
Acara makan malam bersama keluarga Ari Purnama pun tiba. Kali ini mereka makan malam di meja panjang yang mana kali ini mereka makan satu meja dengan semua karyawan.
Ari Purnama Maharani, Olive, Anna Derry,
Chandra, Amelia, Aurelia, Athar Jennie, Gibran duduk saling berhadapan dengan karyawan yang lainnya juga yang ada juga wartawan yang meliput acara makan malam itu.
Di atas meja juga sudah banyak terhidang makanan yang mewah-mewah dan juga ada beberapa minuman. Mereka juga di layani pelayan yang ada di belakang yang siap siaga jika para tamu itu ingin membutuhkan sesuatu.
" Mari kita nikmati semuanya, semoga makannya kalian suka dan semoga kalian semakin bekerja keras dan memberikan yang terbaik," ucap Ari Purnama memberikan arahan sebelum makan.
" Terima kasih pak," sahut karyawan.
" Ayo kita nikmati semuanya," sahut Maharani.
" Ayo mbak silahkan!" ucap Maharani pada Amelia.
" Makasih, mbak," sahut Amelia.
" Kami sangat bahagia pak Ari, jika di ijinkan untuk ikut makan bersama kalian dan menikmati segala fasilitas di tempat ini," ucap Chandra.
" Jangan seperti itu Pak Chandra. Ini juga sekalian ada Aurelia yang juga menang dan selamatan untuk yang lainnya dan Aurelia yang mendapatkan reward dan berhubungan dia dan Athar juga akan bertunangn. Jadi tidak ada salahnya kita sama-sama saling berkumpul," ucap Ari Purnama.
Aurelia tersenyum saat Ari Purnama membahas masalah kedekatannya dengan Athar yang merupakan ke untungan untuknya dan apa lagi ada Anna di sana dan juga ada wartawan yang meliput acara itu yang pasti berita hubungannya dengan Athar semakin dekat.
" Benar kata Om Ari Purnama pa. Anggap saja makan malam ini adalah makan bersama keluarga. Iya kan Athar?" Aurelia meminta pendapat pada Athar dengan melihat Athar.
Seperti biasa jika membahas masalah itu di depan umum, Athar pasti sangat tidak nyaman.
" Athar aku sedang bertanya?" sahut Aurelia yang sengaja ingin memperjelas semuanya.
__ADS_1
" Iya," jawab Athar dengan datar yang pasti terpaksa menjawab hal itu. Aurelia tersenyum dengan jawaban Athar.
" Kenapa sih harus membahas masalah yang lain, kan ini bukan hanya keluarga dekat saja, kasihan karyawan yang lain. Kalau mereka tidak nyaman bagaiaman. Macam tidak ada waktu untuk membicarakan hal itu," sahut Olive yang kelihatan tidak suka.
" Hmmm, sebaiknya kita makan saja," sahut Maharani yang mengalihkan pembicaraan agar pembahasan keluar dari masalah pertungan.
Achim, tiba-tiba Anna barsim pelan dan menutup mulutnya langsung karena takut tidak sopan. Atahr langsung melihat Anna.
" Kamu tidak apa-apa Anna?" tanya Olive.
Anna menggeleng-gelengkan kepalanya, " tidak aku tidak apa-apa," jawab Anna.
" Mungkin karena terkena hujan tadi. Kamu sebaiknya minum obat setelah ini, pasti kamu jadi flu," sahut Maharani memberi Anna saran.
" Iya Tante. Makasih sudah mengingatkan Anna," sahut Anna. Maharani mengangguk.
" Kamu sih tadi aku bilang juga apa. Nggak usah pergi. Untung aja ada kak Derry. Kalau tidak kamu sudah hujan-hujanan, mungkin sakitnya akan semakin parah lagi," sahut Olive yang sangat khawatir pada temannya itu.
Aurelia yang mendengar pembicaraan itu terlihat begitu tidak suka, " dia selalu saja mencari perhatian," batin Aurelia sinis.
" Anna, coba ini!" sahut Maharani yang sampai berdiri untuk meletakkan satu jenis makanan ke piring Anna, " ini juga bisa membantu supaya kamu tidak pilek lagi," ucap Maharani.
" Makasih Tante," sahut Anna tersenyum.
" Oliver juga mau. Walau tidak pilek. Tetapi Olive juga ingin mencobanya," sahut Olive mengangkat piringnya yang tidak mau kalah ingin mendapat perhatian.
" Baik sayang. Kamu ini ya benar-benar ada-ada saja tidak mau ketinggalan," sahut Maharani tersenyum dan langsung memberi Olive makanan itu.
Aurelia yang melihat hal itu lagi-lagi hanya bertambah dongkol saja.
__ADS_1
" Kenapa Tante Maharani begitu peduli kepadanya, semua orang kenapa terus memperhatikannya. Bahkan Athar saja yang sudah tau kelakuannya masih saja terus melihatnya," batin Aurelia yang begitu iri dengan Anna.
Selera makannya jadi berkurang dengan Anna yang di depannya yang begitu bahagia mendapat prihatin dari orang-orang yang mana perhatian itu seharusnya untuknya. Senyum Anna yang makan dengan saling memberi lauk di atas piring bersama Olive membuatnya semakin kepanasan yang mana seharusnya perhatian itu yang harus di dapatkannya karena dia tungan Athar dan bukan Anna yang tidak siapa-siapa Athar.
Aurelia melihat situasi dan yang seakan tidak ingin terlihat bodoh mengambil 1 jenis makanan dan memeberikannya ke piring Athar, " cobalah Athar ini sangat enak," ucap Aurelia. Athar hanya mengangguk saja " Kamu juga coba supnya," Aurelia menyendokkan ke mulut Athar dengan 1 tangan Aurelia menampung jatuhnya makannan di suaoannya.
Athar diam yang mengacuhkan suapan itu Anna tadi sempat melihat namun pura-pura tidak melihat. " Athar ayo makan!" titah Aurelia lagi. Athar pun membuka mulutnya yang menerima suapan itu. Tetapi matanya tetap melihat ke arah Anna di depannya dan Anna ternyata sama sekali tidak peduli.
" Anna kamu sama Olive suka korea-koreaan. Cobaan kimchi makanan tradisional Korea," sahut Derry yang menawarkan Anna.
" Makasih pak," sahut Anna tersenyum. Derry pun langsung memberikan ke piring Anna yang di saksikan Athar.
" Kamu coba pasti sangat enak!" ucap Derry lagi. Anna mengangguk dan mencobanya.
" Bagaimana enak?" tanya Derry.
" Enak, aku pernah menekannya tetapi tidak seenak ini," sahut Anna tersenyum pada Derry. Derry melihat di ujung bibir Anna ada bekas minyak membuat Derry mengambil tisu dan langsung melapnya.
" Maaf," ucap Derry melap dengan lembut dan hal itu di saksikan di depan Athar dan jangan tanya betapa kesalnya Athar bahkan terlihat tangan itu mengepal yang kelihatannya begitu cemburu melihatnya.
Aurelia yang juga melihat hal itu dan juga melihat ke arah Athar yang mana Athar terlihat jelas begitu cemburu. Wajah Athar tidak bisa di bohongi yang memang menunjukkan ketidak sukaan dirinya melihat pemandangan itu.
Jennie yang makan dengan elegan dan tenang hanya mengamati situasi itu yang melihat Athar dan Anna seperti sama-sama cemburu. " Mereka malah terlihat saling balas-membalas. Memang benar-benar aneh, sama saja ke-2nya," batin Jennie geleng-geleng yang melanjutkan makannya.
Namun Gibran yang di sampingnya memang tidak peduli dengan suasana yang terjadi. Dia makan dengan tenang. Layar handphone Gibran yang hidup tanpa sengaja mata Jennie harus melihat pesan dari atas.
" Bos kami sudah siapkan semuanya, mobilnya juga ada dan di pastikan aman,"
Pesan yang terlihat oleh Jennie, yang membuat Jennie melihat ke arah Gibran yang mana Gibran tidak menyadari pesan masuk itu. Dari tatapan Jennie, sangat terlihat jelas Jennie merasa ada sesuatu yang mungkin seperti mencurigai sesuatu.
__ADS_1
Bersambung