
"Kenapa ada kartu nama Dokter di kamar Athar," batin Anjani merasa hal itu sangat janggal. Mungkin hanya biasa saja menemukan kartu nama. Tetapi Anjani merasa ada sesuatu. Anjani pun langsung mengambil kartu nama itu dan langsung keluar dari kamar Atha. Tidak tau apa yang mau di lakukannya setelah itu. Namun tiba-tiba saja perasaanya sangat tidak enak.
*********
Sementara di kediaman Ari Purnama. Maharani yang duduk di sofa yang terlihat sangat lesu yang sebentar-bentar membuang napasnya perlahan kedepan. Sangat di lihat jelas Maharani sangat banyak yang menggangu pikirannya yang tidak di ketahui apa yang di pikirkannya.
"Mah," tiba-tiba Ari Purnama datang dan langsung duduk di samping istrinya.
"Pah," sahut Maharani.
"Ada apa mah. Apa ada sesuatu yang mama pikirkan?" tanya Ari Purnama.
"Pasti ada," sahut Maharani.
"Apa ini berhubungan dengan Athar?" tebak Maharani.
"Iya pah. Ini sangat berhubungan dengan Athar. Dengan apa yang di sampaikan Derry kemarin. Semua terjadi karena kesalahan kita. Tidak seharusnya Athar menanggung semua ini," ucap Maharani dengan wajahnya yang tampak sangat menyesal.
"Papa juga tidak pernah berpikir. Jika Athar mengalami semua ini. Ya karena keegoisan kita terakhirnya Athar mengalami hal ini dan belum tentu ini tidak terjadi pada Derry dan juga Olive. Papa yang bersalah dalam hal ini dan yang pantas di salahkan," ucap Ari Purnama mengakui kesalahannya.
"Bukan hanya papa saja. Tetapi mama juga. Mama juga harus di salahkan semua yang terjadi. Karena mama dan bukan hanya papa saja, anak-anak menjadi korban karena kita berdua," sahut Maharani yang menyadari kesalahannya.
"Kita berdoa saja. Semoga ada titik terang dalam masalah ini. Semoga saja Athar akan baik-baik saja dan semoga Derry bisa mengubah pikiran Athar," ucap Maharani.
"Pah bagaimana kalau kita juga menemui Athar. Kita juga harus bicara padanya," ucap Maharani tiba-tiba mendapat ide.
"Papa sangat paham dengan mama. Sangat paham dengan keinginan mama. Namun kita tunggu kabar Derry. Kita harus bersabar," ucap Ari Purnama. Maharani hanya mengangguk-angguk saja yang memang harus menunggu Derry dulu.
*********
Anna, Sana, Lisa, dan Olive akhirnya mengecek gedung pernikahan untuk Lisa sahabat mereka. Memang begitu kekompakan mereka 1 yang akan menikah. Semuanya sama-sama heboh dan bahkan paling heboh. Apa lagi Lisa orangnya yang perfect. Jadi Lisa harus sedemikian rupa harus hati-hati dalam mempersiapkan pernikahannya yang dia tidak akan ingin ada kesalahan apapun.
Mereka semua yang berjalan-jalan di tempat di adakan acara pernikahan yang mereka di temani salah satu WO yang pasti yang akan mengurus pernikahannya.
"Apa tempat ini muat untuk jumlah tamu yang di tentukan?" tanya Lisa.
"Ini tempat yang paling besar dan kapasitasnya juga sangat pas, jadi sudah bisa menjamin untuk para tamu,"jawab wanita tersebut.
"Memang mau ngundang 1 Indonesia apa Lisa. Sampai meragukan tempat ini," sahut Anna.
"Tauh, nih. Tempatnya sudah seluas ini juga. Memang undangannya sebanyak apa," sambung Olive yang ikut-ikutan menyahut.
"Ya memang sangat banyak. Kalau perlu memang saru Indonesia," sahut Lisa.
"Kalau begitu kenapa tidak di adakan di lapangan GBK saja sekalian," celetuk Sana.
"Ide bagus," sahut Lisa yang menanggapi serius.
"Capek deh," sahut Anna dan Olive serentak.
"Mari Nona saya tunjukkan yang lainnya," satu WO tersebut. Lisa mengangguk-angguk dan Anna, Sana Olive hanya mengikut saja. Ya terserah Lisa mau apa. Mereka hanya iya-iya saja. Karena Lisa juga yang betulnya nanti.
Setelah Lisa melihat-lihat tempatnya. Anna, Sana dan Olive duduk di salah satu bangku di meja bulat dengan makanan yang di sediakan panitia. Ya mereka juga ingin makan. Karena capek dengan Lisa yang sejak tadi tidak kelar-kelar. Bahkan sampai sekarang Lisa juga tidak kelar mengurusnya dengan WO tersebut Anna dan yang lainnya sudah lelah dan memilih untuk beristirahat.
"Setelah pernikahannya Lisa. Kita bakalan kondangan ke Swiss," sahut Anna membuat Sana dan Olive saling melihat.
"Kondangan untuk siapa?" tanya Sana yang sepertinya tidak tau hal itu.
"Siapa lagi kalau bukan Jennie dan Mahendra. Mereka akan mengadakan pernikahan 2 Minggu setelah pernikahan Lisa dan Marko," jawab Anna yang memang pasti tau hal itu. Karena sebelumnya Mahendra membicarakan itu lada Maya dan Anna ada di sana.
"Ya ampun kenapa mereka menikah jauh amat," sahut Sana.
"Karena di sana tempat yang di inginkan orang tua Mahendra. Jadi wajar saja," sahut Anna.
"Apa itu artinya orang tua kak Mahendra benar-benar sudah memberi restu?" sahut Olive. Sepengetahuannya pasangan itu memang terkendala oleh restu.
"Pada akhirnya iya dan mereka menyadari jika apa yang Meraka lakukan tidak seharusnya mereka lakukan dan hanya membuat anak mereka menderita dan akhirnya mengalah dan menerima Jennie dengan baik bahkan menyiapkan pernikahan untuk Jennie dan Mahendra," jelas Anna.
"Syukurlah kalau begitu. Berkat kesabaran mereka. Akhirnya bisa mempersatukan cinta mereka. Aku sangat bahagia mendengarnya," sahut Sana.
"Semuanya juga karena Athar. Dia yang membantu Jennie dan Mahendra. Sampai hubungan mereka di restui," sahut Anna. Sana dan Olive saling melihat ketika Anna menyebutkan nama Athar.
__ADS_1
Ya mereka bisa melihat Anna masih sangat mencintai Athar. Terlihat dari kata dan ekspresi saat wanita itu menyebutkan 1 nama itu.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Anna heran dengan dia temannya itu. Anna juga sebenarnya tidak sadar apakah Anna menyadari barusan menyebutkan nama Athar atau tidak sama sekali.
"Oh tidak. Tidak apa-apa sama sekali," jawab Sana dan Olive dengan serentak membuat Anna heran dengan dahinya yang mengkerut.
"Ya sekarang, Sana sudah menikah dengan kak Gibran, Lisa juga dengan kak Marko dan kak Mahendra dan Bu Jennie. Anna kita berdua sekarang jomblo," sahut Olive dengan merengek manja dan bahkan memeluk Anna yang membuat Anna geli dengan Olive dan Sana hanya tertawa-tawa saja dengan Olive yang melendeti Anna.
"Jangan khawatir. Kalian ini jomblo sangat yang berkelas. Jomblo cantik," sahut Sana.
"Ngejek aja," sahut Olive kesal.
"Bukan hanya kita berdua yang jomblo ada satu lagi," sahut Anna.
"Siapa?" tanya Olive melihat Anna serius.
"Kak Aurelia," sahut Anna.
"Arhhhhh, dia mah tidak masuk rekap," sahut Olive tampak kesal dan sampai melepas pelukannya dari Anna.
"Kenapa tidak masuk rekap? dia kakak aku tau," sahut Anna dengan menggoda Olive.
"Dia kakak kamu. Bukan berarti dia temanku," sahut Olive.
"Olive masih aja gedek sama Aurelia. Mahenndra juga sudah sama Jennie, sudah deh damai sama Aurelia," sahut Sana.
"Tidak semudah itu. Wanita itu wanita jadi-jadian yang sifatnya berubah-ubah," ucap Olive dengan kesalnya bahkan wajah itu menunjukkan sangat marah pada Aurelia.
"Sembarangan bilang kak Aurelia jadi-jadian," sahut Anna, "entar jadi kakak ipar kamu baru tau rasa," celetuk Anna membuat Olive kaget.
"Dengan siapa. Walau kak Athar putus dengan kamu. Tetapi tidak mungkin kak Athar dengan wanita itu," tegas Olive yang sudah sangat yakin dengan hal itu.
"Kalau dengan Derry bagaimana?" tanya Anna. Olive terdiam dan terlihat Anna bicara sangat serius membuat Olive melihat Anna serius.
"Apa iya?" tanya Olive merasa ada yang tidak beres. Anna hanya mengangkat ke-2 bahunya yang tidak memberikan jawaban apa-apa dan malah membuat Olive penasaran.
"Olive kamu itu asiknya Derry. Masa iya tidak peka dengan Derry yang menyukai Aurelia," sahut Sana.
"Lalu kenapa jika Derry tetap menyukainya. Kamu tidak boleh loh menjadi penghambat untuk perasaan orang lain. Awas lo. Nanti kamu yang adanya kualat," ucap Anna yang menakut-nakuti Olive.
"Apaan sih Anna. Siapa juga menjadi penghalang. Arghh udahlah jangan membahas dia. Aku malas mendengar namnya. Masa bodo dia mau jadi kakak ipar atau tidak. Kalau kelakuannya seperti Dajjal aku tidak akan menerimanya," ucap Olive dengan kesalnya. Anna dan Sana hanya tertawa-tawa saja.
"Ehem, maaf ya sudah membuat kalian menunggu!" sahut Lisa yang tiba-tiba datang.
"Tidak kok tidak menunggu," sahut Olive, Anna dan Sana secara serentak.
"Benarkah!" tanya Lisa tanpa dosa.
"Iya Lisa," sahut mereka yang lagi-lagi bicara dengan serentak.
"Ya ampun makasih banget ya untuk teman-teman ku yang benar-benar the best. Kalian baik sekali. Aku jadi terharu pada kalian. Makasih banget," ucap Lisa yang memeluk teman-temanmya tersebut yang di pastikan sekarang pasti sangat kesal dan geli dengan Lisa. Siapa juga yang tidak menunggu dan Lisa seperti orang yang tidak punya dosa.
"Sudah Lisa apa kita mau sampai 24 jam di sini?" tanya Anna.
"Tidak Anna kita akan pulang langsung," sahut Lisa dengan santainya.
"Ya sudah ayo buruan jangan buang-buang waktu, capek temani kamu, suamiku di rumah sendirian," sahut Sana.
"Iya deh yang sudah punya suami," sahut Lisa. Olive dan Anna hanya tertawa saja.
**********
Mobil Aurelia berhenti di depan Perusahaan Glossi yang mana Aurelia akan menuruti perkataan Anna yang ingin memberikan berkas-berkas yang sebelumnya yang di katakan Anna. Ketika sampai Aurelia langsung keluar dari mobil dan langsung memasuki Perusahaan Glossi.
Aurelia melangkah dengan langkah yang santai dengan memegang map tersebut yang memasuki Perusahaan.
"Semoga saja Derry ada di ruangannya," batin Aurelia.
Namun belum sempat dia menuju ruangan Derry. Tiba-tiba saja Derry yang di carinya sudah muncul dan terlihat berjalan buru-buru.
"Derry!" panggil Aurelia yang membuat langkah Derry terhenti yang melihat ke arah Aurelia.
__ADS_1
"Aurelia!" sahut Derry dan Aurelia buru-buru menghampiri Derry.
"Ada apa Aurelia?" tanya Derry.
"Aku ingin memberikan dokumen ini pada kamu ini dari Anna. Katanya penting," jawab Aurelia.
"Oh iya ini memang berkas-berkas kerja sama yang aku butuhkan. Kenapa kamu yang mengantarkan. Anna di mana?" tanya Derry.
"Oh itu Anna sedang tidak bisa, dia menemani Lisa ngecek gedung pernikahan. Makanya aku yang mengantarkannya untukmu," jawab Aurelia yang berbicara sedikit gugup.
"Begitu rupanya. Kalau begitu makasih ya Aurelia sudah mengantarkannya," ucap Derry. Aurelia mengangguk.
"Kamu sendiri mau kemana. Kok terlihat buru-buru sekali?" tanya Aurelia
"Aku mau ke New York," jawab Derry.
Aurelia mengkerutkan dahinya mendengar jawaban Derry, "mau ke New York. Mau ngapain?" tanya Aurelia.
"Aku mau menemui kak Athar," jawab Derry.
Aurelia mendengarnya semakin heran. Derry sampai bela-belain ke New York hanya untuk menemui Athar dan bahkan Derry bicara begitu serius.
"Untuk apa? apa masalah pekerjaan yang begitu serius. Sampai kamu harus menyusulnya?" tanya Aurelia.
"Bukan masalah pekerjaan. Tetapi masalah Anna," jawab Derry.
Aurelia jadi semakin bingung dengan perkataan Derry yang sampai detik ini dia tidak tau apa maksudnya.
"Memang ada apa dengan Anna ?" tanya Aurelia lagi dengan penuh rasa penasaran.
Derry menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Derry melihat arloji di tangannya yang seperti melihat waktu.
"Masih ada waktu. Kamu mau tau alasannya?" tanya Derry. Aurelia mengangguk jelas dia ingin tau. Karena dia memang sangat penasaran.
"Baiklah. Ayo ikut bersamaku," sahut Derry yang langsung menarik tangan Aurelia yang membuat Aurelia bingung. Namun kaget dengan Derry yang membawanya yang tidak tau kemana.
**********
Ternyata Derry membawa Aurelia kesalah satu taman yang tidak jauh dari perusahaan dan mereka duduk di salah satu bangku.
"Derry kenapa membawaku kemari. Ada apa sebenarnya?" tanya Aurelia dengan penuh kebingungan.
"Aurelia aku ingin bicara dengan kak Athar. Karena hanya lewat telpon saja tidak bisa. Bahkan aku sudah membicarakan dengan mama dan papa yang ternyata ada masalah Athar dan Anna yang masalah besar.
"Maksud kamu?" tanya Aurelia yang benar-benar tidak tau apa-apa.
"Aurelia Anna putus dengan kak Athar. Karena kak Athar tidak bisa memastikan untuk melanjutkan hubungan mereka kejenjang yang lebih serius," ucap Derry.
"Aku tidak mengerti Derry dengan apa yang kamu katakan?" tanya Aurelia.
"Aurelia kak Athar trauma dengan pernikahan dan membuat dia tidak berani mengambil langkah untuk menikahi Anna," kelas Derry yang membuat Aurelia terkejut mendengarnya.
Ya dia tidak pernah tau hal itu dan pasti lebih tidak menyangkanya. Jika Aurelia Athar bisa mengalami trauma.
"Kamu yakin?" tanya Aurelia yang merasa itu hal yang tidak masuk akal.
"Aku yakin Aurelia. Aku sudah mendengar semuanya dari Anna dan dari cerita kak Athar," tegas Derry.
"Ya ampun," sahut Aurelia yang tidak bisa berkata apa-apa.
"Tetapi aku merasa ini tidak masuk akal dan memutuskan untuk ke New York untuk bertanya langsung dan mencari tau," ucap Derry.
"Kalau begini bukan hanya Anna yang kasihan. Tetapi juga Athar," sahut Aurelia.
"Aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi," sahut Derry. Aurelia juga bingung sendiri.
"Ya sudah Aurelia aku harus buru-buru pergi. Aku tidak punya waktu lagi," ucap Derry yang melihat arloji di tangannya.
"Ya sudah, semoga saja kamu berhasil dan hati-hati," ucap Aurelia.
"Iya pasti," sahut Derry tersenyum dan Derry juga langsung pergi.
__ADS_1
Bersambung