
Di dalam ruangan Athar terlihat begitu sepi. Tidak ada yang masuk sejak tadi yang mungkin memang orang-orang berpikir jika Athar sedang tidak ada di kantor dan Jennie sendiri juga tadi mengatakan jika ada sesuatu di berikan saja kepadanya. Karena Athar sedang tidak enak badan. Makanya ruangan itu tidak di ketuk atau di lihat sama sekali. Yang mana ruangan itu sudah tertutup.
Padahal di dalam ada Anna dan Athar. Di mana Athar tetap pada posisinya yang tertidur dan Anna ternyata yang mendesain duduk di lantai yang mengerjakan pekerjaannya di atas meja di dekat Athar.
Tetapi ternyata Anna malah ternyata ikut-ikutan tertidur. Di mana Anna yang tertidur di atas desainnya dengan sebelah pipinya yang menempel di atas desain yang sudah di kerjakannya dengan alat seadanya. Mungkin karena cuaca mendukung dan lain sebagainnya jadi membuat Anna mengantuk dan ikut-ikutan tidur bersama Athar.
" Mahhh. Mama, mama jangan pergi! jangan pergi! tolong tetap di sini! Aku mohon! jangan pergi!" Athar dalam tidurnya kembali bermimpi buruk dengan kepalanya yang menggeleng kekanan dan kekiri memanggil-manggil nama sang mama.
" Mama tetap di sini, aku mohon mah," ucap Athar dengan suara beratnya. Suara Athar lumayan terdengar kuat. Sehingga membuat Anna tersentak kaget. Anna membuka matanya perlahan dan melihat kedepan, melihat ke arah Athar.
Anna yang tetap dalam posisinya melihat Athar yang memanggil nama mamanya dengan gelisah. Anna tetap terdiam dan melihat dengan dalam Pria yang tidak jauh darinya itu, menatap dengan dalam-dalam.
" Apa dia bermimpi buruk lagi," batin Anna.
" Apa yang di mimpikannya. Kenapa terus memanggil mamanya. Memang mamanya kemana. Apa yang terjadi padanya. Apa ada sesuatu antara dia dan mamanya. Olive mengatakan mamanya Athar tidak tau di mana," batin Anna bertanya-tanya di dalam hatinya yang terus menerus melihat Athar.
" Mama, mama, jangan pergi! Jangan!" ucap Athar lagi.
Anna menghembuskan napasnya panjang lalu menegakkan dirinya dan langsung berjalan mendekati Athar. Anna berjongkok di samping Athar melihat wajah itu sudah pucat dan bahkan berkeringat di dahinya. Athar begitu gelisah memanggil mamanya.
" Athar! Athar bangun!" ucap Anna yang mencoba membangunkan Athar.
Anna memegang lengan Athar. Saat memegangnya membuat Anna kaget dengan panasnya tubuh Athar. Padahal Athar memakai kemeja. Tetapi tangan itu sangat terasa panas.
__ADS_1
Dengan panik Anna memegang kening Athar tangannya sampai kebakar dengan tubuh Athar yang benar-benar begitu panas.
" Astaga kamu kenapa panas sekali, apa kamu demam," ucap Anna yang benar-benar kepanikan dengan kondisi Athar. Anna berdiri dan berlari ke depan pintu.
" Tolong di sini ada orang, tolong buka pintunya di sini ada yang sakit! bos kalian sedang sakit di sini. Jadi tolong buka pintunya!" teriak Anna yang menggedor-gedor pintu. Saking paniknya dengan kondisi Athar makanya dia sampai seperti itu.
" Kenapa tidak ada orang? Kemana orang di perusahaan ini," gumam Anna dengan kesal. Anna melihat kebelakang nya dan melihat ke dingding perusahan yang berdinding kaca yang ternyata sudah malam. Anna melihat j di tangannya yang mana sudah pukul 9 malam.
" Astaga aku ketiduran. Ini sudah malam ternyata," ucapnya menepuk jidatnya.
" Bagaimana ini, mana mungkin ada orang lagi," gumam Anna panik dengan menggigit ujung kukunya. Melihat Athar yang terus mengigau membuat Anna semakin panik.
Anna kembali ke pada Athar duduk di samping Athar memegang kembali dahi Athar.
Anna bangkit dari tempat duduknya langsung berjalan cepat ke arah meja yang ada di sudut ruangan. Anna ternyata melihat kotak obat di sana. Anna pernah menyentuhnya. Jadi Anna tau di mana letakkannya. Kotak obat itu tampak besar dan membuat Anna mencari-cari apa yang ingin di carinya.
Karena kesulitan Anna akhirnya menumpahkan kotak obat itu dan semua obatnya berserakan di lantai. Lalu Anna langsung mencari apa yang ingin di carinya dan akhirnya di temukannya di mana dia mendapat plaster kompres panas.
Untung saja memang ada kotak obat di ruangan Athar lengkap. Jadi sangat bertepatan dengan sakitnya Athar. Anna langsung berlari kucar-kacir mendekati Athar duduk di samping Athar dan langsung mengkompres Athar.
" Semoga ini bisa membantu menurunkan panasnya," batin Anna berharap banyak.
Tidak hanya itu Anna membuka sepatu Athar dan juga kaos kakinya. Selain itu Anna juga melonggarkan dasi Athar dengan perlahan. Membuka kancing bagian atas kemeja Athar agar Athar tidak merasa sesak. 3 kancing bagian atas terbuka untuk keluarnya udara panas dari dalam tubuh itu.
__ADS_1
Beberapa kali Anna memegang wajah Athar dengan punggung tangannya untuk mengecek panas tubuh Athar. Athar tetap saja mengigau memanggil-manggil nama mamanya. Anna tidak tau apa lagi yang harus di lakukannya. Yang adanya dia semakin panik.
Anna berdiri dan kembali menuju tempat obat yang berserakan di lantai. Anna duduk dan mencari-cari obat.
" Bukannya tadi dia mengatakan sakit kepala. Jadi mungkin dia memang sakit kepala dan makanya berpengaruh pada tubuhnya sehingga dia menjadi panas," gumam Anna yang mengambil obat sakit kepala.
Anna berkeliling melihat di sekitar ruangan itu. Matanya berhenti pada botol air mineral. Anna berdiri dan mengambilnya. Lalu kembali ketempat Athar.
Anna duduk kembali di samping Athar. Anna mengangkat sedikit kepala Athar dan memasukkan 1 butir pil kedalam mulut Athar. Lalu memberi Athar minum dengan perlahan dan syukur-syukur Athar sangat mudah menelannya.
" Semoga saja ini membuat kamu jauh lebih baik," batin Anna yang penuh harapan.
Athar memang terlihat sudah tidak memanggil nama sang mama lagi. Dia sudah sedikit tenang.
" Di luar masih hujan. Kami masih terkunci Bagaimana ini. Bagaimana jika kondisinya tidak membaik. Lalu dia mati tiba-tiba. Aku bisa menjadi tersangka pembunuhan mana mungkin aku meloncat dari sana untuk kabur yang ada aku juga mati dan kamu juga bisa bertemu di alam lain. Di dunia aja dia sangat menyebalkan apalagi di alam sana pasti lebih parah. Mungkin dia berubah menjadi pria yang memiliki tanduk dua, mata merah dan wajah putih lalu gigi bertaring. Ihhhhhh menyeramkan," ucap Anna yang pikirannya sudah kemana-mana.
Khayalannya memang sangat jauh. Makanya dia seperti itu yang apa-apa pikirannya sudah begitu buruk.
" Hey, kau cepatlah bangun jangan tidur terus kau tidak kasihan melihatku. Kau terus saja menindasku. Lihatlah aku. Aku begitu tertekan, hey bangun," ucap Anna dengan menatap wajah Athar kesal.
Melihat wajah Athar yang berkeringat membuat tangan Anna dengan perlahan mengusap keringat itu. Tiba-tiba ada perasaan simpatik dari dalam diri Anna. Tidak tau apa. Tetapi perasaan itu seperti iba. Anna iba dengan orang lain dia tidak tau saja bagaimana dirinya sendiri yang nasibnya jauh lebih parah.
Bersambung
__ADS_1