Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 41 Pemanpaatan yang tepat


__ADS_3

Anna menikmati makan siang di kantin Perusahaan. Jika ada yang gratis untuk apa dia harus mengeluarkan biaya. Lagian uanganya juga tidak banyak. Jadi Anna memang harus pintar-pintar untuk berhemat.


" Anna!" sahut Lisa yang mendatangi Anna dengan membawa nampannya yang berisi makanan.


" Hay," sapa Anna tampak biasa dan langsung makan begitu saja.


" Kamu kenapa sih kekantin selalu sendirian. Memang kamu tidak ada temannya?" tanya Lisa menebak-nebak.


" Hahahaha, kamu kali yang nggak ada teman. Aku mah banyak. Hanya saja perut orang beda-beda. Lapar mereka tidak sama denganku. Jadi makanya aku makannya sendirian karena mereka masih sibuk kerja dan tidak peduli makan," jawab Anna dengan santai yang sudah mengunyah makanannya.


" Iya deh," sahut Lisa." Hmmm bye the aku belum ucapin selamat untuk kamu," ucap Lisa menjulurkan tangannya. Anna kebingungan dengan Lisa yang memberinya selamat. Sehingga masih membiarkan tangan Lisa. seperti itu.


" Ishhh, Anna!" geram Lisa yang mengambil tangan Anna sendiri, " selamat kamu masuk tahap 20," ucap Lisa dengan tersenyum lebar.


" Iya, deh, makasih, di kirain selamat apaan," sahut Anna tampak biasa aja.


" Ya apalagi kalau bukan itu. Aku mau bilang kamu itu keren," ucap Lisa mengacungkan 2 jempolnya untuk Anna.


" Kamu bisa aja," sahut Lisa.


" Anna. Kamu tau tidak desain kamu itu unik banget dan orang-orang banyak penasaran dan aku tidak menyangka karyawan baru seperti kamu bersaing dengan karyawan-karyawan yang hebat-hebat lainnya. Apa lagi Aurelia," ucap Lisa. Mendengar nama Aurelia membuat Anna melihat serius kearah Lisa.


" Dia karyawan di sini juga?" tanya Anna yang begitu penasaran.


" Ya nggaklah. Dia itu anak Pengusaha. Masa iya bekerja sebagai karyawan. Masa kamu tidak mengenalnya," ucap Lisa.


" Tidak aku tidak mengenalnya," sahut Anna dengan santai sambil mengunyah makanannya yang tidak menganggap Aurelia adalah kakaknya.


" Dia itu anak tuan Chandra. Seorang Pengusaha Forniture Dan dia itu adalah tungannya bos Athar," jelas Lisa membuat Anna kaget dan melihat Lisa dengan serius lagi.


" Jadi dia tungannya. Pantesan tadi seperti itu dengan manusia itu. Benar kata orang jodoh cerminan diri dan mereka benar-benar berjodoh. Sangat setipe sih. Sama-sama menyebalkan dan pada sok tau. Memang cocok," batin Anna yang kesal sendiri di dalam hatinya.


" Anna. Kamu jangan khawatir walau dia tunangan bos Athar. Belum tentu dia menang dan aku akan mendukungmu 100 persen," ucap Lisa yang memberi semangat. Anna tersenyum tipis mendengarnya.


" Sudahlah Lisa, kamu jangan bercerita terus. Ayo kamu makan. Nanti makanan mu dingin. Jadi tidak enak lagi," ucap Anna mengingatkan.


" Oke," sahut Lisa yang akhirnya menikmati makannya.


************


Anna pulang seperti biasa di sore hari. Namun saat di jalan. Tiba-tiba ada masalah dengan motornya yang membuatnya harus berhenti di pinggir jalan.


" Astaga, kenapa lagi sih ini," gerutu Anna yang turun dari motornya yang tiba-tiba mesinnya mati. Anna mengecek bensinnya.


" Masih ada kok. Tapi kok mati ya. Aduh bisa bermasalah ini kalau sampai motorku mati," oceh Anna menggaruk-garuk kepalanya yang mulai steres.

__ADS_1


Di tengah kebingungan Anna dengan motornya yang rusak. Tiba-tiba mobil berhenti di dekatnya dan sang pengemudinya langsung keluar dari dalam mobil.


" Anna!" panggil Marko yang ternyata pemilik mobil itu.


" Dia, kenapa dia ada di sini," batin Anna.


" Kamu ngapain, kok berhenti di pinggir jalan?" tanya Marko.


" Ya apa lagi kalau bukan karena ini," jawab Anna dengan wajah kesalnya.


" Kenapa motor kamu?" tanya Marko heran.


" Nggak tau nih, bikin ulah aja," jawab Anna.


" Ya sudah biar aku antar kamu pulang," sahut Marko memberi tawaran.


" Pulang, lalu motorku bagaimana. Di tinggal. Yang ada aku yang akan di ambil maling," sahut Anna merasa ide Marko sangat buruk.


" Ya nggak di tinggal juga Anna, aku telpon bengkel. Nanti biar bengkel yang ambil," ucap Marko.


" Bukannya bengkel orang kaya itu mahal ya. Mau dapat uang dari mana," batin Anna.


" Anna!" tegur Marko melambai di depan Anna.


" Hah!" sahut Anna kaget.


" Ehmmm, gini ya Pak Marko yang baik hati dan sangat berwibawa," ucap Anna memuji Marko membuat Marko langsung melayang-layang dan gayanya semakin di tambah-tambah.


" Kan saya baru nih jadi karyawan, saya belum gajian. Jadi bagaimana kalau Pak Marko yang sangat tampan ini, mendahulukan uangnya untuk biaya motor saya dulu. Nanti kalau saya gajian kita hitung-hitungan," sahut Anna yang mencoba merayu Marko.


" Ahhhhh, kamu ini bisa saja Anna. Jangan pikirkan masalah itu santai aja. Bukannya kita berdua ini bestie," sahut Marko tampak selow.


" Apa itu artinya bisa," sahut Anna memastikan.


" Sudah aman, ayo sekarang aku antar kamu pulang. Motor kamu akan beres," sahut Marko. Anna langsung tersenyum lebar mendengarnya.


" Oke kalau begitu, capcus," sahut Anna yang bertambah semangat. Marko dan Anna pun akhirnya pergi. Ya Anna harus pintar-pintar mendapat kesempatan untuk dalam masa penghematan uang.


**********


Setelah melakukan perjalanan yang tidak terlalu jauh. Anna dan Marko pun sampai. Ke-2 orang itu pun turun bersamaan dari mobil.


" Kamu tinggal di sini?" tanya Marko melihat-lihat ke sekitar Perumahan.


" Ya kalau turunnya di sini berarti saya tinggal di sini," jawab Anna dengan simpel.

__ADS_1


" Benar sih," sahut Marko, " rumah kamu yang mana?" tanya Marko.


" Tuh," sahut Anna menunjuk ke arah rumahnya. Marko hanya melihat dan mengangguk-angguk saja.


" Anna, kapan bayar bon," tiba-tiba terdengar suara teriakan Pak Supri yang menagih hutang.


" Astaga Pak Supri ini bikin malu aja. Baru aja orang pulang sudah nagih hutang. Nggak liat-lia situasi lagi," batin Anna menggaruk-garuk lehernya.


" Anna, ngga usah pura-pura bisu," sahut Pak Supri lagi yang berteriak di depan kedainya.


" Iya ntar," sahut Anna berteriak.


" Ntar mulu, sekarang cepat," sahut Pak Supri.


" Bon apaan sih?" tanya Marko.


" Hmmm, Pak Marko, sini pinjam uang bentar. Nanti gajian hitungan," ucap Anna yang langsung mengarahkan tangannya meminta uang Marko, dengan santai Marko mengeluarkan dompetnya dari sakunya.


" Berapa?" tanya Marko membuka dompetnya.


Anna berjinjit melihat melihat isi dompet Marko dan Anna langsung mengembik beberapa lembar pecahan 100 ribuan.


" Pinjam, nanti hitungan," ucap Anna yang langsung pergi menghampiri Pak Supri sepenagih hutang.


Marko hanya geleng-geleng dengan Anna. Ternyata Anna bukan hanya membayar hutangnya pada Pak Supri tetapi juga pada orang yang ada di sana yang mempunyai masalah perhutanan dengannya.


Ya kesempatan dalam kesempitan untuk Anna yang lebih tepatnya gali lobang tutup lobang. Setelah selesai membayar hutangnya Anna langsung menghampiri Marko yang menunggunya di depan mobil.


" Nih, sisanya," ucap Anna mengembalikan uang pecahan. Marko menerimanya hanya menghela napas saja.


" Pokoknya nanti kalau saya gajian. Kita hitungan. Saya akan langsung lunasi," ucap Anna. Marko mengangguk pasrah saja. Anna mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya yang kelihatan kepanasan.


" Hmmm, belum mau pulang?" tanya Anna mengusir secara halus.


" Iya- iya benar, kenapa saya masih di sini ya," sahut Marko terlihat seperti orang bingung.


" Ya sudah sana pulang!" usir Anna.


" Oke-Oke," sahut Marko mengangguk-angguk.


" Saya pulang dulu!" ucap Marko pamit.


" Oke thanks untuk semuanya," sahut Anna. Marko mengangguk-angguk dan akhirnya memasuki mobilnya dan pulang.


" Akhirnya 1 masalah selesai," ucap Anna yang bernapas lega.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2