
Pagi-pagi sekali Anna sudah siap-siap di dalam kamarnya. Dengan memakai blouse putih dengan jeans biru Aqua. Anna tampil cantik dengan Feminim dengan rambutnya yang di biarkan di gerai.
Anna hanya memberi sedikit polesan make up di wajahnya agar tidak terlalu polos.
"Baiklah sudah selesai, ini sudah cukup aku harus buru-buru. Nanti aku ketinggalan pesawat lagi," ucap Anna merasa sudah cukup berhias. Anna pun langsung menghampiri kopernya yang berada di dekat pintu dan langsung keluar dari kamarnya setelah selesai mengurus semuanya
"Anna kamu sudah mau berangkat?" tanya Maya yang melihat Anna menuruni anak tangga.
"Iya mah, kebetulan pesawat pagi-pagi sudah take off. Anna mengambil penerbangan pertama," jawab Anna.
"Lalu Olive mana?" tanya Maya.
"Mungkin sebentar lagi datang," jawab Anna melihat arloji di tangannya, "kita akan di antar supir olive ke Bandara," ucap Anna.
"Begitu rupanya. Kamu jadi nggak sempat deh. Ketemu sama kakak kamu," ucap Maya.
"Memang kak Aurelia pulang hari ini?" tanya Anna yang baru mendapat kabarnya.
"Iya. Aurelia pulang lebih awal. Tapi mungkin nanti siang baru sampai. Kamunya udah pergi aja," ucap Maya.
"Ya benar juga sih mah. Tapi Anna Vidio Call dengan kak Aurelia. Anna akan pamit pada kak Aurelia," ucap Anna.
" Ya sudah Anna. Semoga perjalanan kamu lancar," ucap Maya.
"Iya mah, mama juga jaga diri ya dan doain Anna," ucap Anna.
"Kalau itu pasti," sahut Maya yang memeluk putrinya itu.
"Anna pamit dulu!" ucap Anna mencium punggung tangan mamanya dan juga mencium pipi, kiri, kanan, dan juga kening sang mama. Maya juga melakukan hal yang sama.
"Oh iya Anna sebentar!" ucap Maya mencegah saat putrinya itu ingin pergi.
"Ada apa mah?" tanya Anna lagi.
Maya mengambil paperbag dari atas meja dan memberikan pada Anna, "berikan pada Athar ya. Mama sudah buatkan semua ini untuknya," ucap Maya yang memberikan bingkisan untuk Athar.
"Baik mah, nanti Anna berikan. Dia pasti suka," sahut Anna tersenyum. Maya pun tersenyum.
Tin- tin-tin.
"Nah itu Olive. Ya sudah ya mah, Anna pamit dulu. Assalamualaikum," ucap Anna pamitan.
"Walaikum salam," jawab Maya yang melihat kepergian putrinya itu. Maya juga mengantarkan Anna keluar. Yang mana mobil yang menjemput Anna sudah tiba dan supir sedang memasukkan koper Anna kedalam bagasi.
"Tante Olive tidak mampir lagi ya!" teriak Olive.
"Tidak apa-apa Olive kalian hati-hati ya," ucap Maya. Olive dan Anna mengangguk dan melambaikan tangannya pada Maya. Maya pun tersenyum melihat mobil itu semakin lama semakin jauh.
"Semoga perjalanan mereka lancar," batin Maya dengan harapan.
Anna dan Olive berada di dalam mobil yang Sama-sama duduk di kursi belakang.
"Apa ini?" tanya Olive melihat bingkisan yang di bawa Maya.
"Masakan mama. Makanan kesukaan Athar," jawab Anna.
"Huhhhh Tante Maya benar-benar baik. Selalu kirim makanan Indonesia untuk kak Athar. Kak Athar juga selalu merepotkan saja," ucap Olive.
"Tidak apa-apa Olive kamu tidak perlu protes. Karena mama juga tidak keberatan. Kamu kan tau sendiri mama dan Bu Anjani itu sangat dekat. Jadi Athar juga sudah seperti anaknya. Jadi tidak masalah. Orang mama bisa masak," ucap Anna.
"Ya tidak jadi menantu. Sekarang jadi anaknya," celetuk Olive yang membuat Anna hanya tertawa saja.
"Sudah-sudah. Kamu ini syirik aja. Kakak kamu itu karang makanan-makanan seperti ini. Jadi jangan syirik harus suport kakak kamu," ucap Anna.
"Iya deh," sahut Olive, "oh iya persiapannya dan data-data dari kak Gibran sudah kamu terima kan?" tanya Olive.
"Sudah aman terkendali. Jangan khawatir," jawab Anna dengan mengajukan 2 jempolnya.
"Baguslah kalau begitu. Semoga semuanya berjalan dengan lancar," ucap Olive dengan harapannya.
"Aku juga berharap seperti itu. Ya kita hanya bisa membantu Gibran dan Sana sedemikan rupa dan sisanya kita hanya berdoa yang penting kita sudah berusaha," jawab Anna.
"Iya kamu benar!" sahut Olive.
************
Bandara.
Derry sedang berdiri sembari memegang hanphonnya yang terlihat menunggu seseorang di Bandara. Kepalanya berkeliling melihat dari pintu yang menunggu seseorang.
Namun tidak lama apa yang di tunggunya sudah muncul. Derry tersenyum ketika melihat Aurelia yang ternyata di tunggunya. Di mana Aurelia yang menghentikan langkahnya yang sedang menyeret kopernya yang melihat di sekelilingnya yang mencari-cari.
__ADS_1
Derry melambaikan tangannya dan langsung di lihat Aurelia. Aurelia tersenyum dan langsung menghampiri Derry. Begitu juga dengan Derry.
"Maaf aku membuatmu menunggu lama," ucap Aurelia yang langsung memeluk Derry.
"Tidak apa-apa Aurelia. Aku baru sampai kok," jawab Derry dengan mengusap-usap pucuk kepala Aurelia.
"Bagaimana apa semuanya sukses?" tanya Derry yang sudah melepas pelukan dari kekasihnya itu.
"Semuanya sukses dan semuanya karena kamu," jawab Aurelia dengan menunduk dada Derry.
"Kamu bisa aja. Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya membantu sedikit dan sisanya itu hasil kerja keras kamu," ucap Derry yang selalu saja merendah.
"Apapun itu. Kamu sudah membantu ku banyak. Terima kasih sayang," ucap Aurelia yang mencium pipi Derry.
"Sama-sama," jawab Derry tersenyum lebar, "ya sudah sekarang kita pulang. Kamu mau pulang atau mau makan lagi?" tanya Derry.
"Aku mau makan dulu. Soalnya perutku lapar, belum di isi dari tadi," ucap Aurelia dengan manjanya sembari mengusap-usap perutnya yang ramping.
"Baiklah sekarang kita akan mengisinya," sahut Derry. Aurelia mengangguk dengan tersenyum. Dan mereka pun pergi meninggalkan bandara tersebut.
**********
Sebelum pulang Aurelia dan Derry mampir terlebih dahulu di tempat favorite mereka. Di Restaurant Jepang yang biasa mereka kunjungi untuk memanjakan perut Aurelia yang sebelumnya tadi mengeluh kelaparan.
"Sayang banget tadi tidak sempat ketemu Anna. Padahal aku kangen juga sama Anna," ucap Aurelia sembari memakan makanan yang dipesannya.
"Bukannya nanti kalau acaranya akan di gelar. Kita juga akan pergi New York bersama kak Gibran yang lainnya. Jadi bisa ketemu Anna," sahut Derry.
"Menunggunya terlalu lama," sahut Aurelia yang tampak tidak bersemangat.
"Ya sudah setelah ini kamu biasa Vidio Call dengan Anna. Jadi gampang kan," ucap Derry memberi saran.
"Iya nanti aku akan Vidio Call dengan Anna," jawab Aurelia.
"Tapi ngomong-ngomong bicara Anna. Aku salut banget sama dia dan kak Athar yang hubungan mereka sampai saat ini sangat baik," ucap Derry.
"Ya mereka bisa berteman. Sangat tidak terduga memang. Tetapi mungkin itu yang terbaik dan buktinya sampai detik ini mereka sama-sama bahagia dan kita juga bukannya sudah mendukung apapun keputusan dari mereka," ucap Aurelia.
"Ya kamu benar kita doakan saja yang terbaik," sahut Derry. Mereka pun sama-sama tersenyum dengan kembali menikmati makanan yang mereka makan.
************
New York. Bandara.
2 gadis cantik itu sama-sama berjalan dengan menyeret koper mereka masing-masing dengan sama-sama tersenyum.
"Olive!" suara yang tidak asing itu terdengar membuat Anna dan Olive menghentikan langkahnya dan melihat ke arah suara tersebut.
"Kak Athar!" sahut Olive yang langsung menghampiri Athar dan memeluk Athar. Anna juga mengikut di belakang Olive.
"Huhhh kangen banget," ucap Olive dengan manjanya memeluk Athar dengan erat. Anna hanya tersenyum saja melihat Olive dan Athar yang saling melepas rindu.
"Kamu apa kabar?" tanya Athar yang sudah melepas pelukan itu.
"Baik-baik aja. Seperti yang kakak lihat," jawab Olive dengan tersenyum.
"Athar!" sapa Anna.
"Anna!" sapa Athar yang juga memeluk Anna sebentar, "kamu apa kabar?" tanya Athar yang juga sudah melepas pelukan itu.
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja," jawab Anna dengan tersenyum, "kamu sendiri bagaimana apa kabar?" tanya Anna.
"Sama. Aku juga baik-baik saja," sahut Athar dengan tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Anna.
"Ya sudah ayo!" ajak Athar. Anna dan Olive mengangguk, "biar aku yang bawa," sahut Athar mengambil alih menyeret koper Olive dan juga Anna dan Anna hanya tersenyum bersama Olive yang saling bergandengan menuju mobil.
Karena mereka menuju New York. Jadi Athar yang bertanggung jawab untuk 2 wanita cantik itu.
*************
Tidak lama akhirnya Anna, Olive dan Athar sampai di Apartemen Athar. Perjalanan dari Bandara ke Apartemen Athar hanya memakan waktu 46 menit dan mereka sudah tiba dengan selamat dan memasuki Apartemen tersebut. Apartemen mewah yang sudah di tempati Athar beberapa bulan ini. Bisa di katakan lebih 6 bukan Athar tinggal di negara orang.
"Kamu tinggal sendirian?" tanya Anna dengan kepalanya berkeliling melihat di sekitar Apartemen tersebut yang mungkin mengabsen isinya.
"Iya," jawab Athar, "ayo duduk!" titah Athar dengan ramah.
"Ya ampun Anna kamu kayak tidak tau aja. Kak Athar itu bisa segalanya dan lihatlah tempat ini sangat rapi. Walau hanya di pegang sendiri," sahut Olive.
"Ya dan kerapihannya tidak menular padamu," seloroh Anna.
__ADS_1
"Hey jangan mengejek sama-sama jorok dan tidak tapi tidak boleh saling menghakimi," sahut Olive.
Athar hanya tersenyum tipis yang sekarang berada di dapur yang membuat minuman untuk 2 tamunya itu.
"Ya sudah kak Athar Olive mau mandi dulu. Soalnya gerah," sahut Olive.
"Ya sudah sana. Kamu sama Anna tidur di kamar atas," ucap Athar yang memang menyiapkan penampungan untuk 2 wanita yang pasti merepotkannya.
"Baiklah!" sahut Olive, "Anna aku mandi duluan," ucap Olive yang berdiri dari tempat duduknya.
"Oke," sahut Anna dengan mengangguk dan Olive langsung pergi menaiki anak tangga yang tertinggal Anna sendirian.
Anna menarik napasnya dan membuangnya perlahan dan menghampiri Athar yang ada di dapur dengan Anna membawa paper bag yang tadi titipan mamanya.
"Dari mama!" ucap Anna memberikan pada Athar.
"Makasih!" sahut Athar tersenyum, "Tante Maya selalu saja mengirimnya. Aku lama-lama jadi ketagihan," ucap Athar bercanda.
"Selagi mama tidak keberatan. Tidak ada masalah," sahut Anna. Athar menganggukkan kepalanya.
"Sini biar aku yang keluarkan isinya," ucap Anna. Athar mengangguk dan memberikan kepada Anna kembali apa yang di pegangnya dan Anna langsung mengeluarkan isinya.
Semua itu makanan yang di sukai Athar. Ya Maya selalu mengirim untuk Athar. Makan yang di buat sendiri dan di pastikan sehat. Padahal Athar tidak pernah meminta. Tetapi Maya selalu mengirimnya.
"Mau taruh di mana ini?" tanya Anna yang sudah mengeluarkan semua dari dalam paper bag tersebut.
"Taruh di dalam kulkas saja," jawab Athar.
"Baiklah!" sahut Anna mengangguk dan langsung menyusun di kulkas. Athar masih membuatkan minuman untuk Anna dan Olive dan Athar sepertinya membutuhkan sesuatu dari dalam kulkas dan langsung menghampiri kulkas mengambil yang di butuhkannya.
Anna masih menyusun makanan itu. Dan sangat kebetulan tiba-tiba tangan Athar dan Anna sama-sama memegang salah satu botol minuman. Tangan keduanya yang saling bersentuhan dam membuat ke-2 nya saling melihat.
Namun hanya beberapa detik dan ke-2nya saling melepas dengan tawa kecil. Ya tidak ada baper di antara ke-2nya sangat biasa sepertinya dan malah mereka merasa lucu sendiri.
"Nih!" ucap Anna memberikan apa yang di inginkan Athar tadi sampai membuat ada adegan kecil di antara mereka.
"Makasih!" sahut Athar mengambilnya. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing dan setelah Anna selesai mengerjakan pekerjaannya. Anna duduk di meja bar dan Athar memberinya minuman.
"Minumlah!" titah Athar.
"Makasih!" sahut Anna tersenyum. Lalu Athar duduk di samping Anna..
"Bagaimana hidup di Negara orang!" tanya Anna basa-basi.
"Yang pasti tidak seenak hidup di negara sendiri," jawab Athar yang juga minum.
"Tida ada rencana untuk kembali ke Indonesia?" tanya Anna.
"Belum kepikiran sama sekali," jawab Athar singkat.
"Hmmm, begitu," sahut Anna.
"Kamu sendiri bagaimana. Apa tidak ingin tinggal di Negara orang?" tanya Athar.
"Aku Indonesia asli dan lidah ku tidak cocok untuk makanan bule," jawab Anna dengan singkat.
"Lama-lama juga akan biasa," sahut Athar.
"Aku berbeda Athar denganmu. Kalau kamu sudah dari kecil dan terbiasa tinggal di luar Negri. Jadi kamu akan terbiasa. Namun aku berbeda. Aku sama sekali jauh dari hal itu dan pasti sulit untuk bersosialisasi," jelas Anna.
"Serius amat membahas mau tinggal di Luar Negri. Memang ada yang mau tinggal serumah," celetuk Olive yang sudah selesai mandi dan menyahut saja pembicaraan keluarga Anna dan Athar.
"Apaan sih Olive," sahut Anna.
"Siapa yang mau pindah memangnya?" tanya Olive duduk di sebelah Anna.
"Nggak ada yang mau pindah. Kamu ini menyahutnya selalu berlainan," sahut Athar.
"Oh gitu. Lalu apa aku ganggu pembicaraan kalian berdua?" tanya Olive.
Athar mengacak-acak rambut Olive dengan gemes tanpa mengatakan apa-apa.
"Issss kak Athar berantakan tau," sahut Olive kesal. Anna hanya tersenyum saja melihat kakak adik yang ribut itu.
"Makanya pikiran itu jangan kemana-mana," sahut Athar.
"Tapi nggak usah pakai berantaki rambut juga," sahut Olive kesal, "Lihatlah bahkan aku saja tidak di berikan minum," protes Olive.
"Ini kamu itu nggak usah bawel," Athar langsung memberikan adiknya itu minum yang sama dengan Anna.
"Oh di kirain hanya untuk Anna saja," sahut Olive.
__ADS_1
Anna dan Athar hanya tersenyum saja melihat kelakuan Olive.
Bersambung