Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
ATB, My majesty 34


__ADS_3

Seorang laki laki dengan menggandeng seorang anak perempuan sedang berjalan keluar Apartemen yang telah ia tempati puluhan tahun lamanya, apartemen yang disewa sudah terlihat kusam serta tua dan tidak lagi terawat oleh pemiliknya.


Sesekali laki laki tersebut berhenti memandang gedung tinggi berlantai 6 tersebut, mengingat saat saat pertama ia membawa yuanna,sang ratu negara masuk kedalamnya.


Ia tersenyum lembut disertai kesedihan penuh di mata, merasa sangat menyesali perbuatannya dimasa lalu terhadap orang yang sampai saat ini masih mengisi ruang hatinya.


Untuk melepas kesedihan dan penyesalannya, ia dengan senang hati ingin terus melihat wajah sang wanita pujaan hati bekerja tanpa pamrih di istana kerjaan yang dipimpin oleh suami wanita tersebut.


Terlebih lagi, dengan Perjodohan yang telah di rencanakan jauh sebelum putra putri mereka lahir, laki laki tersebut semakin bersemangat untuk menjalani kehidupannya hanya karena dapat melihat wanita tersebut tanpa mencari cari alasan lain lagi.


"Ayah, benarkah aku akan bertemu pangeran Shin'A disekolah?"


Suara imut anak perempuan yang tengah digandeng laki laki tersebut membangunkannya dari lamunan. Anak perempuan yang baru berusia 5 tahun itu mendongak kan kepala menatap ayah nya yang sedari tadi diam dan berhenti dihalaman depan apartemen.


"Hm," laki laki yang tidak lain adalah Zin zilian, mentri keuangan negara NC menganggukan kepala. Ia lalu berjongkong menatap putrinya.


"Zili, berbuat baiklah selalu kepada Pangeran Shin'A, dia adalah tunanganmu, dan akan menjadi suami mu dimasa depan"


"Baiklah ayah"


Lian tersenyum memandang Zili yang tengah mengenakan seragam TK high Raise dengan rambut terurai panjang sebahu dan bando merah diatas kepala.


Sesekali gadis kecil itu menarik kedua tali ranselnya kedepan dengan tersenyum ceria kepada ayahnya.


Hari itu dia tampak bahagia karena akan bertemu dengan pangeran yang sangat ia kagumi setelah beberapa kali mereka berjumpa diApartemen miliknya karena ratu Negara membawa putranya berkunjung ke Apartemen mereka.


*****


Sebuah ruangan dipenuhi dengan huruf serta beberapa bahasa kesatuan Negara NC, didalamnya juga terdapat banyak sekali gambar buah buahan serta hewan hewan diatas dinding.


Beberapa kursi Tengah diduduki oleh beberapa murid murid sekolah yang baru saja masuk. Hari pertama Zili datang kesekolah sangat tidak biasa.


Gadis kecil itu sedang duduk sendirian setelah beberapa kali menyapa teman teman sekelasnya namun diabaikan. Ia bahkan Telah duduk didekat salah satu dari mereka namun dengan sengaja temannya langsung pergi meninggalkan dia sendirian lagi.


Zili ingin sekali menangis tapi karena terbiasa hidup sendirian dan hanya dibantu oleh seorang pelayan wanita , ia yang masih kecil berusaha kuat agar tidak menjadi beban bagi ayah yang dia sayangi.


"Itu pangeran Shin'A" teriak salah satu murid Tk.


Zili tersenyum ceria, akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan Tunangannya karena beberapa kali mereka sempat bicara diapartemen dan Menurutnya putra dari ratu negara tersebut sangat baik terhadapnya


Shin'A masuk kedalam kelas, dengan sigap zili datang mendekatinya.


"Yang mu..."


Sontak zili terkejut dan berhenti menyapa. Shin'A yang telah masuk keruangan kelas diikuti teman temannya melihat sekilas kearah Zili yang sedang melambaikan tangan namun ia mengabaikan begitu saja tidak seperti ia yang biasanya.


Hari pertamanya disekolah sungguh sangat menyedihkan begitupula dengan hari hari berikutnya . Bahkan guru yang mengajarnya pun tidak terlalu memperhatikan Zili. Selama disekolah, dia tidak pernah diikut sertakan dalam kegiatan sekolah, ia juga jarang sekali diajak bermain bersama.


Semua seisi kelas seolah olah tidak menganggap keberadaannya. Membuat gadis kecil itu ingin sekali mengadu kepada ayahnya.


****


Tidak seperti biasa, malam itu zili sengaja tidak tidur tepat pada waktu yang selalu ia jadwalkan. Ia menunggu ayahnya kembali. Kebetulan Pelayan wanita gadis itu masih selalu setia menemaninya.


Meskipun dia tidak tahu mengapa ayahnya selalu berkata untuk tidak bergantung dengan pelayan wanita tersebut tetapi tetap saja, pelayan tersebut tampak seperti ibunya sendiri yang selalu memeluk ia dalam tidur sampai ayahnya kembali kerumah.


Zili sangatlah rajin dan mandiri, sejak kecil ia bahkan sudah mampu mengerjakan sesuatu sendiri terkadang tanpa bantuan pelayan yang selalu mengasuhnya tersebut.


Namun, setelah ia masuk sekolah, rasa malas untuk belajar mulai meningkat ia bahkan tidak bisa menceritakan masalah yang ia hadapi kepada pelayan gadis itu mengingat pesan ayahnya bahwa zili tidak boleh merepotkan pelayan wanita tersebut.


"Tik tik tik tik" suara tombol kode pintu rumah berbunyi "kreeeek" Lian membuka pintu rumah.


Dengan sigap zili melompat dari atas kasur mengagetkan pelayan wanita yang mengira dia telah tidur.


Zili berlari keluar kamarnya diikuti pelayan wanita yang keanehan dengan sikap gadis kecil itu akhir akhir ini.


"Ayah"


"Zili, kau belum tidur?"


Lian yang telah melepaskan beberapa bagian kancing seragam kerja menyambut kedatangan Zili dipelukannya.


Ia sejenak menggendong putrinya lalu membawa ke sofa.


"Karena kau sudah pulang, sekarang aku juga harus kembali" pelayan wanita berjalan mendekati sofa untuk mengambil tasnya yang ada disana.


"Selalu saja buru buru"


"Bodoh, tentu saja, aku ini kan istri orang"


Pelayan tersebut tersenyum bahagia melihat kedekatan Zili dengan ayahnya lalu bergegas pergi dari ruangan tersebut diikuti pandangan mata lian yang menatapnya dengan senyuman lembut.


"Ayah.. aku tidak ingin sekolah lagi"


Zili mulai mengeluhkan perasaan hatinya.


"Zili, ayah sudah mendengar dari Shin'A"


Ucapan Lian sontak mengejutkan Zili.

__ADS_1


"Ayah, apa yang ayah dengar, ayah aku..."


"zili, hanya karena kau tunangan pangeran, bukan berarti kau boleh bersikap sombong dan tidak mau berteman dengan siapapun"


"Ayah itu tidak benar...."


"Zili, semua orang berkata kau sangat sombong dan bahkan gurumu sendiri bilang kau tidak mau diajak bermain bersama ataupun mengikuti kegiatan sekolah. Kau juga sering kali pulang cepat cepat tanpa menyapa teman temanmu"


"Ayah.. hiks..haaaa... "


Zili menangis sejadi jadinya mendengar perkataan Ayahnya yang tidak mempercayai nasib malang putrinya tersebut.


******


"Hikss.. haaaa... haaa...hikkksss..haaaa hiks hiksss" Air mata Zili jatuh membasahi pipi saat ia mengingat hari hari nya disekolah dan ketidak percayaan ayah dia terhadapnya.


Ia yang telah sadar dari pikiran kosongnya menangis tersedak sedak sembari terbaring miring memeluk tubuhnya diatas tikar bambu biasa.


"Menjauhlah.." Teriak zili ketika Shin'A mencoba mendudukan dia namun kedua tangannya dihempas oleh gadis itu " pergi ku mohon " masih dengan tangisannya Zili dengan tubuh gemetaran mencoba berdiri namun gagal karena kakinya yang ikut gemetaran tidak lagi mampu menopang berat tubuhnya.


Shin'A terkejut merasa aneh dengan sikap gadis dihadapannya, ia berusaha menolong zili ketika tubuhnya jatuh tapi Hai win bergerak lebih cepat darinya dan berhasil memeluk gadis itu.


"Yang mulia, tampaknya putri mahkota tidak berkenan untuk bertemu anda. Ia bahkan merasa sangat takut dengan anda, jika hal ini dibiarkan saya takut akan terjadi masalah yang lebih besar terhadap kejiwaannya" rein membuka suara. Ia memberi isyarat kepada hai win untuk membawa Zili masuk kedalam kamarnya.


Dengan Segera Hai win menopang tubuh gemetaran Zili yang masih menunduk kearah lantai dengan gumaman yang tidak jelas terdengar oleh seisi ruangan.


Dengan Segera Hai win menopang tubuh gemetaran Zili yang masih menunduk kearah lantai dengan gumaman yang tidak jelas terdengar oleh seisi ruangan.


"Hm,"Shin'A tersenyum kecut, ia terpaksa berdiri pergi meninggalkan ruangan tersebut melihat keadaan Zili yang semakin parah.


Sebenarnya ia tidak ingin membenarkan perkataan rein yang sedari tadi berdiri menyandar salah satu dinding rumah dengan melipat kedua tangannya, namun ia tidak bisa berbuat apa apa melihat teriakan Zili yang mengusirnya pergi menjauhi dia.


****


Air mata menetes jatuh keatas kasur berbahan busa. Sesekali Zili mengehembuskan nafas melalui Hidungnya yang masih tersumbat.


Karena ketidak sanggupan hidung bernafas, ia lalu membuka perlahan mulutnya mencari udara untuk dimasukan kedalam paru paru semampunya.


Dia membuka mata, melihat atap rumah yang terbuat dari Seng putih remang remang. Tidak ada cahaya lampu listrik yang menerangi ruangan kamar malam itu.


Ia mengalihkan kepalanya kesamping, melihat lampu batrei berwarna kuning tergantung diatas paku dinding papan rumah tersebut.


Cuaca malam tengah hutan mulai membuat tubuhnya menggigil. Ia bangun dari baringannya untuk mencari selimut.


"Anda sudah bangun yang mulia"


"Siapa?"


Hai win tersenyum pahit, merasa tidak dikenali setelah beberapa jam lalu telah memperkenalkan dirinya.


Dia berjalan mendekati Zili sembari mengambil selimut Berwarna Merah yang ia baru saja ambil dari mobil mereka yang telah terparkir disamping rumah.


"Hai win, nama saya hai win"


"Ha.. ha i win.. sepertinya aku pernah dengar"


"Hahaha, " hai win tertawa terpaksa, saat itu ia takut bahwa zili akan mengenalinya "mana mungkin anda kenal, saya kan hanyalah pelayan biasa"


"Oh, tapi kenapa aku merasa kenal ya"


"Sudah sudah jangan di ingat ingat, mungkin anda salah orang" hai win melentangkan selimutnya lalu menutupi seluruh tubuh zili menyisahkan bagian kepala.


Jantung zili kembali berdegup kencang karena ia tiba tiba ingat tentang keberadaan Shin'A disana. Keringatnya mulai bercucuran.


"Tenang yang mulia, pangeran Istana telah pergi sore tadi"


"benarkan? Kau tidak bohong"


zIli melepas selimut, meraih kedua bahu Hai win untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak adalagi shin'A ditempat tersebut.


"Hm" angguk Hai win "Rein sudah memastikan bahwa pangeran istana telah pergi"


"Rein?"


"Iya, pelayan anda juga yang mulia"


"Sejak kapan aku punya pelayan"


"Aaah astaga aku lupa" gumam hai win dalam hati "ah itu,tuan huan yang membayar kami untuk melayani anda yang mulia"


"Oh, jadi dimana teman mu itu dan juga tuanmu?"


"Rein pergi mencari jaringan, ia ingin menghubungi pacarnya." Jawab hai win bohong.


"Mana mungkin mencari jaringan, Klan co bahkan mampu menciptakan jaringan super cepat yang bisa diakses meskipun sampai kepelosok hutan belantara"


"Tampaknya ditempat ini telah terpasang alat anti sinyal yang tidak diketahui keberadaannya yang mulia ku"


Zili tertegun mendengarkan perkataan Hai win, dia merasa hal itu benar adanya mengingat kemunculan Shin'A tiba tiba.

__ADS_1


"Yang mulia, saya akan siapkan makan malam untuk anda, tunggulah sebentar"


"hm" angguk zili ia lalu teringat kepada huan "huan?"


"Ntah, saya tidak tahu dimana dia yang muliaku" jawab hai win bergegas pergi menuju dapur lalu menghilang dikegelapan ruangan tamu yang tidak memakai lampu batrei saat itu.


Zili menghela nafas lega akhirnya ia tidak lagi bertemu dengan Shin'A. Dia tersenyum senang untuk yang ketiga kalinya ia bisa berbicara baik dengan Seorang wanita yang mungkin hampir sama usianya dengan Putri latih tiada tanding saat itu.


Selama hidupnya, kebanyakan pelayan wanita muda tidak dipekerjakan dikediaman Xu, dan dia jika adapun, ia juga jarang berbicara dengan perempuan yang hampir sebaya dengannya.


Kllontannng "akh" suara erangan kesakitan Hai win dan mangkuk kaleng jatuh terdengar ditelinga Zili.


"Hai win"


Dia lalu bergegas berlari menuju dapur melihat keadaan Pelayannya tersebut.


Terus berlari hingga sampai menuju pintu dapur tiba tiba ia dikejutkan dengan sebuah sapu tangan yang menutup mulut serta hidungnya.


ZIli ingin melawan tapi dia tidak mampu Karena seseorang telah memukul bagian leher belakangnya dan menyebabkan ia pingsan saat itu juga.


****


Sebuah mobil jeep hijau lumut melaju pelan menelusuri jalanan sempit tengah hutan malam itu.


Lampu mobil berkaki kali menerangi beberapa pohon tinggi yang berada disana.


Cahaya bulan dan bintang tidak terlihat tertutup lebatnya dedaunan serta ranting pepohonan malam itu.


Huan, si pengendara mobil tampak sangat kesulitan menyetir di jalananan penuh kubangan lumpur.


Dia sengaja mengambil jalur sulit karena mengetahui bahwa Rein yang mungkin menyadari hilangnya putri mahkota akan segera menyusulnya menimbang kecepatan mengendara remaja laki laki itu tidak dapat diragukan lagi kehebatannya.


"Dddoooor"


"Crrrriiit"


"Tuuus"


Sebuah peluru melesat mengenai Ban mobil Jeep milik Huan. Huan dengan susah payah mengendalikan keadaan mobilnya yang sudah bocor karena tembakan peluru tersebut.


Huan dengan terpaksa menghentikan mobilnya, ia tidak menyangka akan ada orang yang menyadari keberadaanya dipertangahan hutan malam itu.


"sap"


"sap"


"Sap"


Empat orang laki laki berbaju hitam dengan wajah tertutup kain berwarna yang sama, hanya menyisakan mata yang terlihat tengah berdiri didepan mobil huan yang sudah berhenti.


"Keluar"


Perintah salah seorang dari mereka setelah membuka pintu mobil dan menekuk kedua tangan huan lalu melemparkan pria tersebut jatuh tersungkur tepat dikaki seorang remaja laki laki.


"Yaaa.. yaaa..yang mulia pangeran"


"Sudah kuduga, kau bukan pelindung putri mahkota"


Huan tertegun mendengar ucapan remaja laki laki dihadapannya.


"Siapa yang memerintahkanmu?"


Tanya Shin'A sembari menendang perut huan hingga ia mengerang kesakitan.


"Jawab"


Kali ini remaja laki laki itu mulai menginjak dada Huan yang sudah ia lentangkan menggunakan kakinya. Huan mencoba menahan dengan tangannya namun tenaga Shin'A lebih kuat daripada laki laki tersebut..


"Yang mulia ampuni saya"


"Jawab kubilang"


Ia mulai mengangkat kaki nya lagi..


"Saya akan jawab yang mulia, saya akan jawab..tapi mohon ampuni saya"


"Siapa?"


"..........."


"Hm" shin'A tersenyum kecut mendengar jawaban huan. Tebakan ia ternyata sangat benar.


"lakukan sesuai rencana" perintah Shin'a kepada bawahannya sambil berjalan menuju kearah mobil Milik huan untuk mengambil putri mahkota.


"Baiklah yang mulia"


SHin'A tersenyum senang, ia akhirnya mendapatkan wanita dambaan hati putra mahkota ditangannya.


Rencana yang telah ia persiapkan ternyata membuahkan hasil yang memuaskan.

__ADS_1


__ADS_2