Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 235 Kebersamaan yang di impikan.


__ADS_3

Anna melihat satu persatu orang yang ada di sana dan terlihat senyum-senyum yang membuatnya kesal yang seolah menertawakan dirinya.


" Ihhhh, serius, aku tidak ada galau-galau hanya karena dia," tegas Anna yang sudah pipinya memerah karena di goda.


" Lihatlah, banyak bukti. Tetapi masih tetap tidak mengakui dasar gengsi," sahut Athar mengambil kesempatan untuk menggoda Anna.


Anna terdiam dan tidak bisa bisa bicara apa-apa lagi. Maya hanya tersenyum dan memegang pipi Anna.


" Jangan merengut. Tidak ada yang salah. Bukannya Athar juga mencintai kamu. Jadi jangan malu," ucap Maya.


" Isssss, mama!" rengek Anna dengan suara manjanya dan langsung memeluk mamanya yang semakin malu dengan godaan dari mamanya.


" Baiklah kita lupakan masalah itu. Biar itu menjadi urusan kamu dan juga Athar. Mama hanya berdoa semoga kalian tetap bersama," ucap Maya.


Jelas sudah Athar mendapatkan restu dari ibu wanita yang di cintainya. Athar memang seberuntung itu.


" Oh iya, katakan pada Anna, apa gelang ini pemberian mama?" tanya Anna menunjukkan gelang di pergelangan tangannya yang sebelumnya di pasangkan Athar.


" Iya mama memberikannya pada Bu Anjani untuk memberinya pada kamu. Karena itu keinginan kamu. Kamu masih ingatkan," jawab Maya.


" Anna jelas mengingatnya. Makasih ma susah menepati janji mama. Anna begitu bahagia," sahut Anna dengan wajah cerianya.


" Sama-sama sayang," jawab Maya.


" Makasih Bu Anjani, sudah menjaga mama Anna selama ini, memberinya kehidupan menjadikannya orang seperti ini," sahut Anna.


" Sama-sama Anna. Makasih juga. Kamu sudah memberikan ibu kesempatan untuk bertemu Athar," sahut Anjani.


Anna mengangguk dan kembali memeluk Maya dan Athar pun memeluk ibunya. Belum selesai mereka untuk tidak merasakan kerinduan. Mereka masih sama-sama begitu merindukan 1 sama lainnya.

__ADS_1


********


Anna dan Athar berjalan berduaan di sekitar rumah yang berjalan di taman di jalan kecil dengan barisan pohon-pohon yang daunnya berguguran. Mereka ingin keluar malam untuk menikmati udara segar setelah dari tadi air mata mereka terus keluar dan mata juga sudah ikutan sembab.


Mereka berjalan dengan langkah yang pelan. Langkah sejajar.


" Anna!" tegur Athar membuat langkah Anna terhenti dan melihat ke arah Athar yang mana mereka sudah berhadapan.


" Ada apa?" tanya Anna heran.


Athar mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan memperlihatkan kalung yang pernah di belikannya untuk Anna sebagai hadiah dan tidak jadi di berikan karena pertengkaran mereka.


" Bukannya kalung itu?"


" Iya ini kakuang yang kamu temukan di ruangan ku yang ingin aku berikan kepadamu. Namun karena salah paham. Aku tidak jadi memberikannya dan kamu juga datang mengembalikannya. Tetapi aku juga membuangnya dan untung saja aku menemukannya kembali," jelas Athar.


" Begitu rupanya," sahut Anna.


" Anna apa aku boleh memasangkan kalung ini di leher mu?" tanya Athar.


Anna diam sesaat dan kemudian menganggukkan kepalanya. Atahr tersenyum dan langsung membuka pengait kalung itu dan Anna langsung berbalik bada dan membiarkan Athar memasangkan kalung itu.


Kalung berinisial A itu begitu cantik di lehernya yang membuat Anna tersenyum simpul dengan menunduk memegang mainan kalung yang indah itu. Kemudian Anna kembali berbalik badan menghadap Athar.


" Sangat cantik!" ucap Anna dengan kagum pada benda itu.


" Terima kasih sudah menerima hadiah dari ku," ucap Athar. Anna mengangguk-anggukkan kepalanya dan terus melihat kalung yang cantik itu.


Athar mendekatinya dengan meraih tangan satu tangan Anna dengan mengusap-usap punggung tangan itu dan menatap Anna dengan intens yang Anna juga sudah menatapnya.

__ADS_1


" Aku belum mendapatkan maaf darimu. Apa aku masih aka mendapatkan maaf itu. Aku minta maaf untuk kesalahanku kepadamu," ucap Athar dengan tulus yang benar-benar ingin meminta maaf.


Anna menganggukkan kepalanya, " aku sudah memaafkan mu. Aku tau kamu hanya emosi. Jadi setelah semuanya kita lalui, tidak ada alasan untuk tidak memaafkanmu," ucap Anna dengan tersenyum yang membuat Athar juga tersenyum yang akhirnya mendapatkan maaf dari Anna.


" Terimakasih Anna, kamu sudah hadir di hidupku. Banyak hal yang aku dapatkan saat bertemu denganmu. Aku jatuh cinta padamu dan semua datang dengan sendirinya. Bahkan kamu juga sudah membuatku dan ibu ku saling berdekatan dan yang paling besar kamu lakukan. Kamu membuatku dan mama akhirnya bertemu dan saling mengetahui. Terima kasih sudah memberiku semua kebahagian ini. Aku tidak pernah membayangkan jika semua ini ada di hidupku," ucap Athar yang dengan tulus bicara pada Anna.


" Jangan terlalu banyak terima kasih. Semuanya sudah di takdirkan dan hanya berjalan begitu saja. Aku juga akhirnya bertemu dengan ibuku dan itu juga berkat kamu," sahut Anna dengan matanya berkaca-kaca.


" Tidak di sangka kita di pertemukan orang yang kita rindukan. Secara bersamaan," ucap Athar. Anna mengangguk-angguk. Athar mendekatkan dirinya pada Anna dan langsung mencium lembut kening Anna.


Anna memejamkan matanya saat keningnya di cium dengan penuh ketulusan. Athar memegang pipi Anna dengan memebelai-belai lembut menundukkan kepalanya menempelkan dahinya pada dahi Anna dengan pandangan matanya yang turun dan pandangan mata Anna yang naik.


" Mari kita mulai semuanya," ucap Athar dengan suara serangannya.


Anna mengangguk pelan dan langsung memeluk Athar dengan erat. Ya mereka juga harus memperjelas hubungan mereka dan mendapat kesempatan untuk kembali mengungkap perasaan mereka berdua.


Mereka sama-sama kehilangan ibu dan tidak di sangka orang yang tidak bertemu sama sekali dan sekarang sudah sama-sama bertemu dengan ibu mereka. Ya kalau sudah takdir ya mau bagaimana lagi.


**********


Lain Anna dan Athar yang sudah mendapatkan banyak kebahagian. Dengan bertemu ibu kandung mereka dan bahkan Athar dan Anna sama-sama memperjelas hubungan mereka.


Aurelia bahkan Luntang lantung. Keluar dari rumah dengan tidak membawa apa-apa membuatnya benar-benar menjadi orang yang hidup tidak punya tujuan.


Saking tidak adanya tunjuannya. Dan pikirannya yang sudah buntu. Aurelia berada di titi jembatan dengan kepala menunduk yang melihat sungai yang mengalir deras di bawah sana. Aurelia mengeluarkan senyumnya dengan tatapannya yang kosong.


Ponsel di tangannya yang di pegangnya yang sejak tadi berdering. Langsung di buangnya kesungai tersebut dengan santainya.


" Aku akan seperti itu terbawa arus dan maka semuanya selesai. Semuanya akan berakhir dari kekejaman dunia ini," ucap Aurelia menyunggingkan senyumnya yang pikirannya sudah tidak positif lagi.

__ADS_1


Di mana matanya hanya terus melihat aliran air sungai yang deras. Yang pikirannya sudah tidak tau kemana-mana.


Bersambung


__ADS_2