Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 120 Menggodanya.


__ADS_3

" Wanita itu yang sering melihati Athar. Dan sekarang bisa-bisanya tiba-tiba ada di sini. Apa sungguh dia itu naksir dengan Athar," batin Anna yang pikirannya kemana-mana. Namun terus berjalan yang tangannya begitu nyaman di gandeng oleh Athar.


Anjani, Athar dan Anna akhirnya sudah memasuki desa. Namun tanpa di undang tiba-tiba hujan turun yang membuat mereka kaget.


" Sial!" desis Athar.


" Kenapa hujan lagi," keluh Anna dengan menadahkan tangannya ke langit.


" Mari Kerumah saya. Rumah saya ada di sana. Kalian harus untuk berteduh!" ajak wanita itu yang lari terlebih dahulu.


Athar tidak berpikir lama dan ikutan lari yang juga bersama Anna dengan tangan Athar masih sempat-sempatnya meletakkan tangannya di atas kepala Anna untuk memberinya payung. Akhirnya mereka sampai kerumah wanita itu. Rumah wanita itu juga terlihat sederhana.


" Kenapa musim hujan," gumam Anna yang mengusap-usap lengannya yang banyak mengeluh.


" Mari masuk nak. Di luar hujan pasti dingin. Rumah yang kalian tuju ada di ujung sana. Nanti kalau hujannya reda saya akan mengantarnya," ucap wanita itu.


" Tapi kan kami belum memberitahu rumah yang yang kami tuju di mana," sahut Anna heran. Wanita itu terdiam. Begitu juga dengan Athar yang heran kenapa wanita itu tiba-tiba tau.


" Saya pernah melihat kalian menjadi tamu di penginapan Bibi Asri, dan pasti kalian akan pulang kesana," sahut wanita itu yang menjawab sedikit gugup.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Anna yang santai saja.


" Ayo mari masuk. Di luar sangat dingin!" Ajak Anjani. Athar dan Anna sama-sama mengangguk dan akhirnya memasuki rumah itu.


Rumah itu juga tampak sederhana. Kepala Anna dan Athar sama-sama berkeliling melihat rumah itu yang hanya terdapat kursi kayu di ruang tengahnya.


" Mari duduk!" pinta wanita itu ramah.


Athar dan Anna mengangguk yang duduk di bangku kayu yang ada di sana. Mereka duduk bersebelahan. Anna terus memperhatikan wanita itu yang terus melihat Athar.


" Kenapa dia melihati Athar terus. Dia benar-benar naksir dengan berondong," batin Anna yang kebingungan.


" Maaf jika rumah saya seperti ini," ucap Anjani.


" Tidak apa-apa. Yang penting kami bisa berteduh," sahut Athar.


" Baiklah, saya buatkan teh sebentar ya," ucap wanita itu.


" Hmmm, tidak usah Bu jangan repot-repot," sahut Athar yang menolak.


" Tidak apa-apa. Tidak ada yang repot hanya teh saja kok, supaya kalian merasa hangat," sahut wanita itu yang tersenyum dan langsung pergi. Athar dan Anna saling melihat sebentar. Mereka padahal tidak mengatakan iya wanita itu sudah main pergi saja.


" Kau basah," ucap Anna.

__ADS_1


" Ya mana mungkin aku tidak basah. Namnya hujan," sahut Athar dengan datar.


" Hmmm, soal pakaianmu yang aku hanyutkan. Aku akan menggantinya," ucap Anna.


" Tidak perlu," sahut Athar ketus.


" Kenapa?" tanya Anna heran.


" Kau tidak akan mampu membelinya," jawab Athar dengan cepat.


" Kau meremehkanku," sahut Anna kesal.


" Itu kenyataan. Pakaianku itu sangat mahal. 5 kali lipat gajimu baru bisa membelinya," ucap Athar.


" Isssss, apa sampai semahal itu, dia pasti mengada-ada harganya,"desis Anna dengan kesal.


" Kalau bicara suaranya di keluarkan jangan bergerutu di belakang, ku" sahut Athar. Anna diam tidak menjawab lagi kata-kata Athar.


" Siapa yang bergurutu," gumam Anna.


Tiba-tiba Anjani datang dengan membawakan 2 gelas tes dan juga membawakan gorengan panas.


" Maaf ya ibu lama," ucap Anjani.


" Tidak apa-apa. Ya sudah kalau begitu silahkan di makan. Maaf hanya ada ini," terima kasih Bu," sahut Anna. Anjani tersenyum.


Athar meminum teh itu. Tidak biasanya Athar yang super hegenis akan banyak tingkah dulu untuk minum. Tetapi kali ini tidak dia bahkan meminum langsung.


" Ibu tinggal sendiri?" tanya Anna.


" Iya saya tinggal sendiri di sini," sahut Anjani membenarkan yang terus melihat Athar. Siapa yang bertanya siapa yang di lihatnya.


Anjani melihat Athar yang hanya menggunakan kaos dalam yang membuat Anjani kelihatan berpikir dan Anjani langsung pergi dari ruang tamu begitu saja.


" Athar," bisik Anna.


" Ada apa?" tanya Athar heran.


" Lihatlah ibu itu. Aku rasa dia menyukaimu," ucap Anna dengan pelan.


" Jangan sok tau," sahut Athar.


" Aku serius dia itu sering memperhatikanmu di belakangmu dan aku yakin dia itu ada rasa denganmu," ucap Anna yang menduga-duga. Athar pun tidak terlalu menanggapi kata-kata Anna yang menurutnya tidak masuk akal.

__ADS_1


Tidak lama wanita itu kembali lagi dan menghampiri Athar dan Anna dengan membawakan pakaian rajut berwarna coklat.


" Pakailah nak, agar kamu tidak kedinginan," ucap Anjani memberikan pakaian itu pada Athar.


" Terima kasih Bu. Tapi tidak apa-apa saya seperti ini saja, tidak perlu memberikan itu," sahut Athar menolak.


" Kamu kedinginan. Jadi tidak apa-apa. Pakailah," ucap Anjani.


" Jangan menolak ambil saja. Lagian kau juga tidak punya baju ganti di tempat bibi. Kau kan pergi mendadak," sahut Anna.


" Jangan sok tau. Aku punya di dalam mobil," sahut Athar.


" Ya kan tidak ada salahnya menerima pemberian ibu itu," sahut Anna dengan santai. Athar melihat wanita itu dan terlihat jelas yang sangat berharap Athar mengambilnya.


" Baiklah, saya akan mengambilnya terima kasih untuk pemberian ibu," sahut Athar. Anjani mengangguk dan terlihat begitu senang.


Athar langsung memakai pakaian rajut yang berwarna coklat itu dan sangat kebetulan sangat pas dengan tubuh Athar. Anjani tersenyum dengan pakaian yang sangat pas itu.


" Terima kasih Bu," ucap Athar. Anjani mengangguk.


" Ehmmmm," Anna tiba-tiba berdehem, " kira-kira Ibu punya payung tidak. Soalnya kita sebaiknya kembali saja ketempat Bibi. Hujannya sepertinya akan lama redanya. Jadi alangkah baiknya kita pulang saja, Takut yang lainnya khawatir," ucap Anna.


" Iya benar. Kita juga sudah kelamaan pergi. Tidak enak dengan yang lainnya nanti," sahut Athar yang setuju dengan Anna.


" Hmmm, begitu rupanya. Ya sudah sebentar biar ibu ambilkan," sahut Anjani yang langsung pergi.


Tidak lama akhirnya Anjani kembali lagi dengan membawa payung.


" Ini nak, gunakan lah," ucap Anjani. Athar berdiri lalu mengambilnya.


" Terima kasih Bu. Kalau begitu kami pergi dulu. Terima kasih untuk jamuannya dan juga tempat berteduhnya," ucap Athar.


" Iya sama-sama. Kalian juga hati-hati, jika pulang ke Jakarta," sahut Anjani terlihat begitu sedih dengan kepergian Athar.


" Makasih Bu buat pesannya," sahut Anna.


" Hmmm, kalau begitu kita pamit dulu," ucap Athar. Anajani mengangguk. Athar melihat Anna dan Anna mengangguk yang mereka pun sama-sama keluar dari rumah itu.


Setibanya di luar Athar langsung memasang payung. Anna yang berdiri di sampingnya melihat-lihat ke langit yang masih mencurahkan hujan yang deras. Athar melihat Anna dan meletakkan tangannya di bahu Anna menarik Anna untuk merapat kepadanya. Anna pun melihat tangan Athar di bahunya. Namun dia tidak komplen sama sekali.


" Ayo kita pergi," ucap Athar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2