Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 396


__ADS_3

Maya terus saja melihat Amelia dengan serius sampai akhirnya Amelia menyadari jika sejak tadi Maya melihatnya dan Amelia pun pergi meninggalkan tempat itu.


"Amelia!" batin Maya yang memutuskan untuk pergi dari pemakaman dan mengejar Amelia. Jennie sempat menyadari kepergian Maya yang melihatnya pergi dari pemakaman. Namun Jennie tidak mengejar. Hanya heran saja kenapa Maya tiba-tiba saja pergi.


"Mau kemana Tante Maya," batin Jennie.


"Jennie!" tegur Mahendra membuat Jennie sedikit kaget, "kamu kenapa?" tanya Mahendra.


"Tidak apa-apa," jawab Jennie yang mungkin rasanya tidak perlu di bicarakannya pada suaminya apa yang baru saja membuatnya aneh.


"Ya sudah," sahut Mahendra. Jennie mengangguk.


**********


"Amelia tunggu!" panggil Maya yang membuat langkah Amelia terhenti. "kenapa kamu berlari?" tanya Maya.


"Maaf jika aku merusak pandangan mu. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin melihat pemakaman mas Chandra," ucap Amelia tanpa membalikkan tubuhnya.


"Lalu kenapa harus bersembunyi-sembunyi?" tanya Maya.


"Aku hanya merasa tidak pantas untuk menunjukkan diriku, aku mengakui kesalahanku. Tetapi sungguh aku tidak bermaksud untuk mengganggu kamu dan juga yang lainnya. Aku benar-benar hanya ingin melihat Chandra di makamkan. Hanya itu saja. Aku tidak ingin membuat ribut," ucap Amelia.


"Aku tidak berpendapat apapun. Tentang apa tujuanmu datang atau tidak datang. Amalia kita dulu adalah sahabat. Tetapi karena ketamakan mu kita menjadi asing dan Pria yang sekarang sudah pergi sudah membuat banyak masalah pelajaran yang bisa kita ambil. Semua orang pernah salah dan mas Chandra sudah pergi," ucap Maya.


"Aku sudah mendapatkan karmaku Maya. Aku banyak kehilangan ini dan itu di dalam hidupku. Aku memohon ampun padamu. Aku tidak meminta untuk kamu memaafkan ku. Karena kesalahan ku tidak pantas untuk mendapat maaf," ucap Amelia dengan suaranya yang terlihat serak yang sepertinya menahan tangis.


"Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi, maafkan aku Maya, aku sangat bersalah padamu, aku menghancurkan kebahagian mu dan juga anak-anak mu," ucap Amelia.


"Seperti yang aku katakan Amelia. Aku sudah melupakannya semuanya. Aku sudah tidak Inging mengingatnya lagi. Masalah kita sudah berakhir, aku sudah memaafkan mu dan itu sudah cukup bukan. Jangan merasa bersalah lagi. Kita ambil pelajaran untuk semua ini. Karena masih banyak kehidupan, masih banyak waktu untuk berbuat baik dan mas Chandra juga sudah tenang di atas sana. Jadi mari kita lupakan masalah yang ada," ucap Maya dengan tersenyum yang berbesar hati untuk memaafkan Amelia.


"Terima kasih Maya, Terima kasih," ucap Amelia yang membalikkan tubuhnya yang memegang ke-2 tangan Amelia yang sangat berterima kasih karena telah di maafkan.


"Jangan berlebihan, jika ingin melihat pemakamannya maka ikut denganku," ucap Maya. Amelia melepas tangannya dari tangan Maya.


"Aku tidak bisa kesana," ucap Amelia.


"Kenapa?" tanya Maya heran


"Maya kamu wanita yang berhati besar yang sangat baik, aku begitu banyak dosa dan tidak pantas untuk ada di Sana. Maya Chaca putriku ada di sana. Aku tidak sanggup untuk membesarkannya. Aku menitipkannya padamu," ucap Amelia tiba-tiba.


"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Maya heran.


"Tolong jangan larang Anna dan Aurelia untuk bersamanya. Aku yakin Anna dan Aurelia sudah menerima Chaca dengan baik. Jadi aku sekarang lega dan aku bisa pergi jauh-jauh dari keluarga kalian. Aku tidak akan pernah muncul lagi. Aku benar-benar akan jauh-jauh dari kehidupan kalian. Makasih ya Maya untuk semua maaf kamu," ucap Amelia yang tersenyum.


"Kamu akan meninggalkan Chaca?" tanya Maya.


"Aku tidak sanggup untuk hidup bersamanya. Jadi mau tidak mau, aku akan meninggalkannya," sahut Amelia dengan tersenyum.


"Amelia Chandra juga mengatakan kepadaku untuk menyampaikan maaf kepadamu," ucap Maya.


"Aku sudah memaafkannya dan semoga dia juga memaafkanku. Aku permisi. Titip Chaca," ucap Amelia yang langsung pergi dari hadapan Maya. Sebelumnya dia juga menitipkan Chaca pada Anna dan juga Aurelia. Karena dia tidak ingin merusak kebahagian keluarga itu.


**********


Setelah selesai pemakaman Anna memasuki kamar yang mana Anna terlihat begitu lelah sekali. Athar yang juga memasuki kamar memegang pergelangan tangan Anna dan langsung memeluk Anna.


"Sampai kapan harus menangis terus bukannya papa sudah baik-baik saja. Lalu kenapa menangis Anna apa yang kamu tangisi, papa sudah tenang di atas sana," ucap Athar


"Sangat sedikit waktu yang di berikan, aku sama papa belum menghabiskan banyak waktu bahkan di saat papa sakit, aku juga tidak ada di sisinya. Hanya 2 hari Athar. Tidak sampai 2 hari kesempatan bersama papa. Aku tidak bisa merawatnya, jadi bagaimana aku tidak sedih," ucap Anna yang terus merasa sedih dengan apa yang telah di rasakannya.


"Aku mengerti perasaanmu seperti apa. Tapi papa sudah baik-baik di sana. Papa sudah tidak sakit lagi. Dia juga sangat mengerti dan sangat memahami kamu. Jadi kamu jangan menangis lagi," ucap Athar yang terus memberikan istrinya ketenangan yang tidak ingin sang istri merasa bersalah dengan semua yang telah terjadi.


"Anna sudah ya, kamu jangan menangis lagi ya, kita berdoa saja agar papa mendapatkan tempat yang paling terindah di atas sana," ucap Athar. Anna mengangguk-angguk dengan memeluk erat suaminya.

__ADS_1


"Kamu belum istirahat, kamu pasti sangat lelah, kamu istirahat ya, aku akan menemanimu," ucap Athar.


Anna tidak menjawab lagi dan Athar langsung menggendongnya ala bridal style dan yang membawanya keatas ranjang membaringkan dengan perlahan dan menatap wajah istrinya yang lebih kesedihan dengan air mata yang terus keluar dan mata itu sudah begitu bengkak.


Athar mencium lembut kening Anna, "kamu harus istirahat," ucap Athar berbaring di samping Anna dan Anna langsung memeluk Athar yang pastinya terus menenangkan Anna dengan mengusap-usap lembut rambut Anna yang menidurkan Anna.


Jika bukan dia siapa lagi, dia harus benar-benar menguatkan sang istri yang masih penuh dengan duka dan Athar juga takut jika Anna nanti bisa saja jadi sakit.


**********


Sementara Aurelia yang juga masih di landa kesedihan dengan duduk di salah satu bangku yang ada di taman di mana air matanya terus saja keluar.


"Aurelia!" tegur Derry yang datang membawakan air untuk Aurelia minum.. Aurelia hanya melihat Derry sebentar dan Derry langsung duduk di samping Aurelia.


"Kamu menangis lagi?" tanya Derry. Aurelia langsung memeluk Derry.


"Papa tidak menepati janjinya. Dia tidak akan hadir di hari pernikahan kita tangan kamu tidak akan berjabat dengan papa. Apa papa pilih kasih padaku," ucap Aurelia yang tidak bisa menahan kesedihannya.


"Apa yang kamu katakan, papa tidak pilih kasih sama sekali dan lagian di hari pernikahan kita nanti papa pasti datang. Walau wujudnya tidak terlihat tapi dia akan hadir di sisi kita. Percayalah Aurelia. Kamu jangan takut papa akan datang," ucap Derry.


"Bagaimana mungkin papa akan datang Derry. Itu sangat tidak mungkin," sahut Aurelia yang kembali mewek.


"Sudah-sudah kamu jangan menangis lagi, ini sudah cukup Aurelia. Papa akan sedih jika kamu terus menangis. Bukannya kamu sudah berjanji papa untuk tidak larut dalam sedih terus menerus," ucap Derry mengingatkan.


"Aurelia aku juga berjanji pada papa untuk tidak membiarkan kamu menangis dan dia bisa marah kepadaku. Jika saat ini aku membiarkan mu menangis. Jadi jangan menangis lagi yah, papa akan mendapatkan tempat yang terindah di atas sana, percaya padaku," ucap Derry.


"Makasih Derry kamu sudah menjadi teman papa selama ini, makasih kamu juga menemaniku di akhir-akhir kehidupannya papa, terima kasih untuk semuanya Derry," ucap Aurelia.


"Kamu tidak perlu berterima kasih kamu adalah tanggung jawabku dan jika itu berhubungan dengan papa maka itu juga tanggung jawabku. Jadi tidak ada yang harus berterima kasih," ucap Derry.


"Sudah ya jangan menangis lagi, kamu harus kuat, kamu wanita yang kuat dan harus kuat, biar papa bisa tenang di sana," ucap Derry. Aurelia hanya mengangguk-anggukan kepalanya yang mencoba untuk kuat seperti apa kata Derry.


***********


Sangat kebetulan Aurelia juga keluar dari kamar yang pintunya berhadapan dengan Anna dan sama wajah Aurelia juga tampak murung dengan wajahnya yang tidak bersemangat lagi dan di pastikan baru juga selesai menangis.


Kakak adik itu saling melihat sampai di detik berikutnya mereka langsung saling memeluk erat dan tangis ke-2nya kembali pecah.


"Maafkan kakak Anna, seharusnya kakak memberitahu kabar papa lebih awal. Jadi kita bisa sama-sama ada sisi papa dengan waktu yang lama dan tidak membuat kamu menyesal seperti ini, maafkan kakak yang menyita waktu kamu," ucap Aurelia yang merasa bersalah pada adiknya.


"Kakak tidak perlu minta maaf lagi, Anna juga salah yang sudah marah-marah pada kakak. Anna juga minta maaf pada kakak, maafkan Anna kak yang salah banyak pada kakak dan tidak kok kak Anna sudah puas kok dengan waktu yang singkat di berikan untuk Anna untuk menjaga dan merawat papa," ucap Anna yang menangis sengugukan yang saling meminta maaf dengan Aurelia.


"Anna juga minta maaf pada kakak. Karena kakak sudah mengalah untuk pernikahan Anna. Gara-gara Anna kakak tidak di dampingi papa untuk menikah, maafkan Anna kak," ucap Anna yang juga merasa bersalah pada Aurelia.


"Tidak Anna itu bukan kesalahan kamu semua itu sudah takdir dan kakak sudah menerima takdir itu. Tidak apa-apa," sahut Aurelia yang harus ikhlas dengan takdirnya.


Kakak beradik itu berpelukan terus yang keduanya masih sama-sama berduka dan tetap saling menguatkan satu sama lain yang mana memang pasti masih sama-sama saling membutuhkan pelukan hangat masing-masing dari kedua kakak beradik itu.


************


2 hari kematian Chandra.


Anna, Athar, Aurelia, Maya, Anjani dan Chaca sedang makan bersama di dalam rumah. Kalau masalah duka pasti semuanya masih tetap berduka dan kesedihan di antara yang lainnya pasti masih ada.


Namun semua harus tetap menjalankan kehidupan mereka. Karena tidak ada yang abadi orang yang sudah pergi akan menemukan keabadiannya dan orang yang masih ada wajib untuk melanjutkan kehidupannya.


"Kak Anna kapan Chaca akan pulang?" tanya Chaca membuat Anna dan Aurelia saling melihat dan diam sejenak.


"Memang Chaca tidak betah di sini?" tanya Aurelia.


"Bukan begitu kak, tapi Chaca bukannya juga harus menemui mama," sahut Chaca.


Suasana hening, Aurelia dan Anna tidak bisa menjelaskan bagaimana mereka mengatakan jika Chaca tidak akan pulang lagi dan akan bersama mereka.

__ADS_1


"Chaca makannya pintar sekali sudah sampai habis sangat cepat makannya," ucap Athar yang mengalihkan suasana ketegangan di antara yang lainnya.


"Iya kak Athar, Chaca sudah kenyang dan mau buah," jawab Chaca.


"Ya sudah Chaca sana minta sama bibi di potongin buah," sahut Maya.


"Baik Tante," sahut Chaca yang langsung turun dari kursi untuk mengambil buah.


Anna dan Aurelia saling menghela napas perlahan kedepan.


"Apa Amelia menyuruh kalian ber-2 untuk merawat Chaca?" tanya Maya.


"Mama tau dari mana?" tanya Anna yang merasa sebelumnya tidak mengatakan apa-apa pada mamanya.


"Saat pemakaman papa kalian mama juga bertemu dengan Amelia," jawab Maya yang mengejutkan semua orang.


"Dia datang kepemakaman Chandra?" tanya Anjani.


"Iya dan pasti menyesali perbuatannya dan Amelia mengatakan tidak sanggup untuk merawat Chaca dan menitipkan Chaca kepadaku dan dia juga mengatakan sudah mengataiku ini pada Aurelia dan juga Anna," ucap Maya.


"Iya mama benar aku sama Anna memang kaget dengan dia yang menitipkan Chaca pada kami," sahut Aurelia.


"Lalu kalian berdua bagaimana?" tanya Anjani.


"Kita tidak tau bagaimana menjelaskannya kepada Chaca. Karena semua ini pasti tidak mudah untuk memberitahu pada Chaca," ucap Anna.


"Dan papa juga memberikan amanah itu kepada kami," sahut Aurelia.


"Jika kalian memang sudah bertekad untuk menjalani amanah dari papa. Maka pelan-pelan katakan pada Chaca," sahut Athar yang memberi saran.


"Mama setuju dengan apa yang di katakan Athar. Chaca adalah adik kalian dan jalankan amanah yang di berikan papa kalian," sahut Maya yang setuju dengan pendapat dari Athar.


"Iya mah, aku sama Anna akan mencoba bicara pada Chaca dan akan membuat Chaca mengerti dengan semua ini," ucap Aurelia.


"Mama percaya sama kalian berdua dan pasti bisa untuk melewati semua ini. Kalian anak-anak yang sangat hebat," ucap Maya.


"Mama juga mama yang hebat, makasih mah sudah menjadi mama kami dan banyak memberikan kami pelajaran dengan arti tulus, sabar dan saling mencintai, makasih mah untuk semuanya," ucap Anna.


"Sama-sama Anna, kamu juga kelak akan menjadi seorang ibu. Jadi pasti akan mengerti bagaimana posisi mama. Yang seorang ibu hanya melakukan semuanya demi kebahagiaan anaknya," sahut Maya yang tersenyum.


Anna dan Aurelia saling mengangguk yang pasti sangat bangga bisa lahir dari rahim Maya. Athar juga ikut tersenyum yang dia juga melihat mamanya yang juga pasti sangat bangga lahir dari rahim Anjani.


**********


Anna dan Aurelia berada di kamar Chaca yang berbicara pada Chaca.


"Maksud kak Anna dan kak Aurelia. Chaca akan tinggal di sini dan tidak akan pulang lagi?" tanya Chaca yang mana Anna dan Aurelia sudah menjelaskan apa yang harusnya mereka jelaskan.


"Iya Chaca kamu harus tinggal di sini ya, kamu bisa bersekolah kembali dan bertemu dengan teman-teman kamu dulu," ucap Anna.


"Baiklah kalau begitu. Tetapi bolehkah kalau lain kali Chaca juga boleh menemui mama," ucap Chaca yang ingin kepastian.


"Pasti boleh," sahut Anna.


"Ya sudah kalau begitu," sahut Chaca.


"Chaca benar-benar tidak apa-apa tinggal di si sama kak Anna dan kak Aurelia?" tanya Anna yang masih ragu dengan Chaca yang sangat cepat untuk di ajak jalan-jalan.


"Tidak apa-apa kak. Kita bertiga ini kan saudara jadi sesama saudara harus saling berdekatan. Apalagi Chaca juga ingin sekolah kembali. Karena Chaca sudah janji sama papa untuk jadi anak yang pintar dan anak yang hebat," ucap Chaca dengan tersenyum yang mana memang cara bicara Chaca selalu saja begitu dewasa.


Aurelia dan Anna sampai tidak bisa berkata-kata dengan Chaca yang benar-benar the best dalam berbicara. Sampai mereka berpelukan saking mereka begitu bahagianya.


Ternyata sangat mudah meminta Chaca untuk tinggal bersama mereka dan Chaca juga tidak banyak tanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2