
Udara pagi yang segar secara langsung terhirup oleh gadis yang sedang berdiri tepat didepan gerbang rumah besar. Gerbang telah terbuka lebar tidak tertutup seperti terakhir kali ia melihat.
Beberapa orang pelayan tampak sedang menyapu halaman rumah, mereka bahkan tidak ada niat sama sekali untuk menyapa. Dua orang pelayan sedang berbisik tak jauh dari sebelah kiri gadis malang yang sedang berjalan menuju pintu.
"Eh eh.. itu dia kan bangsawan miskin dari klan zin"
"Iya, rumahnya saja hanya apartemen biasa"
"Wii kok bisa ya menikahi putra mahkota"
"Pakai pelet mungkin, aku dengar putra mahkota sendiri yang berinisiatif untuk menikahinya"
"Aaah.. masa' iya kau masih percaya dengan yang begituan"
"Mana mungkin kecil kecil sudah berani merangkak ke atas kasur yang mulia,"
"Mungkin saja sih, kau tahu , ibunya bahkan menikah dengan laki laki tua hanya karena harta" sontak Zili terkejut menghentikan langkah kakinya. Ia memandang geram kearah dua orang pelayan wanita disebelah kirinya. Hatinya ingin sekali menangis. Dia sendiri bahkan tidak pernah mendengar berita tentang ibunya selama beberapa tahun belakangan ini. Gadis malang sangat kecewa ketika terakhir kali ia menonton televisi melihat ibunya sedang digosipi dekat dengan direktur tinggi rumah sakit Go yang sudah berumur lebih dari 70tahunan.
"Apa liat liat" tantang salah satu pelayan tidak menyukai pandangan Gadis malang tersebut. "Tidak tau malu, berani melihat kami.. kau sadar tidak, rumahku bahkan lebih besar dari apartemenmu"
"sudah sudah. Nanti kau dilaporkan oleh putra mahkota, baru tau"
"Siapa yang takut, yang mulia bahkan tidak menganggapnya sebagai istri, mungkin dia sudah menjual dirinya maka dari itu bisa menikahi Putra mahkota."
"Kemana saja kau?"bentak seorang remaja laki laki dari dalam rumah. Belum lagi ia menenangkan hatinya karena ucapan pelayan rumah, malah ditambah lagi dengan kemarahan Shin jo yang sedang berjalan menghampirinya.
Pandangan gadis malang ia alihkan menuju shin jo, mata nya memerah berkaca kaca.
"Rasain" suara pelayan bahkan masih terdengar mengejek kearahnya. Sudah biasa perilaku seperti itu ia terima menimbang hidupnya dari dulu penuh sengsara.
"Jo, lihatlah.. pakaiannya sudah ganti" suara Perempuan semakin menambah rasa nyeri didalam hatinya. Perempuan yang telah menfitnah gadis malang sampai ia harus menerima pukulan menyakitkan dari pelindung putra mahkota.
"Darimana saja kau, semalaman tidak pulang. Kau mau aku dimarah Xu'i ya. Dan lagi, baju siapa yang kau pakai sekarang?"
"Bukan urusanmu, aku kembali hanya ingin mengambil barang barangku"
"Kau berani tidak menjawab pertanyaanku" bentak laki laki remaja itu diiringi pukulan mendarat dipipi wajah gadis malang yang telah terjatuh diatas tanah. Bibir nya kembali berdarah, luka nya semakin melebar. Tetesan darah pun jatuh hingga mengenai atas rerumputan.
"Aku mau pulang,hiks" air mata mengalir dari pipinya. "tadi malam aku sudah kembali tapi pintu gerbang bahkan terkunci"
"Bohong tuan, aku sudah menunggu sampai jam 5 pagi namun tidak menemukan nya di pintu gerbang" kilah Seorang pelayan yang tadi Menghina Gadis malang.
"Kau berani berbohong padaku" bentak keras Shin jo.
"Aku tidak bohong"
"Mulut mu bahkan tidak mau mengaku, kenapa? Kau cemburu aku bersama Natali sampai sampai tidak mau pulang kerumah?"
"Astaga" gadis malang menutup mata menahan rasa geram sembari memegang pipi sakitnya. Perlahan ia mendongakan wajah menatap Kearah Shin jo.
"Tidak tahu malu, aku saja ilfil melihat wajah mu. Jijik melihat tingkahmu. Kau tidak diizinkan menyukai ku, asal kau tau wajah jelekmu tidak pantas untukku apalagi untuk putra mahkota. Kau hanyalah alat Xu'i untuk dekat dengan bibi yuanna, jadi jangan merasa sombong hanya karena sedikit dibela olehnya. Wanita tidak punya harga diri, kebal malu bahkan tidak punya satu teman sekalipun. Ayahmu hanya mentri keuangan miskin, bahkan saking miskinnya sampai sok sombong menolak gaji dari pemerintah."
"Kau boleh hina aku tapi jangan hina ayahku" bentak Gadis malang sembari terus mengeluarkan air mata membasahi pipi.
"Kenapa?" shin jo mulai menarik kerah kemeja gadis malang sampai kaki gadis itu tidak lagi menapaki tanah. berkali kali ia mencoba untuk melepaskan tangan shin jo tapi tidak kuasa. Leher Terasa sangat tercekik bahkan pakaiannya terangkat hingga tampak paha kaki.
"Apa mungkin wanita yang sudah dekat denganku bisa menyukai laki laki jelek sepertimu?" suara seorang remaja laki laki yang sangat dikenal terdengar ditelinga Semua orang yang sontak terkejut melihat kedatangannya masuk kepintu gerbang.
Tubuh gemetaran remaja laki laki melepaskan tangan dari kerah kemeja gadis yang kemudian jatuh lemas diatas tanah. Remaja laki laki itu melihat sahabatnya berjalan cepat diikuti oleh saudaranya dengan tatapan penuh kemurkaan.
__ADS_1
wajah yang pernah ia lihat untuk kedua kalinya.wajah yang bahkan sanggup membuat bulu roma nya berdiri merinding.
Kaki Shin jo lemas hampir tidak kuat berdiri, dua orang pelayan menundukan kepala takut memandang tuannya.
Bahkan perempuan berambut pirang yang tadinya berdiri didepan pintu perlahan lahan melangkahkan kaki mundur menghindari bahaya yang mungkin akan terjadi.
Zili menatap kearah tubuh gurunya yang masih sedang berjalan menghampiri mereka. Dia mengusap matanya yang penuh dengan air mata menahan rasa takut merasa akan dimaki lagi karena tidak kembali kerumah semalaman.
Senyum pahit mengembang, dia merasa bahwa dia lagi lagi akan difitnah. Dan mungkin gurunya tidak akan mempercayai apapun yang dia ucapkan. Bersiap mendapatkan hukumanlah yang saat ini tengah dirasakan gadis malang yang sedang terduduk diatas tanah penuh rerumputan hias tertanam.
"Tidak menjawab" Putra mahkota memegang kedua bahu Shin jo setelah dekat dengannya. Dilipat oleh nya lutut kaki lalu diarahkan tepat keperut Shin jo.
"Aaakh" rasa sakit tidak tertahankan bahkan remaja laki laki yang menerima tendangan lutut sampai memuntahkan darah. Dia menahan rasa sakit tak tertahankan dibagian diperutnya.
Semua mata memandang terkejut, bahkan Shin ji yang berada dibelakang Putra mahkota bergegas lari kembali menuju pintu gerbang, Ia mengambil ponsel untuk menghubungi ayahnya, berharap para petinggi kerajaan datang menyelamatkan Shin jo yang mungkin tidak akan bisa lagi terselamatkan.
"Ayah"
"Aku tahu" suara helikopter terdengar dari dalam ponsel hingga ke telinga shin ji. Ia tidak menyangka bahwa ayahnya telah mengetahui perilaku saudara kembar laki laki yang sedang merasa ketakutan melihat kemarahan putra mahkota untuk yang kedua kali.
"Masih tidak mau jawab?" putra mahkota tersenyum senang bisa menghantam kan siku tangan kanannya dipunggung shin jo hingga jatuh bermuntahkan darah lagi.
"Dia.. wanita itu yang salah" kilah Shin jo yang telah jatuh tersungkur keatas tanah tengkurap.
"Eeeeh.. dia bahkan hampir mati dimakan srigala. Ku suruh jaga malah enak enakan dengerin musik didalam rumah " putra mahkota menendang tubuh Shin jo hingga terpelanting jauh mengeluarkan banyak darah lagi. Dengan bergegas ia berjalan menghampiri remaja laki laki yang telah lemas tidak berdaya menerima tendangan keras dari putra mahkota.
"Shisou" mata Gadis malang memerah. Takut melihatnya, khawatir dengan keadaan Shin jo dan Nyeri menahan rasa sakit diwajah serta lehernya.
Perempuan berambut pirang berkali kali tertegun, ia mencoba melangkahkan kaki pergi namun sayang kakinya telah lemas tidak sanggup bertahan untuk berdiri memandang keadaan Shin jo yang telah terluka parah. Dia terjatuh terduduk diatas lantai keramik memeluk tubuhnya yang gemetaran. Rasa takut kian muncul dibenaknya. Takut putra mahkota mengetahui semua perbuatan yang ia telah lakukan terhadap Istrinya.
"Tangan mu ini berani sekali menyentuh Putri mahkota yang bahkan posisinya lebih tinggi darimu" Xu'i mendaratkan telapak sepatu sneaker tepat dipunggung telapak tangan Shin jo. Berkali kali ia Memutar punggung telapak sepatunya. Rasa sakit tidak tertahankan diseluruh tubuh remaja laki laki yang sedang terkapar diatas tanah.
"Mana ketua pelayan?" Teriak nya mencari cari sembari masih dengan senang hati memutar sudut sepatu Diatas telapak Tangan Shin jo yang merasa sangat kesakitan.
"Paaak" pukulan tangan mendarat dipipi ketua pelayan Rumah keluarga Xu. Dia bahkan sampai terjatuh memuntahkan darah diatas tanah
"Ampuni aku yang mulia.. ampuni aku.. itu dia..dia yang memerintahkan kami menutup pintu gerbang. Dia juga yang memerintahkan Seorang dari kami untuk membuka pintu pagar hutan" ketua pelayan yang berjenis kelamin laki laki itu menunjuk kearah perempuan berambut pirang yang tengah menggigil ketakutan didepan pintu.
"Bawa kemari"
Dengan segera pelayan yang telah berkumpul dihalaman rumah menghampiri natali yang tengah menangis ketakutan Dihadapan Putra mahkota.
"Pukul dia 10 kali lipat seperti kau memukul wanita ku" perintahnya kepada Shin jo yang masih menahan rasa sakit tidak terkira.. dengan Segera ia melaksanakan perintah Sahabatnya.
Xu'i melepaskan kakinya dari tangan Kiri Shin jo. Ia memandang penuh kesenangan remaja laki laki yang sedang berjuang bergerak kesusahan menuju natali.
"Am.. ampu..ni ak..ak"
Tendangan kaki menghantam kepala natali hingga hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. Perempuan itu kontan tidak sadarkan diri. Semua mata memandang penuh ketakutan. Semua orang tidak menyangka akan melihat kejadian yang lebih parah dari sebelumnya. Shin jo yang telah berhasil duduk disebelah Xu'i sampai berkali kali menelan darah dari mulutnya. Ia merasa mungkin beberapa giginya telah patah.
"mati..hm" senyum Senang mengembang diwajah Xu'i. Kesenangan menyiksa orang telah menjadi darah daging didalam tubuhnya. Kaki nya lalu ia gerakan lagi kearah tubuh natali yang telah pingsan tak sadarkan diri.
"Shisou" dengan Cepat Zili berlari memeluk kaki Gurunya. Dia sangat takut Bahwa remaja laki laki itu akan membunuh gadis pirang tersebut. Semua mata memandang takut lagi. Takut jika Gadis malang akan terlukai bahkan lebih parah mengingat dia sedang mencoba menghentikan kesenangan putra mahkota.
Tubuh gadis malang sangat ketakutan. Ia tengah bersiap siap menerima tendangan. Shin jo yang berada disampingnya bahkan memejam kan mata takut putra mahkota menendang wanita untuk kedua kalinya.
"Kau ngapain?"
"Shisou, aku mohon lepaskan mereka"
__ADS_1
"Haaa.. aku membelamu tapi kau malah membela mereka"
"Shisou, aku mohon hiks" getaran suara ketakutan diiringi isak tangis terdengar mengesalkan remaja laki laki yang sedang berdiri penuh rasa marah.
"potong kedua tangan mereka berdua.. lempar kekolam buaya istana Lu" perintahnya keras kepada seluruh pelayan rumah. Shin ji yang sedang bersembunyi di balik pagar rumah bahkan sampai menggigil ketakutan mendengar hukuman yang diberikan Untuk saudaranya.
"Shisou, aku mohon.. aku mohon.."
"Kau.."
"Aku mohon lepaskan mereka..aku mohon.."
Shin jo yang telah pasrah sontak terkejut melihat tingkah Zili yang masih membela ia di tengah tengah ketakutannya. Ia merasa sedikit bersalah karena tidak mencarinya saat ia hilang dimalam hari.
Mendengar permintaan menyedihkan Muridnya, Xu'i menarik salah satu lengan tangan gadis malang tersebut, hingga dengan sekuat tenaga ia berdiri. Di tatap oleh nya tajam dengan rasa marah karena pembelaan gadis yang ia rasa sangat bodoh.
"Aku turuti permintaanmu, tapi jangan pernah membangkang perintahku, kalau kau lakukan itu, Hukuman mu bahkan 10kali lipat lebih berat dibandingkan mereka, paham" geram nya memandang gadis malang yang sedang tertegun menundukan kepala tidak berani menatap gurunya.
"Hm" angguk Zili berkali kali.
Xu'i tersenyum kecut menarik lengan gadis malang masuk kedalam rumah tanpa memberikan perintah lagi kepada para pelayan. Ia terus berjalan memaksa Zili mengikuti langkan kaki lebarnya menuju kamar tempat ia tidur sebelumnya.
"Shin ji" yuanna berjalan masuk gerbang diikuti oleh Shin dan joila setelah helikopter mendarat agak jauh dari rumah karena lebatnya ranting pepohonan hutan yang menghalangi helikopter untuk turun kebawah. Wanita itu melihat Putra sahabatnya duduk melipat kaki sembari memeluknya erat menyandar dinding pagar menggigil ketakutan.
Tanpa bertanya karena melihat wajah pucat Shin ji ketiga orang dewasa tersebut masuk menuju rumah dan melihat Keadaan Shin jo terluka parah duduk disandaran tubuh seorang pelayan.
"Anakmu masih hidup" Shin terlihat lega.
"Astaga, siapa gadis malang berambut pirang itu. Kok bisa kepala dan wajahnya penuh dengan darah?" tanya yuanna kepada dua laki laki yang juga bahkan tidak mengenalnya.
"Yang mulia, Gadis itu kekasih Tuan shin jo yang telah mencoba membunuh Putri mahkota" sontak ketiga orang dewasa terkejut mendengar perkataan ketua pelayan yang masih menahan rasa sakit dipipi wajah bekas pukulan putra mahkota.
"Bukankah itu Shin'A Yang mencoba membunuh Zili?" tanya yuanna kepada dirinya sendiri karena telah mendengar suara rekaman antara Shin'A, zili dan Teman baru Zili dari alat pendengar jarak jauh milik Xu'i.
"Kami bahkan punya bukti rekaman CCTV , yang mulia ratu,"
"Bawa mereka ke helikopter, " mereka yang telah melihat keadaan shin jo memutuskan membawa mereka pergi Kembali kekerajaan untuk menerima pengobatan.
"Aku mau melihat Buktinya?" Shin membuka suara.
Semua mata tidak menyangka bahkan Sang raja turut langsung ikut serta mengunjungi rumah hanya untuk melihat situasi kejadian yang telah selesai berlangsung.
"Kalian berdua" yuanna memandang kearah Sebelah kirinya menatap dua pelayan yang telah ia dengar percakapannya melalui Alat pendengar jarak jauh milik Xu'i " iyakan ,kalian yang menghina keluarga sahabatku tadi" tebak yuanna.
"Bu..bu..bukan"
"Benar yang mulia. Saya mendengar mereka menghina putri mahkota dari balik jendela" seorang pelayan memberi saksi..
"Heeee.. mau coba coba berbohong ya, sini..."
"Sudah yuanna,, aku saja yang memberi hukuman" Shin membuka suara takut kedua pelayan tersebut disiksa Secara membabi buta oleh istrinya.
"Tidak bisa.. biar aku saja"
"kau berani menentangku"
"Ahh iya iya.. kau saja sana.. kesal sekali"
Joila hanya diam sedari tadi menatap putranya yang telah dibawa melewatinya menuju tempat helikopter mendarat dengan penuh emosi, Membayangkan keadaan putri mahkota yang belum terlihat dimatanya.
__ADS_1
rasa bersalah kepada Lian, sahabatnya telah masuk kedalam hati laki laki dewasa yang bahkan tidak sempat mendengar perkataaan yuanna dan shin yang tengah berdebat masalah hukuman yang pantas diberikan untuk kedua pelayan disamping kiri mereka.
"Ada mayat manusia dekat pagar pintu hutan, keadaannya sangat parah, tercabik cabik hingga hanya menyisakan sedikit daging dan bahkan tulangnya terlihat jelas" suara yatto mengejutkan Semua orang yang berada dihalaman rumah termasuk Juga shin ji yang masih merasa ketakutan.