
Tidak lama akhirnya sampai juga ke rumah Aurelia. Alhamdulillah Derry mengantarkan Aurelia dengan selamat dan tanpa ada yang luka sama sekali dan walaupun Aurelia masih belum tenang karena masih sangat terkejut dengan apa yang di alaminya tadi.
Derry membuka pintu mobil dan langsung membuka bagian Aurelia dan membantu Aurelia keluar dari mobil. Di mana mereka langsung berjalan menuju pintu rumah.
Belum menekan bel pintu rumah sudah terbuka dan Anna yang membukanya dengan Anna yang sangat terkejut melihat kakaknya yang pulang dengan lemas. Belum lagi sedikit berantakan yang menggunakan jas Derry membuat Anna bertanya-tanya.
"Ya ampun kak Aurelia. Kakak kenapa?" tanya Anna sangat panik dengan melihat wajah kakaknya yang sangat jelas habis menangis.
Aurelia tidak menjawab dan membuat Anna melihat ke arah Derry. Derry tidak bicara apa-apa sama sekali.
"Derry apa yang terjadi pada kak Aurelia. Kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Anna.
"Kakak tidak apa-apa Anna. Hanya terjadi insiden kecil dan tidak apa-apa. Kakak mau istirahat aja," jawab Aurelia yang tidak mau adiknya itu khawatir.
"Bagaimana mungkin kakak tidak apa-apa. Kakak harus katakan pada Anna. Kakak kenapa?" ucap Anna yang adanya semakin penasaran.
"Anna sudahlah kamu bawa Aurelia masuk dulu. Setelah itu kita bicara," ucap Derry yang merasa Aurelia sangat lelah.
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita kita istirahat!" ajak Anna. Aurelia mengangguk dan hanya melihat Derry sebentar lalu pergi lagi.
Derry sendiri menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dan memasuki rumah Anna untuk duduk di ruang tamu. Derry menunggu Anna. Karena Anna pasti ingin tau apa yang terjadi sebenarnya.
Setalah mengantarkan aurelia untuk beristirahat. Anna menuruni anak tangga menghampiri Derry yang masih menunggunya di ruang tamu.
"Derry!" lirih Anna
"Bagaimana Aurelia?" tanya Derry.
"Kak Aurelia sudah istirahat," jawab Anna.
"Tante Maya apa tidak ada di rumah?" tanya Derry yang tidak melihat Maya sama sekali.
"Oh iya mama lagi ke Bangkok ada pekerjaan," jawab Anna.
"Begitu rupanya," sahut Derry.
Anna mengangguk-angguk saja, "oh iya Derry. Apa yang terjadi dengan kak Aurelia. Kenapa bisa sampai seperti itu?" tanya Anna.
"Aku menemukan Aurelia di jalan di mana dia ganggu 3 Pria yang berniat melecehkannya," jawab Derry membuat Anna terkejut mendengarnya.
"Ya ampun kok bisa?" tanya Anna mendengarnya begitu terkejut.
"Aurelie kebetulan habis meeting dan klien yang mengantarkannya pulang ada urusan mendadak dan Aurelia akhirnya turun di jalan, Aurelia juga sudah menghubungi Mahendra. Namun Mahendra tidak mengangkat telponnya," jelas Derry dengan singkat.
"Bagaimana mau di angkat dia sedang bermesraan," ucap Anna pelan.
"Kamu bicara apa Anna?" tanya Derry yang melihat mulut Anna bercakap-cakap namun suaranya tidak jelas terdengar.
"Oh tidak apa-apa. Mungkin Mahendra ada pekerjaan makanya tidak sempat mengangkat panggilan kak Aurelia," ucap Anna.
"Aku rasa juga begitu. Aku juga tidak tau bagaimana jelasnya," sahut Derry.
"Tapi syukurlah Derry. Kamu datang tepat waktu. Jika tidak, aku juga tidak akan tau apa yang akan terjadi pada kak Aurelia dan sekarang saja dia masih terlihat takut," ucap Anna mencemaskan kakaknya.
"Kamu jagalah dia. Beri dia ketenangan agar dia melupakan kejadian itu," ucap Derry memberi saran.
"Iya Derry. Sekali lagi makasih ya sudah menolong kak Aurelia dan membawanya pulang," ucap Anna.
"Iya. Ya sudah ini juga larut malam. Aku harus pulang," ucap Derry yang berdiri dari tempat duduknya. Anna juga ikut berdiri.
"Derry!" ucap Anna yang sepertinya masih ada yang ingin di bicarakannya pada Derry.
"Ada apa Anna?" tanya Derry.
"Aku tau kamu marah, sakit hati dengan cinta yang tidak dapat di gapai. Tetapi aku bisa melihat. Kak Aurelia tidak akan bisa hidup jika kamu tidak di sisinya. Semenjak kamu memutuskan untuk menjauhi kak Aurelia ini yang terjadi. Kak Aurelia menjadi sangat murung, banyak masalah, lalai dan sekarang hampir saja hal buruk terjadi padanya, aku mohon Derry jangan tinggalkan kak Aurelia," ucap Anna.
"Anna aku ini seorang Pria dan juga punya harga diri. Aurelia menyukai orang lain dan mana mungkin aku berada di tengah-tengah mereka. Jalan ini juga Aurelia yang menentukannya. Jika memang itu kebahagiannya maka aku akan mundur," ucap Derry.
__ADS_1
"Tapi Mahendra tidak menyukainya," ucap Anna hanya di dalam hatinya.
"Aku mengerti apa yang kamu pikirkan. Jangan khawatir Aurelia nantinya akan terbiasa dan dia juga akan bahagia. Sudah ya Anna. Kamu jaga saja Aurelia. Aku pulang dulu," ucap Derry menepuk bahu Anna dengan Derry masih tersenyum dan langsung pergi.
"Derry apa salahnya berjuang lagi. Lagian Mahendra juga tidak menyukai kak Aurelia, Mahendra dan Jennie juga sudah saling bersama," ucap Anna dengan wajahnya yang penuh kegelisahan.
*********
Anna memasuki kamar Aurelia dengan membawakan nampan berisi makanan dan juga segelas susu. Aurelia tidak tidur dan hanya bersandar di kepala ranjang.
Aurelia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Namun wajahnya masih tetap murung membuat Anna menghela napasnya.
"Kakak makan dulu ya. Kakak pasti belum makan," ucap Anna meletakkan nampan itu di atas nakas dan duduk di samping kakaknya.
Anna langsung menyuapkan nasi dan menyodorkan pada Aurelia dan Aurelia menggelengkan kepalanya yang selera makannya benar-benar sudah hilang.
"Kak makanlah!" bujuk Anna.
"Kakak tidak mau makan Anna," jawab Aurelia.
"Tapi kak. Kakak harus makan. Kakak pasti lapar dan kakak juga harus melupakan apa yang terjadi. Jadi makanlah," bujuk Anna dengan lembut.
"Kakak tidak bisa menghubungi Mahendra. Coba kamu telpon dia," ucap Aurelia membuat Anna menautkan ke-2 alisnya.
"Untuk apa kak?" tanya Anna dengan suara kesalnya.
"Kakak khawatir padanya. Tidak biasanya dia tidak mengangkat telpon kakak. Dia harus tau apa yang terjadi pada kakak. Jadi tolong kamu hubungi dia," ucap Aurelia.
"Memangnya setelah aku menghubunginya dia akan mendatangi kakak, cemas pada kakak?" tanya Anna.
"Anna apa yang kamu bicarakan. Kakak khawatir kepadanya," sahut Aurelia.
Anna menghela napasnya kasar dan meletakkan piring yang sejak tadi di pegangnya dan langsung meletakkan di atas nampan kembali.
"Kakak baru saja mengalami insiden besar. Kakak malah khawatir pada orang yang jelas tidak mengkhawatirkan kakak dan Derry begitu khawatir pada kakak. Namum kakak sangat tidak peduli. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kakak yang sebenarnya seperti apa. Aku pikir setelah banyak yang terjadi kakak memahaminya. Ternyata aku salah kakak masih tetap seperti itu," ucap Anna dengan kesal.
"Terserah kakak mau ngapain. Jika kakak merasa Mahendra yang kakak butuhkan, maka silahkan. Tetapi aku hanya mengingatkan. Jangan sakit hati jika Mahendra tidak menyukai kakak sama sekali," tegas Anna yang langsung keluar dari kamar itu.
"Apa maksud kamu Anna?" tanya Aurelia yang bingung dan terkejut mendengar kata-kata Anna.
"Kenapa dia bicara seperti itu. memang Mahendra kenapa? apa aku salah menyukainya dan Mahendra juga menyukaiku dan apa hubungannya dengan semua ini, memahami, berubah, apa maksudnya," ucap Aurelia yang bertanya-tanya penuh dengan kebingungan.
************
Sementara Anna masuk kedalam kamarnya dengan memukul bantal meluapkan kemarahannya.
"Kak Aurelia hanya akan sakit hati nantinya. Jika kakak menyadari, Mahendra Tidka menyukai kakak sama sekali. Jelas-jelas dia mencintai Bu Jennie. Arghh masa bodoh, awas aja kalau sakit hati jangan cari-cari aku. Urus sendiri masalahnya," umpat Anna yang mengoceh terus di dalam kamarnya. Gara-gara Aurelia yang sudah tertimpa masalah dan Derry penyelamatnya dan Aurelia masih mengkhawatirkan Mahendra.
Bagaimana Anna tidak emosi tingkat dewa kalau seperti itu caranya. Anna juga jadinya hanya melupakan jarahannya dengan memukul-mukul bantal di kamarnya dengan mulutnya yang tidak henti-hentinya mengumpat penuh kekesalan kepada kakaknya yang sangat menyebalkan itu.
Dia harus menjadi korban dari masalah percintaan kakaknya yang sangat rumit.
**********
Gibran mengantarkan Sana ke rumahnya. Di mana mobil Gibran sudah berhenti di depan rumah Sana. Setelah mobil masuk mereka saling melihat dengan tersenyum.
"1 Minggu kedepan kita tidak boleh bertemu," ucap Sana membuat Gibran menautkan ke-2 alisnya.
"Kenapa?" tanya Gibran.
"Kita akan menikah, jadi pantang calon pengantin harus bertemu," jawab Sana.
"Apa itu artinya, kita akan bertemu di hari pernikahan nanti," ucap Gibran dengan menaikkan 1 alisnya.
"Hmmm, kita akan bertemu di hari pernikahan," ucap Sana dengan tersenyum penuh kebahagiaan.
"Baiklah kalau begitu. Tidak masalah bagiku untuk tidak bertemu 1 Minggu kedepan. Aku aku akan menghabiskan waktu di rumah untuk melukis. Karena pernikahan kita juga mama yang menyiapkan. Jadi aku akan melukis dan iya aku akan menyiapkan sesuatu di hari pernikahan kita," ucap Gibran.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Sana yang kelihatan sangat penasaran.
"Bersifat rahasia," jawab Gibran.
"Apa itu sebuah hadiah pernikahan?" tebak Sana.
"Bisa jadi," sahut Gibran. Sana tersenyum lebar yang tampaknya sudah tidak sabaran dengan hadiah yang di katakan kekasihnya itu.
"Apa lukisan lagi?" tanya Sana yang menebak-nebak. Namun Gibran hanya mengangkat ke-2 bahunya yang tidak menjawab apa-apa.
"Itu rahasia Sana aku akan memberikannya saat kita sudah menikah," ucap Gibran.
"Huhhhh, aku harus menunggu satu Minggu lagi sangat lama," ucap Sana yang sudah mulai bosan.
"Apa kamu sudah tidak sabar menikah denganku?" tanya Gibran dengan alisnya yang terangkat.
"Nggak juga sih," jawab Sana.
"Baiklah. Kalau begitu kamu masuklah dan istirahatlah sampai ketemu Minggu depan dan iya aku ingin kamu tampil cantik di hari pernikahan kita nanti," ucap Gibran.
"Apa itu artinya sekarang aku tidak cantik?" tanya Sana.
"Bukan begitu. Kamu sangat cantik mau kapanpun itu. Hanya saja aku ingin kamu lebih special di hari pernikahan kita nanti," ucap Gibran.
"Baiklah kalau begitu. Ya sudah aku masuk dulu. Selamat malam," ucap Sana yang membuka sabuk pengamannya.
"Selamat malam," sahut Gibran tersenyum dan melihat Sana. Sana pun langsung keluar dari mobil setelah berpamitan pada kekasihnya itu. Sebelum masuk rumah Sana melambaikan tangannya dan membuat dan Gibran juga membalas lambaian tangan itu dengan tersenyum dan Gibran langsung menginjak gas mobilnya yang langsung melaju.
"1 Minggu harus sabar menunggu. Arhhhhh tidak percaya akan di nikahi Pria sepertinya. Ya tampaknya memang tidak seperti 7 suamiku tapi separuhnya bisalah. Ya ampun sana kamu akan menjadi istri sebentar lagi," ucap Sana yang tertawa-tawa sendiri yang begitu bahagia dan tidak sabaran dengan pernikahannya dan Gibran yang menunggu beberapa hari lagi.
**********
Sementara Gibran yang menyetir mobil juga terlihat begitu bahagia. Bisa-bisanya dia menyetir sembari senyum-senyum.
"Aku tidak percaya, jika aku akan menikah dengan Sana. Ya kami akan secepatnya menikah dan dia wanita yang ada bersamaku, selalu bersamaku selama ini," batin Gibran dengan tersenyum lebar yang mencerminkan kebahagiannya.
Namun senyum Gibran tiba-tiba hilang ketika melihat dari kaca spion ada mobil yang mencuri perhatian Gibran yang kelihatannya mobil itu sedang mengikutinya.
"Apa mobil itu mengikutiku," batin Gibran yang bertanya-tanya dan terus melihat kaca spion dan Gibran pun melaju dengan kecepatan tinggi.
Memang benar mobil sport hitam tanpa plat mobil itu mengikuti Gibran. Gibran berusaha untuk tenang dan melaju dengan kecepatan tinggi. Namun mobil itu pun menyerempet mobil Gibran yang sudah berada di samping Gibran. Bahkan beberapa kali Gibran mengelak.
"Sial!" umpat Gibran dengan emosi. Gibran bukan Pria pengecut yang di kejar langsung lari begitu saja. Dengan cepat Gibran pun langsung memutarkan mobilnya dan langsung berhenti yang hampir tertabrak mobil yang mengejarnya.
"Siapa mereka. Berani sekali cari gara-gara denganku," umpat Gibran dengan emosi yang sudah mengepal tangannya dan langsung keluar dari mobilnya untuk melawan orang yang sudah mengganggu ketengannya.
Dan saat Gibran keluar dari dalam mobilnya dan terlihat menantang orang yang ada di dalam mobil yang mengejarnya. Sampai di detik kemudian. Tiba-tiba banyak pemotor yang berdatangan yang mengelilingi Gibran di jalanan yang sepi yang tidak ada orang sama sekali.
"Sial! siapa mereka," batin Gibran yang panik dengan melihatnya banyaknya orang yang tidak satupun di kenalinnya dan membuat Gibran cemas.
"Siapa kalian!" teriak Gibran.
"Habisi dia!" sahut salah satu seorang Pria dan tanpa ada pembicaraan lagi orang-orang yang tidak di kenali itu langsung menyerang Gibran.
Gibran yang sendirian harus melawan puluhan orang yang kekuatannya begitu hebat yang pasti membuat Gibran kewalahan menghadapi orang-orang itu.
Sana menuju dapur ingin minum setelah merasa tenggorakannya begitu kering. Sana menuang air putih kedalam gelas. Tangannya yang licin membuat gelas itu pecah dan mengejutkan Sana.
"Ya ampun," ucap Sana dengan wajah terkejutnya yang langsung berjongkok. Jantungnya tiba-tiba berdebar tidak menentu.
"Sana ada apa denganmu. Kenapa tidak hati-hati," batin Sana yang membereskan pecahan gelas itu.
"Auhhhh," lirih Sana yang tiba-tiba jarinya terkena kaca dan air matanya yang tiba-tiba menetes begitu saja. Wajahnya sangat cemas yang merasa seperti ada terjadi sesuatu.
Feeling-nya begitu kuat. Bagaimana tidak Gibran calon suaminya sekarang sudah terkapar di aspal dengan penuh darah dan luka babak belur dan masih di hajar orang-orang yang tidak di kenal itu. Di injak dan di tendang yang membuat Gibran tidak bisa melawan lagi. Karena dia sudah di hajar habis-habisan dengan terus memuntahkan darah dari mulutnya.
Yang membuat Sana begitu panik dan terus mengeluarkan air mata yang dia sendiri tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1
Bersambung