
Hujan yang deras tak kunjung berhenti,
Ada banyak orang terlihat berdiri diteras bangunan menunggu Cuaca kembali cerah.
Awan mendung memenuhi seluruh langit disana.
Sepertinya, tidak ada tanda-tanda langit akan kembali Cerah sore itu.
Berdiri berdua,
Seorang lagi memasukan kedua tangan kekantong jaket sembari memainkan permen lolipop dimulut dengan earphone yang terletak dibelakang leher.
Seorang lagi mengangkat barang belanjaan dengan satu tangannya.
Berdiri berdekatan, bahkan kulit tangan mereka bersentuhan.
Memandang langit yang sama ditempat yang sama.
Tersenyum lembut,
Mereka berdua melakukan hal yang sama.
Saling memandang “tunggu aku..” ucap putra mahkota mulai berbalik.
“Tuan...” panggil Zili ketika putra mahkota melangkah kaki pergi.
Menghentikan kaki “tunggu sebentar saja..” seperti telah memahami maksud Hati Zili yang tidak ingin ditinggal pergi, laki-laki tersebut berusaha meyakinkan gadis tersebut bahwa dia tidak akan pergi terlalu lama hingga Zili tidak perlu khawatir akan kehilangannya lagi.
Memang aneh,
Tetapi tampaknya kedua oraang tersebut bisa memahami maksud dari ucapan satu sama lainnya.
Meskipun maksud tersebut tersembunyi didalam lubuk hati yang paling dalam dan tak terungkapkan, namun, Rasa kasih sayang yang kuat mampu melihat isi hati orang yang disayanginya.
Seperti seorang ibu yang mampu memahami Keinginan hati Anaknya.
Begitulah kasih sayang putra mahkota yang mampu membaca isi hati wanita yang sangat ia sayangi.
Mungkinkah ini yang disebut dengan takdir yang saling terhubung...?
Entahlah,
Kenyataannya, didunia yang sesungguhnya, hal tersebut memang pernah terjadi.
Mulai gelisah,
Memang gelisah,
Perasaan Itu muncul ketika seseorang takut kehilangan orang yang telah masuk kedalam hatinya. “pegang ini...” kegelisahannya hilang berganti dengan rasa lega.
Menengadah kepala, memandang wajah putra mahkota dan tidak ingin melepaskan pandangan nya “pegang ini..” perintah putra mahkota lagi, mulai menyadari kebodohannya, Zili memandang Sebuah gagang payung sedang disodorkan putra mahkota untuknya.
Mengernyitkan dahi “tu....”
“Ayo jalan..” perintah putra mahkota, mulai melangkah kaki “pegang payung yang benar,” perintahnya tersenyum tipis “jangan sampai aku terkena air” lanjutnya lagi mulai menoleh kesisi kanannya, menyembunyikan wajah dari pandangan Zili yang berada disisi kirinya lalu tersenyum geli.
Mulai menggurutu “kenapa harus membeli satu payung..?” tanya Zili kesal harus memayungi putra mahkota, sementara tangan yang lain membawa barang-barang belanjaan.
__ADS_1
“Lebih mendekat..” perintah putra mahkota dengan menarik bahu Zili agar semakin dekat dengannya.
Tersenyum kecut “bahuku basah..” keluh Zili melihat Atap payung tidak Cukup untuk menampung kedua orang tersebut.
Mulai berjalan ditrotoar, dekat dengan jalanan kota, putra mahkota tersenyum lembut.
menengadah kepala memandang putra mahkota yang tiba-tiba meraih Barang-barang belanjaannya, lalu menarik tubuh gadis itu kehadapan Laki-laki tersebut kemudian memeluknya menghadap kejalanan kota.
Haaaa...
Jantung Gadis itu mulai tak terkendali,
Perasaannya saangat kacau.
Shisou..
Gumamnya dalam hati mengingat Dengan pasti bahwa perasaan tersebut memanglah perasaan yang sering sekali muncul ketika ia bersama dengan putra mahkota.
Byyuuuuuuuurrrr
Membelalak mata, memandang geram kearah putra mahkota yang tampak tersenyum nakal “sudah basah,..” ucap putra mahkota meraih gagang payung “untuk apa lagi pakai payung..” lanjut laki-laki tersebut, lalu berjalan cepat dengan payungnya, meninggalkan tubuh zili yang telah basah karena Cipratan kubangan air yang tersembur dari kendaraan yang melewati mereka hingga membasahi seluruh pakaiannya karena telah dijadikan perisai putra mahkota untuk menghindari diri dari semburan air tersebut.
Geram,
Teramat geram hingga mata gadis itu memerah memandang punggung putra mahkota yang masih terus berjalan dengan santainya.
Melihat kesekeliling.
Berjalan cepat, meraih tong sampah kecil didekatnya.
Geram, putra mahkota berbalik badan,
Pakaiannya kini telah basah karena Zili menyiramkan air didalam tong sampah ke arah punggung putra mahkota “sudah basah, untuk apa lagi pakai payung..” teriak gadis itu membuang Tong sampah dengan cepat lalu berlari kencang berlainan arah, ketika melihat wajah marah putra mahkota.
“Kau kira bisa lari dariku..” teriak putra mahkota, membuang payung miliknya, meletakan barang belanjaannya dijalanan trotoar, lalu berlari mengejar Zili yang telah pergi menjauh.
“Dasar brengsek...” maki Zili masih berlari kencang ditengah-tengah derasnya hujan yang mengguyur tubuh.
Menoleh kebelakang.. “bermimpilah jika ingin lepas dariku..” teriak putra mahkota hampir mengejar gadis itu.
Geram,
Karena larinya yang cepat mampu terkejar.
Gadis itu mulai berbelok kearah jalanan raya yang tampak sepi dari kendaraan.
naik keatas pagar besi pembatas..
dan melompat tinggi..
Haaaa...
Pandang matanya terkejut,
“Kena kau...” putra mahkota telah berada dihadapan gadis yang saat itu berada diudara.
Saling memandang satu sama lainnya.
__ADS_1
Entah mengapa tiba-tiba didalam mata mereka,
Mereka melihat orang yang sama-sama mereka cintai.
Shisou
Zili
Panggil kedua oraang tersebut didalam hati.
Menangkap Zili kedalam pelukannya.
“Akhirnya ketemu..hiks..” mengeratkan pelukannya, putra mahkota tidak ingin sedikitpun melepaskan gadis itu, air matanya jatuh mengalir begitu deras, sederas air hujan yang mengguyur tubuh mereka.
Shisou.
Gumam gadis itu memeluk leher putra mahkota erat.
“Aaahh pasangan konyol..” ucap Putri kelincahan yang tampak memandang mereka di Trotoar jalan.
“Kalian berdua..” seorang polisi terlihat datang menghampiri kedua orang tersebut “berhentilah bermesraan ditengah jalan” lanjut polisi tersebut sembari meletakan Sisi borgol dipergelangan tangan putra mahkota dan sisi borgol lainnya di pergelangan tangan Zili yang saat itu telah turun dari tubuh putra mahkota.
*********
“Maafkan mereka..”
“Aahh tidak masalah,..” Suara Polisi yang mungkin berpangkat lebih tinggi dibandingkan para polisi yang berada dikantor Keamanan negara terdengar begitu bahagia “pasangan yang sedang dimabuk asmara memang biasa bermesraan ditengah jalan tuan..” lanjutnya lagi begitu senang melihat pelindung putra mahkota Shin ji berada didalam ruangan mereka.
Tersenyum geli “jangan panggil Tuan..” tolak laki-laki remaja tersebut, ia mulai membisikan sesuatu mendekati wajah Polisi disana “laki-laki yang anda tangkap itu adalah Putra mahkota..” bisikannya sontak mengejutkan polisi tersebut hingga tertegun takut karena menangkap orang yang salah. “tapi tenang saja,” pelindung putra mahkota shin Ji mulai menegakan kembali tubuhnya “karena dia sedang menyamar jadi akan baik-baik saja ..” tersenyum Lembut “tolong jaga rahasia ini ya..?”
“Hmm” angguk polisi dihadapan pelindung putra mahkota cepat.
Mulai keluar dari ruangan kepala Polisi, Pelindung putra mahkota melihat wajah kesal Temannya yang sedang melipat kedua tangan duduk dikursi ruang tunggu.
Tak seorangpun polisi yang berani menegurnya, matanya begitu tajam menatap kearah depan, bahkan bulu kudu pelindung putra mahkota Shin ji mulai berdiri melihat Kekesalan temannya.
Menundukan kepala karena malu, tubuh gemetaran Zili bahkan tidak berhenti dari tadi
“ ahhh saudaraku..” panggil pelindung putra mahkota shin ji berpura-pura, panggilan tersebut langsung membuat para polisi mulai menghormati putra mahkota yang mereka pikir mungkin adalah salah satu bagian dari keluarga kerajaan, karena Pelindung putra mahkota Shin ji sendiri merupakan salah satu bagian dari anggota keluarga kerajaan NC. “ senang sekali kau baik-baik saja..” ucapnya begitu senang bisa bertemu lagi dengan putra mahkota.
“Berhentilah bercanda..” tegur putra mahkota begitu tegas.
“Ahh maaf maaf,” ucap pelindung putra mahkota Shin ji “ayo kita pulang...” ajak laki-laki tersebut.
“Pulang...?” terkejut, bahkan Hati Zili mulai tersentak karena berpikir bahwa putra mahkota akan segera kembali kekediaman keluarga Sun.
“Ayahmu menunggumu..” lanjut pelindung putra mahkota Shin ji.
“Aku akan pulang sendiri..” jawab putra mahkota “bawa dia kembali keapartmenku” perintahnya lalu mulai berdiri,
Meninggalkan Zili yang lemah memandang kepergiannya.
“tuan...” panggil Zili tetapi putra mahkota mengabaikannya. “maafkan aku..”
“Tidak perlu minta maaf..” ucap pelindung putra mahkota Shin ji yang telah berdiri tepat dihadapan Zili “memang sudah waktunya dia kembali..” lanjut laki – laki tersebut lalu mengulurkan tangannya “ayo kuantar kau kembali” ajaknya kepada Zili.
Meraih tangan pelindung putra mahkota Shin ji dan berdiri, gadis itu mulai memandang punggung putra mahkota yang telah memasuki sebuah Mobil pribadi yang telah disiapkan untuk menjemputnya kembali kekediaman Xu.
__ADS_1