
Mahenndra terus menjaga Jennie dengan memeluk tubuh yang kedinginan itu. Mahenndra tidak tidur dan begitu setia menemani Jennie. Mungkin saja yang lain mencari Mahendra. Tetapi rasa Mahendra tidak karena belum ada yang menelponnya. Jika Bu Maya membutuhkannya pasti menghubunginya.
"Mahenndra!" tiba-tiba Jennie mengeluarkan suara membuat Mahendra melihatnya.
"Ada apa Jennie?" tanya Mahendra.
"Kenapa terus di sini. Aku sudah tidak apa-apa," ucap Jennie.
"Kamu masih sakit dan aku tidak akan membiarkanmu sendirian," jawab Mahendra.
"Nanti ada yang mencarimu. Jadi biarkan aku sendiri. Aku sudah merasa lebih baik," ucap Jennie.
"Tidak ada yang mencariku. Jangan khawatir. Aku akan terus di sini sampai kamu benar-benar baik-baik saja," ucap Mahendra.
"Mahenndra boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?" ucap Jennie.
"Katakan apa yang ingin kau katakan?" tanya Mahendra. Jennie mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Mahendra yang memeluk dirinya di mana Mahendra juga melihat wajah Jennie yang terlihat begitu lemas.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Mahendra lagi.
"Kenapa sangat mencintaiku. Padahal aku sudah menyakitimu. Aku membatalkan pernikahan kita. Bukannya seharusnya kamu membenciku. Lalu kenapa masih tetap mencintaiku," ucap Jennie.
"Aku tidak mungkin membencimu. Hanya karena kamu pergi dengan alasan yang tidak masuk akal dan alasan itu juga membuatku tidak bisa tidak mencintaimu sampai detik ini. Jadi aku tidak akan pernah berhenti mencintaiku. Karena aku tidak punya alasan itu," ucap Mahendra yang berbicara tulus menatap dalam-dalam mata Jennie.
"Lalu sampai kapan Mahendra?" tanya Jennie.
"Tidak ada batas waktu Jennie. Tidak akan ada sama sekali," jawab Mahendra.
"Mahendra kamu berhak untuk bahagia. Jangan membuang waktu untukku yang hanya bisa menyakitimu. Kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik di bandingkan aku. Banyak yang menyukaimu dan sangat menginginkanmu. Jadi jangan sia-siakan semuanya," ucap Jennie.
"Mencintaimu bukan hal yang harus di sia-siakan. Jadi apa yang aku jalani, aku tau mana yang terbaik. Aku tidak bisa membuka hati dengan wanita lain. Karena masih ada kamu di hatiku dan itu akan selamanya ada. Aku mencintaimu Jennie sangat mencintaimu," ucap Mahendra dengan yakin sembari mengusap pipi Jennie dengan lembut dengan pandangan matanya yang tidak berkedip untuk tidak melihat mata Jennie yang sayu.
Mahenndra memposisikan tubuh Jennie yang sekarang sudah berada di bawahnya dengan Mahendra menindihnya dengan wajah mereka yang saling berdekatan dan mata saling menatap.
Mahenndra meraih tangan Jennie. Melettakkan telapak tangan itu di dadanya.
"Kau bisa mendengarkan debaran jantungku dan ini yang aku rasakan setiap kali di dekatmu. Aku mencintaimu Jennie sangat mencintaimu dan aku membuktikan itu kepadamu. Jika aku tidak menyukai siapapun. Tidak Olive atau Aurelia aku hanya menginginkanmu. Aku bertahan dengan ikut terus bersama Bu Maya. Karena supaya bisa terus memantau mu. Aku meninggalkan keluargaku dan kepemimpinan ku untuk bisa kembali bersamamu. Semua kulakukan untukmu Jennie. Jadi tolong biarkan aku terus di sisimu. Biarkan aku mengembalikan perasaan mu yang sudah memudar dari ku," ucap Mahendra dengan tulus yang bicara kepada Jennie.
"Mahendra maafkan aku. Aku sudah membuatmu begitu terluka. Tetapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Maafkan aku Mahendra," batin Jennie dengan air matanya yang menetes dan Mahendra langsung menyekanya dan mencium lembut pipi Jennie.
Mahenndra seolah tau apa yang di sembunyikan Jennie dan pasti hal besar yang memicu hubungan mereka berakhir dengan sia-sia.
Mahendra tidak hanya mencium pipi Jennie. Bahkan mencium bibir Jennie. Tidak ada penolakan dari Jennie menerima ciuman itu dengan matanya yang terpejam dengan ke-2 tangannya yang memegang kuat lengan berotot Mahendra.
Ciuman yang semakin dalam yang saling menuntun yang menggambarkan perasaan mereka yang memang masih saling mencintai. Namun masih ada yang menghalangi yang berusaha untuk di cari tahu Mahendra apa yang terjadi sebenarnya.
Namun dengan ciuman yang di terima Jennie sudah menggambarkan perasaannya Jennie yang juga pasti mencintai Mahendra.
**********
Olive masih mencari-cari di Mahendra dan Olive yang mencari Mahendra berpapasan dengan Aurelia yang membuat langkah mereka sama-sama berhenti.
"Jangan-jangan dia mau mencari kak Mahendra juga lagi," batin Olive melihat Aurelia dengan tatapan yang tidak suka.
" Mau kemana Olive. Untuk apa dia membawa makanan itu. Apa dia ingin memberikannya kepada Mahendra dan iya. Aku tidak menemukan Mahendra. Di mana Mahendra. Kenapa aku tidak menemukan dirinya," batin Aurelia.
"Apa lihat-lihat," ucap Olive dengan ketus.
"Siapa juga yang melihatmu dasar kepedean," sahut Aurelia dengan sinis.
"Issss, wanita aneh," umpat Olive dengan kesal.
"Dari pada kau anak kecil yang kecentilan," sahut Aurelia tidak kalah mengejek Olive.
"Kau mengataiku," ucap Olive dengan kesal.
"Lalu kenapa. Memang itu kenyataannya. Olive kau seharusnya sadar diri Mahendra itu tidak menyukaimu, dia tidak suka dengan wanita yang kecentilan sepertimu," ucap Aurelia dengan sinis.
__ADS_1
"Kau berani sekali kau mengataiku. Kau itu seharusnya juga sadar. Jika kak Mahendra juga tidak mungkin menyukai wanita seperti mu. Alhamdulillah untung saja kak Athar tidak jadi memilihmu. Aku tidak sudi kau menjadi iparku dan semoga saja tidak ada satupun kakak ku yang suka dengamu," ucap Olive dengan sumpah serakahnya.
"Eh siapa juga yang menyukai kakak mu. Tipe ku bukan mereka. Jadi kau jangan khawatir," ucap Aurelia.
"Oh bagus kalau begitu. Issss menghabiskan waktu saja dengan wanita sepertimu. Lebih baik aku pergi. Bye,"ucap Olive yang langsung pergi dari hadapan Aurelia yang sangat menyebalkan baginya.
"Huhhhhh, pergi aja sana. Jangan harap Mahendra menyukaimu. Dia hanya akan menjadi milikku. Kau itu tidak pantas untuknya dan iya aku juga tidak sudi menyukai kakak-kakak mu itu," teriak Aurelia dengan kekesalannya berteriak pada Olive yang semakin jauh berjalan.
Suara Aurelia yang berteriak-teriak itu ternyata di dengarkan Derry yang berada di balik Villar. Derry mendengus kasar dengan tersenyum getir. Kepalanya geleng-geleng. Lalu pergi dari tempat itu.
Semakin lama Derry semakin mengetahui sifat Aurelia yang memang seperti itulah Aurelia yang tidak pernah sadar siapa yang sebenarnya yang mencintainya dengan ketulusan.
Olive yang dengan kekesalannya melewati salah satu kamar yang kebetulan seseorang dari dalam kamar ke luar dari ruangan itu.
"Kak Mahendra," ucap Olive kaget melihat Mahendra.
"Olive," sapa Mahendra yang mendadak gugup.
"Kakak ngapain. Kok keluar dari kamar kak Jennie?" tanya Olive heran yang mengetahui jika itu adalah kamar Jennie.
"Oh, itu, itu hanya, hanya," Mahendra gugup yang tidak tau harus menjawab apa. Dia panik dan cemas. Apa lagi Olive terlihat sangat menunggu jawaban darinya.
"Hanya apa kak?" tanya Olive penasaran.
"Kami sedang menandatangani berkas. Itu saja. Ya sudah kakak pergi dulu," jawab Mahendra dengan cepat dengan alasan yang mungkin rasanya sudah tepat. Mahendra pun langsung pergi dari hadapan Aurelia dengan menghela napasnya yang lumayan lega.
"Kak tunggu?" panggil Olive membuat langkah Mahendra terhenti.
"Iya ada apa Olive?" tanya Mahendra.
"Ini untuk kakak. Aku meyidahkannya untuk kakak," ucap Olive memberikan ikan bakar yang sejak tadi di pegangnya.
"Seharusnya kamu tidak repot-repot Olive," ucap Mahendra.
"Tidak kok kak," sahut Olive
"Tapi kok aneh. Harus menandatangani di dalam kamar," batin Olive yang merasa ada yang aneh.
"Ahhhh, sudahlah masa bodoh mengurusi hal itu," batin Olive yang tidak mau pusing dan dia juga meninggalkan tempat itu yang penting dia sudah memberikan apa yang di simpannya untuk Mahendra.
**********
Anna dan Athar masih berdua pacaran yang sekarang Athar memeluknya dari belakang yang mana mereka duduk di ujung kapal dengan melihat lautan yang indah. Anna begitu bahagia dengan berada di pangkuan kekasihnya di tempat yang menurutnya sangat romantis.
"Anna kamu tau tidak ini hari apa?" tanya Athar dengan pipinya yang menempel pada pipi Anna.
"Hari Sabtu," jawab Anna.
"Aku tau. Tetapi kamu tau ini adalah hari special," ucap Athar.
Anna mengkerutkan dahinya bingung mendengarnya, " Memang ini hari apa? apa yang special di hari ini?" tanya Anna heran
tanya Anna heran.
" Kamu sungguh tidak tau?" tanya Athar.
"Tidak aku tidak tau," jawab Anna.
"Anna ini adalah hari satu tahun kita jadian. Masa iya kamu melupakannya," ucap Athar membuat Anna menoleh ke arah Athar dan melihat Athar dengan serius.
"Sungguh?" tanya Anna yang tidak percaya dengan Athar.
"Iya sayang kamu lupa. Kalau hubungan kita tidak terasa sudah 1 tahun berjalan," ucap Athar.
"Aku mengingatnya. Tetapi aku tidak percaya jika kamu ternyata mengingatnya. Ini adalah di mana malam kamu menyatakan perasaanmu kepadaku saat itu," ucap Anna yang ternyata mengingatnya yang mana dia hanya menguji Athar saja.
Athar meraih tangan Anna dan mencium lembut telapak tangan itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu. Aku ingin kamu tetap di sisiku dan jangan pernah pergi dariku apapun yang terjadi. Aku ingin hubungan kita tetap terus ada. Kamu Anna yang sudah merubah hidupku yang membuatku sangat bahagia," ucap Athar yang bicara lembut dengan menatap Anna dengan penuh cinta.
"Aku juga mencintaimu dan keinginanmu sama dengan keinginan ku," ucap Anna dengan tersenyum membuat Athar juga tersenyum.
Tiba-tiba Anna mengkerutkan dahinya yang sepertinya memikirkan sesuatu. Lalu langsung menghadap Athar.
"Tunggu dulu. Kamu bilang kamu ingin hubungan kita terus seperti ini," ucap Anna. Athar menganggukkan kepalanya.
"Hanya seperti ini saja?" tanya Anna.
Athar mengkerutkan dahinya bingung degan kata-kata Anna.
"Maksudnya?" tanya Athar.
"Athar Gibran dan Sana itu baru bertemu dan bahkan mereka tidak pacaran sama sekali dan tau-tau Gibran sudah langsung melamar Sana begitu dan kita sudah berpacaran dan bari Aniversarry dan kamu tidak ada gitu mengikuti jejaknya Gibran," tanya Anna yang seperti kode-kode. Membuat Athar hanya tersenyum.
"Jangan hanya senyum-senyum saja. Jawab aku," ucap Anna serius.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan," sahut Athar yang pura-pura bodoh.
"Issssss, jelas-jelas apa yang aku katakan itu mengenai hubungan kita. Masa iya kamu hanya bilang hubungan kita terus seperti ini. Apa tidak ada rencana untuk menikah," ucap Anna membuat Athar mendengus dengan tersenyum.
"Jadi kesimpulannya. Kamu ingin menikah?" tanya Athar sembari mengusap-usap pipi Anna.
"Memang ada yang tidak mau menikah setelah di pacari," sahut Anna kesal.
"Memang sudah siapa untuk menikah denganku?" tanya Athar.
"Ya siaplah," sahut Anna dengan cepat. Athar mendekatkan dirinya kepada Anna dengan menatap dalam-dalam Anna.
"Siapa untuk dalam hal apa?" tanya Athar. Membuat Anna melihat ke arahnya dengan tatapan Anna yang bingung.
"Memang kalau menikah harus banyak hal yang di lakukan?" tanya Anna balik.
Athar menganggukkan kepalanya, "yang paling utama itu adalah melayani suami dengan baik," ucap Athar.
"Harus bisa bersih-bersih, memasak itu maksudnya?" tanya Anna yang sepengatahuannya seorang istri itu hanya melakukan kewajiban itu saja.
"Hal itu aku tidak mempermasalahkannya. Karena bagiku seorang istri adalah istri bukan pembantu. Dan lagian aku sudah tau itu kekuranganmu jadi mana mungkin aku berharap itu darimu," ucap Athar.
"Issss mulai lagi deh menjelek-jelekkanku," sahut Anna mulai cemberut.
"Bukan menjelekkan Anna," ucap Athar.
"Ya sudah katakan apa yang paling utama dalam tugas menjadi istri," sahut Anna yang sepertinya sudah tidak sabar mendengarnya.
"Melayani suami di atas ranjang. Karena aku pasti selalu menginginkanmu," ucap Athar dengan suara seraknya. Membuat Anna melotot dengan dengan menelan salivanya dan reflek mendorong Athar.
"Dasar mesum!" pekik Anna yang langsung kesal pada Athar, "isssss aku tidak jadi mau menikah denganmu. Kau itu selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan," umpat Anna dengan kekesalanya yang marah langsung dengan Athar. Athar hanya tersenyum melihat Anna yang sudah kembali mengoceh.
"Bisa-bisanya kau tertawa seperti itu. Sangat menyebalkan," umpat Anna emosi yang langsung berdiri ingin pergi meninggalkan Athar. Namun Athar menarik tangannya dan membuat Anna jatuh kepangkuannya dengan wajah mereka yang berdekatan dan bahkan hidung yang saling bersentuhan.
Mata ke-2nya saling beradu pandang dengan tatapan mata yang penuh dengan cinta dengan jantung yang di pastikan pasti sama-samain saling bergetar.
"Selalu saja mengerjaiku," ucap Anna dengan kesal.
Athar tersenyum dengan mengecup bibir Anna dan melepasnya kembali.
"Aku akan menikahimu Anna! tetapi ini belum waktunya," ucap Athar dengan suara seraknya dan Anna masih terdiam dengan menatap Athar dalam-dalam.
"Apa kamu bisa menungguku?" tanya Athar.
"Aku pasti menunggumu Athar. Hidupku hanya ada kamu," sahut Anna membuat Athar tersenyum dan langsung meraih bibir Anna dan menciumnya dengan dalam dengan memegang ke-2 pipi Anna.
Tangan Anna memegang erat kemeja Athar dengan matanya yang terpejam sama dengan Athar matanya juga terpejam dengan ciuman mereka yang semakin dalam dan semakin menuntut.
Mungkin Athar belum siap untuk menikah. Karena ada alasan baginya. Lagian Anna juga masih punya kakak yang juga mana mungkin di langkahinya. Mereka berdua masih sangat menikmati hubungan pacaran mereka. Walau Anna mungkin sudah mulai merasa punya keinginan dalam pernikahan tersebut apa lagi melihat temannya yang di lamar itu baginya sangat romantis sekali.
__ADS_1
Bersambung