Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 170 Jahilnya Athar


__ADS_3

Anna langsung menuju kamarnya untuk memanggil Athar. Saat Anna membuka pintu kamar. Anna melihat Athar melihat-lihat Diary miliknya. Hal itu membuat Anna kaget.


" Apa yang kau lakukan," Anna langsung berlari menarik Diary itu dari Athar namun Athar langsung menjauhkan tangannya ke atas kepalanya.


" Kembalikan!!! kenapa membacanya?" tanya Anna dengan kesal yang berusaha untuk mengambilnya. Dan Athar terus menjauhkan dari Anna.


" Kenapa sepanik itu? memang ada sesuatu?" tanya Athar kembali.


" Diary itu privasi ku, kau sangat lancang membuka-bukanya. Kembalikan padaku!" ucap Anna berusaha menarik dari tangan Athar. Namun Athar tidak peduli dan tetap menjauhkan dari Anna.


" Athar sini! kau ini benar-benar!" sahut Anna kesal yang terus berusaha untuk mengambilnya.


" Aku tidak mau, ambil aja kalau bisa," sahut Athar sengaja membuat Anna marah.


" Iss, kau benar-benar, kembalikan tidak!" ucap Anna lagi yang berusaha menariknya. Namun Athar tetap tidak mau dan tangannya terus di angkatnya agar Anna tidak mendapatkannya.


" Issss, Athar sini!" geram Anna yang terus mengambil dari tangan Athar yang mana Athar sengaja mengerjainya.


Sampai Anna kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh di atas tubuh Athar yang mana Athar terbaring di atas ranjang dan Anna di atas tubuhnya yang masih tetap berusaha mengambil Diary tersebut dari tangan Athar yang berada di ujung kepalanya.


Anna tidak menyadari jika dia sudah menindih Athar. Sampai akhirnya matanya bertemu dengan Athar dengan wajah mereka yang saling berdekatan dengan jarak yang hanya beberapa cm saja.


Debaran jantung Anna tiba-tiba tidak normal seperti biasanya saat wajahnya dan Athar berdekatan dengan hembusan napas mereka yang saling menerpa.


" Kembalikan!" ucap Anna pelan.


" Kenapa harus aku kembalikan. Aku hanya ingin tau apakah ada lembaran yang menyangkut diriku di dalamnya," ucap Athar dengan suara seraknya yang menatap Anna dalam-dalam.


" Tidak ada sama sekali, jangan kegeeran,"' jawab Anna menegaskan.


" Lalu kenapa panik, biarkan aku membacanya. Agar aku tau kamu memmbohongiku atau tidak," sahut Athar menegaskan.


" Diary itu privasi ku, seharusnya kamu tidak perlu tau apa isinya. Lagian tidak tentangmu. i Diary itu cerita kesedihan yang tidak perlu kamu baca," ucap Anna menegaskan.


" Kalau begitu aku ingin mengetahui kesedihanmu," sahut Athar dengan menatap Anna dalam dan tangannya sebelah bahkan membelai rambut Anna yang masih basah.


" Tidak ada yang perlu kamu ketahui. Itu tidak penting," sahut Anna.


" Tapi bagiku itu penting, aku ingin ada di dalam kesedihanmu," ucap Athar yang barbicara begitu tulus. Anna kesulitan menelan salivanya dengan kata-kata Athar yang begitu lembut dan sangat dalam.

__ADS_1


Mereka malah saling menatap dengan begitu intens dengan debaran jantung yang tidak bisa di ucapkan sama sekali.


Namun dalam kesempatan itu Anna langsung menjalankan aksinya dengan mengambil Diary itu dari tangan Athar dengan mudah. Lalu langsung berdiri dari tubuh Athar.


" Aku mendapatkannya," sahut Anna merasa lega dan Athar berdecak kesal.


" Kau mengelabuiku," sahut Athar yang langsung duduk dengan wajahnya yang kesal.


" Tidak. Aku hanya mengambil milikku dan iya


Seharusnya kamu jangan memagang sesuatu yang bukan milikmu. Karena itu bukan hak mu dan satu lagi tidak ada tentang dirimu di sini," ucap Anna menegaskan.


" Aku hanya ingin melihatnya apa salahnya. Jika tidak ada seharunya tidak Pani," sahut Athar.


" Tetap tidak nisa. Yang penting ini bukan milikmu," sahut Anna menegaskan.


" Baiklah, aku minta maaf, aku tidak akan memegang barang-barang pribadimu," ucap Athar dengan mengulurkan tangannya untuk meminta maaf.


" Kenapa diam, kamu tidak memaafkanku, sampai tanganku di anggurin seperti ini," sahut Athar dengan menaikkan alisnya.


" Baiklah, aku memaafkanmu," sahut Anna dengan menyambut uluran tangan itu.


" Apa yang kau lakukan? lelaskan aku!" ucap Anna memberontak berusaha melepaskan diri dengan tangannya yang menekan dada Athar. Namun Athar melingkarkan ke-2 tangannya di pinggang Anna yang mengkunci Anna sehingga Anna tidak bisa bergerak sama sekali.


" Athar!" geram Anna yang kesulitan bernapas.


" Aku akan melepaskanmu. Tetapi jawab dulu 1 pertanyaanku," ucap Athar dengan menekankan.


" Apa itu?" tanya Anna heran dengan nada ketus. Athar pun tersenyum dengan kembali membelai-belai rambut Anna dan mengusap-usap pipi merah merona itu.


" Katakan padaku Anna, apa yang kamu pikirkan. Sampai kamu bisa menuliskan namaku di lembaran itu," ucap Athar.


" Apa maksudmu. Aku tidak mengerti," sahut Anna heran.


" Kamu mengerti apa maksudku," sahut Athar dengan suara seraknya berbicara.


" Lembaran apa?" tanya Anna dengan ketus.


" Aku menemukannya di dekat laptop mu," jawab Athar.

__ADS_1


" Aku tidak mengerti dan juga tidak tau apa yang kau maksud. Sudah lepaskan aku! ayo kita makan," sahut Anna kesal yang berusaha untuk bangkit kembali.


Namun Athar tetap tidak ingin melepaskannya dan malah mendekatkan wajahnya pada Anna.


" A-a-apa yang mau kamu lakukan?" tanya Anna gugup.


" Katakan kepadaku apa maksud tulisan itu?" tanya Athar yang masih butuh jawaban.


" Aku tidak sengaja menulisnya," jawab Anna.


" Benarkah!" tanya Athar tidak percaya dengan menaikkan 1 alisnya.


" Iya benar, masa iya aku bohong," sahut Anna.


" Apa aku harus percaya?" tanya Athar dengan semakin mendekatkan wajahnya pada Anna membuat Anna semakin gugup.


" Athar apa yang kau lakukan. Lepaskan aku!" ucap Anna.


" Menurutmu apa yang akan aku lakukan?" tanya Athar dengan menatap intens Anna. Bahkan jari Athar dengan berani mengusap bibir Anna membuat Anna panik dengan Athar yang semakin lama semakin dekat dengannya. Tatapan mata Athar juga membuatnya ingin berhenti bernyawa sekarang.


" Ya ampun tidak mungkin jika akhirnya dia akan melakukan itu," batin Anna yang menjadi panik dengan intensnya Athar kepadanya.


" Anna! Athar ayo makan!" tiba-tiba panggilan dari Anjali mmebuat Anna membuang napasnya perlahan yang merasa lega. Athar tersenyum melihat Anna yang tampak sepertinya begitu gugup sampai bernapas seperti itu.


" Ayo makan, jangan menertawakanku," ucap Anna. Athar pun akhirnya mengangguk. Dia tidak tega harus menggoda Anna terus menerus. Bisa-bisa wajah Anna akan semakin merah.


Anna pun perlahan bangkit dari tubuh Athar dan Athar tidak menahannya lagi. Sampai Anna akhirnya berhasil berdiri.


" Ayo keluar terlebih dahulu!" titah Anna.


" Kenapa?" tanya Athar.


" Aku mau menyimpan ini di tempat tersembunyi. Aku tidak mau kau melihatnya. Nanti kau akan mencurinya lagi," ucap Anna. Athar mendengus kasar. Lalu langsung berdiri.


" Baiklah, simpanlah di tempat yang aman," ucap Athar mengusap-usap pucuk kepala Anna dan lalu keluar dari kamar itu terlebih dahulu.


" Huhhhhhh, hampir saja jantungku copot karena perbuatannya," batin Anna mengusap-usap dadanya dan tersenyum tiba-tiba yang sepertinya Anna merasa begitu bahagia dengan manisnya perlakuan Athar kepadanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2