
Mereka yang sudah berada di dalam mobil lomusion. Merasa merasa jauh lebih tenang dan juga aman. Mobil Limosin hitam tersebut. Mereka bernapas lega. Yang mana mobil panjang itu cukup menampung mereka dan juga di setiri oleh supir dan satu bodyguard di samping supir dan beberapa mobil yang mengawasi mereka dari belakang.
Mereka masih berusaha menenangkan diri dan Lisa sedang tangannya di urut pelan Jennie yang sedari tadi Lisa mengeluh kesakitan.
" Ini sepertinya terkilir. Kita akan cari rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih baik," ucap Jennie memberi saran.
" Terserah yang penting tanganku tidak sakit seperti ini, aku mana bisa ngapain-ngapain kalau tanganku sakit seperti ini," sahut Lisa yang merengek.
" Sabar Lisa, makanya menyetir dengan benar," ucap Sana.
" Kamu pake nyalahin lagi," sahut Lisa semakin kesal.
" Aduh kenapa kalian jadi ribut. Sekarang yang penting kita bersyukur. Karena kita sudah selamat," sahut Olive.
" Siapa sebenarnya mereka?" tanya Anna. Jennie melihat Athar dan Athar seakan memberikan arahan dengan matanya. Agar Jennie tidak mengatakan apa-apa.
" Mereka yang pertama ingin menebas Anna dan kak Athar datang. Kak Athar bilang mereka perampok. Tapi kok sebanyak itu dan masih ngejar-ngejar aja. Apa mereka mengikuti kita sejak awal," ucap Olive yang penuh kebingungan dengan menduga-duga.
" Benar, siapa mereka sebenarnya," sahut Sana.
" Tidak ada yang tau apa tujuan mereka. Sudah jangan terlalu di pikirkan, biarkan saja semuanya seperti itu. Itu palingan bukan siapa-siapa dan lagi beberapa orang kami sudah mengejarnya. Jadi jangan mengkhawatirkan apa-apa, semuanya akan baik-baik saja," sahut Jennie.
" Aku dan Athar juga pernah di kejar sebelumnya dan bukannya Athar mengatakan saat kami tersesat di hutan dia juga mengatakan ada yang mengejar kami dan tadi leher ku hampir saja putus dan mereka juga mengejar kita. Apa justru aku yang sebenarnya yang mereka incar," batin Anna yang baru kepikiran dengan masalah itu yang sebelumnya tidak memikirkan apa-apa dan hanya santai-santai saja.
" Anna kamu kenapa?" tanya Sana yang melihat temannya bengong.
" Aku tidak apa-apa. Aku hanya kepikiran saja. Apa mereka akan mengejar kita lagi," sahut Anna yang jujur begitu ketakutan.
" Tidak akan. Mereka tidak akan mengejar lagi. Jadi kalian jangan memikirkan apa-apa. Kita akan sampai Jakarta dengan selamat. Mereka hanya rampok saja," sahut Jennie yang memastikan.
" Syukurlah kalau begitu," sahut Sana yang merasa lega.
" Hmmmm, ngomong-ngomong kak Jennie kok bisa ada di sini?" tanya Olive heran. Jennie melihat ke arah Athar lagi.
" Sudah jangan di bahas lagi. Nggak akan ada siap-siapnya," sahut Athar yang tidak mau yang lainnya memikirkan apa-apa lagi. Apalagi harus membahas yang itu-itu lagi.
Olive, Anna, Lisa dan Sana pun diam dan tidak bertanya lagi. Yang penting mereka sudah selamat.
__ADS_1
***********
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Luka di tangan Lisa cukup serius dan di tangani oleh dokter yang di temani Olive dan Sana. Sementara Athar juga berbicara serius dengan Jennie di luar rumah sakit.
" Apa mereka tertangkap?" tanya Athar.
" Belum ada laporan sama sekali. 1 aja tertangkap, kita akan tau siapa mereka sebenarnya dan dalangnya siapa dan apa tujuannya untuk mencelakai Anna," jawab Jennie.
" Mereka harus tertangkap. Biar kejadian ini tidak terulang lagi," ucap Athar.
" Athar apa kamu punya punya firasat siapa orang yang mencelakainya?" tanya Jennie.
" Aku merasa itu perbuatan Pak Chandra!" ucap Athar yang menduga-duga.
" Apa! pak Chandra, orang tua Anna," sahut Jennie. Athar mengangguk.
" Tapi itu tidak mungkin Athar. Walau dia dan Anna saling membenci mana mungkin dia ingin mencelakai putrinya sendiri apa lagi hendak membunuh," sahut Jennie merasa mustahil.
" Aku hanya menduga saja aku juga tidak tau siapa yang jelasnya orangnya," sahut Athar yang sebenarnya juga merasa tidak mungkin. Tetapi karena pernah melihat Anna di sekap dan lain sebagainya. Hal itu membuat Athar mengarah kepada Chandra.
" Aku akan selidiki terus dan aku rasa Chandra tidak mungkin melakukan itu," sahut Jennie yang memang merasa tidak mungkin.
" Ini!" ucap Jennie tiba-tiba yang memberikan kotak obat pada Athar.
" Untuk apa ini?" tanya Athar heran.
" Aku ingin melihat kondisi Lisa. Keningnya berdarah. Kamu saja yang memberikan ini padanya," sahut Jennie yang langsung pergi dengan memberikan kotak obat itu begitu saja. Jennie memang begitu baik bisa aja memberikan moment dalam kesempatan kecil.
Athar melihat kotak obat itu dan kembali melihat ke arah Anna. Olive langsung menghampiri Anna yang duduk termenung. Anna langsung duduk di samping Anna yang masih menutup wajahnya.
" Ehem," Athar berdehem membuat Anna tersentak kaget dan langsung melihat ke arah Athar.
" Kau mengagetkanku," ucap Anna memegang dadanya dengan melihat kearah Athar langsung memegang pundaknya untuk mengarahkan Anna ke depannya.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Anna heran.
" Diamlah!" sahut Athar. Yang membuka kotak obat itu dan mengambil alkohol dan langsung meneteskan pada kapas dan mengolesi pada dahi Anna yang berdarah.
__ADS_1
" Auhhhhh!" lirih Anna merasa perih. " Kau membalasku," ucap Anna dengan kesal.
" Tidak ada yang membalasmu. Jadi diam lah, aku hanya ingin mengobati lukamu," sahut Athar.
Anna pun langsung diam dan membiarkan saja apa yang di lakukan Athar yang benar-benar mengobatinya dengan lembut.
Mata Anna turun pada tangan Athar yang masih di perban.
" Tanganmu tidak apa-apa?" tanya Anna tiba-tiba membuat Athar melihatnya.
" Tidak apa-apa," jawab Athar.
" Maaf itu salahku," sahut Anna yang merasa bersalah, " terima kasih sudah, sudah, sudah membantuku," ucap Anna yang gengsinya memang hilang untuk mengucapkan kata terima kasih. Athar tidak menanggapi dan merekatkan perban pada dahi Anna.
" Sudah selesai," ucap Athar.
" Makasih," sahut Anna yang sudah begitu biasa mengucapkan terima kasih. Athar hanya mengangguk.
" Apa mereka mengincarku?tanya Anna dengan pelan membuat Athar kembali melihatnya dengan serius.
" Jika kau merasa tidak punya musuh. Lalu kenapa berpikiran seperti itu," sahut Athar.
" Benar sih, jangan-jangan kau lagi yang mereka incar. Bukannya kam
kau itu menyebalkan dan suka-suka bertindak pada orang lain. Jadi pasti kau yang mereka incar," ucap Anna.
" Kalaupun iya itu pasti suruhanmu," sahut Athar membuat Anna mengkerut.
" Kok gitu?" tanya Anna.
" Bukannya kamu yang selalu menginginkan aku mati," sahut Athar menyindir.
" Issss, tapi aku mana mungkin menyuruh mereka. Kamu pikir aku sekaya itu apa. Aku mana ada uang untuk membayar mereka," sahut Anna.
" Ya aku percaya itu. Karena kamu memang mana mungkin mempunyai uang," sahut Athar dengan santai.
Anna hanya berdecak kesal mendengarnya.
__ADS_1
" Kau ini selalu saja meremehkanku," sahut Anna yang kembali kesal. Athar mendengarnya hanya mendengus kasar.
Bersambung