Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 87 Anna yang khawatir.


__ADS_3

Athar menemui Jennie di dalam mobil di mana mobil itu terparkir di pinggir jalan yang berjarak 50 meter dari perusahaan Glossi. Yang bersebrangan dengan Perusahan itu.


Jennie dan Athar duduk di depan. Di mana Jennie yang duduk di kursi pengemudi dan Athar di sebelahnya. Jennie memperlihatkan tablet pada Athar Di mana rekaman yang di dapatkan Jennie dari rumah perumahan Anna tinggal.


Pria bertopi dan berjaket hitam itu yang ternyata berdiri di samping mobil Athar malam itu di saat hujan yang mana orang yang tidak tau identitasnya siapa Pria asing yang mencurigakan itu yang terus melihat kearah rumah Anna.


" Apa hanya ini yang ada. Apa tidak ada rekaman lain?" tanya Athar.


" Tidak ada. Hanya ini yang aku dapatkan dari depan perumahan yang terdapat toko bangunan yang punya cctv yang mengarah pada perumahan itu," jawab Jennie.


" Siapa dia. Kenapa wajahnya tidak bisa di kenali. Penampilannya begitu misterius. Apa maksudnya dia mengintai rumah Anna. Apa sebenarnya motifnya? tanya Athar terlihat khawatir pada Anna.


" Aku juga tidak tau. Aku sudah mengirim 4 orang untuk berjaga-jaga di sekitar perumahan itu. Sepertinya dia memang punya niat jahat pada Anna. Dan kemungkinan Anna mempunyai musuh," ucap Jennie menerka-nerka.


" Aku tidak masalah itu," sahut Athar.


" Aku akan mencoba menyelidiki lagi dan akan terus mengirim orang untuk mengawasi Anna," ucap Jennie.


" Iya lakukan semuanya dengan baik," sahut Athar yang setuju.


Jennie menganggukkan kepalanya. Athar memang tidak mungkin tingagl di rumah Anna terus untuk mengawasi Anna dan mungkin jalan yang di berikan Jennie sangat terbaik yang bisa menjaga Anna.


Tiba-tiba Athar melihat ke luar mobil dan melihat Anna yang berjalan yang menuju Perusahaan Glossi. Namun Athar melihat tiba-tiba mobil berhenti di depan Anna yang langsung melihat Chandra yang keluar dari mobil itu yang berdiri di depan Anna yang menghalangi jalan Anna.


" Om Chandra," lirih Athar terlihat panik dan membuatnya langsung keluar dari mobil tetsebut.


Jennie benar-benar bingung dengan Athar yang keluar begitu saja yang berlari menyebrang jalan untuk menghampiri Anna. Athar terlihat begitu panik.


" Ada apa dengannya. Aku tidak pernah melihatnya segitu gilanya hanya karena wanita," batin Jennie heran melihat atasan dan temannya itu.


" Athar apa sungguh kau...." Jennie tidak bisa melanjutkan tebakannya mengenai sahabatnya itu.


Anna yang berdiri di depan Chandra menelan salavinanya. Jujur dia sedikit takut jika Chandra akan menculiknya lagi. Bahkan Anna ingin mundur atau pergi dari Chandra. Apa yang terjadi kemarin sepertinya membuatnya sedikit takut.


" Jangan halangi jalanku, aku mau lewat," ucap Anna yang berusaha tenang.


" Kau sudah membaik," sahut Chandra tampak dingin.


" Minggirlah aku mau lewat," sahut Anna yang tidak menjawab pertanyaan itu.


" Anna kau marah kepadaku?" tanya Chandra.


" Jangan bicara kepadaku. Jadi minggirlah! jangan sampai aku berteriak karena kau berada di depanku," ucap Anna yang sedikit memberikan ancaman.


" Kau akan berteriak?" tanya Chandra yang seperti menantang Anna.


" Aku bilang minggir!" titah Anna lagi. Chandra tersenyum dan melangkah mendekati Anna dan Anna refleks mundur dan tiba-tiba Athar datang berdiri di depan Anna. Anna kaget dengan tubuh kokoh yang sudah berdiri di depannya.


" Om Chandra," ucap Athar dengan napasnya yang tidak teratur.


" Kenapa dia ada di sini," batin Anna di belakang Athar melihat punggung Athar yang tegab berdiri seolah sangat melindunginya.


" Ada apa Athar? kenapa aku menghalangi Om? Om ingin bicara dengan Anna," sahut Chandra dengan tenang.


" Ini sudah jamnya kantor. Anna seharusnya kau masuk kantor tepat waktu," ucap Athar melihat Anna dengan ekor matanya.


" Apa tidak bisa Athar Om bicara sebentar dengannya?" tanya Chandra terlihat lembut.


" Maaf Om. Perusahaan ku punya peraturan untuk karyawan," ucap Athar dengan tegas.


" Hmmm, begitu rupanya. Padahal Om ingin bicara dengannya. Tetapi kamu sudah mengatakan seperti itu jadi mau bagaimana lagi," sahut Chandra.


" Iya Om, maafkan saya. Anna kamu harus menaati peraturan. Aku tidak suka dengan ketidak di siplinanmu. Jadi ayo ikut denganku," sahut Athar yang memegang tangan Anna dan langsung membawanya pergi dari hadapan Chandra.


Hal itu membuat Anna kaget yang langsung tertarik Athar begitu saja. Chandra juga heran dengan Athar yang begitu melindungi Anna.


" Ada apa dengannya. Apa Anna dan Athar sedekat itu dan kemarin saat Athar menolong Anna dia terlihat khawatir pada Anna. Apa mereka sudah kenal lama," batin Chandra yang membalikkan tubuhnya meliahat Athar yang memegang Anna yang membawanya pergi.


" Hal ini memang aneh. Apa ada yang tidak aku ketahui sama sekali," batin Chandra penuh dengan tanda tanya.


Athar terus membawa Anna memasuki Perusahaan. Bahkan Athar terus memegang lengan Anna sampai lobi perusahan.


" Sampai kapan kau memegang tanganku seperti ini?" tanya Anna membuat langkah Athar terhenti dan membalikkan tubuhnya melihat tangannya yang memegang lengan Athar membuat Athar langsung melepasnya.


" Seharusnya kau masuk kantor tepat waktu, kau tidak pernah mengikuti peraturan perusahan ini. Apa kau sengaja mencari masalah terus," ucap Athar yang menyalahkan Anna begitu saja dan langsung mengoceh di depan Anna.


" Lagian belum juga telat. Ini masih ada 10 menit lagi jam makan siang," sahut Anna.


" Jangan biasakan selalu menjawab," sahut Athar.

__ADS_1


" Iya, salah lagi," sahut Anna pasrah.


" Sana masuk kembali. Selesaikan pekerjaanmu jangan malas-malasan. Perusahan ini bukan punya nenek moyangmu," ucap Athar.


" Baik pak Athar," sahut Anna mengangguk dan pergi begitu saja.


" Tetapi untung sih ada dia. Jika tidak aku tidak tau apa yang akan di lakukan papa padaku," batin Anna yang begitu bersyukur dengan hadirnya Athar di waktu yang tepat.


Kepergian Anna membuat Athar membuang napasnya perlahan kedepan dengan hembusan yang panjang. Dia seakan lega dengan Anna yang baik-baik saja.


" Athar ada apa dengan mu kenapa belakangan ini. Kau selalu melakukan. Hal-hal yang sepontan seperti itu," batin Athar yang kebingungan sendiri tentang dirinya.


*********


Aurelia duduk sendirian di taman yang sedang melamun. Dia terlihat begitu murung dengan beban pikiran yang bisa di perkirakan sangat banyak. Pasti pikirannya tentang Athar, ataupun mungkin Anna.


" Aurelia!" tegur Derry yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Aurelia.


" Derry," sahut Aurelia yang mendongak ke atas melihat Derry yang tersenyum kepadanya.


" Apa tidak keberatan kamu memberikanku tempat duduk?" tanya Derry.


" Duduklah!" sahut Aurelia yang langsung bergeser. Derry tersenyum lebar dan duduk di samping Aurelia.


" Kamu kenapa melamun sendirian di sini?" tanya Derry.


" Tidak apa-apa. Aku hanya menenangkan pikiran saja," sahut Aurelia.


" Apa pikiranmu sekeras itu sampai harus di tenagkan?" tanya Derry. Aurelia mengangguk.


" Aku jadi penasaran masalah apa itu," sahut Derry.


" Tidak terlalu serius hanya masalah kecil hanya saja butuh bersantai untuk memikirkannya," sahut Aurelia.


" Apa berhubungan dengan desain kamu yang masuk dalam tahap 20," sahut Derry asal tebak.


" Ya bisa jadi. Karena pasti melakukan semua itu sangat sulit. Apa lagi aku harus bersaing-saing dengan orang-orang yang pasti hebat-hebat juga dan jalan satu-satunya aku harus menang. Karena jika tidak aku mempermalukan diriku dan juga Athar," sahut Aurelia.


" Kalah menang itu biasa dan tidak ada yang mempermalukan. Jika kamu kalah pun tidak ada kaitannya dengan kak Athar. Jadi jangan terbebani," sahut Derry yang menanggapi dengan santai.


" Ya kamu benar. Tapi bagiku kemenangan akan menjadi biasa untukku. Aku memang harus menang dan iya aku yakin aku akan menang apa lagi kau juga akan berpihak pada ku bukan," ucap Aurelia. Derry tersenyum mendengarnya.


" Kamu berpihak padaku kan?" tanya Aurelia.


" Iya," sahut Derry membuat Aurelia tersenyum.


" Dan iya kamu juga di bebaskan untuk mencari kain sendiri.Jika tidak ada yang cocok di gudang perusahaan," sahut Derry yang sedikit memberi bocoran.


" Benarkah!" Sahut Aurelia.


" Ya, semuanya di bebaskan untuk mencari bahan sendiri. Jika memang tidak cocok dengan bahan yang ada di dalam gudang," jelas Derry lagi.


" jadi pemilihan bahan di bebaskan?" tanya Aurelia lagi.


" Hmmm, banyak kemudahan di berikan supaya kalian mendapatkan hasil yang terbaik," ucap Derry.


" Jika begitu aku harus mendapatkan bahan yang berkualitas. Supaya karya ku yang menang dan dengan begitu aku dan Athar akan semakin dekat. Karena desainku yang akhirnya keluar menjadi brand terbaru Glossi. Hubungan kamu pun akan semakin dekat," batin Aurelia yang mulai punya rencana.


" Aurelia!" tegur Derry yang melihat Aurelia tampak diam.


" Ha iya kenapa?" sahut Aurelia gugup.


" Kamu yang kenapa, kok malah diam?" tanya Derry.


" Tidak apa-apa Derry. Mendengar apa yang kau katakan membuatku bertambah semangat dan aku jadi sudah memiliki banyak ide hanya dengan kata-kata kamu," sahut Aurelia tersenyum. Derry juga tersenyum mendengarnya.


" Benarkah seperti itu?" tanya Derry. Aurelia mengangguk.


" Ya baguslah, aku menunggu karyamu semoga saja kamu memberikan yang terbaik untuk Perusahaan Glossi," ucap Derry memberikan semangat.


" Makasih ya Derry," ucap Aurelia.


" Sama-sama," sahut Derry.


" Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu. Kebetulan aku ada bertemu dengan beberapa klien dari perusahaan papa," ucap Aurelia yang langsung berdiri dengan menyandang tasnya.


" Kamu bawa mobil?" tanya Derry.


" Iya, aku membawa mobil dan lagi parkir di sana," ucap Aurelia.

__ADS_1


" Ya sudah kalau begitu. Rencananya aku ingin mengantarmu. Tetapi ya sudah mungkin lain kali," ucap Derry.


" Iya lain kali aja. Ya sudah aku pergi ya," ucap Aurelia pamit Derry hanya mengangguk. Dan melihat kepergian Aurelia setelah itu Derry pun bergegas pergi dari tempat itu.


" Hmmm, semoga lain kalinya akan terwujud," batin Derry yang terus melihat kepergian Aurelia.


**********


Sana turun dari ojek yang berhenti di depan perumahan Anna.


" Makasih ya pak," ucap Sana yang membuka helm.


" Sama-sama neng," sahut kang ojek dan langsung pergi. Sana melihat keatas melihat rumah Anna yang masih gelap.


" Semoga saja Anna sudah pulang. Iya kali dia pergi lama sekali tidak pulang-pulang sudah seperti Bu Toyib saja. 3 kali puasa, 3 kali lebaran gak pulang-pulang," gerutu Sana yang melangkahkan kakinya menaiki anak tangga yang menuju rumah Anna.


Sana melihat banyak tukang yang memasang Cctv di sekitar perumahan itu.


" Wau ada kemajuan ternyata perumahan ini. Sekarang sudah pakai Cctv di setiap sudut. Keren juga Pak lurahnya," gumam sana yang terus melangkah dengan kepalanya yang melihat-lihat Cctv dan saat sampai di depan rumah Anna.


Sana melihat seorang wanita yang berdiri di depan pintu Anna yang bersandar dengan membawa paper bag besar yang mana wanita itu adalah Olive.


" Siapa dia?" tanya sana heran dengan Olive. Ketika sana berdiri di depan Olive.


Olive hanya tersenyum dengan kepala yang sedikit menunduk yang heran dengan Sana menatapnya dengan mengintimidasi.


" Kamu siapa?" tanya Sana dengan pelan.


" Aku, aku Olive," jawab Olive.


" Kamu ngapain di sini?" tanya Olive.


" Aku, aku mau menemui Anna," jawab Olive.


" Kamu kenal Anna?" tanya Sana. Olive mengangguk.


" Kamu juga mengenalnya?" tanya Olive. Sana mengangguk.


" Oh, begitu. Anna sepertinya belum pulang," sahut Olive.


" Ya mungkin saja. Kita tunggu saja di sini," sahut Sana. Olive mengangguk yang setuju menunggu Anna bersama dengan Olive. Sana dan Olive sama-sama tersenyum.


*********


Anna pulang agak kemalaman karena banyak pekerjaan yang menumpuk yang mau tidak mau harus di selesaikannya karena sudah beberapa hari tidak masuk kantor.


Anna turun dari motornya dengan membuka Helmnya dan meletakkan di kaca spion motornya. Memang tempat itu tidak akan pernah berubah dan tidak pernah hilang juga.


" Ahhhh, aku lelah sekali hari ini," ucap Anna dengan memijat-mijat belakang lehernya menggoyangkan kepalanya yang mana dia memang terlihat lelah. Wajahnya juga terlihat begitu kucel dan sepertinya Anna juga mengantuk keras.


Anna melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga dengan langkah yang tidak bersemangat. Karena saking lelahnya. Tangannya juga tidak lepas memijat-mijat belakang lehernya.


Tiba sampai di depan rumahnya Anna kaget melihat 2 wanita yang di kenalnya sudah duduk bersilah kaki saling berhadapan yang sedang memakan cemilan seperti gembel di depan pintu rumahnya. Mata Anna terbuka lebar memastikan benarkah ke-2 orang itu adalah Sana dan juga Oliver.


" Sana, Olive," lirih Anna. Sana dan Olive sama-sama mengangkat kepala mereka. Mendongak keatas melihat Anna yang berdiri dengan menunjukkan wajah heran.


" Anna kamu sudah pulang," sahut Sana. Anna mengangguk.


" Kalian ber-2 kok ada di sini?" tanya Anna heran.


" Ya kami itu menunggu kamu. Kamu lama sekali pulangnya," sahut Olive.


" Menunggu aku," sahut Anna menunjuk dirinya sendiri.


" Ya iya menunggu kamu. Masa orang lain. Buruan buka deh pintu rumah kamu. Masuk angin yang adanya lama-lama duduk di lantai," sahut Sana.


" Oh, begitu rupanya. Siapa suruh duduk di situ," sahut Anna.


" Ya mau di mana lagi," sahut Sana.


" Ya mana aku tau," sahut Anna.


" Ya, sudah buruan buka deh pintunya," suruh sana lagi.


" Iya, iya, minggir dong. Bagaimana mau pintunya di buka. Kalau kalian saja masih di situ," ucap Anna.


Sana dan Olive pun akhirnya bergeser dan Anna pun membuka pintu dengan cepat agar kedua temannya yang sepertinya saling berkenalan itu memasuki rumahnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2