Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 227 Jennie memberi pelajaran.


__ADS_3

Kata-kata Jennie membuat Gibran sontak kaget, " Apa maksudmu?" tanya Gibran dengan wajahnya yang begitu shock yang mendadak pucat.


" Aku hanya bertanya. Jangan terlalu serius. Seperti ada sesuatu saja," sahut Jennie dengan santai bicara. Namun wajah Gibran terlihat memucat dengan kata-kata Jennie yang mengandung arti.


" Sial tidak mungkin jika wanita ini menyelediki ku," batin Gibran yang begitu cemas.


" Gibran. Kau kenapa? kenapa terlihat begitu gugup," sahut Jennie dengan menatap penuh selidik pria itu.


" Siapa yang gugup," bantah Gibran berusaha untuk tenang, " dengar Jennie, aku saran kan untukmu tidak mencampuri urusanku dan juga kau tidak di ijinkan untuk menguping pembicaraan ku, kau mengerti!" tegas Gibran dengan menunjuk tepat di wajah Jennie.


Jennie menanggapi hanya dengan senyuman tipis. Dan Gibran yang tidak mau berurusan dengan Jennie memilih untuk pergi, melewati Jennie begitu saja.


" Jelaskan padaku dengan mobil yang baru kau beli. Mobil sport warna biru," ucap Jennie membuat langkah Gibran terhenti. Mendengarnya membuat Gibran begitu terkejut dengan matanya yang melotot dan ke-2 tangannya yang mengepal.


" Sial wanita ini...." batin Gibran dengan jantungnya yang tiba-tiba ingin copot.


Gibran dan Jennie sama-sama membalikkan tubuh mereka dan saling dengan Jennie yang menyunggingkan senyumnya.


" Apa kau menyelidiki ku?" tanya Gibran dengan melangkah mendekati Jennie berdiri tepat di hadapan Jennie.


" Aku hanya bertanya saja?" sahut Jennie. Gibran mendengus kasar dengan mengusap kasar mulutnya.


" Kau dengar Jennie. Aku sudah mengatakan kau jangan ikut campur dengan urusanku. Karena aku tidak suka dengan wanita yang mencampuri urusanku dan iya kau bukan tandinganku. Karena aku tidak melawan wanita yang cemen dan tidak bisa apa-apa seperti dirimu. Kau bukan tandinganku kau mengerti itu," tegas Gibran menunjuk tepat di wajah Jennie dengan sorot matanya yang tajam yang memandang meremehkan wanita itu.


Jennie yang begitu santainya memegang jari yang menunjukkannya itu. Pegangannya sangat santai ternyata begitu sakit sampai membuat Gibran kesakitan dengan cengkraman tangan Jennie di jarinya.


" Apa yang kau lakukan lepaskan tanganku!" keluh Gibran merasa sakit pada jari telunjuknya yang hampir di patahkan Jennie.


Dan Jennie langsung menjatuhkan kasar jari itu dan sekalian menendang kaki Gibran yang akhirnya membuat Gibran terjatuh kelantai. Dengan telungkup dan paling parahnya mencium kaki Jennie.


Jennie menyunggingkan senyumnya melihat Pria angkuh itu yang sekarang begitu rendah di hadapannya.


" Kau mengatakan aku bukan tandinganmu. Kau yang bukan tandinganku," sahut Jennie dengan melihat pria yang di bawah sana yang masih telungkup.

__ADS_1


" Kau!" Geram Gibran yang berusaha untuk bangkit. Namun Jennie memijak punggungnya dengan heeelsnya yang tajam dan hanya terdengar suara rintihan kesakitan dari Pria itu.


" Jangan kau pikir, aku tidak tau rencanamu. Aku tau semua rencanamu. Dan masalah mobil yang kau gunakan untuk menabrak Athar. Mobil itu sedang di selidiki polisi. Jadi jangan macam-macam dengan ku dan juga Athar. Kau pengecut yang berani main belakang dan kau pikir orang sebodoh dirimu yang tidak tau apa-apa," ucap Jennie dengan sinis yang membuat Gibran begitu terkejut dan terdiam yang tidak bisa berkata-kata apa. Karena Jennie mengetahui semuanya.


Jennie melepaskan injakannya dari Gibran dengan menyunggingkan senyumnya pada Gibran. Lalu langsung pergi setelah puas membuat Gibran yang tidak berkutik sama sekali.


" Dari pada kau pusing berpikir untuk menyinggirkan Athar. Mending kau gunakan otak mu untuk berpikir bagaimana menghadapi tuan Ari Purnama dan juga pihak polisi," ucap Jennie dengan santai dan langsung pergi meninggalkan Gibran.


" Kurang ajar!" teriak Gibran yang langsung meninju lantai dengab tangannya yang terkepal kuat.


" Argggghhh! sialan kau Jennie, aku akan membalasmu. Kau pikir aku takut dengan ancaman mu," teriak Gibran dengan kesakitan karena sok-sokan memukul lantai.


" Sialllllll," Gibran yang penuh emosi memukul lantai dengan keras, " awas kau Jennie, kau pikir siapa dirimu. Kau belum tau siapa aku lihat saja, aku akan membuat diam dan tidak bisa melakukan apa-apa. Kau harus membayar penghinaan yang kau lakukan ini!" ucap Gibran dengan kekesalan hatinya.


" Argggghhh bajingan!" teriaknya tanpa sadar kembali memukulkan tangannya, " Ahhhhhhh!" Gibran kembali kesakitan dengan ulahnya sendiri ya. Salahnya sok-sokan kuat.


" Kenapa juga wanita itu sangat mudah tau segalanya, benar-benar wanita sialan. Aku benar-benar menganggapnya remeh," Gibran tidak ada henti-hentinya mengumpat kesal pada Jennie yang membuatnya menjadi pria yang tidak berdaya sama sekali.


***********


" Makasih sudah mengantarku. Kamu pulanglah!" ucap Anna yang berhadapan dengan Athar.


" Aku tidak bisa pulang. Aku belum siap lagi untuk bicara sama papa. Aku belum bisa Anna," ucap Athar.


" Lalu kamu akan tidur di mana?" tanya Anna yang mencemaskan Athar.


" Apa boleh aku tidur di sini!" ucap Athar meminta izin dengan lembut.


" Tumben minta izin, biasanya juga kalau mau di sini selalu suka-suka," gumam Anna dengan mulutnya yang mengkerut.


" Jadi bagaimana Anna. Apa aku boleh menginap di rumahmu?" tanya Athar memastikan.


" Baiklah kamu tidur di sini. Tidur di sofa. Anggap aja aku lagi berbaik hati," ucap Anna dengan tersenyum.

__ADS_1


" Terima kasih," sahut Athar.


" Anna menganggukkan kepalanya, " ya sudah kamu istirahat lah, aku ambil selimut dan bantal sebentar," ucap Anna. Athar hanya menganggukkan kepalanya.


Anna pun langsung pergi dari hadapan Athar dan memasuki kamarnya. Saat berada di dalam kamar Anna langsung menuju lemari untuk mengambil selimut. Setelah mendapatkannya Anna langsung keluar yang tadi juga sempat mengambil bantal.


Athar sudah duduk di sofa dan sekarang sedang melipat lengan kemejanya.


" Inih," ucap Anna yang langsung memberikan Athar selimutnya. Athar mengangguk dan mengambilnya meletakkan di sampingnya.


" Hmmmm, di mana Diary ku?" tanya Anna tiba-tiba. Ya saat di kamarnya tadi dia tidak melihat Diary nya sama sekali.


" Aku menyimpannya," jawab Athar menatap Anna intens.


" Di mana?" tanya Anna lagi.


" Nanti aku beritahu," jawab Athar.


" Kenapa nanti. Kan itu milikku. Kamu juga kenapa harus menyimpannya?" tanya Anna dengan wajahnya bingungnya.


" Aku hanya ingin menyimpannya. Jangan di permasalahkan, aku sudah tau rahasiamu. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan," ucap Athar dengan santai.


" Tetapi tetap aja, seharusnya kamu tidak menyimpannya kan itu milikku," sahut Anna kesal.


" Nanti aku kembalikan. Jangan berdebat denganku," ucap Athar memegang pipi Anna.


" Ya sudah kalau begitu. Tetapi janji ya akan di kembalikan," ucap Anna yang butuh kepastian.


" Aku pasti mengembalikannya," jawab Athar.


" Ya sudah aku kekamar dulu. Kamu istirahatlah," ucap Anna.


Atahr menganggukkan kepalanya dan Anna langsung menuju kamarnya untuk beristirahat juga. Karena besok dia akan menemani Athar ke Bangkok untuk menemui Anjani.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2