
Zili kini sedang terbaring dirumah sakit kerajaan.
Kabar kehamilannya yang telah menggemparkan dan menyebar luas hingga ke seluruh pelosok wilayah mengharuskan gadis itu untuk segera diperiksa ke dokter karena keluarga kerajaan berharap keadaan kandungan yang tidak nyata itu, baik-baik saja.
Gadis itu hanya bisa diam, berbicara sekalipun percuma karena tidak ada seorangpun yang akan mempercayai.
“Huh, Aku lelah, dia tidak hamil Yuanna, tidak hamil. kenapa kalian masih belum menyerah juga untuk mengakuinya?” Ucap Seorang dokter terbaik negara. Dia adalah Ibu sambung Raja Negara yang berasal dari klan campuran, Go Anya, Putri dari Go Alfa, Guru Putra Mahkota yang telah meninggal karena penyakit tua.
“Ibu, kenapa ibu malah membela Xu’i untuk tidak bertanggung jawab terhadap anaknya sendiri?" lagi dan lagi Ratu Negara tidak mempercayainya. Sepertinya ia memang sangat mengharap kehadiran seorang bayi.
“Bibi, akui saja Zili sedang hamil. Kami bahkan telah melihat dengan mata kepala kami sendiri bahwa Xu’i telah melakukan tindak pidana pemerkosaan kepada istrinya sendiri." Paksa Ratu Negara, Ia juga tak kalah bersemangat untuk membela keputusan Ratu Negara.
‘”Ada apa dengan kalian ini?, Astaga, Zili benar-benar tidak hamil.” Dokter terbaik negara itu berulang kali dengan tegas menjelaskan, hingga ia tampak lelah dan merasa kesal.
Masih memaksa, “ibu, berapa banyak uang yang diberikan Xu’i agar ibu menyembunyikan fakta bahwa Zili hamil?” Ratu Yuanna tampak tidak kehabisan cara untuk meyakinkan seluruh orang di dalam ruangan tersebut bahwa saat itu, Keponakannya itu sedang hamil.
“ haaa.. merepotkan sekali." Keluah dokter wanita itu mulai menyerah.
“Bibi, Mungkinkah kau lebih mendukung Xu’i daripada aku. aku bahkan lebih kaya darinya.” Raja Bayangan mulai membuka suara, ia juga mungkin sangat menginginkan cucu saat itu maka dari itu, laki-laki dewasa tersebut tidak terima dengan perkataan dokter tersebut.
“Baiklah baiklah. dia hamil dia hamil.. sudah pua....”
“Aaaaye...ayeeee..” Belum sempat menyelesaikan ucapannya, kedua ratu di negara tersebut telah berteriak kegirangan.
“Hiks... hiks.. akhirnya aku akan jadi kakek tua.” Raja Bayangan sungguh bahagia dan sangat terharu dengan ucapan terpaksa dokter wanita di sana, ia tampak duduk di samping Zili yang mulai duduk di atas kasur sembari mengelus-elus kepala gadis itu.
“Sejak kapan idris tertular kebodohnya yuanna?” tanya Penasihat Raja, " Ck." Ia bahkan sampai menggelengkan kepala berbicara kepada Raja Negara yang terlihat berdiri, bersandar pada dinding dekat pintu.
“Mungkin dia benar-benar ingin Memiliki cucu." Raja Negara menebak lalu tanpa sengaja melihat mata Menteri Keuangan yang berkaca kaca mendengar berita kehamilan putrinya tersebut.
“Astaga, bahkan Lian sekalipun ikut ketularan bodoh." Penasihat Raja lagi-lagi dibuat tidak percaya dengan kebohongan nyata yang diterima oleh sebagian teman-temannya tersebut ketika melihat Menteri Keuangan yang sedang duduk di atas sofa.
“Benar-benar tidak bisa dibiarkan, Xu’i memang sudah sangat keterlaluan." Raja Negara segera pergi, meninggalkan ruangan tempat Zili dirawat.
Mungkin dia merasa sangat marah kepada keponakannya karena telah membuat banyak orang berharap hal yang sebenarnya tidak terjadi.
************
Putra Mahkota terlihat berjalan menelusuri koridor istana menuju keruang kerajaan.
Langkah kakinya terhenti ketika Penasihat Raja, Ou Natto tiba-tiba datang, menghalangi jalannya. Laki-laki itu terlihat sungguh sangat kecewa kepada keponakannya hari itu.
“Bukankah yang kau lakukan sudah sangat keterlaluan, Xu'i?” Langsung saja ia mengatakan pemikirannya, mengingat tidak banyak waktu lagi yang bisa dihabiskan untuk melakukan pembicaraan saat itu, terlebih lagi Putra Mahkota telah ditugaskan untuk menghadap kepada Raja Negara.
“Hm, mau bagaimana lagi. Sudah terjadi.” Begitu santai Putra Mahkota menjawab, dia memang tidak peduli sedikitpun dengan perilakunya sendiri.
“Lindungi dia!, Kau yang membuat kekacauan maka kau harus bertanggung jawab.” Penasihat Raja mengingat. ia mengetahui dengan pasti bahwa kemungkinan besar bahaya akan mengancam keselamatan Zili karena berita kehamilan yang telah menyebar luas tersebut.
__ADS_1
Beberapa orang pasti sangat ingin gadis itu keguguran, pikir Penasihat raja tersebut.
" Hm, Konyol, kenapa aku harus melindungi orang yang sama sekali tidak penting bagiku itu?, menyerahlah!, aku tidak akan melakukannya." Putra Mahkota begitu keras kepala, dengan santai dia menolak permintaan pamannya tersebut padahal dialah penyebab kesalahpahaman itu terjadi.
*********
Raja Bayangan duduk di atas sofa sembari melipat kakinya. Dengan baik, ia mendengarkan penjelasan Raja Negara tentang hasil test kehamilan Zili yang sesungguhnya.
“Xu’i, memang keterlaluan,“ ucap Raja Bayangan sangat kecewa dengan sikap putranya yang belum pernah melakukan kesalahan besar apapun sebelumnya.
“Yuanna dan Nana sangat keras kepala untuk tidak mengakui fakta bahwa Zili tidak hamil, bahkan kebohongan itu telah tersebar luas, huh." Raja Negara terlihat menghela nafas, khawatir.
“Kau ingat kejadian di bandara 17 tahun yang lalu?” Raja Bayangan mulai melontarkan pertanyaan di luar topik pembicaraan mereka.
“Desa Shen 1, orang-orang gila yang sudah disembuhkan oleh Sien. Huh aku tahu, pasti saat ini mereka sedang bersiaga untuk melakukan pemberontakan." Jawab Raja Negara bertambah khawatir, mengingat kejadian dimana istrinya sempat mengalami pencucian otak di masa lalu.
“Apa kau kira Sien akan muncul kembali?” Pelindung Raja, Sun Shin Joila, yang sedari tadi duduk di atas lantai dan bersandar di lemari sembari membaca buku Resep obat klan Xu mulai angkat bicara.
“Mengingat kembali apa yang diucapkannya kepada kakek Alfa, Sien mungkin tidak akan menyerah mendapatkan yuanna." Raja Bayangan juga tak kalah ikut khawatir.
“Si brengsek itu bahkan tidak bertanggung jawab atas kehamilan Arra. Aku ingin sekali menghajarnya hingga terluka. “ Raja Negara semakin kesal ketika harus mengingat kelakuan kejam orang yang mereka bicarakan kepada sahabatnya.
“Jika dia mengetahui Zili sangat penting untuk Xu’i, aku yakin, huh, dia akan mulai bertindak untuk mengulang kejadian yang sama seperti yuanna dahulu." Pelindung Raja berusaha menebak dan melontarkan pendapatnya.
“Aku belum yakin, karena saat ini Zili bukanlah orang yang penting bagi Xu’i, tapi walaibagaimanapun, bagi Yuanna, Zili sangatlah penting mengingat bahwa Yuannalah yang telah membesarkan dia dari kecil. Kariean, Sungguh, Mungkinkah dia benar-benar tidak peduli dengan putrinya sendiri?, bahkan setelah melahirkan Zili,dia pergi begitu saja tanpa sepatah katapun kepada Lian." Raja Negara mulai turun dari takhta menuju kearah Raja Bayangan, lalu membaringkan sejenak tubuhnya.” Lian bahkan mengatakan kebohongan kepada Zili bahwa ibunya pergi karena dia mencintai yuanna agar zili tidak membenci ibunya.” lanjutnya lagi mengangkat tangan, lalu meletakan di kepala.
“Zili,aku akan mencoba mengawasinya mulai dari sekarang.” Pelindung Raja mulai berdiri dari duduknya sembari memperbaiki kacamata lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
“Kau sudah datang?”
“Ayah." Putra Mahkota berjalan menghampiri ayah yang melontarkan pertanyaan. ia sekilas melihat Raja Negara yang telah terbaring menutup mata di atas sofa, lalu pandanganny beralih ke arah ayahnya, Raja Bayangan.
“Jelaskan semua ini!" Perintah Raja Bayangan tegas.
“Hmm.” Putra Mahkota tersenyum santai, ia sedikitpun tidak merasa bersalah. Dengan tenangnya, ia duduk di sofa samping ayahnya. “Setelah sekian lama aku menginginkan, akhirnya sekarang aku bisa dekat dengan bibi Yuanna lagi, tetapi Paman Shin malah memisahkan kami. Jadi dengan cara itulah, aku bisa kembali dekat dengan orang yang sangat aku sukai" Lalu menjelaskan pertanyaan Raja Bayangan begitu terang-terangan.
Raja Bayangan, Xu Idris yang awalnya menganggap perasaan Putra Mahkota terhadap adiknya bukanlah masalah, hari itu sontak tercengang tidak percaya.
“Apa kau gila?, dia bibimu, kau juga tidak pantas menikahinya. Kalian bahkan memiliki satu DNA." Maki Raja Bayangan teramat marah dengan putranya sendiri. “ Haa.. jadi itulah yang menyebabkan kau selama ini menjauhkan Xu’i dengan Yuanna, begitukah shin?” Pertanyaannya langsung beralih untuk Raja Negara yang masih belum tertidur meskipun telah menutup mata.
“Hmmm, kau baru tahu?, putramu ini memang sudah gila, mencintai bibinya sendiri yang bahkan memiliki hubungan darah dengannya.” jawab Raja Negara tersenyum pahit, dia juga merasa sangat kecewa.
“Haaa, hm, omong kosong, memang kenapa kalau aku ingin dekat bibiku sendiri?, paman, Kaulah penyebab kejadian besar ini terjadi. Kalau saja hari itu paman mengalah bermain bola voli, aku pasti tidak akan melakukan hal gila ini." Putra Mahkota berbalik menyalahkan, sepertinya ia tidak peduli dengan apapun yang telah terjadi.
“Xu’i, Kau tahu?, Yuanna selamanya adalah milikku dan kau bukan tandinganku untuk mendapatkan hatinya, jadi menyerahlah!" Raja Negara bangkit dari baringannya lalu berjalan menuju ke sebuah ruangan kamar di dalam ruangan tersebut.
Mendengar ucapan pamannya, Putra Mahkota terlihat marah, tapi ia menyembunyikannya di dalam senyuman remeh.
__ADS_1
“Bagaimana kau akan menyelesaikan masalah ini, Xu’i?” Bentak Raja Negara semakin marah dengan sikap Putranya
“Gugurkan saja!, setelah sebulan, hanya katakan kepada publik bahwa wanita itu keguguran, Hm, selesai.” Jawab Putra Mahkota sangat santai dengan berdiri dan tidak mempedulikan kemarahan ayahnya. dia hanya berjalan pergi meninggalkan Raja Bayangan yang ingin sekali melayangkan tangan untuk putranya namun tertahankan.
************
Zili menarik nafas sedalam-dalamnya lalu membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Suasana disekitarnya terasa berbeda lagi, menurutnya. dia mendengar, para murid tampak sedang berbisik bisik sembari memandang ke arahnya.
Gadis itu hanya bisa diam dan berusaha untuk tidak peduli.
“Hei!” suara yang tidak dikenal tiba tiba terdengar di telinga Zili, segera ia menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang siswi yang lebih tinggi darinya sedang berjalam mendekat.
Saat itu, perasaan zili sangat khawatir, ia takut bahwa Siswi itu adalah salah satu dari orang-orang yang mencoba untuk mengganggunya. Karena tidak ingin bermasalah, bergegas ia melangkahkan kaki menuju ke pintu gerbang dan mengabaikan siswi yang terlihat kebingungan dengan sikpanya tersebut.
“Zili." Setelah terlepas dari panggilan siswi tadinya, kini panggilan lain terdengar berteriak menyebut namanya. Tapi Zili tidak peduli, gadis itu tetap saja melanjutkan langkah kakinya karena takut akan bahaya yang datang mengancam untuk kesekian kali.
“Haa.. sulit sekali di dekati." Keluh siswi yang pertama kali memanggil Zili.
“Mau bagaimana lagi, mau tidak mau harus mendekat. Ayah sudah memerintahkan tugas kepadaku untuk melindungi dan mengawasinya, Huh, sebenarnya aku sangat senang karena ayahku, sangat jarang dia ingin meminta pertolongan dariku." Jelas orang yang memanggil Zili lainnya.
*********
Suara keributan terdengar dari luar kelas. Zili yang berada di dalam kelas, saat itu merasa tenang karena tidak ada seorangpun yang menganggunya hari itu.
Suara puji-pujian terdengar sedikit membuat gadis itu penasaran, tapi sedikitpun ia tidak berniat untuk menyaksikan keributan di sana. baginya, yang terpenting adalah ketenangan.
“Hallo, Sangat sulit bertemu denganmu, Huh langsung saja, aku sungguh sangat ingin mengundangmu untuk menjadi sekertaris pribadiku di serikat sekolah." Suara laki-laki tiba tiba mengejutkan Zili yang saat itu sedang menatap keluar jendela,memandangi ke arah para siswi yang sedang saling mengobrol bersama teman-teman mereka.
Ia yang saat itu merasa iri dan cemburu melihat kebahagiaan orang lain sontak menoleh kepala dan tidak menyangka akan melihat presiden sekolah datang menghampiri dan bahkan mengajaknya untuk bergabung keserikat sekolah.
“Aku?" Tanya Zili sembari menengadah kepala, melihat wajah Presiden Sekolah, Ou Natsu di sampingnya.
Wajah Zili terlihat sangat bingung tapi sesungguhnya ia sangatlah senang.
Selama ini, dia memang sangat menginginkan untuk bergabung ke serikat sekolah tetapi karena tidak ada satu orangpun yang menyukainya ditambah lagi ketika SMP, Pangeran Istana, Sun Shin' A adalah presiden sekolah. Maka tentu saja Zili mengurungkan niat untuk bergabung.
“Hm, benar, sekarang kau adalah sekertaris pribadi natsu di serikat sekolah, dan kau tidak bisa menolaknya. Ahh benar, aku juga sekertaris sekolah. Karena kita berdua adalah Sekretaris serikat maka mulai sekarang kita harus selalu bekerja sama" Seorang siswi yang sangat menawan dan anggun tiba-tiba datang mendekat, gadis itu adalah Siswi yang tadinya memanggil Zili sebelum Zili memasuki gerbang sekolah.
“Su.. Su.. Sungguh?” tanya zili, masih tidak percaya.
Saat itu dia merasa sangat bahagia karena bisa berbicara dengan baik kepada murid perempuan.
Memang, selama hidup, Zili hanya berbicara baik kepada ayah dan bibinya atau beberapa penjual bahan-bahan makanan dipasar, guru dan orang tidak dikenal untuk memesan makanan saja. Setelah menikah dia baru bisa leluasa berbicara dengan ratu dan mertuanya. Terkadang juga dengan pelayan di rumah keluarga Xu, lalu beberapa hari yang lalu, Pelindung Putra Mahkota Shin ji mulai mengajak nya bicara. Dan saat ini, gadis itu tidak menyangka bahwa dia akan diajak bicara lagi dengan murid di sekolahnya terlebih lagi, murid itu adalah seorang perempuan.
Teman wanita sungguh sangat di inginkan oleh Zili selama hidupnya.
“Hm, sungguh,Ayo pergi keruang serikat sekolah!" ajak Siswi itu kepada zili yang saat itu hampir menangis karena merasa bahagia. Gadis itu mulai mengangkat tangan untuk menarik tangan Zili pergi bersama tetapi Presiden Sekolah, Ou Natsu menghentikannya.
__ADS_1
“Tunggu Mozi, kau belum memperkenalkan diri kepadanya.” Ingatkan laki-laki tersebut sebelum membawa Zili pergi bersama.
“Aaah benar, aku lupa." Siswi itu menggaruk pipinya yang tidak gatal karena kebodohan yang ia lakukan.“aku Ann Mozi, cucu dari ketua Klan Ann dari desa ann 1,mulai sekarang aku adalah temanmu." Dia mulai memperkenalkan diri kepada Zili yang disambut dengan senyuman haru. Akhirnya setelah terbebas dari jeratan Pangeran Istana yang selama ini melarang siapapun untuk berteman dengannya. Zili kini telah berhasil mendapatkan teman perempuan.