Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 373.


__ADS_3

Anna masih diam dengan eksperesi yang malah bingung ketika Athar melamarnya. Mungkin schock atau lucu ya wajah Anna tidak bisa di tebak apa yang di rasakan Anna.


"Apa aku benar-benar tidak salah dengar. Jika Athar benar-benar melamarku," batin Anna yang masih bingung.


"Anna!" tegur Athar.


"Hah iya," sahut Anna yang menggoyang-goyangkan kepalanya yang mencoba untuk menyadarkan dirinya dari lamunan.


"Kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Athar yang melihat Anna bengong dan tidak menjawab pertanyaannya.


"Kamu memang mengatakan menikah?" tanya Anna memastikan siapa tau dia salah dengar.


Athar menganggukkan kepalanya dengan melangkah mendekati Anna memegang ke-2 bahu Anna membuat Anna sejajar dengannya yang mereka saling berhadapan.


"Aku memang mengatakan mari menikah. Aku ingin kita berdua menikah, aku mengajakmu untuk menikah," ucap Athar dengan wajahnya yang serius. Lebih tepatnya sangat datar saat melamar Anna.


"Kamu kenapa diam. Kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Athar dengan menaikkan 1 alisnya yang sangat menunggu-nunggu jawaban Anna yang sangat menggantung.


"Anna kamu benar-benar tidak mau menikah denganku?" tanya Athar.


"Bu-bu-bukan seperti itu. Aku hanya kaget tiba-tiba kamu mengajakku menikah, seperti mengajak mau pulang saja sangat singkat dan seperti becandaan," ucap Anna dengan gugup yang bingung harus senang terharu. Atau mau ingin tertawa terbahak-bahak karena mendengar lamaran Atha.


"Apa wajahku terlihat becanda?" tanya Athar.


"Wajah kamu itu sering terlihat serius, jadi aku mana bisa membedakannya," sahut Anna dengan apa adanya.


"Tapi aku serius, aku ingin mengajakmu menikah," ucap Athar lagi. Anna masih saja diam


"Anna kenapa melamun. Apa tidak mau menikah denganku?" sudah berapa kali Athar menanyakan hal itu kepada Anna.


"Bukan begitu Athar," sahut Anna.


"Lalu kenapa tidak menjawabku?" tanya Athar.


"Hanya seperti ini saja lamarannya ?" tanya Anna yang sepertinya mengharapakan lebih.


"Maksudnya?" tanya Athar dengan mengkerut dahinya.


"Ya tidak ada, lampu-lampu, bunga atau musik, atau hal-hal lain gitu?" tanya Anna dengan hati-hati.


"Memang untuk apa?" tanya Athar.


Anna harus menghela napas mendengar respon Athar, "ahrrggg sudahlah tidak penting juga ada seperti itu. Yang penting niatnya," sahut Anna yang capek juga kalau harus menuntut banyak.


"Jadi bagaimana, kita menikah atau tidak?" tanya Athar kepastian.


"Ya ampun Athar kamu ini melamar atau mengancam sih, masa iya terkesan seperti mengancam," batin Anna yang pasrah dengan Athar. Semakin lama romantisnya semakin tidak ada.


"Anna kamu mendengarku?" tanya Athar lagi.


"Iya aku mendengarmu," sahut Anna


"Lalu bagaimana jawaban dari mu?" tanya Athar lagi.


"Aku akan menerimanya. Tetapi dengan satu syarat," sahut Anna yang jual mahal dulu sampai memberikan syarat untuk Athar.


"Apa syaratnya?" tanya Athar.


"Aku mau cincin yang baru," ucap Anna.


"Maksudnya?" tanya Athar dengan menaikkan 1 alisnya.


"Aku tau kamu tidak mempersiapkan apa-apa untuk melamarku. Tapi aku yakin kamu punya niat untuk itu dan aku tidak butuh, tempat romantis dalam kamu melamarku, ya walau wanita mana yang tidak mau di lamar dengan keadaan seperti itu. Tetapi aku tidak apa-apa. Seperti yang aku katakan tadi yang penting kamu tulus dengan niat yang baik. Tetapi aku mau cincin baru. Karena aku yakin kamu akan memberiku cincin yang aku temui di mobil yang sudah lama. Jadi berikan aku cincin baru untuk lamaranmu," ucap Anna dengan permintaannya.


Athar tersenyum mendengarnya. Hanya gara-gara cincin Anna banyak bicara.


"Apa lamaran ku sangat membosankan?" tanya Athar dengan menduga-duga. Pasti iya makanya Anna sejak tadi seperti orang bingung.


"Tidak kok," sahut Anna dengan cepat.


"Baiklah, aku akan memberikan cincin yang baru untukmu. Tapi aku ingin kamu ikut bersamaku untuk mencarinya," ucap Athar yang menuruti Anna. Anna tau saja kalau Athar memang akan memberinya cincin yang tidak sempat di berikan Athar.


"Bagaimana kamu mau ikut bersamaku mencarinya?" tanya Athar. Anna mengangguk-anggukkan dengan senangnya. Athar tersenyum dan langsung meraih Anna kedalam pelukannya dan mereka berpelukan dengan erat.


"Maafkan aku sudah membuat mu lama menunggu," ucap Athar.


"Tidak Athar, aku yang harus meminta maaf, seharusnya aku menemanimu di masa-masa kamu berusaha untuk sembuh. Tapi aku malah membiarkan mu berjuang sendirian dan aku tau kamu melakukan semua itu demi diriku, aku yang minta maaf," ucap Anna yang begitu terharu.


"Tidak apa-apa. Sekarang yang terpenting kita mempersiapkan diri untuk menuju pernikahan kita yang mana kita akan membangun keluarga yang baru," ucap Athar.


Anna mengangguk dan melonggarkan pelukannya dari Athar dengan melihat Athar.


"Aku mencintaimu," ucap Anna dengan tersenyum lebar. Anna mengekerutkan dahinya ketika Athar hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan.


"Athar aku mencintaimu," ucap Anna lagi. Athar tetap diam membuat Anna heran.


Cup, Anna mencium pipi Athar, "aku mencintaimu," Anna mengucapkannya lagi.


"Kau tidak mencintaiku?" tanya Anna menekan suaranya yang jadi kesal dengan Athar.


Athar mendengus dengan tersenyum, lalu mengangkat tubuh Anna duduk di pagar jembatan membuat Anna kaget.


"Athar!" pekik Anna memukul bahu Athar.

__ADS_1


"Aku mencintaimu," barulah Athar mengeluarkan kata cinta itu membuat Anna melayang-layang yang langsung ingin terjun bebas.


"Seberapa besar?" tanya Anna dengan mengalungkan tangannya di leher Athar yang begitu manja ingin tau seberapa besar cinta kekasihnya itu kepadanya.


"Sangat besar sampai tidak tergusur, dari ujung dunia sampai ujung dunia," jawab Athar.


"Alah gombal," sahut Anna senyum-senyum. Padahal dia bahagia mendengarnya sampai wajahnya memerah.


"Aku serius dan juga sedalam samudera," tambah Athar lagi.


"Issss, sok romantis," sahut Anna geli sendiri dengan kata-kata Athar.


Athar memegang dagu Anna yang mensejajarkankan pada wajahnya, "bukannya kamu menginginkan pria yang romantis," ucap Athar.


"Tidak. Aku hanya ingin kamu, Athar yang aku kenal dulu dan sekarang, yang tidak berusaha untuk menjadi orang lain. Tetapi tau cara memberiku kebahagiaan," ucap Anna.


"Benarkah?" tanya Athar. Anna mengangguk-angguk.


Cup, Anna kembali mencium pipi Athar. Namun Athar menunjuk pipi yang sebelahnya ingin di cium dan Anna menciumnya lagi.


Dan Anna kali ini benar-benar serakah yang menciumi wajah Athar yang membuat Athar gemes sendiri melihat Anna dan langsung menggendongnya dengan memutar kan tubuhnya.


"Athar aku bisa jatuh," teriak Anna yang begitu bahagianya yang akhirnya di lamar Athar. Walau lamarannya sangat datar. Tetapi untuk orang seperti Athar memang tidak perlu berekspetasi tinggi.


Pasangan itu benar-benar bahagia dengan Athar masih menggendong Anna dengan berputar-putar.


***********


Gedung tempat acara pameran lukisan Gibran


Hari ini acara yang di nanti-nanti telah tiba. Di mana tempat itu benar-benar di sulap menjadi sangat mewah dengan banyaknya lukisan-lukisan hasil karya Gibran. Semua itu berkat kerja keras Anna dan Olive yang memang tidak main-main dalam mempersiapkan segalanya dan hasilnya juga sangat memuaskan.


Tamu-tamu yang datang ketempat acara itu pasti orang-orang penting yang mengagumi lukisan-lukisan Gibran. Keluarga Gibran juga lengkap datang, Maharani, Ari Purnama, ada Derry, Olive pastinya, Anjani dan Athar, Anna, Maya, Aurelia dan bahkan Chandra hadir dalam acara itu.


Selain itu Marko dan istrinya Lisa yang sedang mengandung juga hadir di tempat itu dan yang pastinya Jennie dan suaminya Mahendra tidak ketinggalan untuk menghadiri acara itu.


Layaknya pesta yang di suguhkan dengan karya-karya yang hebat begitulah tempat itu. Anna sendiri tampil sangat cantik dengan gaun hitam yang memanjang ke bawah tanpa lengan.


Sama dengan Athar yang kelihatan begitu sangat tampan dengan setelan jas putihnya yang sejak tadi mengobrol bersama dengan Jennie dan Mahendra yang Jennie pasti sangat cantik dengan pakaian yang di kenakan nya. Dengan dress merah yang memanjang.


Anna sendiri mengobrol-ngobrol bersama Olive, Sana, Lisa.


"Makasih ya Anna Olive kalian berdua sudah membantu Gibran dalam menyelesaikan semua ini," ucap Sana.


"Santai aja Sana nggak usah berlebihan seperti ini itu. Aku sama Olive senang kok bantuin kamu," sahut Anna.


"Benar, pake makasih segala, macam udah siapa aja," sahut Olive.


"Iya deh," sahut Anna dan Olive secara serentak.


"Tapi kalian berdua memang the best deh sudah menyiapkan segalanya dengan baik," sahut Lisa.


"Nggak usah lebay, biasa aja kok," sahut Anna.


"Oh iya Lisa bagaimana kandungan kamu?" tanya Anna.


"Alhamdulillah baik-baik aja. Sebelum kemari aku juga sudah cek ke Dokter," jawab Lisa.


"Tidak ada masalahkan?" tanya Sana.


"Tidak Sana baik-baik aja kok," sahut Lisa.


"Syukurlah kalau begitu. Soalnya aku takut sampai kenapa-kenapa. Karena kan kamu hamil muda. Tapi sudah naik pesawat. Jadi aku takut gara-gara aku bayinya nanti kenapa-kenapa," ucap Sana.


"Kamu jangan berlebihan. Aku sama Marko sudah tanya Dokter dan baik-baik aja. Kalau Dokter bilang tidak boleh naik pesawat. Aku sama Marko tidak akan pergi. Jadi semuanya baik-baik saja," tegas Lisa.


"Alhamdulillah kalau begitu, semoga janinnya dan ibunya tetap sehat ya," ucap Anna dengan doa tulus.


"Amin," sahut Lisa.


"Dan doa kan aku juga yang akan cepat menyusul," sahut Sana mengusap perutnya.


"Amin," sahut Anna, Lisa dan Olive dengan semangatnya yang membuat mereka tertawa-tawa sendiri. Pandangan Anna tiba-tiba melihat ke arah Athar yang masih asyik mengobrol. Anna juga melihat ke arah Chandara papanya yang juga mengobrol bersama Ari Purnama.


"Hmmm, aku kesana sebentar ya," ucap Anna.


"Oke," sahut Anna, Lisa dan Sana dengan serentak.


Anna pun menghampiri Athar yang mengobrol, "Athar," tegur Anna.


"Anna," sahut Athar.


"Hay Anna, apa kabar," sahut Jennie yang langsung memeluk Anna.


"Baik-baik aja," sahut Anna dengan tersenyum membalas pelukan itu. Anna juga tersenyum pada Mahendra.


"Kalian juga baik-baik aja kan?" tanya Anna.


"Iya kita baik-baik saja," sahut Mahendra.


"Ada apa Anna, kenapa mencariku!" tanya Athar.


"Hmmm, kalian ngobrol aja dulu, kami mau kesana dulu, menyapa yang lainnya," sahut Mahendra yang begitu pengertian.

__ADS_1


"Iya kami kesana dulu ya," sahut Jennie yang juga langsung menggandeng lengan suaminya dan membawanya pergi yang meninggalkan Anna dan Athar.


"Ada apa Anna?" tanya Athar.


"Ada papa di sana, ayo kita sapa. Kamu belum pernah bertemu dengan papa," ucap Anna.


"Baiklah," sahut Athar dengan mengangguk tersenyum yang mana mereka langsung menghampiri Chandra.


"Pah!" tegur Anna yang menghampiri Chandra yang mengobrol bersama Ari Purnama. di mana Anna bersebalahan dengan Athar.


"Anna," sahut Chandra.


"Hey Athar. Apa kabar kamu?" sahut Chandra yang langsung memeluk Athar yang memang sudah lama tidak di temuinya


"Baikl-baik aja om, om sendiri bagaimana apa baik-baik saja?" tanya Athar yang sudah saling melepas pelukan dengan Chandara.


"Seperti yang kamu lihat om baik-baik saja. Paling hanya sakit tua saja. Tapi Alhamdulillah Om masih bisa mendapatkan kesempatan untuk terbang ke New York menghadiri acara Gibran," ucap Chandara.


"Iya Om, saya juga tidak menyangka Om akan datang," ucap Athar.


"Iya Athar," sahut Chandra, "Hmmm, ya sudah kalian mengobrol lah, papa mau kesana sebentar," ucap Chandra.


"Kalau butuh apa-apa panggil Anna yah pah," ucap Anna.


"Iya Anna," sahut Chandara yang langsung pergi dengan menepuk bahu Athar.


"Papa sepertinya kurang sehat," ucap Athar yang bisa melihat dari wajah Chandra.


"Seperti yang kamu dengar dari papa. Katanya hanya sakit tua dan papa selalu tidak mau berobat. Makanya menyebalkan," ucap Anna.


"Begitulah orang tua Anna, dia hanya sangat percaya dan sangat nyaman dengan tritmen pengobatannya sendiri," ucap Athar.


"Iya sih kamu benar. Tetapi tetap aja. Kadang-kadang aku juga khawatir sama papa," sahut Anna.


"Itu hal yang sangat wajar kamu itu anaknya. Jadi jelas sangat Khawatir," sahut Athar.


"Iya sih. Ya sudahlah semoga kesehatan papa semakin membaik," ucap Anna. Athar mengangguk dengan merangkul bahu Anna.


"Hmmmm," tiba-tiba terdengar suara deheman Pria yang siapa lagi jika bukan Mike yang ada saja pekerjaannya yang menggangu Anna dan Athar.


"Rangkul-rangkukan ini ceritanya," ucap Marko dengan menyindir yang sangat julid.


"Apa sih Marko," sahut Athar lama-lama kesal dengan temannya itu dan Anna seperti biasa pasti sangat canggung.


"Tidak apa-apa ya silahkan saja. Kalau kalian mau saling rangkul," sahut Mike.


Athar dan Anna hanya geleng-geleng saja dengan kelakuan Mike.


"Ya sudah lanjutkan kegiatan kalian. Aku mau kesana dulu!" tunjuk Mike pada Olive.


"Sudah sana pergi," usir Athar.


"Mengusir segala lagi," sahut Mike yang langsung pergi.


"Dia memang seperti itu selalu sok tau," ucap Athar.


"Biar ajalah," sahut Anna yang tersenyum pada Athar dan Athar menggenggam tangannya yang membuat Anna tersenyum.


Mike benar-benar menghampiri Olive yang masih mengobrol bersama, Sana, Lisa.


"Olive!" tegur Mike.


"Eh kak Mike. Oh iya Lisa, Sana kenalin ini kak Mike temannya kak Athar," Olive langsung memperkenalkan Mike.


"Hallo saya Sana, istrinya Gibran, kakaknya Athar," sahut Sana yang menjulurkan tangannya memperkenalkan dirinya.


"Mike," sahut Mike tersenyum lebar.


"Aku Lisa," sahut Lisa.


"Mike," sahut Mike.


"Hmmm, boleh tidak pinjam Olivenya?" tanya Mike.


"Ya boleh lah," sahut Sana.


"Ya sudah aku pinjam sebentar ya," ucap Mike. Sana dan Lisa mengangguk.


"Olive bicara sebentar yuk!" ajak Mike.


"Oke," jawab Olive. "Daaa," sahut Olive yang pergi bersama Mike. Lisa dan Sana saling melihat menatap dengan keanehan.


"Mereka dekat sekali," ucap Lisa.


"Mungkin ada yang special," sahut Sana.


"Tapi Olive tidak mengatakan apa-apa. Dia juga tidak cerita apa-apa," ucap Lisa.


"Mungkin belum kita tunggu aja kabar baiknya," sahut Sana.


"Iya aku juga berharap ada kabar baiknya," Shut Lisa yang tersenyum bersama Sana. Jika teman bahagia ya pasti mereka juga akan ikut bahagia dengan kebahagiaan teman mereka


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2