
Di kediaman Chandra.
Keluarga itu sedang mengadakan makan malam seperti biasanya. Yang mana ada Aurelia, Amelia dan juga Chandra.
" Chaca tidak ikut makan?" tanya Chandra.
" Sudah makan tadi Pah, sekarang lagi ngerjain tugas di kamar," sahut Amelia.
" Oh, begitu. Oh iya Aurelia papa dengar kamu mengikuti event pertandingan dengan karyawan di Perusahaan Glossi?" tanya Chandra
" Iya pah," jawab Aurelia.
" Lalu hasilnya?" tanya Chandra
" Aku ikut masuk 20 besar dan pasti akan menang dan aku dan Athar akan bekerja sama," jawab Aurelia percaya diri.
" Kamu yakin?" tanya Chandra ragu.
" Aku yakin. Karena mereka semua bukan tandinganku," jawab Aurelia.
" Baiklah, jangan sampai kamu membuat papa kecewa," sahut Chandra. Aurelia mengangguk.
" Oh, iya. Apa mama sudah siapkan tamu-tamu yang akan datang di acara ulang tahun papa nanti?" tanya Chandra pada Amelia istrinya.
" Sudah pah," sahut Amelia.
" Memang ulang tahun papa akan di adakan dengan meriah?" tanya Aurelia.
" Iya Aurelia, kamu juga jangan lupa memastikan keluarga Athar datang seluruhnya di sana juga nanti akan ada media. Supaya menyoroti hubungan kalian ber-2, ini akan semakin memperdekat keluarga kita dan keluarga mereka," ucap Chandra mengingatkan.
" Hmmm, pasti pa, besok Aurelia akan menemui Athar," sahut Aurelia yang memang tidak mungkin tidak mengundang Athar.
" Kita juga sebaiknya mengundang Anna," sahut Amelia tiba-tiba mengungkit Anna. Aurelia menghentikan menyendok nasi dan melihat ke arah ibu tirinya dan papanya juga langsung melihat istrinya dengan serius.
" Jangan mencari permasalahan Amelia dengan mengundangnya ke pestaku," sahut Chandra yang langsung menolak.
" Mengundangnya bukan mencari masalah. Anna juga sudah dewasa. Dia bukan remaja yang puber lagi. Dia juga tau bersikap bagaimana yang baik dan tidak dan Anna juga anggota keluarga ini. Meski kamu sudah mengusirnya beberapa tahun lalu. Tapi tidak menutup apapun Anna tetap putrimu," jelas Amelia dengan bijak.
__ADS_1
" Amelia kau bisa melihat anak itu. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah berubah dan mengundangnya hanya hanya membuat keributan. Aku tidak ingin pesta yang indah itu menjadi hancur karena kehadirannya," tegas Chandra.
" Lagian jika di undang Anna juga tidak akan datang. Dia tidak menerima undangan itu. Jadi benar kata papa. Jangan menambah-nambah masalah. Itu hanya akan membuat Anna dan papa semakin bermusuhan," sahut Aurelia mengeluarkan pendapatnya.
" Kamu salah Aurelia. Sebagai seoarang anak Anna juga pasti mengingat ulang tahun ayahnya dan mungkin dengan kita mengundangnya membuka jalan untuk Anna kembali kerumah ini. Pah kamu sama Anna bukan anak kecil yang harus diam-diam selama bertahun-tahun. Redakan kebencian kalian dengan mengalah sedikit saja," ucap Amelia mencoba memberi saran.
" Kau tau bagaimana keras kepalanya dia. Dan dia selamanya akan terus menentangku, dia anak pembangkang yang tidak akan pernah menurutiku," sahut Chandra dengan wajahnya yang memerah.
" Tapi Anna tetap tanggung jawabmu. Keadaan yang membuatnya marah dan tidak bisa menerima semuanya dan aku yakin dengan kamu memulainya, pelan-pelan Anna pasti akan kembali kerumah ini. Pah, apapun tabiatnya Anna tetap putrimu," tegas Amelia mengingatkan suaminya.
Chandra terlihat terdiam yang tampak meresapi apa yang di katakan Amelia istrinya. Memang selama menikah dengan Amelia.
Bisa di katakan Amelia tidak pernah ikut campur dalam urusan suaminya dan anak-anaknya. Dia juga tidak memihak suaminya dan juga Anna. Karena dia tau anak seperti Anna memang sangat wajar menanam kebencian yang begitu besar.
" Aku akan menambahkan 1 list undangan untuk Anna. Aurelia kamu berikan kepadanya dan pastikan dia datang!" ucap Amelia menegaskan dengan keputusannya sendiri.
" Kenapa harus aku. Jika ingin cari muka kepadanya. Kenapa tidak lakukan sendiri saja, jangan melibatkan ku," sahut Aurelia menolak.
" Aurelia!" tegur Chandra.
" Aku tidak mau memberikan undangannya. Aku dan papa sama. Dia menganggap musuh. Jadi aku tidak mau memberikannya. Aku malas ribut dengannya," sahut Aurelia menegaskan dan langsung pergi.
" Amelia kamu mengundangnya dan jika terjadi sesuatu. Kamu yang bertanggung jawab juga," tegas Chandra yang juga berdiri. Amelia membuang napasnya dengan perlahan.
" Kenapa ada ayah sama anak yang bermusuhan sampai bertahun-tahun," batin Amelia geleng-geleng.
***********
Anna terlihat sibuk di ruangannya dengan merancang beberapa desain kuciran rambut.
" Hmmm, sebaiknya aku cek kainnya dulu," gumamnya dengan mengetuk-ngetuk pulpen di mulutnya.
Anna mengambil ponselnya dan keluar dari ruangan yang berantakan itu. Kebiasaan memang tidak bisa di ubah jadi mohon harap maklum saja. Anna manusia biasa tempatnya salah dan penuh dosa.
Anna langsung menuju gudang untuk memeriksa kain yang akan di gunakannya untuk produksi karyanya.
" Anna!" tiba-tiba terdengar suara pria yang membuat Anna menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
" Pak!" sapa Anna ketika melihat Derry. Sopan Anna masyallah sangat berbeda dia bahkan sampai menundukkan kepala.
" Kamu sedang apa?" tanya Derry yang sudah berada di depan Anna.
" Mau masuk kedalam. Mau melihat bagaian produksi dan juga sekalian mau melihat bahan," jawab Anna.
" Hmm, begitu rupanya. Kamu pernah masuk kedalam sebelumnya?" tanya Derry.
" Belum Pak!" Jawab Anna dengan menggeleng.
" Kamu bisa kesasar nantinya. Mari ikut saya," ajak Derry dengan ramah dan langsung pergi terlebih dahulu.
" Serius dia mengajakku. Apa dia tidak ada pekerjaan," gumam Anna kebingungan.
" Anna ayo!" panggil Derry yang melihat Anna masih bengong.
" Hah, iya pak,". Sahut Anna yang langsung lari menyusul Derry.
Derry pun mengajak Anna ke dalam pabrik tersebut. Anna takjub melihat beberapa orang-orang yang bekerja di dalam pabrik yang membuat produk-produk terbaik dari Glossi.
Dari mengajak ke bagian pembuatan kosmetik dengan Derry yang tidak pelit dengan penjelasan. Anna hanya mengangguk-angguk saja dengan matanya yang berkeliling dengan orang-orang yang bekerja dengan mesin.
Pabrik itu memang sangat luas. Dan juga punya tempat produksi masing-masing. Lain pembuatan kosmetik, yang berhubungan dengan kain dan setiap barang pasti lain dan Anna di ajak berkeliling oleh Derry yang terlihat sangat ramah.
" Gila, aku bekerja di Perusahaan sebesar ini. Kalau tau ada bagian pabriknya. Mending kerja di bagian pabriknya aja. Nggak di atur-atur. Hanya modal tangan dan mesin. Tiba waktunya pulang langsung pulang," batin Anna geleng-geleng yang masih speaclees dengan pabrik yang di masukinya itu.
" Nah di sana bagian lain dan bahan-bahan lainnya!" tunjuk Derry pada pintu yang tertutup dan Anna hanya melihat pintu itu saja.
" Hmmm, kamu lihat sendiri ya apa yang kamu cari apa yang kamu inginkan. Kebetulan saya tidak bisa lagi menemani kamu. Karena saya ada meeting," ucap Derry sambil melihat arloji di tangannya
" Oh, tidak apa-apa Pak. Lagian bapak sudah baik menemani saya. Jadi saya bisa sendiri untuk melihat bahan-bahan," jawab Anna.
" Baiklah kalau begitu. Kamu masuklah. Ada apa-apa kamu tanya sama orang yang di sini. Saya permisi dulu," ucap Derry pamit dengan menepuk bahu Anna.
" Ya ampun ternyata ada di Perusahaan ini yang waras. Pak Derry yang terbaik. Dia sangat humbel," gumam Anna yang melihat punggung Derry yang berjalan yang semakin lama semakin tidak terlihat.
" Anna sebaiknya kamu masuk. Jangan buang waktu," ucap Anna gelang-gelang dan langsung memasuki gudang.
__ADS_1
Bersambung