
Jennie dan Mahendra masih tetap berada di dalam mobil dengan Mahendra yang menyetir. Di dalam mobil mereka tidak bicara sama sekali. Di mana Mahendra yang terlihat begitu lelah yang beberapa kali membuang napasnya beratnya kedepan.
Tiba-tiba hujan deras turun membuat Jennie melihat ke luar.
" Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Tetapi tiba-tiba saja turun aneh!" batin Jennie melihat keluar jendela dan Jennie menoleh ke arah Mahendra yang menyetir di sampingnya yang terlihat kurang fokus dan beberapa kali memejamkan matanya.
" Biar aku yang menyetir," ucap Jennie dengan lembut. Mahenndra yang tiba-tiba keringat dingin melihat ke arah Jennie.
" Aku saja yang melanjutkannya," ucap Jennie lagi.
Mahendra pun meminggirkan mobilnya di pinggir jalan yang sepertinya dia memang tidak sanggup jika harus melanjutkan menyetir. Mahendra membuka sabuk pengamannya dan pindah kebelakang. Jennie menghela napasnya dan langsung pindah menduduki kursi pengemudi dan setelah itu Mahendra pindah kembali di sebelah Jennie.
Jennie yang sudah kembali memakai sabuk pengamannya langsung melajukan mobil dan menoleh ke arah Mahendra yang sedang memijat kepalanya dan terlihat napasnya yang berhembus dengan tidak teratur.
Melihat Mahendra seperti itu membuat Jennie memberhentikan mobil tersebut tepat di depan apotik dan Jennie langsung buru-buru keluar dari dalam mobil agar tidak terlalu terkena hujan.
" Jennie!" panggil Mahendra heran melihat kepergian Jennie yang dengan cepat.
Mahendra memang terlihat kurang nyaman dan seperti ada sesuatu yang mengganggu dirinya. Namun tidak di ketahui apa itu. Dia beberapa kali mengusap keringatnya yang di dahinya dengan napas nya yang begitu berat.
Tidak lama Jennie berlari kembali memasuki mobil dan Jennie hanya terlihat basah sedikit saja.
" Minumlah!" ucap Jennie memberikan 1 butir pil dan juga air mineral. Mahenndra tidak langsung mengambilnya dan melihat Jennie sebentar dan Jennie mengangguk. Lalu Mahendra mengambil apa yang di berikan Jennie dan langsung menelannya dan Mahendra terlihat jauh lebih tenang sekarang.
Jennie merasa lega dan kembali melanjutkan menyetir mobil.
" Kau masih mengingatnya?" sahut Mahendra bertanya. Jennie tidak menanggapi apa yang di tanyakan Mahendra.
Mahendra mempunyai trauma menyetir dalam hujan deras. Ada insiden besar yang di alaminya sejak kecil yang membuatnya tidak berani menyetir saat hujan. Bahkan dulu saat berpacaran dengan Jennie, Jennie yang selalu menggantikannya. Kalau tidak mereka akan memilih.
" Apa lagi yang kau ingat dari ku?" tanya Gibran dengan suara beratnya.
" Kita hampir sampai," Jennie hanya menjawab dengan jawaban lain yang sepertinya tidak mau menanggapi apa-apa yang di katakan Mahendra. Mahenndra menyunggingkan senyumnya dengan menyandarkan punggungnya ke jok mobil.
Dia berusaha menenangkan dirinya. Agar dia jauh lebih baik. Sebenarnya rasa baiknya cepat. Karena tidak percaya dengan Jennie yang mengingat hal itu. Bahkan tau obat apa yang harus di minum Mahendra untuk menenagkan dirinya.
Tidak lama akhirnya mobil yang di kendarai Jennie berhenti di gedung Apartemen Jennie.
" Aku sudah sampai!" ucap Jennie mematikan mesin mobilnya. Mahenndra menganggukkan kepalanya.
" Masih hujan jangan pulang dulu. Tidak baik kau menyetir dalam ke adaan seperti ini," ucap Jennie dengan lembut yang tumben-tumbenannya bicara tidak ketus.
" Iya aku akan menunggu di mobil sampai hujannya reda," jawab Mahendra yang memang tidak mungkin menyetir.
Jennie mengangguk dan membuka sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil. Namun tiba-tiba saja dia berhenti dan menoleh ke arah Mahendra yang masih terlihat lelah.
" Istirahat lah di tempatku. Itu jauh lebih baik," ucap Jennie yang langsung keluar dari mobil. Mahendra cukup kaget mendengarnya. Dia salah dengar atau tidak dengan Jennie yang menawarkannya untuk beristirahat. Rasanya memang tidak mungkin.
Tetapi itu benar yang membuat Mahendra tersenyum dan langsung keluar dari mobil.
__ADS_1
***********
Akhirnya Mahendra berada di Apartemen Jennie dan Mahendra sekarang duduk di Sofa dan Jennie yang menghampirinya dengan membawakannya secangkir kopi.
" Minumlah!" ucap Jennie. Mahenndra mengangguk dan langsung mengambilnya.
" Kau baik-baik saja?" tanya Jennie.
" Hmmm, aku jauh lebih dari sebelumnya. Terimakasih sudah memberiku pertolongan," ucap Mahendra. Jennie menganggukan kepalanya.
" Hmmm, aku ada mie kau mau di masakkan?" tanya Jennie.
" Jika tidak merepotkan," jawab Mahendra.
" Baiklah tunggu sebentar di sini!" ucap Jennie. Mahendra mengangguk dan Jennie langsung kedapur untuk membuat mie hujan-hujanan memang rasanya nikmat kalau mau makan mie yang begitu sedap dengan kuahnya yang panas.
Tidak lama untuk memasak mie akhirnya Jennie dan Mahendra sudah sama-sama menikmati mie itu dengan menggunakan sumpit. Mereka duduk bersebelahan dengan menikmati makanan tanpa ada obrolan.
" Jennie!" tegur Mahendra tiba-tiba menghentikan makannya.
" Ada apa?" tanya Jennie tanpa melihat ke arah Mahendra.
" Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Mahendra.
" Jika masalah pekerjaan. Maka tanyalah," jawab Jennie.
" Iya ini memang masalah pekerjaan," ucap Mahendra.
" Aku hanya ingin tau permasalahan Athar dengan tuan Carlos sebelumnya," ucap Mahendra membuat Jennie menghentikan makannya dan melihat ke arah Mahendra.
" Kenapa tiba-tiba ingin tau?" tanya Jennie.
" Kau selalu ada di mana aku yang di marahi Athar. Karena hal itu. Jadi makanya aku bertanya padamu!" jawab Mahendra.
Jennie menghela napasnya dan melihat kearah Mahendra.
" Kami bekerja sama dengan tuan Carlos sekita 5 tahun lalu dan semua awalnya baik-baik saja. Tetapi banyak kejurangan yang di lakukannya tanpa sepengetahuan kami. Karena Athar orang yang cerdik dan insting yang tinggi berhasil membongkar ke picikannya. Hanya kerugian yang kami alami yang membuat Athar marah dan memutuskan kerja sama dengan sepihak," jelas Jennie singkat.
" Lalu kenapa ketika aku menyelidikinya. Tuan Carlos sama sekali tidak melakukan kesalahan apa-apa. Namanya bersih dan justru Athar yang melakukan kesalahan dan tidak konsisten?" tanya Mahendra.
Jennie tersenyum mendengarnya, " itulah tuan Carlos sangat pintar dalam berstrategi. Dalam kejadian itu. Athar tidak tinggal diam dengan kerugian yang di alami Perusahaan Glossi. Jadi Athar memberinya pelajaran dengan saham yang ditarik oleh Athar dan jelas tuan Carlos mengalami kebangkrutan pada saat itu dan Athar yang di salahkan. Makanya namanya sangat bersih dan terkesan Athar yang salah," jawab Jennie dengan penjelasan yang sangat detail.
" Jadi menurut kamu apa kerja sama ini akan berbunyi juga nantinya?" tanya Mahendra.
" Anna masih polos Mahendra dan dia juga tidak bisa tegas. Sangat terbukti saat ingin melakukan meeting berdua tanpa ada Bodyguard Anna mengiyakan saja. Agar cepat selesai dan pasti Athar mengkhawatirkan semua itu. Karena tau seperti apa sifat Tian Carlos!" jelas Jennie.
" Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena aku hanya di tugaskan menjaga Anna dan Anna yang memintaku untuk tidak ikut dan masalah kerja sama tidak ada alasan untuk menghentikannya," jelas Mahendra.
" Ya dan kau akan terus menjadi sasaran Athar," sahut Jennie mengangkat ke-2 bahunya membuat Mahendra membuang napas beratnya perlahan. Jennie kembali menikmati mienya yang sudah dingin karena ke asyikan bicara.
__ADS_1
" Kau sudah lama bekerja dengannya?" tanya Mahendra.
" Aku terlebih dahulu mengenalnya di bandingkan dirimu," jawab Jennie.
" Lalu apa dia tau masalah kita?" tanya Mahendra.
" Aku dan Athar punya urusan masing-masing. Aku rasa dia juga tidak perlu tau dengan urusan kita," jawab Jennie.
" Kenapa saat membicarakan masalah kita. Kau tidak berani melihatku?" tanya Mahendra yang melihat Jennie. Jennie menghentikan makannya.
" Aku sudah selesai, aku mau bersih-bersih dulu!" ucap Jennie yang langsung berdiri yang tidak ingin menjawab pertanyaan Mahendra.
Mahenndra langsung berdiri dan menahan tangan Jennie.
" Jangan menghindariku saat membicarakan itu. Kau yang memulai hari ini Jennie," ucap Mahendra. Jennie menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan lalu menghadap Mahendra.
" Kita pernah ribut satu tahun lalu. Saat kau mengungkit masa lalu. Di sana sudah ada kejelasan dan jangan sampai kejadian itu terjadi lagi," ucap Jennie mengingatkan Mahendra pada kejadian tahun lalu di mana Mahendra yang ingin memperbaiki hubungan mereka.
Namun Jennie tidak dan malah menegaskan tidak punya perasaan apa-apa pada Mahendra yang membuat Mahendra terluka kembali setelah bertahun-tahun.
" Tapi hari ini Jennie kau yang seolah membuatku harus bertanya-tanya. Apa kau sangat mengkhawatirkanku?" tanya Mahendra dengan menatap mata Jennie dalam-dalam.
" Aku mengkhawatirkan mu atau tidak. Tidak ada urusannya Mahendra. Jadi jangan membahas apa yang tidak perlu," ucap Jennie dengan lembut.
" Jennie!
Dratt dratt dratt.
Ponsel Mahendra yang di atas meja berdering membuat Jennie dan Mahendra sama-sama saling melihat ke layar ponsel yang ternyata panggilan masuk dari Aurelia dan Jennie langsung melepas tangannya dari Mahendra.
" Angkatlah, aku mau ke atas dulu!" ucap Jennie yang langsung pergi.
" Jennie aku masih ingin bicara dengamu!" panggil Mahendra. Namun Jennie sudah menghilang.
Mahenndra menghela napasnya panjang kedepan dan mengangkat telpon dari Aurelia yang sudah merusak pembicaranya dengan Jennie.
*************
Jennie sudah selesai mandi dan menggunakan pakaian santai pakaian tidur. Jennie beberapa kali membuang napasnya dengan kasar kedepan. Jennie melihat keluar masih saja hujan deras.
Jennie terlihat membuka lemari dan langsung dan mengambil kotak di dalam lemari. Lalu kemudian langsung keluar dari kamar yang mana Jennie kembali menghampiri ruang tamu yang ada Mahendra di sana.
" Mau menonton TV?" tanya Jennie yang duduk di samping Mahendra dan meletakkan kotak tersebut di atas meja yang ternyata berupa kaset-kaset.
" Kau masih menyimpan semua ini?" tanya Mahendra yang tidak percaya jika kaset-kaset menjadi koleksi mereka masih pacaran masih ada.
" Uang ku banyak habis untuk membeli semua ini. Jadi sangat sayang kalau di buang. Pilihlah yang mana ingin kau tonton. Aku membuat minuman sebentar," ucap Jennie dengan singkat dan langsung pergi. Mahenndra tersenyum melihatnya dan langsung memilih-milih apa yang harus di pasangnya untuk menonton bersama mantan.
" Aku tidak percaya dia masih menyimpannya. Apa lagi yang di simpanya kira-kira," batin Mahendra yang memilih-milih kaset tersebut. Suasananya hari ini begitu bahagia di mana Jennie tampaknya berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Bersambung