
Jennie hanya melihat kepergian mobil Athar dengan mendengus geleng-geleng kepala. Sesaat kepergian mobil itu. Tiba-tiba saja ada mobil sport hitam yang melaju kencang yang hampir saja menabrak Jennie.
" Apa dia tidak bisa pelan-pelan," ucap Jennie dengan memegang dadanya yang jantungnya hampir copot karena mobil yang hampir menyenggolnya.
" Ibu tida apa-apa?" tanya satpam yang menyaksikan kejadian.
" Tidak saya tidak apa-apa," jawab Jennie yang masih melihat ke arah depan melihat mobil yang melaju kencang itu.
" Dia benar-benar sangat ceroboh dalam berkendara," batin Jennie gelang-gelang yang masih mengatur napasnya.
" Ya sudah saya pulang dulu," ucap Jennie pamit.
" Baik Bu," sahut satpam. Jennie pun kembali memasuki mobilnya, jantungnya masih belum aman dengan mobil yang melaju kencang itu yang hampir menghilangkan nyawanya.
*************
Athar terus fokus menyetir dengan kecepatan santai di tengah-tengah hujan deras yang masih membasahi bumi. Beberap kali dia melihat ke sampingnya melihat Anna yang masih tertidur dengan kepalanya yang miring kesamping menghadapnya.
" Apa dia kalau tidur memang tidak akan bangun-bangun," batin Athar.
Tidak lama akhirnya Anna pun terbangun. Mungkin kata-kata Athar sampai ke pikirannya. Makanya mendadak dia bangun. Anna membuka matanya perlahan. dengan mengerjabkan matanya dan mengucek-ngucek matanya sembari menguap panjang.
Setelah sadarnya kembali. Anna menoleh ke arah Athar pertama kali. Seketika Anna langsung tersentak kaget dengan keberadaan Athar.
" Kau," tunjuk Anna, " kok kau ada di sini?" tanya Anna panik.
Athar hanya melihatnya sebentar dan kembali melihat kedepan menyetir dengan santai. Anna pun melihat-lihat di sekitarnya yang mana dia baru tersadar jika dia sudah berada di dalam mobil. Anna penuh kebingungan dengan tempatnya tersebut.
" Mobil kok bisa. Bukannya tadi aku ada di ruangannya dan dia, kenapa sudah menyetir saja?" batin Anna yang penuh kebingungan dengan wajah paniknya.
Athar terlihat santai menyetir. Bahkan sudah tidak terlihat seperti orang sakit lagi. kondisinya memang sudah sangat baik.
__ADS_1
" He, kenapa aku ada di sini? Bukannya kita tadi terkunci di gudang?" tanya Anna pada Athar dengan ketus. Athar diam saja dan tidak menjawabnya.
" Athar, kenapa kau diam. Kamu tidak punya mulut apa. Dan kamu bukannya sedang sakit ya," ucap Anna yang terus mengoceh.
" Diamlah Anna jangan banyak bertanya yang jelas kamu sekarang ada di sini jadi aku rasa itu sudah cukup," sahut Athar dengan datar yang menjawab sesimpel itu.
" Ya jelas aku bertanya. Kita itu lagi terkunci dan sangat aneh tiba-tiba kita ada di sini," sahut Anna dengan cerewetnya bertanya. Dia tidak akan puas jika tidak mendapat jawaban apa-apa.
" Kalau kita ada di sini. Itu artinya kita sudah keluar. Jadi jangan bertanya apa-apa lagi. Yang jelas kita sudah keluar dan aku akan mengantarmu pulang, sudah jelas jawabannya," sahut Athar menjawab singkat.
" Pertanyaannya kenapa bisa keluar, aku menggedor-gedor tidak ada yang membuka dan kenapa tiba-tiba sudah keluar aja," sahut Anna yang masih bertanya lagi. Kalau jawaban belum detail dia tidak akan puas. Athar harus menarik napas untuk wanita yang di sampingnya yang begitu cerewet itu.
" Aku menelpon Jennie dan menyuruhnya untuk membuka pintu dari luar. Apa jawabanku sudah cukup," sahut Athar menjawab dengan merendahkan suaranya.
" Hmmmm, begitu rupanya. Tapi kenapa baru sekarang. Sewaktu pertama kali kita terkunci. Aku meminjam hp mu untuk menelpon dan kau tidak mau sama sekali. Dan sudah jam segini kau baru melakukannya," sahut Anna yang masih komplen saja.
" Hmmmm, aku tau jangan-jangan kau sengaja tidak menelpon orang untuk meminta bantuan. Karena kau ingin berduaan denganku di dalam. Jadi kita berlama-lama di ruanganku dalam keadaan terkunci," ucap Anna yang tiba-tiba menggoda Athar dengan menyipitkan matanya seolah mencurigai Athar.
" Iya kan?" tanya Anna memastikan dengan matanya menyipit menunjuk di wajah Athar.
" Jika kau bicara sekali lagi. Aku akan menurunkanmu di sini," ucap Athar dengan kesal. Anna mengkerutkan dahinya mendengar ancaman Athar. Dia melihat jalanan begitu sepi dan hujan yang sangat deras.
" Isssss, kau tega sekali menurunkanku di sini. Ini sudah malam memasuki pagi dan hujan deras. Tapi kau malah menurunkanku. Isssss keterlaluan," geram Anna dengan kesal.
" Makanya mulutmu di tutup. Nggak usah berpikir yang aneh-aneh. Ingat aku menegaskan kepadamu. Aku ini atasanmu. Jadi jaga tingkah lakumu dan satu lagi. Kau bukanlah tipeku," sahut Athar menegaskan. Namun wajah itu memerah saat menegaskan pada Anna.
" Hmmm, selalu mengatakan hal yang sama. Termakan omongan sendiri baru tau rasa," ucap Anna.
" Apa maksudmu?" tanya Athar.
" Tidak apa-apa," sahut Anna menggedikkan bahunya yang tersenyum miring.
__ADS_1
" Kau jangan berpikiran yang aneh-aneh," sahut Athar yang merasa kesal dengan kata-kata Anna.
" Iyaa-iyaa. Kau langsung anggap serius. Aku hanya bercanda," sahut Anna.
" Aku tidak suka berjandaanmu," sahut Athar.
" Iyaaaa," sahut Anna.
" Apa yang di pikirkannya. Sengaja katanya, bisa-bisanya dia berpikiran sejauh itu," batin Athar terlihat kesal. Antara kesal dan salah tingkah.
" Jadi dia sudah baikan. Baguslah jika begitu. Aku tidak percaya orang sepertinya bisa juga sakit dan bahkan terlihat lemah," batin Anna yang melihat Athar dengan tatapan dalam seolah Anna begitu lega melihat Athar yang sudah sembuh.
" Jika kau mengambil sesuatu di ruanganku. Maka kembalikan pada tempatnya. Jangan buat ruanganku seperti rumahmu yang melebihi kapal pecah," tegur Athar.
" Apa lagi sih yang aku lakukan. Perasaan aku tidak berbuat apa-apa," sahut Anna.
" Kau mana bisa mengakui kesalahanmu. Ruanganku berantakan karena ulahmu, obat-obatan berserakan. Kau pikir itu rumahmu," sahut Athar kesal.
" Ya ampun hanya masalah itu. Kau sudah seheboh itu. Hey aku itu panik makanya kayak gitu. Itu salahmu sendiri. Kau itu mimpi buruk, memanggil-manggil mamamu. Sudah itu tubuhmu panas. Aku berusaha membantumu. Agar kau tidak innailaihi saat itu," sahut Anna dengan kesal yang mulutnya begitu cerewet. Athar diam mendengarnya. 2 kali Anna menyaksikan dia mimpi buruk.
" Bukannya berterima kasih. Kau malah memarahiku. Issssss, menyebalkan," sahut Anna dengan mulut kerucutnya.
" Aku memarahimu karena kau itu ceroboh," sahut Athar.
" Apa yang ceroboh. Kau saja yang berlebihan. Coba kau yang bangun terus ada orang kayak gitu. Kau tidak panik apa. Heh bagaimana kalau benar-benar kau itu meninggal. Terus aku yang pasti di salahkan," sahut Anna dengan kesal.
" Kau mendoakanku mati?" tanya Athar.
" Jika kau begitu menyebalkan. Aku itu ada rencana untuk umroh mendoakan mu di Ka'bah. Biar tabiatmu berubah. Nggak usah terlalu lebay," ucap Anna dengan sewot menatap kesal Athar. Athar diam saja dengan hembusan napasnya kasar yang kembali fokus menyetir.
Bersambung
__ADS_1