Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Waktu dan kecepatan


__ADS_3

Di ruangan itu terdapat tujuh orang pejabat tinggi,


tiga orang terlihat bersandar di sisi dinding sebelah kiri dan empat orang lain terlihat berada di sisi dinding sebelah kanan.


Tidak ada seorangpun dari mereka yang berdiri di pertengahan pintu, untuk berjaga-jaga dan juga bersiaga jika saja salah satu pintu terbuka lalu tombak ataupun jebakan lainnya menyerang mereka.


Sepertinya, saat itu mereka belum mempercayai kemampuan Zili sepenuhnya.


Zili menghela nafas berat, gadis itu terlihat sedang berdiri dengan kaki yang cukup gemetaran di dinding samping pintu, tepat di dekat sebuah tombol pembuka salah satu pintu tersebut. Berbeda dengan pintu lift seperti biasa, di atas pintu lift tersebut tidak terdapat angka yang biasanya digunakan untuk memberitahukan posisi lantai bangunan berada dan juga tidak terdapat banyak tombol seperti lift-lift lainnya melainkan hanya sebuah tombol yang sedikit masuk ke dalam dinding sajalah yang berada di sana.


Dag dig dug..


Jantungnya berdetak kencang sedari tadi,


Takkk...


Sreeekkkk..


Tombol pintu yang tadinya terbuka, ditekan.


Dua besi mulai keluar dari sisi pintu secara berlawanan lalu mulai menyatu.


Wuzzz..


Cepat, pergerakan lift tersebut bahkan mengejutkan semua orang di dalamnya.


Dia berusaha untuk tetap tenang sembari menghitung waktu dan kecepatan gerakan lift.


TAkkk...


Cup cup cup...


Tanggg...... tang tang tang..


Takkkk...


“Kenapa kau membukanya?” bentak marah Penasihat Pangeran Istana kepada Zili yang telah menekan tombol pintu lalu tiga buah tombak masuk ke dalam ruangan tersebut dan menekan tombol kembali hingga pintu yang tadinya terbuka, kini telah tertutup.


Wuuuzzz...


Lift kembali bergerak cepat setelah pintu tertutup, tanpa menjawab pertanyaan, Zili berjalan lalu meraih salah satu tombak dan melihat angka yang tertera pada ujungnya.


“Hoiii,, Kau dengar tidak?” bentak marah kembali Penasihat Pangeran Istana karena tidak mendengar jawaban dari Zili.


Pengusaha Kebanggaan Negara dan Ilmuwan Berbakat hanya bisa tersenyum tipis dan bermakna namun pejabat tinggi lainnya terlihat tegang saking terkejutnya mereka dengan perilaku Zili saat itu.


Wuuuzzzz...


Masih terus menghitung lalu melangkah kaki mendekati tombol lift.


Taaakk..


“Berhenti!, kalau kau mengira kau hebat hanya karena kau adalah Putri Mahkota dan melakukan segalanya sesuka hatimu, biarkan aku saja yang menghitung kecepatan dan waktu.”


Sreeekkkk..


Tangan Penasihat Pangeran Istana terlihat menggenggam pergelangan tangan Zili, menghentikan gadis itu untuk menekan tombol lift. Tetapi sayangnya, jari telunjuk gadis itu telah terlebih dahulu menyentuh tombol dan menekannya hingga pintu terbuka dan kini mereka berhasil sampai ke lorong 37.


“Hm, ternyata orang bodoh lebih pandai dibanding dengan orang licik.” Sindir Pengusaha Kebanggaan negara yang telah keluar dari ruangan tersebut lalu menapakan kaki di atas tanah lorong yang tadinya gelap dan kini telah disinari oleh lampu pintu lift diikuti oleh Ilmuwan berbakat dan para pejabat lain yang masih terkejut dengan perilaku Zili saat itu.


“Huh, hm ,” Penasihat Pangeran Istana tersenyum kecut setelah menghela nafas lega, kemudian melepaskan pergelangan tangan Zili yang berada di hadapannya.

__ADS_1


“Ma.. ma.. ha.. ha.. maaf!” Zili yang tadinya berusaha untuk tetap tenang, saat itu mulai panik. Keringat dingin dan mata merah bahkan terlihat jelas di tubuhnya hingga membuat Penasihat Pangeran Istana sedikit merasa bersalah. “ Aku membuka pintu pertama kali karena aku ingin menghitung waktu untuk sampai ke lorong 37, ini...,” gadis itu mengangkat sebuah tongkat di tangan lalu memberitahukan angka yang tertera, “Lorong 23, Setiap 1,55 detik, Lift akan bergerak melewati satu lorong, aku terus menghitung waktu dan kecepatan dengan bantuan tombak ini, ma.. maa.. maaf...”


“Huh, lupakanlah!, kau tidak perlu memikirnya lagi.” Ucap Penasihat Pangeran Istana sembari mengelus kepala Zili sebentar saja, lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan gadis itu.


“Lambat,” sindir Pengusaha Kebanggaan negara dari kejauhan. Laki-laki itu terlihat telah memasuki pintu lift lain dengan pola dan bentuk yang sama dengan pintu lift sebelumnya.


**********


Jas putih panjang selutut kaki terkena tetesan cairan berwarna merah dan menodainya.


Tabung kaca yang berisi cairan berwarna kuning, ia pegang lalu ia aduk dengan menggunakan sebuah kawat aluminium.


“Ma.. maaf yang mul..”


“Menyingkirlah!” Usir Putra Mahkota yang telah menyadari bahwa seorang kimiawan telah menumpahkan cairan ke jas putih yang ia kenakan.


“Yang Mul..”


“Perlukah kuulangi kembali perkataanku?” gertak Putra Mahkota yang sangat tidak ingin diganggu saat itu.


Semua orang yang bertugas membantunya, tertegun.


Seorang farmasis yang berada didekat Putra Mahkota bergegas menarik tangan Kimiawan tersebut dan memaksa ia untuk segera keluar dari laboratorium tempat mereka melakukan percobaan saat itu.


Beberapa cairan diteteskan ke dalam sebuah bubuk putih lalu ketika berubah warna, Putra Mahkota mulai mengarahkan sebuah microscop di atas benda tersebut dan melihat hasil yang telah ia kerjakan.


“Formula 43, cukup tambahkan itu ke dalamnya!” Perintah Putra Mahkota yang telah menyelesaikan pekerjaannya lalu melepaskan sarung tangan serta masker dan meletakannya pada nampan yang telah disediakan seorang kimiawan di dekatnya kemudian berjalan menuju ke arah pintu keluar laboratorium dengan sesekali menghela nafas berat karena mungkin ia sedang sangat lelah saat ini.


Wajah laki-laki itu pucat, ia bahkan sempat memijat dahi karena rasa pusing sedikit menyiksanya.


“Kau menemukan sesuatu?” para penjaga menundukan kepala ketika Putra Mahkota berjalan melewati mereka.


“Ada jalur cepat lain untuk menemukan persembunyian Yuan,” dengan cepat laki-laki tersebut meraih sebuah headset dari tangan Shen Shi Yun yang sedari tadi berdiri menunggunya keluar laboratorium lalu kini berjalan beriiringan dengan Putra Mahkota negara NC, “sepertinya kau tidak perlu datang ke kediaman Xu 48 untuk menemui Zili.” Lanjut Shen Shi Yun menjelaskan jawaban dari pertanyaan Putra Mahkota kepadanya.


Melihat Putra Mahkota negara mereka telah masuk ke dalam ruang pribadi, Para penjaga yang ditugaskan menjaga tempat tersebut segera menutup pintu ruangan itu.


“Kau telah menyelesaikannya?” kali ini giliran Shen Shi Yun yang berbalik menanya.


“Sedikit lagi, aku harus segera membuat laporan untuk ayahku.” Jawab Putra Mahkota yang telah duduk di kursi kerja dan mulai memainkan jari-jari tangan di atas keyboard komputer di sana. “Lalu datang menemui Zili.”


Layar komputer segera menyala, sepertinya benda itu memang tetap menyala meskipun Putra Mahkota sedang tidak ada di sana, hanya saja, layar tersebut terlihat terkunci dan kata sandi layar tersebut begitu panjang serta bercampur antara angka dan juga huruf.


Memang, daya ingat Putra Mahkota tidak diragukan lagi, bahkan dengan kata sandi sepanjang itu sekalipun, ia tetap mampu untuk mengingatnya.


“Xu’iZili23januari2352XZ2352iraunaj23ZXNCountry2051XZZX.” Begitulah kata sandi yang tertera pada kolom layar komputer Putra Mahkota.


Takkkk...


Layar laptop terbuka lalu memperlihatkan foto Zili yang sedang duduk sembari membaca buku di dalam sebuah perpustakaan, foto itu membuat Putra Mahkota tersenyum tipis lalu mulai mengenakan headset berwarna hitam ke telinga.


“Hm,” belum sempat ia membuka beberapa dokumen, laki-laki tersebut terkejut ketika headsetnya tidak lagi dapat terhubung oleh Zili.


“Kau memutuskan panggilan?” tanya Putra Mahkota kepada temannya.


Shen Shi Yun yang mendengarkan pertanyaan dari laki-laki tersebut sontak terkejut lalu berdiri setelah sebelumnya duduk di atas sofa.


“Aku tidak melakukannya, bahkan sedikitpun aku tidak menyentuh tombol headset itu.” Jawab Shen Shi Yun segera, sepertinya laki-laki tersebut sedikit tertegun melihat raut wajah Putra Mahkota yang tiba-tiba berubah.


Putra Mahkota segera melihat ke arah jarum jam tangan yang menunjukkan angka 7.


Memang, saat itu malam telah berlalu dan pagi telah tiba.

__ADS_1


“Siapkan helikopter!” Perintah Putra Mahkota dengan nada dingin terlihat sekali ia sedang marah saat itu.


“Mungkinkah...”


Belum sempat Shen Shi Yun bertanya, Putra Mahkota telah bergerak lebih cepat keluar pintu tanpa ia sadari. Jantung laki-laki tersebut sedikit berdetak, ia mulai panik lalu segera menghubungi pusat militer untuk mempersiapkan helikopter.


************


“Hm, kau kira bisa melawanku?” Putra Mahkota berjalan sembari menghubungi seseorang melalui jam tangan miliknya.


“Hahaha Xu’i!, kalau kau memiliki mata-mata di sisiku, maka aku juga memiliki mata-mata di sisimu.” Jawab santai suara seorang laki-laki tua dari balik headset hitam yang telah dikenakan Putra Mahkota.


“Kakek, Cukuplah bermain-main denganku!” Terus berjalan, kali ini Putra Mahkota memberikan ancaman.


“Xu’i yang patuh, akan terus patuh dan tidak akan kubiarkan membangkang.” Panggilan terputus, Putra Mahkota terlihat mengepalkan erat tangannya karena marah namun tetap terus berjalan keluar dari bangunan tersebut.


**********


Zili terus menghitung, meskipun jantung dan tubuhnya bergetar cepat melebihi detik yang ia perhitungkan.


saat ini, mereka telah berada di pintu lift ketiga setelah sebelumnya berhasil memasuki lorong 37 dan lorong 101.


Taakkk...


Sreeekkk...


Cup Cup Cuppp...


Takkk.. Sreeekkk..


Mengulangi cara sebelumnya, segera ia berjalan cepat lalu meraih tombak-tombak yang masuk ke dalam lift.


Memang, ia harus melakukan hal tersebut menimbang kecepatan bergerak setiap lift berbeda-beda.


Pada lift pertama, setiap 1,55 detik, lift mampu melewati satu buah lorong, dan pada lift kedua, setiap 1,98 detik, lift tersebut mampu melewati satu buah lorong. Untuk mencapai ke lorong 101 yang lebih jauh dari lorong 37 maka tentulah Zili membutuhkan konsentrasi yang tinggi saat itu.


“2,34 detik,” tangan Zili gemetaran saat mengetahui bahwa lift kali ini bergerak lebih lambat dari lift-lift sebelumnya. Ia yang sudah gemetaran sedari tadi, merasa semakin takut, terlebih lagi karena dia akan berada di dalam bahaya dalam jangka waktu yang cukup lama dan menuju lorong yang lebih jauh yaitu lorong 207.


“Tenang saja Nura, Putri Mahkota adalah orang yang hebat, Hm, dia bahkan telah berhasil menyelesaikan 2 lift, karena pergerakan lift kali ini lambat, kita tidak perlu berdesak-desakan lagi, jadi sekarang duduklah!” Pengusaha Kebanggaan Negara mulai melontarkan pendapat, ia bahkan mulai duduk hampir di pertengahan pintu membawa Ou Nura duduk di dekatnya. Gadis itu terlihat duduk tepat di pertengahan kedua pintu lift di sana.


Zili yang mendengarkan hal tersebut, hanya bisa diam dan terus berkonsentrasi sembari tetap berdiri di dekat tombol pembuka pintu, ia bahkan merasa lebih lelah dibandingkan dengan pejabat tinggi lainnya karena disamping terus berdiri, gadis tersebut diharuskan untuk tetap berpikir dan merasa takut akan kegagalan.


Dengan santai, Ilmuwan berbakat mulai mengikuti perilaku Pengusaha Kebanggaan Negara, ia melonjorkan kaki dan meletakan laptop di atas kedua kakinya tersebut, hampir di pertengahan pintu juga.


Lift terus berjalan begitu lambat dan Zili terus berdiri dengan tangan yang gemetaran di dekat tombol pintu pembuka.


Cup...


Cup...


Cuppp...


“Akkkhhh..”


Taaakkk..


“Kau..”


“Ak.. Aku tidak menekannya.”


“Akhhh akkkhhh hiks hiks Bagus, sakit sekali.”

__ADS_1


Pintu terbuka dan tiga buah tombak meluncur mengenai bahu Ou Nura tanpa Zili menekannya.


“Dia, ingin membunuh Nura.” Tuduh keras Pengusaha Kebanggaan Negara dengan mata berapi-api, memandang Zili yang telah menutup pintu kembali, penuh dengan amarah.


__ADS_2