
Hembusan angin kencang membentuk ombak yang berguling dibirunya lautan. Sesekali ombak air menerjang punggung pangeran istana yang sedang berjongkok menatap lama mata putri mahkota.
Angin yang kencang tidak hanya membawa ombak saja, tetapi juga sekumpulan pasir putih di pantai ikut terbawa.
Tidak ada tambak ikan, tidak juga terlihat orang lain kecuali hanya mereka berdua disana. Tampaknya pangeran istana membawa Zili ke tempat yang berbeda.
Suara ombak terdengar saling saut menyaut dengan suara burung-burung yang mungkin sedang bertengger dipepohonan bakau tepi lautan yang tak jauh dari tempat mereka berada.
Sebuah bukit terjang terdapat jalan beraspal dipinggirannya. meskipun demikian, tidak tampak satu kendaraanpun yang berlalu.
Nafas zili masih terasa berat, apalagi ketika harus melawan tatapan nakal pangeran istana. Perlahan-lahan ia mulai menghilangkan rasa kesalnya, mengedipkan mata beberapa kali lalu menundukan kepala sejenak dan berputar.
Ha....
__ADS_1
Lagi, kekesalan zili semakin bertambah ketika tangannya mulai ditangkap pangeran istana. Tubuh yang tadinya berputar kini kembali keposisi semula.
Tetesan air dirambut yang basah jatuh kelengan tangan pangeran istana yang telah memeluk pinggang Zili dengan mudahnya.
“Ya.. ya.. yang mul....
“Terima kasih” tampaknya pangeran istana membutuhkan kalimat tersebut terucap dari mulut zili.
Zili yang mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan pangeran istana mengernyitkan dahi. Ia tertegun menundukan kepala sangat tidak ingin melihat mata pangeran istana yang takutnya akan membuatnya terpesona.
“Te.. te.. terima kasi...
Kecipuk
__ADS_1
Dengan mudahnya pangeran istana melepaskan pinggang zili, menjatuhkannya ke air laut yang dangkal untuk kedua kalinya lalu dengan santai berjalan meninggal Zili yang masih sangat kesal dengan perilaku nakal laki-laki yang sudah berbaring terlentang diatas pasir pantai dengan seluruh pakaiannya yang basah.
“Aku tidak membawa ponsel, juga kehilangan trackr ketika menolongmu tadi. Karenanya, mungkin tidak ada seorang pengawalpun yang akan menemukan keberadaan kita.” Ucapnya masih tidur terlentang menatap langit.
Poni rambutnya yang basah menutupi Dahi. Ia mulai berbaring miring menahan kepala dengan tangannya “bagaimana ini! Aku sangat dingin karena pakaianku yang basah” lanjut laki-laki tersebut ketika Zili telah mendekati daratan.
Zili menggigit bibir bawahnya , memandang sejenak kearah pangeran istana lalu mengalihkan pandangannya kebawah “aku tidak tahu harus bagaimana? Maafkan aku” ucapnya penuh penyeselan karena ia merasa telah membebani pangeraan istana yang saat ini sangat sibuk menggantikan pekerjaan putra mahkota.
Pangeran istana dengan mudah lompat dan berdiri “bagaimana kalau kau memelukku?” ucapnya sembari melentangkan tangan dihadapan zili.
Berkali-kali mata Zili berkedip diikuti dengan dahinya yang mengernyit.
Kesal, begitulah yang dirasakan gadis itu tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk melawan pangeran istana yang telah bersusah payah menyelamatkan gadis tersebut dari bahaya sebelumnya.
__ADS_1
“Maaf” ucap Zili “ak.. aku ..” zili berdehem sejenak karena akan mengatakan kebohongan yang tiba-tiba terpikirkan dikepalanya “aku ingin buang air kecil” ucap nya sembari lari menjauhi pangeran istana memasuki hutan bakau “jangan ikuti aku” teriaknya keras membuat pangeran istana tersenyum geli. Ntah mengapa!, tapi laki-laki tersebut tampak sangat ceria hari itu, berbeda dengan ia yang biasanya.