahat Athar, kau jahat. Kau sangat jahat!" teriak Anna dengan melampiaskan kemarahannya menghancurkan bunga indah itu yang kelopak bunganya berserakan di lantai.
"Kau hanya memperdulikan pekerjaan mu di bandingkan aku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan ku. Kau sudah tidak mencintaimu Athar!" Anna berteriak-teriak seperti orang stres yang memang hanya itu yang bisa di lakukannya. Meluapkan dengan berteriak sekencang-kencangnya.
Sampai akhirnya dia lemas sendiri dan membuat Anna langsung terduduk dengan lemas di lantai yang di kelilingi kelopak mawar-mawar yang berserakan.
"Argghhh!" teriak Anna yang menagis terisak-isak saat hubungannya benar-benar berakhir dengan Athar.
Anna memeluk ke-2 lututnya yang merasakan patah hati dengan keputusan Athar yang sudah tidak mencintainya lagi.
Hanya kenangan yang teringat di dalam benak Anna. Kenangan indah, tawa, pelukan, usapan air mata, dan semua hari-hari yang di laluinya dengan kekasihnya yang akhirnya berakhir sudah dengan secepat itu.
Sama dengan Athar yang berada di dalam mobil yang sekarang juga hanya mengingat masa-masa bahagianya bersama Anna. Athar juga mengeluarkan air mata. Saat mengingat keputusan dari perkataan Anna yang mengakhiri hubungan itu.
"Aku pikir. Kau sangat mengerti diri ku Anna. Tetapi ternyata tidak. Kau tidak mengerti diriku," batin Athar yang terlihat kecewa dengan keputusan Anna.
Tidak tau siapa yang akan di salahkan di antara ke-2nya. Anna atau pun Athar. Tetapi pada intinya keduanya sama-sama salah. Yang satu tidak memahami yang ini dan yang satu tidak memahami yang ini.
*********
Anna berada di kamarnya yang berbaring miring di dalam ringkupan selimut yang di pastikan Anna sedang menangis.
tok tok tok tok tok.
Pintu kamar Anna di ketuk.
"Anna Sana, Olive dan Lisa datang, ayo keluar temui mereka. Kata mereka handphone kamu tidak bisa di hubungi. Jadi mereka datang," panggil Maya yang masih di luar kamar.
"Anna mau istrahat mah, Anna tidak enak badan. Katakan saja maaf untuk mereka," sahut Anna.
"Kalau begitu mama suruh mereka keatas ya," ucap Maya.
__ADS_1
"Jangan mah, Anna mau istirahat aja. Besok Anna baru menemui mereka," ucap Anna yang pasti tidak mungkin menemui teman-temannya dalam keadaan dirinya yang sedang tidak baik-baik saja
Anna tidak mau teman-teman sampai ikut cemas memikirkan dirinya dan mungkin berakhirnya hubungan Anna dan Athar belum ada yang mengetahuinya. Masih Anna dan Athar.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahatlah. Kalau ada apa-apa panggil mama," ucap Maya.
"Iya mah," sahut Anna.
Maya menghela napasnya, "ada sebenarnya dengannya sejak pulang dia bahkan mengurung diri di kamar," batin Maya yang sangat mengkhawatirkan Anna.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Anna," gumam Maya yang hanya berharap semuanya baik-baik saja. Maya pun langsung pergi dari depan kamar itu untuk menemui teman-teman Anna yang menunggunya di bawah.
**********
Di ruang tamu, Olive, Lisa dan Sana sedang menunggu dengan wajah mereka yang terlihat sangat khawatir.
"Tante," sahut Olive dan yang lainnya langsung berdiri.
"Di mana Anna Tante?" tanya Sana.
"Anna katanya sedang tidak enak badan. Jadi maaf sekali ya. Anna tidak bisa menemui kalian," ucap Maya yang merasa tidak enak.
"Memang Anna sakit apa Tante?" tanya Sana.
"Hanya tidak enak badan saja. Jadi tidak ada hal yang serius. Jadi jangan khawatir," jawab Maya.
"Kalau begitu biar kami lihat kekamar sebentar untuk memastikan keadaannya," sahut Lisa.
"Benar Tante," sahut Olive yang setuju.
"Tidak usah Lisa, Olive dan Sana, Anna bilang dia tidak apa-apa dan besok akan menemui kalian. Jadi Anna juga tidak mau untuk di lihat," ucap Maya apa adanya yang menyampaikan sebenarnya.
"Tante tidak terjadi sesuatu pada Anna kan?" ucap Sana yang menduga-duga yabg merasa temannya itu sedang ada sesuatu.
"Tante juga kurang tau Sana. Semenjak pulang Anna terlihat murung dan di kamar saja seharian. Tante juga tidak tau apa yang terjadi," jawab Maya.
Olive, Sana, Lisa saling melihat yang mana mereka merasa pasti ada sesuatu.
"Kalian ber-3 jangan khawatir. Tante yakin Anna akan baik-baik saja. Besok dia mengatakan akan menemui kalian," ucap Maya.
"Pasti!" sahut Maya.
"Kami pergi Tante," sahut Lisa dan mereka bergantian bersalaman dengan Maya sebelum pergi.
"Kalian hati-hati ya," ucap Maya. Sana, Olive dan Lisa mengangguk dan langsung pergi. Walau mereka kecewa karena tidak bertemu dengan Anna.
Maya menghela napas beratnya dengan perlahan kedepan, "mereka anak-anak yang baik. Tau saja. Jika salah satu teman mereka sedang ada masalah dan mereka langsung peka. Hanya saja Anna yang tidak tau kenapa. Semoga Anna juga baik-baik saja," batin Maya.
**********
Sana, Lisa dan Olive berada di dalam mobil yang mana Lisa yang menyetir. Sana di samping Lisa dan Olive duduk di belakang.
"Anna kenapa sih sebenarnya? tumben-tumbenannya Anna tidak mau menemui kita," ucap Olive yang terus kepikiran.
"Sejak tadi sudah kelihatan Anna itu penuh dengan masalah. Tidak tau juga apa yang terjadi," sahut Sana yang tidak kalah kepikiran dengan sahabatnya itu.
"Oh iya Olive kenapa kamu tidak tanya sama Athar saja," sahut Lisa.
"Iya tanya aja sama Athar. Dia pasti tau apa yang terjadi sama Anna," sahut Sana.
"Ya sudah nanti aku akan coba tanya kak Athar," sahut Olive.
"Tapi tunggu deh. Kenapa aku merasa jika Anna itu masalahnya justru sama Athar ya," ucap Sana yang menduga-duga.
"Maksudnya?" tanya Lisa.
"Anna itu nggak pernah seperti itu. Anna selalu menceritakan apapun yang terjadi. Dan masalah dengan Aurelia terutama dan jika pun benar masalah Aurelia. Anna tidak mungkin tidak mau menemui kita Dan pasti karena masalah yang penting dan aku malah mereka ini ada hubungannya dengan Athar," ucap Sana berdasarkan dengan pemikirannya.
"Aku juga setuju sih. Karena aku juga tidak melihat Athar bersama Anna," sahut Lisa yang tiba-tiba sepemikiran.
"Sudah-sudah jangan menduga-duga. Nanti kita cek dulu kebenarannya. Aku tanya sama kak Athar. Aku rasa tidak mungkin Anna dan kak Athar ada masalah kan kalian tau sendiri. Bagaimana kak Athar. Dia itu sangat mencintai Anna. Jadi mana mungkin berhubungan dengan kak Athar," sahut Olive yang masih berpikiran positif.
"Iya benar juga kita sebaiknya jangan menduga-duga," sahut Lisa.
Sana mengangguk-angguk dan mereka ber-3 berusaha untuk berpikiran positif. Padahal di dalam hati mereka sedang berkecamuk yang penuh dengan kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Anna teman mereka.
************
__ADS_1
Tidak lama akhirnya Sana dan Olive sampai kerumah Ari Purnama yang pasti di antar kan Lisa.
"Kamu hati-hati ya Lisa," ucap Sana dan Olive dengan melambaikan tangan mereka.
"Iya makasih selamat untuk beristirahat," sahut Lisa dan Lisa pun langsung melajukan mobilnya.
"Ayo kita masuk!" ajak Sana. Olive mengangguk dan mereka memasuki rumah.
Gibran dan Sana masih tinggal di rumah Ari Purnama karena mereka belum pindah yang mungkin nanti akan pindah. Karena rumah yang akan mereka tempati masih di renovasi.
Sana dan Lisa memasuki rumah dan bertemu dengan Gibran.
"Kamu sudah pulang sayang," ucap Gibran yang mana Sana mencium punggung tangan suaminya dan Gibran mencium keningnya juga memeluknya. Maklum masih baru-baru jadi sangat wajar kalau masih mesra-mesraan. Membuat Olive berdehem- dehem yang hanya menjadi obat nyamuk saja.
"Olive," sapa Gibran.
"Di kirain sudah lupa," sahut Olive kesal.
"Mana mungkin melupakan adik kakak yang bungsu ini," ucap Gibran mengacak-acak pucuk kepala Olive.
"Issss berantakan rambut Olive. Kebiasaan deh," sahut Olive dengan kesal. Sana hanya tersenyum saja melihat adik kakak itu yang pasti tidak bisa akrab.
"Oh iya kak Gibran. Kak Athar mana?" tanya Olive.
"Athar kayaknya tidak menginap di sini. Di di tempat Bu Maya dan lagian besok juga Athar mau ke Luar Negri. Jadi pasti menginap di tempat Bu Maya," jawab Gibran membuat Olive dan Sana sama-sama terkejut dan mereka saling melihat.
"Kak Athar mau ke luar Negri?" pekik Olive.
"Iya dia harus mengurus Perusahaan di New York dan kakak dengar-dengar cukup lama," ucap Gibran yang memang tau.
"Apa jangan-jangan. Ini ada hubungannya dengan Anna," batin Olive.
"Anna yang tiba-tiba aneh. Apa karena Athar akan pergi dan apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mereka," batin Sana yang sama-sama sepemikiran dengan Olive.
Gibran memperhatikan wajah istrinya dan adiknya itu terlihat seperti punya beban pikiran.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Gibran merasa aneh dengan istri dan anaknya.
"Olive melamar sebentar," ucap Olive yang langsung pergi uang terlihat linglung. Gibran jadi semakin heran dan langsung melihat ke arah istrinya.
"Apa terjadi sesuatu sayang?" tanya Gibran.
"Ayo kekamar. Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Sana dengan wajahnya yang begitu serius.. Gibran mengangguk-angguk yang memang merasa ada sesuatu sampai istrinya juga seperti itu.
***********
"Ada apa Sana?" tanya Gibran begitu sudah berada di dalam kamar bersama istrinya.
"Sayang kamu tau tidak kalau Anna itu aneh, dia seperti ada sesuatu dan aku yakin ini berkaitan dengan Athar ke Luar Negri," ucap Sana dengan wajahnya yang terlihat sangat panik.
"Sayang maksud kamu apa?" tanya Gibran heran.
"Aku juga tidak mau bicara dari mana. Yang jelasnya aku merasa hubungan Anna dan Athar sekarang ini tidak baik-baik saja," ucap Sana.
"Sayang kamu tenang dulu. Kamu jangan mikir macam-macam. Siapa tau aja mereka itu baik-baik saja. Tidak terjadi apa-apa pada mereka," ucap Gibran yang berpikiran positif.
"Aku juga berharap seperti itu. Tetapi tetap saja aku merasa iya," sahut Sana.
"Sudah-sudah kamu jangan memikirkan itu. Kita tanya saja Athar besok," sahut Gibran yang mengambil keputusan.
"Athar berangkat jam berapa?" tanya Sana.
"Mama bilang pesawatnya jam 10 pagi," jawab Gibran.
"Semoga saja. Memang apa yang terjadi pada Anna tidak ada sangkut-pautnya dengan kepergian Athar," ucap Sana yang berusaha untuk tenang.
"Iya sayang pasti tidak ada sangkut-pautnya," sahut Gibran. Sana mengangguk dah memeluk suaminya.
************
Sementara Olive yang sudah memasuki kamarnya duduk di pinggir ranjang dengan wajahnya yang terlihat begitu murung.
"Kak Athar mau ke Luar Negri. Dan Anna sedang dalam masalah. Jika Anna seperti ini. Seharusnya kak Athar menemuinya dan bukan malah ke Luar Negri. Jadi sangat jelas kepergian kak Athar ada hubungannya dengan Anna," batin Olive dengan pemikirannya yang menebak-nebak apa yang terjadi.
"Tapi bagaimana cara mengetahuinya. Aku harus tanya kak Athar. Dia harus melihat kondisi Anna. Aku yakin kak Athar tidak tau. Jika Anna sedang dalam masalah," batin Olive yang mengambil kesimpulan yang bertindak secepat mungkin.
Bersambung.
__ADS_1