
Perusahaan Glossi memang tampak begitu ramai yang tidak seperti biasanya bahkan sudah di siapkan tempat untuk 20 karyawan yang akan membuat karya mereka di tempat yang begitu luas dengan meja yang di lengkapi mesin dan segala peralatan lainnya.
Kursi-kursi untuk media pun sudah disiapkan dan meja-meja para petinggi di perusahan pun di siapkan.
Di sana juga terlihat Athar bersama Jennie yang sibuk mengurusnya. Ini akan menjadi proyek terbesar Athar. Di ujung sana ada Gibran yang terlihat sinis melihat segala persiapan Athar.
" Kurang ajar seharusnya aku yang menjalankan proyek ini. Tetapi Athar menyalipku dan sekarang proyek ini jadi miliknya dan sekarang berjalan dengan lancar. Memang hanya kematian yang bisa menghentikannya," batin Gibran dengan raut wajahnya yang penuh emosi.
Melihat Athar yang sibuk dengan pekerjaannya dan Gibran hanya sibuk dengan rasa irinya.
Tetapi Anna dan Lisa terlihat gelisah yang betda di luar perusahan.
" Issss, Anna kamu benar-benar," geram Lisa yang ingin menerkam Anna dengan tangannya yang ingin menjambak rambut Anna. Anna sampai memundurkan wajahnya karena takut dengan Lisa.
" Namanya juga lupa, kamu aneh. Lupa itu adalah penyakit yang tidak ada obatnya," sahut Anna santai.
" Kamu tau kamu hari ini akan melakukan pembuatan desain. Bisa-bisanya kamu lupa untuk mengambil bahannya, itu yang paling utamanya," ucap Lisa dengan kesal.
" Ya maaf," sahut Anna santai.
" Sekarang bagaimana!" Kesal Lisa.
" Kita jemput Lisa. Santai, kamu marah-marah mulu," sahut Anna.
" Santai kepalamu," sahut Lisa darah tinggi dengan Anna.
" Issss, ngomongnya kasar amat," desis Anna.
" Anna, kak Lisa!" tiba-tiba terdengar suara yang tak lain Olive dan Sana.
" Kalian ngapain di sini?" tanya Anna heran.
" Mau ngapain lagi. Kalau bukan mau mendukung kamu. Kami ingin menjadi suporter kamu," sahut Olive.
" Serius kalian ber-2 datang mendukung aku?" tanya Anna yang tidak percaya.
" Iya dong Anna, dan bukan hanya kita ber-2 saja, masih ada lagi," sahut Sana.
" Siapa?" tanya Anna penasaran.
Sana mengeluarkan beberapa kertas foto dari dalam tasnya foto-foto yang di lipat dan lipatan itu buka yang sudah seperti sepanduk.
" 7 suami kita," sahut Anna dan Olive serentak membentangkan spanduk BTS itu.
__ADS_1
" Ahhhhhh, oh My God, ini kejutan untukku," teriak Anna pecicilan yang melompat-lompat yang begitu bahagianya melihat personil BTS.
" Kalau seperti ini aku bakalan semangat, jika mereka jauh-jauh mendukungku," ucap Anna yang menciumi Foto member BTS itu.
Lisa melihatnya merasa jijik. 3 wanita itu memang Army yang gila dan Lisa begitu hanya garuk kepala melihat 3 wanita yang tidak waras itu yang bisa-bisanya perkara opa-opa Korea histeris minta ampun.
" Anaaaaa, bahan kamu!" teriak Lisa membuat Anna, Olive, dan Sana menutup kuping mendengar suara Lisa.
" Iya, iya, iya," sahut Anna.
" Bahan, kamu belum membawa bahan?" tanya Sana.
" Biasa hal kecik kelupaan," sahut Anna dengan santainya. Lisa mendengar kata hal kecil itu rasanya ingin mati saja. Pantesan Athar ingin memecat Anna karena memang harus makan hati dengan kata-kata Anna.
" Hal kecil dari mana," sahut Lisa.
" Iya hal besar," sahut Anna dengan cepat sebelum Lisa ibu tiri yang cerewet itu semakin murka.
" Ya sudah kalau begitu ayo kita jemput, jangan buang-buang waktu," sahut Olive.
" Iya kita harus buru-buru, jangan sampai telat," sahut Sana lagi.
" Iya, dengarkan mereka," sahut Lisa merasa tenang ada temannya yang membantunya.
" Ya sudah kita nyetop Taxi dulu," sahut Anna.
" Memang boleh?" tanya Anna.
" Sudah ayo jangan menunggu lagi nggak ada waktu," sahut Olive yang langsung berjalan duluan dan di ikuti sana, Olive dan Lisa.
Olive membuka pintu mobil dan melihat ada kuncinya di dalam.
" Untung aja kuncinya di tinggal," ucap Olive yang menunjukkan kunci itu.
" Kamu yakin Olive tidak minta izin dulu sama bos Athar," sahut Lisa.
" Sesama saudara juga harus minta izin. Mana ada peraturan kayak gitu Ayo buruan, kita pergi," ucap Olive memberikan kunci. Namun tidak ada yang mengambilnya.
" Kamu lah yang menyetir," sahut Sana.
" Memang kamu tidak bisa?" tanya Olive.
" Aku mana bisa bawa mobil," sahut Sana.
__ADS_1
" Ya, aku juga tidak bisa. Makanya selalu sama supir, tadi jemput kamu juga kita sama supir," sahut Olive yang tidak bisa menyetir.
Olive memberikan kunci itu pada Lisa.
" Kamu tidak lihat tangan kakak seperti ini. Mana mungkin menyetir," sahut Lisa yang masih memakai gifs dan mana mungkin menyetir. Dan Anna langsung mengambil kunci mobil itu.
" Nih Anna," ucap Olive memberikan pada Anna.
" Oke," sahut Anna yang mengambilnya dan langsung memasuki mobil dan di susul. Lisa, Sana dan Olive. Mereka membawa mobil Athar tanpa izin.
Anna duduk di kursi pengemudi dan Olive di sampingnya Lisa dan Sana berada di belakang. Anna yang duduk di kursi pengemudi terlihat bingung dengan ke-2 tangannya memegang stir mobil dan dan tubuhnya terlihat tegap dengan menghembuskan napasnya perlahan kedepan.
" Kenapa Anna?" tanya Lisa heran dengan Anna.
" Oh, tidak, tidak apa-apa," jawab Anna dengan santai.
" Ya sudah kalau ayo cepat. Nanti kamu telat loh," sahut Sana.
" Tapi ini memang boleh di bawa," sahut Lisa yang masih ragu.
" Santai. Sudah jalan aja," sahut Olive.
" Oke," sahut Anna tersenyum mengandung arti dan terlihat menarik gas mobil dengan cepat sehingga tiga temannya langsung maju.
" Anna, kamu pelan-pelan dong!" ucap Lisa yang hampir kejedot.
" Iya maaf-maaf," sahut Anna dengan santai yang menyetir dan sementara temannya sedang mengatur napas yang mana mereka jantungan dengan perbuatan Anna.
Anna pun menyetir dan sudah memasuki jalan raya.
" Semoga saja kita cepat sampainya," sahut Olive.
" Iya kalian tenag aja," sahut Anna yang menyetir kelihatan begitu tegang yang menimbulkan tanda tanya.
" Kok mobil-mobil mengklakson kita ya," ucap Sana tiba-tiba. Lisa dan Olive ikut sama-sama melihat di sekelilingnya dan banyuak mobik di belakang mereka yang mengklakson.
" Anna kita salah jalur," sahut Lisa. Anna mendengarnya kaget dan melihat dari kaca spion.
" Kok bisa," sahut Anna.
" Ya mana tau, seharusnya kita lewat jalur kanan, kamu gimana sih, pantesan aja di belakang ricuh," sahut Lisa.
Kan aku hanya mengikuti alur yang tepat," sahut Anna.
__ADS_1
" Alur tepat bagaimana jelas-jelas sudah salah. Jalannya salah," sahut Lisa dan lihat orang-orang heboh di belakang kita. Cepat kamu belok ke kanan," sahut Lisa.
Bersambung