Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 299.


__ADS_3

Akhirnya Athar mendapatkan Anna kembali. Yang mana keduanya sama-sama terjatuh di atas rumput dengan terbaring yang sama-sama lelah dengan napas yang naik turun yang ngos-ngosan karena kejar-kejaran seperti anak kecil.


" Aku capek!" keluh Anna dengan napasnya yang sesak yang ngos-ngosan naik turun.


" Akui juga capek Anna," sahut Athar dengan napas beratnya yang tidak teratur.


" Kalau begitu jangan mengejar ku lagi, aku capek aku sudah tidak bertenaga lagi," ucap Anna menoleh ke arah Athar.


" Aku tidak akan mengejar mu. Tetapi kau harus minta maaf pada ku! karena aku masih menunggu maaf dari mu," ucap Athar.


" Huhhhhhhhh," Anna membuang napasnya dengan panjang kedepan yang sepertinya tidak ingin meminta maaf pada kekasihnya itu.


" Hey kenapa berat sekali meminta maaf apa susahnya hanya tinggal mengatakan maaf saja," ucap Athar dengan mengusap-usap rambut Anna.


" Aku tidak bersalah. Lalu kenapa harus minta maaf," sahut Anna. Athar mendengus dengan senyumnya lalu telungkup agar bisa melihat wajah Anna yang terlihat lelah.


Athar membelai-belai rambut Anna, dahi Anna terlihat berkeringat yang pasti karena hal tadi.


" Jadi masih tidak mau minta maaf, tidak ingin mengakui kesalahannya?" tahta Athar. Anna menggelengkan kepalanya.


" Lalu apa yang harus aku lakukan. Agar kamu meminta maaf padaku?" tanya Athar.


" Memang apa salahku?" tanya Anna.


" Masih bertanya apa kesalahan kamu. Kamu tidak melihat bagaimana aku yang sekarang ingin menjadi basah. Karena siapa coba semua ini?" tanya Athar.


" Apa maaf itu sangat penting?" tanya Anna kembali. Athar mengangguk


Anna mengalungkan tangannya ke leher Athar yang membuat wajah Athar semakin mendekati Anna. Dengan mata mereka yang saling bertemu. Saling menatap dengan dalam-dalam di antara ke-2nya.


" Apa aku harus minta maaf?" tanya Anna lagi. Athar mengangguk kembali.


" Hmmmm, baiklah, Sayang aku minta maaf kepadamu. Aku tidak bermaksud untuk membuat tubuhmu basah. Aku hanya merindukan bagaimana kesalnya kau kepadaku," ucap Anna dengan mengusap-usap pipi Athar.


" Jadi sangat merindukanku?" tanya Athar. Anna mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Apa yang aku lakukan ini hanya untuk membuat hubungan kita semakin dekat. Aku ingin di kejar, di marahi dan pastinya di peluk, di tatap dengan cinta seperti ini. Bicara dengan manis seperti sekarang ini," ucap Anna.


" Jadi semua ini hanya trik saja agar bisa dekat-dekat denganku?" tanya Athar.


" Iya ini hanya trik saja," jawab Anna.


Athar mencoba untuk duduk membuat Anna heran dan Athar meraih tangan Anna membuat Anna duduk. Athar juga berdiri dan membantu Anna. Anna mengikut saja. Ketika mereka ber-2 berdiri Athar langsung memeluknya dengan erat.


" Apa ini sudah cukup. Apa ini sudah bisa mengobati rasa rindu kekasihku ini?" tanya Athar membuat Anna tersenyum.


" Hmmm, walau masih kurang. Tetapi aku sangat bahagia mendapatkan pelukan ini. Rasa rinduku berkurang sedikit," jawab Anna.


" Aku akan memelukmu sampai rasa rindunya hilang," ucap Athar. Anna mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya.


" Rasa rinduku tidak akan mungkin akan hilang. Makanya jangan ke Luar Negri lama-lama. Aku tidak mau lama-lama tidak adanya kamu. Pokoknya ini yang paling terlama," ucap Anna menegaskan.


" Hanya 1 bukan Anna. Tidak ada yang lama," ucap Athar.


Anna melonggarkan pelukannya dan melihat ke arah Athar, " 1 bulan itu sangat lama. Pokoknya jangan pergi lama-lama," tegas Anna yang mengingatkan Athar.


" Baiklah pacarku tersayang. Aku tidak akan pergi lama-lama," ucap Athar yang berjanji pada Anna membuat Anna tersenyum dan kembali memeluk Athar melepas rasa rindunya.


" I Love you," ucap Anna. Athar diam yang tidak mendengar jawaban Athar.

__ADS_1


" Aku mencintaimu Athar!" ucap Anna lagi.


" Aku mencintaimu Athar!" Anna kembali mengatakannya dan tidak ada balasan dari Athar membuat Anna melonggarkan pelukannya dan melihat Athar dengan horor.


" Kau tidak mendengarku?" tanya Anna.


" Mendengar apa?" tanya Athar kembali. Anna langsung kesal dan melepas pelukannya.


" Sejak tadi aku mengatakan cinta kepadamu," sahut Anna dengan kesalnya.


" Oh," sahut Athar dengan mudahnya.


" Athar!" geram Anna dengan kesal merapatkan giginya.


" Kau hanya mengatakan oh, saja apa kau tidak tau aku sudah mengatakannya berkali-kali dan bukannya membalasnya malah mengacuhkanku. Kau itu keterlaluan," geram Anna dengan kesalnya.


" Lalu aku harus berbuat apa?" tanya Athar.


" Terserah!" geram Anna dengan mengalihkan wajahnya kekirinya yang terlihat begitu kesal dengan Athar. Namun Athar tersenyum melihat Anna yang sudah kembali ngambek. Athar mendekatinya dan mengusap pipi Anna. Anna langsung menepis tangan Athar.


" Aku mencintaimu," ucap Athar kembali memegang pipi Anna. Anna diam tidak menggubrisnya. Athar memegang dagu Anna dan mensejajarkankan wajah mereka ber-2.


" I Love you," ucap Athar lagi yang mengecup bibir Anna dan Anna masih sangat begitu gengsian. Sampai akhirnya Athar mencium dalam-dalam bibir itu, mencium dalam-dalam bibir Anna dengan memegang tengkuk Anna. Anna juga akhirnya luluh dan menerima ciuman itu dan saling berbalas dengan Athar yang mereka kembali melepas kerinduan di antara mereka.


***********


Mahendra ke Perusahaan keluarga Athar untuk menyerahkan apa yang di perintahkan Athar kepadanya. Mahendra berjalan dengan cool-nya untuk menemui Jennie yang pasti ada di ruangannya.


" Kak Mahendra!" tiba-tiba suara wanita terdengar membuat Mahendra menghentikan langkahnya yang siapa lagi wanita itu jika bukan Olive yang tersenyum dan berlari menghampiri Mahendra.


" Olive!" sapa Mahendra.


" Kakak ngapain di sini. Kok tumben?" tanya Olive heran.


" Kakak. Kak Athar maksudnya?" tanya Olive.


" Iya benar," jawab Mahendra.


" Jadi kak Athar sudah pulang?" tanya Olive. Mahenndra hanya mengangguk saja.


" Isssss, menyebalkan kenapa dia pulang tidak memberitahuku," sahut Olive dengan kesal. Namun Mahendra hanya diam tidak menanggapi apa-apa.


" Awas saja aku akan marah-marah kepadanya," ucap Anna dengan kesal.


" Hmmm, kak Mahendra kita makan siang bareng yuk!" ajak Olive.


" Hmmmm. ...." Mahendra tampaknya berpikiran


" Itu kak Jennie!" tunjuk Olive yabg tiba-tiba melihat Jennie dan Lisa berjalan bersama.


" Kak Jennie, Lisa kemari!" panggil Olive. Jennie dan Lisa heran. Namun mereka pun menghampiri Olive yang memanggil sejak tadi.


" Ada apa Olive?" tanya Jennie.


Olive langsung mengambil apa yang di pegang Mahendra, " ini dari kak Athar," ucap Olive yang langsung menyampaikan dengan to the point.


Dan Mahendra terlihat tidak bisa melakukan apa-apa. Jennie mengambil dokumen itu dan melihat ke arah Mahendra.


" Iya Athar memberikannya padaku untuk menyerahkan kepadamu," ucap Mahendra.

__ADS_1


" Hmmmmm, begitu rupanya. Baiklah terima kasih," ucap Jennie dengan datar.


" Ya sudah kalau begitu ayo kak kita makan!" Olive langsung merangkul lengan Mahendra dan begitu di perhatikan Jennie.


" Kalian mau makan di mana?" tanya Lisa.


" Tempat biasa dong," sahut Olive.


" Aku ikut ya," sahut Lisa.


" Enak aja. Aku sama kak Mahendra tidak boleh di ganggu. Jadi kami harus makan ber-2," sahut Olive yang seolah Mahendra adalah miliknya.


" Pelit amat," desis Lisa.


" Bodo. Ayo kak Mahendra!" Olive terlihat memaksa Mahendra dan Mahendra tidak bisa menolak yang pergi begitu saja dengan tarikan Olive. Jennie hanya melihat hal itu dengan datar.


" Kayaknya Olive benar-benar menyukai Mahendra deh," ucap Lisa menebak-nebak membuat Jennie melihat Lisa dengan tatapan datar.


" Benar tidak?" tanya Lisa pada Jennie. Jennie tidak menjawab dan langsung pergi begitu saja dari hadapan Lisa.


" Astaga di tanya malah pergi. Bu Jennie!" panggil Lisa yang mengejar Jennie yang berjalan dengan cepat. Dia tidak mau mendengarkan ocehan Lisa yang pasti tidak tentu nantinya.


Setahun belakangan ini Olive memang suka nempel-nempel dengan Mahendra. Bahkan terang-terangan mengatakan pada teman-temannya jika dia sangat mengagumi Mahendra.


Setelah lulus kuliah akhirnya Olive juga bekerja di Perusahaan. Sebagai manager pemasaran. Ya Olive masih pemula dan pasti tidak sehebat-hebat kakaknya. Jadi Olive sering kali bertemu dengan Mahendra karena kerja sama antara 2 Perusahaan itu. Yang pasti Mahendra sering berurusan ke Perusahaan keluarga Athar.


Athar, Derry dan Olive masih mengelolah Perusahaan keluarga itu. Karena Ari Purnama akhirnya lepas tangan dan menyerahkan pada anak-anaknya dan pasti Athar yang memimpinnya. Namu sangat berbeda dengan Gibran.


Gibran sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan di penjara selama 10 bulan. Hukuman Gibran memang ringan dan seharunya juga keluarganya tidak menghukumnya. Hanya saja Gibran benar-benar ingin bertanggung jawab. Dia benar-benar ingin berubah menjadi lebih baik.


Sekarang Gibran menghabiskan waktunya untuk di rumah kecil seperti baskem kecil yang mana Gibran menghabiskan waktunya untuk melukis.


Gibran begitu-begitu juga punya bakat. Dan melukis bakatnya yang menghabiskan waktunya di dalam rumah sederhana itu dengan lukisan-lukisan yang banyak yang lain-lain bentuknya.


Seperti sekarang ini Gibran sedang melukis, melukis langit yang indah yang biru yang begitu indah.


" Cantik!" ucap Sana tiba-tiba yang sudah muncul dari belakang Gibran. Gibran tersenyum melihat Sana.


" Jangan berlebihan, ini hanya biasa saja," sahut Gibran.


" Menurutku sangat bagus," sahut Sana yang beralih ke meja yang mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang di pegangnya.


" Kita makan yuk!" ajak Sana. Gibran mengangguk dan langsung berdiri menghampiri ke meja yang langsung mengambil tempat duduk.


" Masakan kamu lagi?" tanya Gibran. Sana mengangguk.


" Kamu sudah bisa memasak?" tanya Gibran.


" Yang jelas rasanya pasti akan semakin meningkat," sahut Sana.


" Kita coba saja," sahut Gibran. Sana memgangguk dan ikut duduk di depan Gibran.


" Kata-kata Olive masih teringat di pikiran ku. Di mana kamu, Anna, Olive dan Lisa yang tidak tau apa-apa dalam memasak. Kalian semua tidak tau apa-apa saat itu dan begitu menyusahkan..."


" Athar," sahut Sana menyambung kalimat Gibran


" Iya sangat menyusahkan Athar," sahut Gibran.


" Sudah jangan mengingat-ingat hal itu lagi. Yang penting sekarang aku mau belajar dan di jamin akan semakin meningkat," ucap Sana.

__ADS_1


" Aku percaya itu," sahut Gibran tersenyum.


Bersambung


__ADS_2