
4 bulan kepergian Chandra.
Tidak terasa Chandra sudah pergi 2 bulan meninggalkan dunia ini. Meninggalkan 3 anak perempuannya yang hebat-hebat.
Sekarang Anna, Athar, Aurelia, Derry, Chaca, Maya, Anjani sedang, Ari Purnama, Maharani, Olive, Sana dan Gibran sedang berkunjung ke makam alm Chandra yang mana mereka berziarah karena Aurelia dan Derry akan melangsungkan pernikahan mereka jadi sebelumnya mereka ingin meminta izin pada Chandara terlebih dahulu.
"Pah Aurelia dan Derry akan menikah besok. Mohon doanya ya pah, semoga Aurelia dan Derry di beri kelancaran untuk pernikahan kami besok," ucap Aurelia berjongkok di samping pusaran makam itu dengan mengusap-usap mesan papanya.
"Benar pah, saya minta restunya untuk mempersunting anak papa. Sesuai dengan apa yang saya janjikan. Jika saya akan membahagiakan Aurelia. Jadi mohon untuk doanya pah," ucap Derry yang juga meminta restu pada mertuanya itu.
"Anna yakin papa sangat bahagia mendengar pernikahan kak Aurelia dan juga kak Derry," sahut Anna tersenyum.
"Pasti papa sangat bahagia Anna, dia juga pasti sangat bahagia dengan kamu, Aurelia dan Chaca baik-baik saja," sahut Athar menambahi.
"Kami memang harus baik-baik aja kak Athar, kan sudah janji sama papa," sahut Chaca.
"Dan mas Chandra akan tersenyum di atas sana minat anak-anaknya sangat bahagia, sangat rukun dan saling membantu, saling suport dan lainnya," sahut Maya.
"Maya semua ini karena kamu, karena kebesaran hati kamu dan ketulusan kamu dan sehingga anak-anak kamu dan Chandra bisa seperti ini. Kamu ibu yang sangat hebat," sahut Anjani yang begitu salut dengan sahabatnya dan juga badannya itu.
"Kamu juga ibu yang hebat Anjani iya kan Athar," sahut Maya yang tidak kalah mengagumi sahabatnya.
"Iya mah benar. Semuanya ibu yang hebat, mama yang melahirkan Anna dan Aurelia yang membuat mereka menjadi anak yang kuat dan mama Anjani yang melahirkan ku sehingga aku merasakan dunia ini dan juga mama Maharani yang sangat hebat yang membesarkan aku, Gibran, Derry dan Olive tanpa kami merasa kekurangan kasih sayang. Jadi semua ibu sangat hebat, bukan hanya ibu yang melahirkan, tetapi ibu yang membesarkan dengan penuh kasih sayang," sahut Athar dengan bijaksana yang begitu adil dalam berbicara. Karena Athar punya dua ibu. Ibu melahirkannya dan ibu yang membesarkannya.
Maharani pasti sangat terharu dengan kata-kata Athar yang sejak dulu sangat menghargai dirinya.
"Kak Athar benar, mama Olive juga sangat hebat, makasih mama sudah selalu ada untuk Olive," sahut Olive dengan merangkul sang mama.
"Aku juga ingin berterima kasih untuk ibu mertuaku yang selalu memberiku nasehat. Makasih mah," sahut Sana.
"Sama-sama kalian kita sama-sama wanita dan pasti akan menjadi seorang ibu juga nantinya," sahut Maharani.
"Doakan aku mah agar menjadi ibu secepatnya," sahut Sana yang sampai detik ini belum mendapat kepercayaan untuk di berikan momongan.
"Doa mama akan selalu ada untuk kamu Sana," sahut Maharani dengan tulus yang mengusap pipi Sana. Anna tersenyum melihatnya dengan melihat sang kakak yang juga tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu, sebaiknya kita pulang, hari ini sedang mendung takutnya hujan," sahut Ari Purnama.
__ADS_1
"Iya benar, ayo kita pulang. Kita sudah meminta restu pada Om Chandra," sahut Gibran.
Yang lain mengangguk dan bergantian mengusap mesan itu sebelum mereka semua pergi makam tersebut.
Setelah selesai ziarah mereka memasuki mobil masing-masing. Di mana Gibran bersama dengan Sana yang satu mobil. Ari Purnama, Maharani dan Olive satu mobil dengan supir pastinya. Anjani, Maya, Aurelia, Derry dan Chaca 1 mobil dan Anna dan Athar 1 mobil berduaan.
Mereka pisah-pisah mobil karena memang masih ada yang ingin mereka tuju. Ya tujuan masing-masing.
********
Untung saja mereka sudah selesai berziarah dan tebakan cuaca dari Ari Purnama ternyata benar di mana benar-benar hujan dan Anna dan Athar terjebak macet yang mana mereka berdua sama-sama terkenak hujan deras.
"Hmmm, papa benar akhirnya hujan juga," ucap Anna yang melihat di sekitarnya.
"Iya sayang kamu benar, tapi tidak apa-apa bukannya hujan itu berkah," sahut Athar.
"Iya hujan itu berkah dan aku ingin memberikan keberkahan juga di hujan hari ini," ucap Anna.
Athar mengkerutkan dahinya mendengar maksud dari perkataan istrinya yang membuat Athar heran.
"Maksudnya?" tanya Athar.
"Ayo sayang cepat," desak Anna dan Athar menurut saja apa yang mau di katakan istrinya dan Athar menutup matanya.
"Jangan ngintip ya," ucap Anna yang mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya Athar hanya mengangguk yang menurut saja.
"Oke sudah bisa di buka!" ucap Anna yang mana Athar langsung membuka matanya perlahan dan sudah ada benda kecil di depannya yang mana tespeck dengan garis 2.
"Kamu hamil?" tanya Athar dengan wajah Athar yang terkejut dan Anna langsung menganggukan kepalanya yang memang benar dia hamil.
"Ini sungguhan?" tanya Athar yang pasti tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Iya sayang aku hamil," jawab Anna membuat Athar tidak bisa berkata-kata dan langsung memeluk Anna dengan erat saking Athar bahagianya.
Dia memberi kabar kehamilannya di saat macet yang mana mereka terjebak hujan deras.
"Makasih sayang kamu sudah memberikanku kebahagiaan, makasih sayang," ucap Athar yang tidak percaya dengan kehabahagian yang di dapatkannya yang sebentar lagi akan hadir Athar Junior.
__ADS_1
Athar melepaskan pelukannya dari Anna dan langsung mencium kening Anna, pipi Anna menciumi wajah Anna berkali-kali saking Athar bahagianya dengan kehamilan istrinya.
"Kamu tidak boleh capek-capek ya setelah ini," ucap Athar yang mulai posesif karena kehamilan sang istri.
"Iya sayang," sahut Anna.
Athar langsung mencium perut Anna, " sayang jangan bandel-bandel di dalam sana ya. Kamu harus baik-baik saja di dalam sana dan jangan bikin ma kamu susah," ucap Athar yang berbicara dengan bayinya. Anna hanya tersenyum dengan suaminya yang terlihat begitu bahagia.
"Makasih sayang untuk semua ini. Aku benar-benar sangat bahagia dan hujan ini telah menjadi berkah untuk kita berdua dengan di berikannya kita berdua kepercayaan," ucap Athar dengan bahagianya.
"Sama-sama sayang, aku juga sangat bahagia sayang," ucap Anna.
Mereka kembali perpelukan dengan cinta yang mereka rasakan berdua dan kejadian buah cinta mereka.
**********
Lain di mobil Gibran dan juga Sana yang mana mereka juga terjebak hujan deras. Namun mereka terjebak di Restaurant saat keduanya sedang menikmati kuliner bersama.
"Sayang aku sudah punya kenalan Dokter kandungan. Di mana kita berdua akan melakukan bayi tabung," ucap Sana tiba-tiba di tengah makan mereka.
"Bayi tabung," sahut Gibran. Sana menganggukkan kepalanya.
"Sana kita menikah belum sampai 2 tahun dan kamu sudah mengambil keputusan untuk bayi tabung," ucap Gibran yang tampak tidak setuju kali ini dengan istrinya.
"Justru itu sayang, kita harus cepat bertindak. Kita berdua Alhamdulillah kata Dokter sangat sehat dan jika kita belum di kasih kesempatan untuk hamil maka kita harus bertindak," ucap Sana yang sudah ingin buru-buru ingin mempunyai anak.
"Sana tapi ini terlalu cepat untuk melakukan proses sejauh itu. Sana kamu jangan apa-apa berpikir dengan masalah ini dan itu lagi. Ini sudah sering kita bahas," ucap Gibran.
"Kamu masih bilang aku buru-buru. Sayang kamu lihat Lisa. Kita yang menikah pertama dan Lisa sudah melahirkan dan ini tidak buru-buru sayang. Aku ingin hamil memberikan cucu untuk mama dan juga papa," ucap Sana dengan tegas.
"Kamu jangan mulai lagi mama dan papa tidak pernah memaksa kamu untuk harus punya anak," sahut Gibran menegaskan.
"Kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan Gibran. Kamu tidak tau Gibran bagaimana aku, perasaan ku dan juga hatiku, aku yang mengalaminya Gibran, aku yang mengalami semuanya Gibran. Perasaan ku Gibran. Memang mama dan papa tidak pernah memaksaku dengan kehamilan ku. Tetapi kenyataannya aku bisa melihat di mana mereka yang ingin cucu sebenarnya dan semua itu membuatku merasa tidak sempurna," ucap Sana.
"Sana sudahlah jangan ribut di sini. Kita jangan membahas masalah yang ini itu lagi," ucap Athar dengan tegas.
"Terserah apa yang kamu katakan, aku pokoknya ingin melakukan bayi tabung," ucap Sana dengan tegas.
__ADS_1
Gibran hanya menghela napasnya yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi pada istrinya yang mana pembahasan dan membuat mereka ribut hanya karena anak. Di mana Sana yang semakin hari semakin tidak percaya.
Bersambung