
Mobil Aurelia berhenti di perusahaan Glossi. Aurelia turun dari mobilnya yang masih menggunakan kaca mata hitamnya. Namun Aurelie Langsung membukanya ketika kakinya hendak berjalan.
Aurelia yang berjalan cantik dengan lenggak-lenggok. Beberapa orang yang berpapasan dengannya harus berbisik.
" Aku dengar calon istrinya pak Athar juga ikut berpartisipasi dalam pengeluaran produk baru," gumam salah seorang wanita yang bicara pelan.
" Ya, kalau dia ikut, jelas dia yang akan menang, bukannya calon istri pak Athar lulusan universitas Luar Negri. Desainnya pasti menarik," sahut teman yang satunya.
" Iya kamu benar. Apa lagi dia calon istrinya pak Athar," sahut lagi temannya yang membicarakan Aurelia.
Aurelia yang berjalan santai mendengar hal itu hanya menyunggingkan senyumnya.
" Ya, Athar memang akan menjadikan desainku pengeluaran produk terbaru. Karena aku yakin. Akulah yang paling bagus di antara yang lainnya," batin Aurelie dengan percaya diri.
" Aku harus menemui Athar. Aku ingin mendengarkan dia memujiku. Aku yakin desainku pasti sudah di lihatnya dan Athar pasti menyesal. Karena selama ini telah menolak desainku," Aurelie bergerutu sendiri di dalam hatinya dengan senyum-senyum sendiri.
**************
Athar terlihat berjalan dengan ibu tirinya Maharani. Ya Athar ingin mengantarkan ibu tirinya itu ke parkiran.
" Mama yakin mau menyetir sendiri?" tanya Athar.
" Iya, mama juga tadi kemari menyetir sendiri. Jadi tidak masalah," sahut Maharani.
" Apa tidak sama supir saja. Biar aku Carikan supir untuk mengantar mama pulang," ucap Athar yang memang sangat menghormati ibu tirinya itu.
" Tidak usah, mama pergi sendiri saja," sahut Maharani yang menolak. Dan Maharani menghentikan langkahnya di depan Athar. Ketika Maharani mengingat sesuatu.
" Oh, iya Athar, mama boleh minta tolong," ucap Maharani tampak ragu.
" Iya boleh ada apa?" tanya Athar yang tampak tidak masalah.
" Mama sedang buru-buru. Mama harus sampai kerumah cepat. Karena ada arisan. Mama minta tolong sama kamu. Kamu hari ini ke toko handphone ya. Kamu tolong belikan handphone keluaran terbaru untuk wanita," ucap Maharani membuat Athar bingung sampai mengkerutkan dahinya.
" Untuk wanita untuk Olive maksudnya," sahut Athar menebak.
" Bukan, bukan untuk Olive. Tetapi untuk orang lain kamu belikan saja ya," ucap Maharani sembari mengingat handphone Anna.
__ADS_1
Meski Maharani tampak cuek dengan handphone Anna yang tadi jatuh. Tapi dia jelas melihat handphone itu retak dan berniat untuk menggantinya. Mungkin Maharani tau Anna tidak akan mudah mengganti handphone karena dua tau Anna bukan Aurelia yang kaya raya.
" Bisa kan Athar?" tanya Maharani memastikan.
" Baiklah ma. Tapi handphone yang seperti apa," ucap Athar bingung.
" Terserah kamu saja, mau handphone yang bagaimana yang penting kamu belikan saja," ucap Maharani.
" Ya sudah kalau begitu," sahut Athar yang tampaknya tidak keberatan.
" Kalau begitu mama pergi dulu. Makasih ya, kamu sudah membantu mama," ucap Maharani pamit.
" Iya ma," sahut Athar. Maharani tersenyum dan langsung pergi menuju mobilnya.
" Tumben sekali mama membelikan handphone, memang untuk apa, apa ada anak teman mama yang ulang tahun," batin Athar keningungan dengan menatap punggung mammanya yang berjalan semakin jauh.
" Athar," suara khas yang sering terdengar tiba-tiba memanggil dan tak lain adalah Aurelie yang menghampiri Athar.
" Aurelia," ucap Athar ketika wanita cantik itu ada di depan matanya.
" Aku sedang mengantar mama," jawab Athar.
" Tante Maharani kemari!" tanya Aurelie melihat-lihat kearah parkiran, yang sepertinya masih mencari-cari Maharani.
" Iya, hanya sebentar dan tadi sudah pulang lagi," jawab Athar.
" Ya, ampun sayang sekali, aku tidak sempat menemuinya," ucap Aurelia.
" Oh, iya kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Athar. Aurelia tersenyum manis.
" Aku ingin menemui mu," sahut Aurelie.
" Menemuiku, memang ada apa?" tanya Athar dengan dingin. Aurelia mengangguk.
" Hmm, aku ingin bertanya, apa kamu sudah melihat desainku?" tanya Aurelie.
" Ya, aku sudah melihatnya," jawab Athar membuat Aurelie senyum mengembang.
__ADS_1
" Lalu bagaimana tanggapan mu?" tanya Aurelia.
" Aku belum bisa menanggapinya. Jika kamu mengikutinya, berarti kamu sama seperti karyawan yang lainnya yang mengikuti juga prosedurnya. Jadi itu artinya kamu juga harus menunggu sama seperti mereka. Kamu menunggu kabar selanjutnya. Dan bukan aku yang memberikan kabarnya," ucap Athar dengan dingin bicara pada Aurelia dan membuat Aurelia seakan tertampar dengan kata-kata Athar.
" Ya sudah aku pergi dulu, aku masih ada pekerjaan," ucap Athar merapikan jasnya dan langsung pergi dari hadapan Aurelia.
Aurelia langsung mendengus kasar mendengar omongan Athar. Kata-kata Athar memang sedikit dan begitu pelan. Tapi terkesan sangat sakit.
" Apa salahnya Athar kamu basa-basi kepadaku," batin Aurelia yang tampak kecewa.
" Tidak apa-apa, Aurelia, kamu harus lebih bersabar lagi untuk menghadapi Athar. Kamu tau bagaimana karakter Athar sejak dulu. Jadi sabarlah semuanya akan baik-baik saja. Kamu tetap akan menjadi pemenangnya. Kamu akan menaklukkan hati Athar dan dekat dengan mu, dia tidak akan bisa berpaling dari mu. Jadi bersabarlah," batin Aurelia dengan sorot matanya yang terlihat sendu. Menatap punggung Athar yang berjalan begitu berwibawa. Bahkan Athar tidak menoleh kebelakang sama sekali.
*********
Athar mengendari mobilnya di malam hari. Tampaknya dia sudah selesai bekerja dan pulang tidak terlaku larut malam. Athar melihat ada toko handphone. Athar masih tetap mengendari dan hanya kepalanya saja yang menoleh ke arah toko itu dan melewati toko itu.
Ternyata Athar mundur lagi. Athar mengingat pesan mamanya yang tadi siang menyuruhnya membelikannya handphone. Setelah memarkirkan mobilnya di depan toko tersebut Athar pun langsung keluar dari mobilnya dan menuju tempat tersebut.
" Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya seorang pelayan dengan ramah.
" Tolong tunjukkan handphone terbaru untuk wanita," ucap Athar.
" Baik tuan, mari ikut saya," sahut wanita itu dan Athar pun langsung mengikutinya. Athar langsung di suguhkan handphone- handphone mahal yang pasti harganya pantastis.
Athar pun melihat-lihat dengan teliti. Seperti biasa matanya memang sabgat lihai untuk melihat mana yang cocok dan tidak cocok.
Pandangan mata Athar jatuh pada hanphone yang kesingnya berwarna biru muda. Yang menurutnya sangat simple namun begitu mewah.
" Yang ini saja," sahut Athar menunjuk handphone tersebut. Hmmm, baiklah tuan," sahut wanita itu dan langsung mengemasnya.
" Ini tuan, kita juga memberikan hadiah mainan handphone yang unik untuk tuan," sahut karyawan itu. Athar hanya melihat mainan hanphone yang berupa 2 angsa yang yang lucu berada di dalam kaca.
" Terima kasih," ucap Athar yang memberikan kartu ATMnya. Pelayan ramah itu pun langsung melakukan transaksi bayar membayar.
" Terima kasih tuan sudah mengunjungi toko kami," ucap pelayan itu memberikan non dan ATM Athar. Athar mengangguk dan tidak lama-lama Athar pun pergi dari tempat itu.
Bersambung
__ADS_1