Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
roti dan biskuit


__ADS_3

Tiang-tiang lampu dipinggir jalanan paving Block sekolah teknologi menerangi langkah kaki Zili yang berjalan sembari memegang dua buku dan membaca sebuah buku ditangan yang lainnya.


Sesekali gadis itu terlihat melirik sekilas kearah jalanan didepannya untuk menghindari terjadi sesuatu ketika sedang melangkah kaki.


Suara Robot pengutip sampah dan robot pelayan tidak sedikitpun mengganggu kegiatannya dalam membaca saking fokusnya gadis itu untuk memahami isi bacaan didalam buku yang ia pegang.


Langkahnya mulai terhenti ketika tiga orang siswi sekolah teknologi berdiri didepan pintu gerbang, tampaknya mereka sedang menunggu kedatangan Zili.


Zili menghentikan bacaannya, ia mulai menutup buku. “huh”, menghela nafas sejenak untuk menenangkan diri karena mengetahui kondisi kehidupan mereka, zili mulai mengembangkan senyuman lembut, mengejutkan ketiga siswi yang mengira bahwa gadis itu akan membenci mereka.


“Yang mulia....”


Panggil seorang paling pendek “maaf..”


“Tidak ada yang perlu dimaafkan” jawab Zili cepat, mulai memeluk semua bukunya dengan satu tangan “aku sudah tahu semuanya” ucap zili semakin mengejutkan mereka yang mulai ketakutan Jika keluarga kerajaan mengetahui kondisi kehidupan warga desa Co “tenang saja, aku tidak akan mengatakannya kepada keluarga kerajaan” tidak ingin menimbulkan kekhawatiran, Zili berusaha menenangkan ketiga siswi didepannya.


Salah seorang dari mereka mulai menundukan kepala “maaf, aku tidak punya pilihan lain selain bergantung padamu hari itu” ucapnya mengejutkan Zili.


“Benar, mungkin hanya kaulah satu-satunya keluarga kerajaan yang saat ini tidak sedang diawasi makanya kami berani bergantung padamu” ucap siswi paling tinggi yang sempat dilihat Zili didalam layar Infokus milik ketua klan Co sehari yang lalu.


Masih mengembangkan senyuman lembutnya “terima kasih sudah bergantung padaku” lagi, bukannya menenangkan, ucapan Zili malah semakin membuat mereka tampak bersalah.


“Tapi yang mulia,...”


Seorang yang paling pendek mulai membuka suara lagi “sungguh, maafkan aku telah mengira bahwa kau adalah wanita jahat yang mencoba mendekati keluarga kerajaan demi kepentinganmu....


“Memang benar aku wanita jahat” jawab Zili tersenyum getir “aku hanya bisa menyusahkan dan membebani mereka, bahkan aku juga sangat menginginkan putra mahkota” lanjut Zili terang-terangan “jadi jangan merasa bersalah lagi”


“Yang mul....”


“Kebetulan sekali,” kilah Zili sebelum siswi paling pendek berbicara lagi “karena kalian bergantung padaku, saat ini aku sungguh memiliki banyak uang” lanjut gadis itu membuat ketiga siswi dihadapannya merasa segan “maukah kalian menemaniku belanja makanan untuk sebagian warga negara Co dilorong bawah tanah?” Pinta gadis itu lembut menyentakan hati mereka.

__ADS_1


********


“Roti dan biskuit bisa tahan lama”


Duduk dikursi sebuah bus, Zili yang sedang membaca buku mulai melontarkan pendapatnya “sebaiknya kita borong saja makanan tersebut didepartemen Store”


“Borong..?” Tanya serentak ketiga siswi yang juga sedang duduk disamping Zili yang tetap membaca bukunya.


“Tenang saja, aku memiliki banyak uang” jawab Zili menenangkan dan tetap masih dengan membaca buku, seolah-olah dia tidak ingin membuang sedikitpun waktunya yang berharga hanya untuk sekedar berbicara. “bagaimana dengan 5juta neceri..?” tanya Zili mulai menghentikan Sejenak bacaannya dan mengingat total uang didalam ATMnya yang mungkin memiliki sekitar 20juta neceri atau sebanding dengan 200miliyar rupiah.


“Li..lima juta...?” begitu terkejutnya mereka sampai mulai menghitung jumlah total roti dan biskuit yang akan mereka beli.


“yang mulia sepertinya kita membutuhkan banyak orang untuk membantu membawa makanan kelorong bawah tanah” saran seorang dari mereka.


“Turun dan kembalilah salah seorang dari kalian” perintah Zili “panggil siapa saja penghuni Asrama putri yang bersedia untuk membantu kita” lanjutnya lagi memberi perintah sembari mengeluarkan uang 50 neceri dari kantung celananya.


“Biar aku saja” siswi bertubuh paling tinggi meraih selembar uang dari Zili, lalu bergegas berdiri menghentikan bus yang mereka tumpangi.


********


Perasaan bersalah menghantui hati Zili yang sedang berdiri dibawah lorong bawah tanah sembari menggenggam dua kantung Plastik besar yang berisi Biskuit dan roti serta kotak air mineral disampingnya.


Dia mulai membagi makanan ke beberapa oraang warga desa Co yang tampak sangat kumal, kurus dan terlihat sangat menderita, bahkan ada beberapa orang yang jatuh sakit disana.


“Terima kasih yang mulia”


Ucap seorang dari mereka mulai menitihkan air mata diikuti dengan air mata Zili yang juga mulai menitih namun segera dihapusnya.


Seorang anak kecil yang sangat kurus berjalan mendekati Zili “yang mulia, tolong...” dia mulai menangis dihadapan Zili yang sedang menghentikan kegiatannya membagi makanan dan memberikan sekantung lainnya kepada salah seorang siswi sekolah teknologi yang telah selesai membagikan makanan yang ia bawa kepada penduduk desa “berikan makanan ini juga ketempat nenekku dilorong desa Co 29”


Getaran tubuh semakin dibuat menggigil, disatu sisi ia takut menghabiskan seluruh uang di ATMnya, disisi lain, ada banyak orang yang masih membutuhkan bantuannya.

__ADS_1


Zili mulai tersenyum lembut diantara kegigilannya, dimalam yang begitu panas karena lorong bawah tanah sendiri merupakan tempat pembuangan limbah pabrik perusahaan yang dijalankan oleh musuh pemerintahan serta Limbah rumah tangga penduduk desa Lain yang tampak sangat tenang menetap didesa dimana penduduk aslinya sendiri bahkan sangat menderita tinggal disana, zili mulai menguatkan Diri. “tentu saja” jawab Zili cepat, “menurutmu, bagaimana caranya aku bisa pergi cepat menuju lorong bawah tanah...?”tanya Zili kegadis kecil yang tampak mulai bahagia mendengar jawabannya.


“Kau bisa menggunakan texchi, yang mulia” jawab seorang laki-laki kurus yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka.


“Terima kasih” ucap Zili lembut kepada laki-laki dihadapannya.


“Saya yang harusnya berterima kasih kepada anda” ucap laki-laki tersebut “karena kemampuan teknologi saya kurang, musuh tidak berniat memperkerjakan saya dan saya malah menyusahkan anda”


“Hmmm”


Geleng Zili masih dengan senyumannya “aku sangat senang kalian bergantung padaku yang sebenarnya sangat lemah dan tidak berguna” ucap Zili mencoba menenangkan laki-laki dihadapannya. “kalian semua, serahkan sisa pembagiannya kepada siswa asrama putra,”perintah zili cepat “kita harus segera cepat membeli Roti dan biskuit lagi untuk desa lainnya”


“Yang mulia...”


Teriak seorang dari mereka tampak tidak menyetujui.


“Tenang saja, aku masih memiliki banyak uang” ucap Zili menenangkan semua orang yang tampak sangat gelisah “ada yang memiliki texchi disini..?” Tanya Zili cepat karena memang waktu mereka tidak banyak untuk membeli makanan diwaktu-waktu penutupan pusat perbelanjaan desa.


“Saya yang mulia”


“Saya juga yang mulia”


“Saya yang mulia, tetapi texchi kami belum sempurna”


“Yang mulia, ada seorang siswa laki-laki yang memiliki texchi ukuran besar, aku akan meminjamnya.” seru seorang siswi lain mulai berlari menuju pintu keluar lorong bawah tanah.


Menghela nafas lega, zili yang tadinya berjongkok, mulai memeluk anak kecil yang sedari tadi berdiri disampingnya “tenang saja, tenang saja, aku akan memberikan roti untuk nenekmu, “ucap lembut gadis itu menenangkan hati gadis kecil yang mulai menangis sesunggukan didalam pelukannya.


Beberapa saat kemudian, puluhan Siswa sekolah teknologi mulai berdatangan masuk kedalam pintu lorong bawah tanah.


“Yang mulia, kami siap menerima perintah” ucap salah seorang siswa yang mungkin adalah presiden Sekolah teknologi diwilayah timur laut.

__ADS_1


__ADS_2