Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 336


__ADS_3

Bali


Akhirnya Aurelia dan Mahendra sampai ke Bali juga dan handphone Mahendra sejak tadi lobet dan pasti tidak bisa menerima panggilan dari siapapun yang di pastikan banyak yang sudah menghubunginya. Mereka berdua berada di dalam mobil yang tadinya di jemput supir di Bandara.


"Kita mau kemana Nona?" tanya Mahendra yang duduk di sebelah Aurelia yang mereka berdua sedang ada di belakang pak supir.


"Ke Villa," jawab Aurelia.


"Untuk apa?" tanya Mahendra.


"Aku mau istirahat," jawab Aurelia.


"Lalu apa tujuan kita ke Bali?" tanya Mahendra dengan dahinya yang mengkerut.


"Ya pasti banyak Mahendra. Kita pergi jelas ada tujuannya dan mungkin tidak ada," sahut Aurelia menegaskan.


"Maaf nona ini terlalu buru-buru dan belum ada perencanaan sebelumnya. Jadi saya sedikit bingung dan tidak mengerti apa-apa," ucap Mahendra.


"Kamu ini bicara apa sih Mahendra. Kamu seperti orang yang tidak pernah melakukan perjalanan bisnis saja," sahut Aurelia.


"Bukan begitu nona. Tapi....."


"Arghh sudahlah, kamu itu jangan banyak tanya dan protes lagi. Kita jelas ada tujuan jika datang kemari," sahut Aurelia yang tidak mau mendengarkan protes dari Mahendra lagi dan Mahendra tidak bisa bicara apa-apa lagi. Walau dia tidak mengerti dengan apa maksud Aurelia sebenarnya.


Setelah perjalanan dari Bandara. Akhirnya merela mereka berdua juga sudah sampai Vila yang tidak jauh dari Bandara. Baik Aurelia maupun Mahendra yang sudah sama-sama memasuki Villa yang lumayan besar dan megah itu yang Mahendra juga tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya.


"Kita akan menginap di sini," ucap Aurelia membuat Mahendra melihat dengan heran Aurelia.


"Maksudnya menginap apa?" tanya Mahendra.


"Ya menginap. Kita di Bali beberapa hari dan ini untuk tempat kita ber-2," ucap Aurelia menegaskan dengan santainya.


"Nona Aurelia sebenarnya apa tujuan Nona untuk datang kemari? tiba-tiba datang dan sekarang menginap di tempat ini. Maksudnya bagaimana? " tanya Mahendra.


"Ck. Pertanyaan kamu sangat aneh Mahendra. Jelas tujuan saya hal yang terpenting dan iya kenapa kamu terus menayakan pertanyaan yang sama dan saya juga sudah menjawab berkali-kali. Apa itu belum cukup," ucap Aurelia dengan menahan kekesalannya.


"Bukan itu maksud saya. Saya bertanya pasti menurut saya ada yang tidak beres," sahut Mahe Mahendra.


"Apa maksud kamu tidak beres. Mahendra saya mengatakan. Tujuan kita kemari itu karena kepentingan sesuatu. Apa kamu tidak mengerti juga," tegas Aurelia dengan wajahnya yang penuh kekesalan.


"Kepentingan masalah apa. Apa masalah pekerjaan?" tanya Mahendra yang butuh kepastian.


"Lebih dari pekerjaan yang kelas bukan hal yang spele," sahut Aurelia dengan penuh penekanan pada Mahendra.


Mahenndra mengkerutkan dahinya penuh dengan kebingungan yang menatap Aurelia penuh dengan tanda tanya. Aurelie penuh dengan misteri yang membuatnya tidak bisa berpikir dengan tenang.


"Kamu jangan banyak tanya lagi, saya minta tolong kamu untuk menemui salah satu klien kita. Kamu wakilkan saya untuk menemuinya. Karena saya ada urusan yang sangat penting," jelas Aurelia.


"Klien siapa?" tanya Mahendra.


"Pak Roby," sahut Aurelia mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang merupakan memo kecil, "dia menunggu di alamat ini dan iya kamu kembali ke Vila jangan telat. Kamu kembali dengan tepat. Jangan telat datang jam 7 malam," ucap Aurelia dengan penuh penegasan pada Mahendra.


"Nona saya harus isi daya ponsel dulu," sahut Mahendra yang harus mana ponselnya harus hidup dulu. Baru bisa pergi dan menjalankan apa yang di perintahkan Aurelia.


"Kamu tinggalkan saja ponsel kamu. Kamu harus buru-buru pergi ini sudah sore. Dan kalian juga meeting tidak akan lama, jadi ponsel kamu tinggalkan saja di sini," ucap Aurelia.


"Tidak usah. Saya bawa saja," sahut Mahendra yang langsung pergi tanpa berpamitan lagi dengan Aurelia yang sepertinya Mahendra sedang kesal yang merasa sedang di kendalikan. Namun bodohnya dia tidak bisa melakukan apa-apa yang membuatnya hanya bisa menggerutuki kebodohannya sendiri.


Melihat kepergian Mahendra membuat Aurelia tersenyum.


"Mahendra kamu akan jatuh cinta padaku. Aku akan membuatmu begitu nyaman di sisiku. Dan kamu tidak akan pernah menyesal berada di sisiku. Kau seharusnya beruntung bisa di cintai wanita seperti ku," batin Aurelia tersenyum penuh dengan kemenangan yang penuh dengan arti dan tanda tanya.


"Hmmmm, aku harus menyiapkan segalanya," ucap Aurelia dengan semangatnya.

__ADS_1


************


Akhirnya Mahendra pun selesai melaksanakan meeting yang di perintahkan Aurelia. Memang benar adanya hanya ada urusan pekerjaan makanya pergi ke Bali dengan tiba-tiba.


Namun Mahendra juga masih penuh dengan kebingungan dengan klien yang tadi di temuinya yang mana klien tersebut tidak serius-serius amat dalam berbicara yang seperti tidak biasanya yang pasti jika membicarakan masalah pekerjaan yang pasti sangat serius.


Namun Mahendra tidak peduli. Yang penting dia sudah menemui klien tersebut dan sekarang sudah malam yang mana Mahendra harus kembali ks Vila.


"Ponselku terus mati, bagaimana caranya aku bisa mengisi dayanya," ucap Mahendra dengan wajahnya yang penuh dengan pemikiran.


"Sebaiknya aku kembali ke Jakarta. Aku tidak tau ada urusan apa Aurelia di Bali. Aku sudah menemui klien yang di inginkannya. Jadi aku rasa aku sudah seharunya kembali ke Jakarta. Aku juga harus mengurus masalahku dengan Jennie, aku tidak akan membiarkan masalah ini berlarut-larut terus," batin Mahendra yang smebari menyetir yang mulai tidak fokus.


"Aku harus pamit pulang pada Aurelia. Aku harus cepat kembali ke Villa," batin Mahendra yang harus bergerak cepat.


**********


Tidak lama Mahendra menyetir. Akhirnya Mahendra pun sampai Villa lebih dari jam 7 malam. Karena ada yang harus di urusnya yang membuatnya tidak bisa pulang tepat waktu.


Mahendra buru-buru keluar dari dalam mobil dan langsung memasuki Villa untuk berpamitan pada Aurelia.


Toko-tok-tok-tok. Mahenndra mengetuk pintu untuk memasuki Villa. Karena tidak sopan jika hanya masuk tanpa mengetuk pintu.


"Nona! Nona!" Panggil Mahendra. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Mahendra menghela napasnya dengan kasar dan langsung membuka pintu. Karena lebih baik cepat berpamitan dan buru-buru pulang.


Saat Mahendra memasuki Villa. Villa terlihat begitu sepi. Lampu yang mati dan terlihat gelap seperti tidak ada penghuninya sama sekali.


"Nona Aurelia? panggil Mahendra yang mencari-cari Aurelia dan sudah menghidupkan lampu agar ruangan itu terang.


"Nona Aurelia. Nona di mana?" tanya Mahendra yang berteriak-teriak memanggil Aurelia.


"Aku di dapur Mahendra," sahut Aurelia yang berteriak dari dapur dan akhirnya Mahendra pun pergi kedapur dengan menghela napasnya dengan kasar.


Saat tiba di dapur Mahendra di kejutkan dengan dapur yang terlihat indah. Meja makan yang tertata cantik dengan lilin dan bunga-bunga yang begitu indah dan juga terhidang makanan di atas meja dan Aurelia yang masih menyajikan yang juga tampil sangat cantik dengan dress merah mencolok sepahanya dan tanpa memakai lengan.


"Iya nona," jawab Mahendra pelan dengan wajahnya yang penuh dengan tanda tanya.


"Nona Aurelia sedang apa?" tanya Mahendra yang terlihat begitu gugup.


"Sedang menyiapkan makanan," jawab Aurelia memang benar apa adanya.


"Maksud saya untuk apa menyiapkan makanan seperti ini dan apa ada yang akan datang. Karena menurut saya ini sangat special," ucap Mahendra dengan penuh tanya.


"Tidak ada yang datang. Tetapi kalau di tanya ini special atau tidak. Memang ini sangat special," sahut Aurelia.


"Untuk?" tanya Mahendra.


Aurelie tersenyum pada Mahendra dan menghampiri Mahendra berdiri di depan Mahendra dengan memegang tangan Mahendra.


"Untuk kamu. Aku menyiapkan makanan kesukaan kamu. Kita akan Dinner malam ini. Jadi ini sangat special untukku," jawab Aurelia membuat Mahendra terkejut dan tampak begitu schok mendengarnya.


"Nona say..." Mahendra tidak melanjutkan bicaranya saat Aurelia meletakkan jarinya di bibir Mahendra.


"Jangan bicara lagi, ayo kita makan," ucap Aurelia yang mengajak Mahendra dengan memegang tangan Mahendra membawa Pria itu menduduki kursi dan lagi-lagi Mahendra tidak bisa menolak apa keinginan Aurelia.


Mahendra duduk di kursi dan Aurelia langsung menyendokkan nasi ke piring Mahendra dengan berdiri di samping Mahendra.


"Nona Aurelia tidak perlu. Saya datang ke mari ingin pamit pulang," ucap Mahendra membuat Aurelia berhenti sejenak dan melihat ke arah Mahendra.


"Apa kamu bilang?" tanya Aurelia.


"Saya harus kembali ke Jakarta," tega Mahendra.


"Tidak bisa Mahendra. Kamu harus makan dulu. Aku sudah menyiapkan semuanya. Jadi jangan buat pekerjaan ku sia-sia," sahut Aurelia menegaskan.

__ADS_1


"Tapi Nona!" protes Mahendra.


"Makanlah Mahendra!" tegas Aurelia yang sudah duduk di samping Mahendra. Aurelie benar-benar tidak akan peduli dengan Mahendra yang protes atau ini itu. Baginya yang terpenting apa yang di niatkanya harus terwujud dan lagi-lagi Mahendra hanya mengikuti semua kemauan Aurelia.


"Kamu suka makanannya. Aku menyiapkan semua ini khusus untuk kamu dan ini sangat enak bukan?" tanya Aurelia yang tersenyum melihat ke arah Mahendra. Mahenndra hanya menanggapi dengan biasa saja dan makan dengan terpaksa.


"Kenapa tiba-tiba Nona Aurelia seperti ini?" tanya Mahendra.


"Jangan panggil aku Nona. Panggil aku Aurelia," ucap Aurelia menatap Mahendra dalam-dalam.


"Saya hanya akan memanggil dengan panggilan yang sudah biasa," ucap Mahendra.


"Kenapa keras kepala Mahendra. Apa susahnya memanggilku dengan panggilan Aurelia," sahut Aurelia yang terus melihat Mahendra dan Mahendra juga melihatnya.


"Belum menjawab pertanyaan ku. Kenapa melakukan semua ini?" tanya Mahendra lagi.


"Jawabannya simpel itu karena aku menyukaimu," jawab Aurelia yang langsung to the point membuat Mahendra terkejut.


"Dan kamu tau Mahendra. Jika perasaanku melebihi apapun. Aku sangat menyukaimu dan mencintaimu. Aku tidak tau kapan perasaan itu ada. Tetapi yang jelasnya aku mencintaimu," tegas Aurelia yang menyatakan perasaannya pada Mahendra dan Mahendra diam mendengar pernyataan perasaan itu.


"Nona saya....," Mahendra tidak melanjutkan kalimatnya saat bibirnya di kecup Aurelia yang membuat Mahendra terkejut dengan matanya yang terbuka lebar dengan keberanian Aurelia yang menciumnya tanpa permisi.


"Aku sudah mengatakan aku tidak peduli Mahendra. Perasaan kamu seperti apa kepadaku. Yang penting kamu tau bagaimana perasaanku dan aku akan berusaha untuk membuatmu nyaman dengan diriku," ucap Aurelia menegaskan.


"Aku tidak bisa," sahut Mahendra yang langsung to the point tanpa basa-basi dan itu jelas mengecewakan Aurelia yang langsung dapat penolakan dari Mahendra.


"Maaf Nona saya tidak bisa membalas perasaan Nona. Karena saya menyukai seseorang dan dia juga adalah kekasih saya. Dan saya tidak bisa membalas perasaan dari Nona. Karena saya tidak pernah menyukai Nona sama sekali. Kita hanya sebatas rekan kerja saja," jelas Mahendra yang akhirnya lega yang mengatakan jika statusnya bukan sendiri lagi dan ada wanita yang pasti di cintainya dan itu adalah Jennie.


Mendengar kata-kata Mahendra membuat tangan Aurelia terkepal. Jika di tanya marah, kesal. Pasti iya. Namun ternyata Aurelia masih tersenyum mendengar kata-kata Mahendra dan Aurelia langsung memegang tangan Mahendra.


"Mahendra aku tidak peduli siapa wanita yang kamu sukai. Kasih aku kesempatan untuk sepenuhnya berada di hati kamu. Aku ingin menjadi milikmu. Jadi kasih aku kesempatan untuk membuat kamu nyaman di sisiku," ucap Aurelia yang tidak akan pernah menyerah untuk perasaannya kali ini.


"Aku mencintaimu Mahendra," ucap Aurelia yang mendekatkan wajahnya lada Mahendra yang mendekatkan bibirnya lada Mahendra yang ingin mencium bibir Mahendra lagi. Namun Mahendra langsung mengalihkan wajahnya dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Mahenndra!" lirih Aurelia.


"Aku menyukai Jennie dan aku dan Jennie sudah berpacaran dan hubungan kami juga bukan sebentar. Maaf aku tidak bisa membalas perasaan kamu. Permisi!" tegas Mahendra yang langsung pergi.


Namun baru beberapa langkah tiba-tiba terdengar Pranggg.


Bunyi yang kuat yang kuat itu membuat langkah Mahendra terhenti dan membalikkan tubuhnya yang ternyata Aurelia sudah tergelatak di lantai dan pecahan itu berasal dari gelas yang pecah.


"Nona Aurelia!" pekik Mahendra dengan wajah terkejutnya yang langsung menghampiri Aurelia yang berjongkok di samping Aurelia.


"Nona apa yang terjadi bangun! Nona Aurelia, Nona!" Mahendra panik yang berusaha membangunkan Aurelia dengan memegang pipi Aurelia. Namun Aurelia tidak terbangun membuat Mahendra panik dan langsung menggendong Aurelia ala bridal style menaiki anak tangga dengan langkah yang buru-buru karena sangat mencemaskan Aurelia.


Mahenndra membawa Aurelia kekamar dan merebahkan Aurelia di atas ranjang.


"Nona bangun!" Mahendra masih membangunkan Aurelia.


"Apa yang terjadi. Aku sebaiknya panggil Dokter," lirih Mahendra yang bergerak cepat. Namun saat dia ingin pergi. Tangannya tertarik dan Mahendra bahkan sudah berbaring di atas tempat tidur dengan Aurelia yang berada di atas tubuhnya yang membuat Mahendra kaget.


"Nona!"lirih Mahendra.


"Kamu begitu panik Mahendra dengan apa yang terjadi kepadaku. Lalu kenapa menolakku dan tidak pernah memberikan ku kesempatan. Kenapa membalas perasaanku dengan menyebutkan nama wanita lain. Kau tau Mahendra itu sangat menyakitiku," ucap Aurelia yang menatap Mahendra dalam.


"Jadi apa yang terjadi hanya pura?" tebak Mahendra.


"Aku hanya mengujimu dan aku tidak akan menyerah Mahendra. Aku mencintaimu dan menginginkan dirimu dan aku akan menyerahkan diriku kepadamu, agar kau bisa jatuh cinta kepadaku," ucap Aurelia dengan tersenyum.


Aurelia bahkan mencium kembali bibir Mahendra. Mahenndra yang merasa Aurelia benar-benar gila langsung mendorong tubuh itu tanpa ampunan dan Mahendra berhasil turun dari ranjang dengan Aurelia yang terduduk menahan kekesalannya.


"Aku sudah mengatakan. Aku tidak menyukaimu. Jadi jangan menggangguku. Apa lagi dengan rencana murahan seperti ini," bentak Mahendra dengan wajahnya yang memerah yang sudah begitu marah dengan Aurelia yang sangat rendahan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2