Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Lukisan-lukisan yang berputar


__ADS_3

Dalam pandangannya, ruangan itu terlihat gelap, ia yang berdiri, saat itu mulai duduk, “ayah,” sembari memanggil ayahnya berulang kali.


Entah mengapa, rasanya saat itu begitu menakutkan padahal ia telah terbiasa terkunci di dalam toilet sekolah semasa hidupnya selama ini.


“Ayah.” Isak tangis memenuhi pipi, tubuhnya sekalipun ikut gemetaran karena rasa takut pada kesendirian telah menyelimuti hati. “Hiks, hiks, hiks, ayah.” Panggil Zili lagi berkali-kali, dia duduk dengan melipat kaki dan menyembunyikan wajah di sana, menunggu malam segera berlalu, lalu pagi tiba dan seorang petugas kebersihan sekolah membukakan pintu untuknya seperti biasa.


“Ayah hiks hiks, ayah.”


“Tunggu ayah, tunggu ayah Zili.” Suara laki-laki dewasa mengejutkannya hingga gadis itu berdiri dan mulai memandang ke arah sekitar yang menurutnya masih gelap, saat itu ia memang merasa berada di dalam salah satu ruang di toilet sekolah.


“Ayah.”


“Tunggu ayah, ayah akan segera datang.” Lagi, tidak seperti sebelumnya, saat itu gadis tersebut mulai merasa memiliki harapan akan kembali pulang dengan cepat tidak seperti saat-saat sebelumnya karena mendengar suara ayahnya yang saat ini sedang ia cari-cari asal sumber suaranya berada.


“Ayah, benarkah ayah akan datang?” tanya Zili memastikan, kali ini sembari berdiri lalu mulai menghadap ke segala penjuru arah.


“Kali ini ayah akan datang, ayah pasti akan datang, ayah tidak akan meninggalkanmu lagi.” Suara laki-laki itu berubah menjadi parau, seperti seseorang yang sedang menangis dari balik headset yang dikenakan Zili.


“Hiks, hiks, benarkan ayah?” pastikan Zili lagi,”hiks hiks,” kali ini sembari mengusap kedua mata dengan kedua punggung telapak tangan saking tak dapat lagi terbendung air mata kelegaan dari gadis tersebut. “Hiks hiks..”


“Ayah akan datang, ayah pasti akan datang, jadi kau tidak boleh menangis lagi.” Jawab ayah gadis itu memberikan kepastian, berharap sekali tangisan putrinya segera berhenti.


“Hiks hiks hiks,” bukan berhenti, tangisan gadis tersebut terdengar semakin keras hingga suara gertakan gigi terdengar dari balik kedua headset yang ia kenakan, gertakan gigi tersebut terdengar seperti gertakan gigi yang sedang menahan rasa perih di dalam hati.


Kemungkinan besar Putra Mahkota dan ayah gadis itu tidak kuasa mendengar suara tangisan Zili yang mampu menyayat hati kedua laki-laki terdekat gadis tersebut.


**********


“Anna, Anna....” Teriak Pelindung Putra Mahkota Shin Ji keras.


Di dalam pandangannya, laki-laki tersebut hanya bisa melihat seorang gadis kecil masuk ke dalam rumah yang tampak diselimuti kobaran api besar. “Anna,” panggilnya lagi kali ini mulai berlari tetapi seseorang datang lalu menendang tubuhnya yang ia rasa masih sangat kecil saat itu hingga tubuhnya tersebut jatuh terbaring dengan luka parah dalam pikirannya.

__ADS_1


Berkali-kali ia berusaha berdiri tetapi seseorang yang tidak ia ketahui wajahnya menendangnya lagi hingga ia terjatuh miring dan hanya bisa membiarkan gadis kecil di dalam pandangannya menangis keras lalu berlari memasuki sebuah rumah yang hampir habis terbakar lalapan api.


“Anna...”


*********


Dia hanya bisa tersenyum kecut.


Saat itu ia merasa bahwa dirinya bukanlah bagian dari keluarga klan Ann.


Dia juga berpikir bahwa mungkin sebenarnya ia adalah anak pungutan atau bahkan anak asuh dari orang tuanya sendiri.


“Aku tidak berguna, aku memang tidak bisa diandalkan.” Ucap laki-laki tersebut yang tak lain adalah Penasihat Putra Mahkota. Saat itu ia merasa bahwa ia sedang berdiri di depan sebuah kandang dengan puluhan sapi perah yang tergeletak kaku dan mati.


Tangannya mengepal, ia sangat sadar bahwa sejak kecil ia tidak pernah mahir berternak dan berakhir membuat ternak-ternak keluarganya mati jika ia yang bertugas untuk mengurus dan memberikan makan para ternak tersebut.


Bahkan sekalipun ia belajar dan memberi makan ternak dengan baik, tetap saja hasilnya hewan-hewan ternak yang ia pelihara berakhir dengan hasil yang selalu mengecewakan.


Ada yang salah dengannya atau ada yang aneh dengan keahliannya dalam menguasai Klan Ann, pikirnya sedih.


Berkali-kali ia mencari tahu, hasilnya tetap saja mengecewakan.


Ia mulai mengangkat kedua tangan, lalu memandangi telapak tangannya.


“Soni, kau sangat berbakat, ibu yakin kau pasti bisa dengan mudah mendapatkan gelar terhormat dengan cepat nanti.” Mata yang tadinya memandang ke arah telapak tangan, kini beralih ke arah samping, tempat dimana tiga orang terlihat berdiri dengan wajah bahagia di dalam pandangannya.


Di sana, ia melihat ayahnya sedang mengusap-ngusap kepala adik laki-lakinya sementara ibunya terlihat berjongkok di depan adiknya tersebut sembari memegang kedua tangan anak laki-laki kecil yang tak jauh dari tempat Penasihat Putra Mahkota berdiri.


“Soni,” panggilnya miris, penuh rasa iri dan cemburu meskipun ia sadar bahwa anak laki-laki tersebut adalah adik kandungnya sendiri.


“Aku kesal padamu.” Suara adiknya tiba-tiba terdengar, padahal adik dari laki-laki tersebut terlihat masih berdiri dengan penuh kebahagiaan memandang wajah ibu mereka, “bisa-bisanya kau terjebak dalam tipu daya keahlian Klan Lu,” lanjut suara adik laki-lakinya yang sangat ia kenali dengan suara seorang laki-laki remaja.

__ADS_1


“Soni,”


“Ah,” jawab cepat Lord Breeder dari balik headset yang telah terhubung kembali setelah sebelumnya sengaja diputuskan Putra Mahkota dan mungkin kini, hanya beberapa pejabat tinggi saja yang bisa mendengar suara percakapan mereka dari aplikasi komunikasi militer milik negara NC. “Percayalah, aku bisa sehebat ini mungkin karena seluruh keberuntunganmu dalam berternak telah menjadi milikku maka dari itu, sebagai gantinya kau sangat bodoh dalam berternak.” Lanjut Lord Breeder, seperti sedang memuji tetapi terdengar menghina, “tapi kau jauh lebih beruntung karena selalu bersama dengan Xu’i sebagai Penasihatnya selama ini, tidak seperti aku yang tidak begitu berguna untuknya. Bukankah ini adil, Sandi?, jadi sadarlah..” kali ini Lord Breeder terdengar berteriak. “Bukan kau saja yang merasa sedih, menderita, sengsara dan tidak berguna, bagaimana denganku yang juga sangat ingin berada dekat dengan Xu’i?, atau juga, bagaimana dengan ayah yang sangat ingin menjadi ayah kandung paman Idris serta bibi Yuanna?, jadi sadarlah Sandi, terima sajalah takdirmu saat ini dan pandanglah baik-baik ke arah depanmu.” Lanjut Lord Breeder lagi kali ini dengan nada suara yang sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


“Huh.” Penasihat Putra Mahkota menghela nafas tenang lalu memejamkan mata sejenak kemudian membukanya perlahan-lahan.


“Sadarlah bodoh.” Maki kesal Lord Breeder terdengar hingga membuat Penasihat Putra Mahkota tersenyum lucu.


Pandangan mata kini telah berubah, ia melihat beberapa lukisan yang besar di depannya tampak sedang berada pada pertengahan ruangan dan terlihat berputar lalu berganti dengan lukisan-lukisan lainnya.


Satu lukisan bergerak perlahan-lahan dengan gambar seorang gadis kecil di depan sebuah rumah yang terbakar api, lalu gambar tersebut menghilang berganti dengan gambar sebuah gadis kecil di dalam toilet, lalu di sisi lain, terlihat juga sebuah gambar seorang gadis kecil penuh luka, berdiri menutup mata, tampak berusaha menahan sebuah pukulan dari seorang laki-laki dewasa di hadapan gadis kecil tersebut, lalu gambar di sisi lain perlahan-lahan berganti dengan gambar seorang anak laki-laki kecil tampak menahan sebuah pisau yang hampir mengenai bola matanya, dan ada juga gambar yang muncul kembali, yaitu sebuah gambar seorang anak laki-laki kecil di depan ternak-ternak hewan yang mati. Lukisan-lukisan terus berputar berganti dengan lukisan-lukisan lain yang mungkin adalah beberapa lukisan tentang ingatan terparah dari beberapa pejabat tinggi negara NC yang diketahui oleh musuh.


Tiga buah besi terlihat terus berdiri dan berputar dengan beberapa lukisan yang menggantung di pertengahan benda tersebut saat itu.


Lukisan yang beraneka ragam gambarnya terkadang mampu menyayat hati Penasihat Putra Mahkota yang tadinya memandangi gambar-gambar tersebut namun kini dengan cepat ia alihkan ke arah ketiga pejabat tinggi lain di dalam ruangan tersebut.


“Xu’i,” panggil Penasihat Putra Mahkota yang telah sadar saat itu.


“Kau sudah sadar?” tanya Lord Breeder dan Putra Mahkota secara bersamaan.


“Sandi,” panggilan kelegaan juga terdengar dari Pelindung Raja saat itu.


“Aku harus bagaimana?” tanya Penasihat Putra Mahkota tanpa memberi jawaban karena ia sedang panik melihat keadaan kacau dari para pejabat tinggi di sana.


“Kau hanya bisa menyelamatkan Aura.” Jawab Putra Mahkota bersamaan dengan suara ketikan keyboard komputer yang masih terus terdengar.


Mungkin dia sangat sibuk dan harus segera menyelesaikan pekerjaannya hingga di situasi yang merisaukan tersebut sekalipun ia tetap bekerja keras malam itu.


“Aura?”


“Shin Ji.” Jawab Putra Mahkota tanpa basa basi, sepertinya ia sangat ingin menyelesaikan pekerjaannya untuk segera bergabung bersama Para pejabat tinggi lainnya hari itu.

__ADS_1


“Hm, aku paham.” Jawab Penasihat Putra Mahkota mulai melangkah mendekati Putri Keagungan yang sedang terbaring miring di sana.


__ADS_2