
1 Tahun kemudian.
Bandara.
Seorang Pria tampan yang terlihat berjalan dengan gagahnya uang menyeret kopernya. Pria tampan yang memakai stel jas hitam itu terlihat begitu berwibawa yang menunjukkan karismatik nya. Pria yang memiliki postur tubuh sempurna itu sungguh membuat wanita berlomba-lomba untuk mendapatkannya.
Siapa lagi. Jika bukan Athar Kaziel Sanjaya Purnama. Dia terus saja semakin mempesona. Semakin jutek wajahnya semakin tampan dirinya.
" Sayang!" teriakan suara wanita yang begitu khas membuat Athar menghentikan langkahnya. Athar yang tadi berkacama, melepas kaca matanya dan mata indah itu langsung menangkap wanita cantik di sana. Anna Fariza Citra Chandra Maya. Wanita yang melambaikan tangannya yang begitu cantik dengan memakai rajut yang lengan panjang dengan rok lipat sepahanya yang juga tangannya memegang boucket bunga.
Melihat wanita cantik itu membuat Athar tersenyum lebar dan langsung berjalan dengan cepat menghampiri Anna yang sekarang berlari. Begitu sampai pada Athar Anna langsung memeluknya dengan erat.
" I Mis you," ucap Anna memeluk erat.
" I mis you too," sahut Athar yang juga merindukan kekasihnya itu.
Anna melonggarkan pelukannya dan tersenyum begitu bahagia, melihat Athar.
" Kamu sudah lama menunggu?" tanya Athar. Anna menggelengkan kepalanya.
" Syukurlah kalau begitu," ucap Athar dengan mengusap-usap pucuk kepala Anna.
" Ini untuk kamu," ucap Anna melepas pelukannya dan memberikan Athar bunga yang sudah di siapkannya.
" Makasih," sahut Athar yang langsung mencium lembut kening Anna.
" Ya sudah ayo kita pulang!" ajak Anna. Athar mengangguk dan mereka saling bergandengan berjalan menuju mobil mereka.
Tiba sampai di perkirakan. Mahendra membukakan pintu mobil untuk mengantar Anna dan Athar.
" Kita sama dia?" tanya Athar. Anna menganggukan kepalanya.
" Lalu mau sama siapa. Aku mana mungkin menyetir sendiri ke Bandara untuk menjemput kamu," ucap Anna.
" Kalau begitu aku telpon Jennie. Biar kita pulang ber-2 saja. Aku yang nyetir. Mahendra suruh pulang saja," ucap Athar.
" Sayang sudahlah kita pulang sama Mahendra saja, Bu Jennie juga pasti sibuk," ucap Anna mengeluarkan suara manjanya.
Athar terlihat ragu. Mungkin dia ingin bermesraan dengan kekasihnya Anna. Jadi tidak ingin di ganggu oleh siapa-siapa
" Ya sudah kalau begitu," sahut Athar yang akhirnya mengalah membuat Anna tersenyum lebar dan akhirnya mereka ber-2 masuk bersama kedalam mobil di bagian belakang. Sementara Mahendra memasukkan koper Athar ke dalam bagasi. Lalu Mahendra langsung memasuki mobil menduduki kursi pengemudi.
" Kita langsung berangkat Nona?" tanya Mahendra melihat dari kaca yang ada di dalam mobil.
" Sayang kamu mau langsung kekantor. Atau mau kemana dulu?" tanya Anna.
" Kita makan sebentar," jawab Athar.
" Baiklah," sahut Anna, " Mahendra kita ke Restaurant biasa," ucap Anna.
Mahenndra mengangguk saja dan melanjukan mobil untuk tujuan tertentu.
*********
Tidak lama Anna dan Athar sudah berada di Restaurant yang biasa mereka berdua makan. Mereka duduk berhadapan dengan makanan yang sudah ada di depan mereka.
" Kamu tidak kekantor hari ini?" tanya Athar yang melihat pakaian Anna santai. Padahal ini bukan hari libur.
" Aku bolos. Aku ingin menghabiskan waktu bersammu. Kan kamu baru pulang dari Luar Negri dan aku sangat merindukan kamu," ucap Anna.
" Jangan bolos- bolos Anna karena aku," sahut Athar.
" Tidak apa-apa sayang. Lagian itu kan Perusahaan mama," ucap Anna.
" Walaupun kamu bekerja di Perusahaan yang pemiliknya orang tua kamu sendiri. Kamu tidak boleh malas-malasan," ucap Athar mengingatkan kekasihnya itu.
__ADS_1
" Iya sayang kamu itu serius amat," sahut Anna.
" Aku hanya mengingatkanmu untuk mengasingkan pekerjaan dan asmara," jelas Athar.
" Iya, aku hanya capek. Terlalu banyak pekerjaan. Banyak meeting ini itu, banyak rapat di sana, di sini. Capek banget. Mending dulu jadi karyawan di Perusahaan kamu. Kerjaannya nggak secapek ini," keluh Anna dengan suara manjanya.
Athar tersenyum dengan geleng-geleng dan memegang tangan Anna.
" Sayang kamu jangan mengeluh terus. Kamu harus tau semakin tinggi pohon. Angin juga semakin kencang. Kamu harus bersyukur karena Impian kamu pelan-pelan terwujud. Kalau tidak mau capek dan hanya menjadi karyawan kamu tidak akan pernah meningkat. Jadi harus bersyukur dengan kesempatan yang kamu dapatkan," ucap Athar dengan bijak yang selalu mengingatkan Anna.
" Iya sayang. Makasih sudah terus mengingatkan ku," ucap Anna. Athar mengangguk dengan mengusap-usap lembut punggung tangan Anna.
" Ya sudah kamu makan lagi. Setelah ini kita mau kemana?" tanya Athar.
" Aku ada janji nanti sore sama kak Aurelia mau ke tempat papa. Kamu temani aku ya," jawab Anna.
" Baiklah aku akan temani kamu," jawab Athar.
" Makasih sayang," sahut Anna dengan tersenyum lebar dan kembali melanjutkan makannya.
**********
Aurelia terlihat sibuk di dalam ruangannya. Di mana dia sibuk dengan satu patung yang di balut dengan gaun merah. Aurelia bolak-balik berkeliling pada patung itu, berjongkok berdiri lagi itu terus yang di lakukannya yang sepertinya begitu teliti.
Toko-tok-tok-tok.
Pintu ruangannya yang terbuka di ketuk yang ternyata adalah Derry yang berdiri di depan pintu. Aurelia melihat di mana Derry mengangkat tangannya yang ada kantung plastik putihnya.
" Masuk Derry!" sahut Aurelia yang melanjutkan pekerjaannya dengan sibuknya.
Derry menghela napasnya dan menghampiri Aurelia. Meletakkan apa yang di bawanya di atas meja dan membukanya dari dalam plastik.
" Sudah waktunya makan siang Aurelia. Ayo makan dulu," ucap Derry.
" Sebentar lagi. Ini tanggung," jawab Aurelia. Derry menghela napasnya lagi dan menghampiri Aurelia dengan memegang tangan Aurelia.
" Kamu jangan bekerja terlalu lelah. Kamu makan dulu!" ucap Derry memberikan Aurelia kotak makanan.
" Makasih," sahut Aurelia langsung mengambilnya.
" Aku merasa ada yang salah dengan desainku. Aku takut produk yang aku keluarkan tidak di sukai masyarakat," ucap Aurelia terlihat panik.
" Aku lihat sangat cantik. Tidak ada yang salah, jangan panik dalam melakukan apa-apa. Semuanya terlihat sangat baik," ucap Derry.
" Namnya juga takut," sahut Aurelia.
" Sudah jangan di pikirkan lagi. Ayo makan lagi. Ingat nanti kita akan pergi ke tempat papa kamu," ucap Derry mengingatkan.
" Astaga aku lupa. Untung kamu ingatin aku," ucap Aurelia.
" Kamu itu masih muda. Tetapi sudah pelupa," ucap Derry geleng-geleng.
" Maklum lagi banyak pekerjaan," sahut Aurelia ada saja alasannya.
" Iya alasan itu sering kali di dengar," sahut Derry membuat Aurelia tertawa.
" Iya-iya, nanti aku tidak akan lupa-lupa lagi," ucap Aurelia.
" Asal benar saja," sahut Derry tidak yakin.
Mereka tertawa-tawa sambil makan. Kalau tidak ada Derry yang selalu mengingatkan Aurelia. Mungkin Aurelia memang akan makan sembarangan. Karena dia sangat fokus sama pekerjaannya.
*********
Setelah makan bersama. Mahendra langsung mengantarkan Anna dan Athar ke Perusahaan MAA yang tak lain adalah Perusahaan Maya. Saat Athar dan Anna keluar dari mobil. Derry dan Aurelia sudah keluar dari Perusahaan yang mana mereka langsung berhadapan.
__ADS_1
" Kakak sudah pulang?" tanya Derry heran dengan kakaknya yang sudah ada aja di depannya.
" Ya ampun adiknya sendiri masa tidak tau kakaknya pulang. Masa iya aku yang harus tau," sahut Anna sewot.
" Ya gimana aku mau tau. Yang di kabarin siap. Lupa sama adiknya, lebih ingat sama pacarnya," ucap Derry tidak kalah sewotnya.
Aurelia mendengar celotehan Anna senyum-senyum saja. Apa lagi kalau sudah ribut-ribut kecil dengan Derry.
" Sudah-sudah jangan bertengkar. Sekarang ayok kita pergi. Bukannya ke hadiran Athar di sini juga ikut pergi bersama kita kan?" tanya Aurelia.
" Pasti dong," sahut Anna yang semangatnya.
" Ya sudah kita naik mobil ku aja," sahut Derry.
" Baik," sahut Anna.
" Mahendra. Kamu di kantor saja. Kamu pergi sama mereka," ucap Aurelia.
" Baik nona," sahut Mahendra menganggukan kepalanya.
" Hmmm, tapi aku boleh minta tolong tidak padamu," sahut Athar.
" Apa itu," jawab Mahendra.
" Berikan dokumen ini pada Jennie," ucap Athar memberikan map berwarna merah.
" Baiklah kalau begitu," sahut Mahendra mengangguk yang tidak masalah sama sekali.
" Ya sudah ayo kita kita berangkat. Nanti keburu lama," sahut Derry. Yang lain mengangguk dan akhirnya memasuki mobil Derry. Derry dan Athar duduk di depan. Anna dan Aurelia duduk di belakang.
********
Rumah terbuat dari kayu. Yang cukup luas dengan penuh tanaman dan beberapa ukiran barang-barang yang terbuat dari tanah liat. Di sinilah tempat Chandra tinggal menghabiskan waktunya hidup sederhana selama setahun belakangan ini.
Hanya berkebun, dan membuat barang-barang dari tanah liat. Dia juga mengukir-ukir patung dari kayu. Banyak aktivitas yang di lakukannya dengan keahliannya dalam membuat kerajinan.
" Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk," Chandra terbatuk-batuk sambil membentuk guci dengan tanah liat yang sudah di campur air yang sekarang sedang di bentuk dengan mesin putar.
Karena batuk Chandra meninggalkan pekerjaannya untuk menghampiri meja yang mengambil segelas teh.
Chandra batuk-batuk saja dengan tangannya yang bergetar memegang gelas itu. Sampai akhirnya terjatuh.
" Pah!" sahut Aurelia dan Anna yang berlari langsung berjongkok membantu Chandra.
" Papa tidak apa-apa?" tanya Anna khawatir.
" Tidak apa-apa. Papa hanya batuk-batuk saja. Tangan papa licin. Jadi gelasnya pecah," jawab Chandra.
Anna dan Aurelia membantu Chandra untuk berdiri dan mendudukkannya di kursi terbuat dari kayu. Athar dan Derry pun turut membantu dengan Athar membersihkan bekas pecahan gelas.
" Papa benar tidak apa-apa?" tanya Anna begitu khawatir.
" Tidak apa Anna, papa baik-baik saja," jawab Chandra.
" Batuk papa sepertinya semakin parah. Apa tidak perlu kita kerumah sakit?" tanya Aurelia.
" Tidak usah Aurelia papa baik-baik saja. Kalian jangan khawatir," sahut Chandra dengan tersenyum.
" Hmmm, kalian berdua datang bersamaan," sahut Chandara melihat Athar dan Derry.
" Iya pah, kebetulan Athar baru pulang dari Luar Negri. Jadi Anna sekalian mengajaknya dan Anna juga bawa makanan. Kita makan sama-sama," ucap Anna.
" Baiklah Anna," jawab Chandra.
" Ya sudah biar Aurelia ambil piring dulu," sahut Aurelia. Chandra mengangguk-angguk saja. Kedatangan 2 putrinya sudah membuatnya bahagia.
__ADS_1
Anna dan Aurelia sama-sama melupakan masa lalu dan tetap berhubungan baik dengan Chandra. Walau Chandra dan Maya tidak bersatu. Namun tetap Anna dan Aurelia terus menyempatkan diri untuk mengunjungi Chandra. Karena bagaimanapun Chandra adalah ayah mereka dan Maya tidak pernah melarang hal itu sama sekali.
Bersambung