
Anna terus kebingungan melihat rekan-rekannya yang tampak begitu takut dan terlihat menunduk.
Tuk-tak-tuk-tak terdengar suara langkah kaki yang membuat semuanya tampak siap-siap dan langsung menunduk dengan berbaris rapi di di depan. Lisa harus menarik tangan Anna untuk mengikuti barisan karena Athar sudah semakin dekat dan Anna pun seperti tertarik tapi mau gimana lagi dia pun akhirnya mengikut.
" Pada kenapa sih semuanya, dan Athar siapa lagi," batin Anna masih bingung dan melihat rekan-rekannya sudah menundukkan kepala. Layaknya seperti maid yang menunggu majikan makan. Anna pun melihat ke arah ujung di mana pintu masuk.
Anna penasaran apa yang membuat rekan-rekannya mendadak serius dan ketakutan.
Daun pintu itu masih kosong. Dalam hitungan detik tiba-tiba muncul seorang Pria yang sangat gagah yang tak lain adalah Athar yang melangkah dengan kaki panjangnya badan tegap dengan rahang kokoh yang tegak. Dan wajah dingin yang memperlihatkan ke wibawaan seoarang Athar.
Anna terkejut melihat Pria itu. Matanya terbuka lebar, bahkan mulutnya menganga dia tidak percaya Pria yang di hindarinya muncul. Padahal Lisa baru mengatakan jika Pria itu sedang melakukan perjalanan bisnis. Anna yang kaget langsung menundukkan kepalanya dengan cepat yang pada akhirnya takut dengan Athar.
" Ya Allah, Kenapa aku terjebak di tempat ini ya, Alla cobaan apa lagi ini, bisa mati aku," gerutu Anna dengan wajah paniknya penuh ketakutan.
" Athar, apa dia yang bernama Athar. Iya namanya seperti Athar," batin Anna menerka-nerka lagi.
" Perhatian semuanya," sahut Jennie yang tiba-tiba memberikan arahan. Di mana Jennie dan Athar sudah berdiri di depan karyawan-karyawan tersebut.
" Sekedar untuk memberi tahu kalian atau mengingatkan untuk menyerahkan hasil desain kalian semuanya paling lama lusa," ucap Jennie, semuanya saling melihat yang tampak kaget mendengarnya namun Anna masih tetap menunduk tidak berani menunjukkan wajahnya.
Sementara mata Athar hanya berkeliling melihat-lihat meja karyawan, ya mata jelinya yang bisa melihat debu dengan kasat matanya mulai memeriksa para karyawannya dan tiba matanya haru berhenti di suatu meja dan yang mana kertas yang remas-remas mengelilingi tong sampah.
" Meja siapa itu?" tanya Athar tiba-tiba mata tajamnya melihat ke arah meja itu.
Jennie pun harus melihat dan karyawan yang ada di sana membalikkan tubuhnya untuk melihat meja itu dan sebagian merasa lega. Karena buka meja meraka. Lisa yang juga menolah dan langsung menepuk jidatnya.
" Anna, kamu benar-benar ya," geram Lisa yang berdiri di samping Anna yang sepertinya akan pasrah.
" Apa tidak ada yang memiliki meja itu?" tanya Athar yang menunggu jawaban. Lisa menyenggol Anna. Anna memang tidak melihat meja yang di maksud. Karena Anna masih menunduk takut dengan Athar.
" Anna," tegur Lisa pelan.
" Ada apa?" tanya Anna heran melihat Lisa tetapi tetap menunduk.
" Meja kamu," ucap Lisa. Anna kaget dan menoleh kesikitarnya yang ternya rekan-rekannya sedang melihatnya.
" Apa di sini ada yang bisu?" tanya Athar yang mulai emosi dan dengan perlahan Anna mengangkat tangannya tetapi masih tetap menunduk dan mata Athar langsung melihat ke arah tangan yang berarti pemilik meja itu.
" Angkat kepalamu!" titah Athar.
" Matilah aku," batin Anna pasrah.
" Kau tuli," ucap Athar mihat Anna tak mendengarkan kata-katanya dan dengan perlahan. Anna mengangkat kepalanya dan Athar langsung mendengus kasar melihat wanita yang itu.
" Sudah kuduga," desis Athar semakin darah tinggi. Sementara Jennie hanya geleng-geleng.
" Apa yang kau lakukan. Kau pikir perusahan ini tong sampah," ucap Athar dengan voluem suaranya yang tinggi.
" Tidak. Aku tidak berpikir seperti itu," jawab Anna.
" Lalau apa yang kau lakukan! Kau lihat pekerjaanmu!" bentak Athar.
" Memang apa yang salah," sahut Anna yang masih merasa tidak bersalah.
__ADS_1
" Kau!" geram Athar pada Anna bahkan Athar maju yang ingin mencengkram Anna. Untung ada Jennie mencegah Athar yang mungkin bisa membunuh anak orang.
" Athar sudah," ucap Jennie menahan Athar.
" heh! Lihat pakai matamu, lihat pekerjaanmu!" teriak Athar kehilangan kendali. Anna pun membalikkan tubuhnya melihat ke arah mejanya dan melihat 2 gulungan kertas di pinggir tong sampah.
" Kenapa sih dia lebay sekali, hanya 2 sampah doang memarahiku seperti anak tiri," batin Anna.
" Apa kau sudah melihatnya!" Bentak Athar sampai Anna tersentak kaget.
" Kau bekerja di perusahaan ini. Maka ikuti peraturannya!" tegas Athar yang dengan napasnya yang tidak retaru. Athar mengusap wajahnya kasar dengan satu tangannya dan membuang napasnya perlahan kedepan.
" Kau ikut keruanganku!" tegas Athar yang langsung pergi. Bisa jadi tersangka pembunuhan dia karena perbuatan Anna yang membuatnya kesal.
Jennie pun menatap Anna dengan serius dan tatapan itu pindah pada Lisa.
" Saya sudah memberitahunya kok, tanya saja Anna kalau tidak percaya," sahut Lisa sebelum Jennie menyalahkannya.
" Anna ayo cepat ikut!" perintah Jennie yang tidak bisa berkata-kata lagi. Anna mengangguk.
" Kamu sih Anna, bandel banget di kasih tau," ucap Lisa pelan.
" Kamu juga pakai bohong segala, bukannya kamu bilang dia pergi," ucap Anna yang wajahnya terlihat lemas dan tidak bersemangat.
" Isshh, malah nyalahin lagi. Sudah sana kamu pergi. Nanti bos tambah marah-marah sama kamu," ucap Lisa.
" Iya," sahut Anna dengan lemas dan langsung pergi.
********
" Kamu benar-benar tidak ada di siplin ya. Bisa-bisanya masuk tanpa mengetu pintu," ucap Athar yang langsung memperotes Anna.
" Kenapa sih, semuanya serba salah," batin Anna geram dengah Athar. Anna tidak mempedulikan perkataan Athar tetap masuk dengan menundukkan kepalanya dan sudah berdiri di depan Athar.
" Apa kau tau peraturan perusahaan ini?" tanya Athar.
" Hmmm, aku tau," jawab Anna.
" Bicara lihat orangnya. Orangnya ada di depanmu. Bukan di bawah," tegas Athar. Anna pun mengangkat kepalanya dan melhta Athar.
" Kau benar-benar wanita yang tidak di siplin. Tanganmu itu memang tidak pernah di ajari baik-baik. Membuang sampah sembarangan, kau pikir ini Perusahaan ini milik nenek moyangmu. Perusahaan ini bisa berantakan. Jika mempunyai generasi seperti mu," Oceh Athar yang terus marah-marah.
" Ya ampun mentang-mentang dia atasan seenaknya bicara padaku. Issssss, kalau saja di luar perusahaan aku pasti sudah mencabik-cabik mulutnya itu," geram Anna yang mempunyai dendam kesumat pada Athar.
" Apa yang kau lihat!" sahut Athar merasa di tatap tajam.
" Bukannya tadi kau menyuruhku melihatmu," sahut Anna dengan berani.
" Apa katamu. Berani sekali kau memanggilku dengan sebutan kau. Aku atasanmu," sahut Athar naik pitam.
" Iya, pak," sahut Anna terpaksa memanggil dengan pak.
" Kemari kau," panggil Athar dengan jarinya agar Anna mendekat. Anna pun mendekat dengan dengan ragu-ragu.
__ADS_1
" Apa yang mau di lakukannya," batin Anna yang tampak panik.
" Tulis semua ini," Athar memukulkan telapak tangannya di atas kertas yang ada di atas meja dan Anna mengintip isi kertas hps itu.
" Apa ini?" tanya Anna heran.
" Baca, atau kau tidak bisa membaca," sahut Athar Anna pun mengambilnya.
...Disiplin dalam perusahaan....
...Tidak boleh telat....
...Tidak boleh kotor. Termasuk di dalamnya, rapi, bersih dan tidak membuang sampah sembarangan. Jaga kerapian dengan baik....
Tulisan itu membuat Anna pusing.
" Lalu?" tanya Anna heran.
" Tulis seperti itu. Supaya kau mengingatnya," ucap Athar menegaskan.
" Baiklah, di mana," sahut Anna. Athar pun mengambil tumpukan kertas hpd yang tebal dan memberi pada Anna.
" Tulis di sini," tegas Athar.
" Sebanyak ini," pekik Anna yang shock merasa tidak masuk akal.
" Iya, kenapa kau keberatan," sahut Athar menaikkan 1 alisnya.
" Tapi...
" Lakukan tanpa pakai tapi. Sebelum aku memberi pelajaran lebih banyak lagi," tegas Athar.
" Ya sudah," sahut Anna dengan lemas dan mau tidak mau harus melaksanakannya. Anna membalikkan tubuhnya yang ingin pergi
" Mau kemana kau?" tanya Athar dengan geram.
" Mau keluar, mau menulisnya," jawab Anna simpel.
" Kerjakan di sini!" perintah Athar.
" Di sini," sahut Anna.
" Iya," jawab Athar.
" Kenapa harus di sini?" tanya Anna heran.
" Jangan banyak bertanya lakukan saja, di sana kerjakan," ucap Athar menunjuk arah sofa.
" Cepat!" tegas Athar.
" Iya," sahut Anna yang mau tidak mau haru mengikuti Athar dan terpaksa melakukannya.
Athar menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan melihat Anna yang berjalan dengan lemas menuju sofa.
__ADS_1
" Tidak pernah beres dalam bekerja," ucap Athar kesal melihat Anna.
Bersambung